
🍁Sukses memang hak untuk semua orang tapi tidak untuk orang yang malas🍁
.
.
.
“Besok pagi semua laporan rencana kalian yang baru harus sudah ada di meja kerjaku jika tidak silahkan berikan surat pengunduran kalian” titah Ares dengan suara menggelegar didalam ruang meeting.
“Baik direktur” jawab semua peserta meeting dengan serentak.
Ares bergegas pergi dari sana diikuti oleh papanya keluar dari ruang meeting membuat semua yang masih berada didalam ruang meeting bernapas dengan lega.
“Son” panggil Sean saat Ares hendak masuk ke dalam lift.
Ares yang masih emosi hanya menatap papanya tak menjawab panggilan sang papa, membuat Sean harus ekstra sabar dengan kelakuan putranya itu yang sangat persis dengan dia waktu masih muda.
Memang buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya, batin Sean.
“Papa ngak masuk” ucap Ares mengagetkan Sean dari pemikirannya.
Dengan cepat Sean masuk ke dalam lift bersama Ares dan Gery yang akan menuju ke ruangannya. Didalam lift Sean bertanya kepada Gery lewat gerakan matanya apa yang terjadi dengan anaknya tapi hanya dibalas wajah datar dan dingin Gery.
“Dia ngak akan beritahu papa karena dia hanya patuh kepada aku pa” ucap Ares dengan suara dingin sambil menatap papanya dengan tajam.
“Cih! Kamu memang anak papa yang kurang ajar” decih Sean dengan kesal.
“Aku anggap itu sebagai pujian pa” balas Ares dengan santai.
Ting……………
Lift berhenti tepat di lantai 54 ruangan khusus direktur utama. Ares berlalu keluar lebih dulu diikuti Sean dan Gery menuju ke ruangan Ares. Sekertaris Ares berdiri menyapa ketiganya dengan sopan tapi tidak digubris sama sekali oleh ketiganya.
Setelah membaca jadwal Ares selanjutnya Gery segera pamit pergi keluar tak lupa mengirim pesan ke pak Tedi di mansion kalau Ares tidak akan pulang untuk makan siang disana nanti.
“Siapa yang sudah membuat mood kamu jadi buruk hari ini nak?” tanya Sean saat keduanya sendiri saja didalam ruangan Ares.
“Kakek” jawab Ares dengan singkat.
Sean akhirnya tahu siapa dalang yang sudah membuat mood anaknya jadi buruk seperti ini dan ia yakin pasti tadi Ares dimarahi papanya mengenai Daniella.
“Apa kakek memarahimu?” tanya Sean.
“Menurut papa” jawab Ares dengan sinis.
“Jangan hiraukan kakekmu biar nanti papa yang bicara sama kakekmu sebentar” balas Sean.
“Aku ngak perduli jika kakek mau marah karena menurutku itu ngak penting pa! Biarkan saja kakek terus marah orang yang salah itu perempuan ja***g itu bukan aku” ucap Ares dengan suara tegas.
“Terserah saja kamu tapi papa akan tetap bicara sama kakekmu” ucap Sean dengan tegas.
“Heeemmm” deham Ares sambil menatap papanya dengan malas karena menurutnya itu tidak penting.
“Kapan kamu akan melamar Zelena?” tanya Sean mengalihkan pembicaraan tak ingin membuat mood anaknya semakin buruk.
“Setelah gipsnya di lepas pa” jawab Ares dengan antusias.
“Jaga Zelena dengan baik dan jangan pernah kecewakan dia nak. Papa ngak mau kamu menyesal seumur hidupmu seperti papa” ucap Sean dengan sendu.
“I know pa! dia adalah masa depanku pa dan satu-satunya wanita yang sangat aku cintai dalam hidupku. Aku ngak akan berjanji buat dia bahagia tapi aku akan membuktikan kalau hanya aku yang pantas berada di sisinya dan akan membahagiakannya sampai maut memisahkan kami pa!” (aku tahu papa) ucap Ares dengan suara tegas.
...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...
Sean tersenyum lembut dan tulus saat mendengar ucapan putranya barusan dan ia sangat senang karena putranya tidak mengalami hal yang sama sepertinya.
“Wanita itu ingin bertemu dengan kamu nak” ucap Sean setelah beberapa saat diam.
Gerakan tangan Ares yang hendak menorehkan tanda tangannya seketika terhenti mendengar ucapan papanya barusan dan ia sangat tahu siapa yang di maksud oleh sang papa.
“Papa tahu jawaban aku” ucap Ares dengan suara tegas dan dingin.
__ADS_1
“Dia minta untuk terakhir kali bertemu dengan kamu sebelum pergi menetap di luar negeri bersama keluarganya”
“Jangan memaksa aku untuk bertemu dengan perempuan tua itu pa karena aku tidak suka” hardik Ares dengan suara tinggi.
Sean diam tak berbicara lagi mendengar ucapan anaknya yang sedari dulu tidak pernah mau bertemu dengan istri pertamanya atau lebih tepat mama kandungnya.
Apa lagi saat Ares mengetahui semua perbuatan mamanya saat ia masih bayi membuat kebenciannya semakin menjadi kepada sang mama.
~ Mansion Ares Rahardian ~
Phew………………
Zelena membuang napasnya dengan kasar setelah berbicara dengan kakaknya Vincent lewat video call dan ia tidak menyangka jika kakaknya Victor akan mengalami hal tersebut.
“Semoga brother Victor cepat sembuh” gumam Zelena dengan penuh harap.
Zelena lalu mendorong kursi rodanya ke balkon lantai dua ingin melihat taman belakang mansion, tapi saat melihat asap hitam membumbung tinggi di langit membuat dia tak habis pikir dengan musuh keluarganya yang setiap hari tak pernah bosan untuk menyerang mansion Ares.
“Apa mereka itu ngak capek apa? Setiap hari terus menyerang mansion kekasih gue?” tanya Zelena sambil menggelengkan kepalanya tak habis pikir.
“Nona Zelena” panggil pak Tedi dengan sopan.
“Iya pak Tedi ada apa?” tanya Zelena berbalik melihat pak Tedi yang berdiri di belakangnya.
“Makan siangnya sudah siap nona” jawab pak Tedi.
“Apa Ares ngak pulang makan siang hari ini pak Tedi?” tanya Zelena dengan cepat.
“Tidak nona. Tadi tuan Gery mengabari jika tuan akan makan siang bersama tuan besar di kantor nona” jawab pak Tedi mengingat pesan yang dikirim Gery tadi.
“Oh! Kalau gitu bawa saja makananku kesini pak Tedi” titah Zelena dengan suara lembut dan sopan.
“Baik nona Zelena”
Pak Tedi segera pergi menuju dapur untuk memerintah pelayan membawakan makan siang Zelena ke atas, tak lupa melihat makanan apa saja yang akan diberikan kepada Zelena.
~ Pulau Antah berantah ~
Hehehehehe…………………
Kayaknya bagus nih kalau aku kasih ke koki untuk dibuatkan makanan buat pak tua sialan itu, batin Marcel sambil tersenyum licik didalam hati.
Dengan santai ia membawa baskom itu ke dapur dengan senyum lebar di bibirnya, ia sudah tidak sabar ingin melihat reaksi pak tua itu memakan daging peliharaannya sendiri yang selama ini sangat ia jaga mati.
Sampainya di dapur dengan langkah panjang Marcel menghampiri koki utama di kastil ini dan menaruh baskom berisi 10 ular didepan sang koki.
...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...
Koki utama yang bernama Tristan melotot melihat apa yang ada didalam sana, karena ia sangat tahu jika itu adalah ular peliharaan Lord mereka yang sangat disukai.
“Ini bukannya ular peliharaan Lord?” tanya Tristan dengan mata melotot kaget.
“Ya kamu benar!” jawab Marcel sambil tersenyum lebar.
“Apa yang kamu inginkan dan kenapa peliharaan Lord berada di tangan kamu?” tanya Tristan dengan selidik.
“Aku ingin kamu membuat masakan enak dengan bahan utamanya ini” jawab Marcel sambil tersenyum lebar menunjuk baskom berisi ular yang sangat besar.
“APA” pekik Tristan dengan suara menggelegar.
“Aku tidak tuli sialan” hardik Marcel dengan ketus.
“Bagaimana bisa kamu mengambil peliharaan Lord tanpa ketahuan? Apa kamu mencurinya saat Lord sedang tidur?” tanya Tristan dengan penasaran.
“Lord sendiri yang menyuruh aku mengambilnya untuk tugas penting yang Lord perintahkan kepada aku. Aku yakin kamu sudah mengetahui siapa aku kan?” tanya balik Marcel dengan wajah serius.
“Ya aku tahu kamu siapa! Tapi apa benar Lord sudah mengijinkannya?” tanya Tristan yang belum sepenuhnya percaya.
“Tanyakan saja kepada Kein karena dia juga berada disana saat aku mengambil ular peliharaan Lord. Lagian jika aku mencurinya apa aku masih bisa hidup hingga sekarang bukannya semua disini sudah dipantau oleh Lord dan tangan kanannya” jawab Marcel dengan suara tegas.
Tristan diam membenarkan ucapan Marcel karena jika Marcel mencuri peliharaan Lord pasti ia sudah di tembak mati oleh anak buah Lord dan Kein.
__ADS_1
“Jadi apa maumu?” tanya Tristan yang sudah percaya dnegan Marcel.
“Buatkan makanan spesial dengan bahan ini karena biar bagaimanapun ini adalah peliharaan berharga Lord kita dan jika dibuang itu sama saja kita tidak menghargai Lord yang sangat mencintai peliharaannya ini” jawab Marcel dengan suara tegas dan serius.
“Baiklah aku akan membuat menu spesial buat Lord dari ular peliharaan Lord” ucap Tristan dengan suara tegas.
“Good ide bagus! Kamu memang pantas menjadi koki utama” puji Marcel membuat Tristan seketika menjadi sombong.
Melihat hal itu Marcel tersenyum lebar mengejek Tristan dalam hati yang mudah sekali ia bodohi, apa lagi ia sudah tidak sabar ingin melihat reaksi dari pak tua itu.
Bodoh! Mau aja aku bodohi! Memangnya siapa yang ingin memakan masakan dari hewan peliharaannya yang sangat ia sayangi, batin Marcel tertawa seperti iblis didalam hati.
Marcel memilih pergi dari dapur karena sudah berhasil melakukan rencana liciknya tinggal menunggu pertunjukan menarik saja. Sebentar lagi malam ini mereka akan makan bersama seluruh penghuni pulau ini di aula perjamuan.
Tak terasa waktu berlalu dengan sangat cepat dan sudah waktunya makan malam, dengan tak sabar Marcel mengambil tempat paling depan ingin melihat pertunjukan seru malam ini.
Ceklek…………………….
“Selamat datang Lord” ucap semuanya serentak saat pintu aula perjamuan terbuka dan masuklah Erich yang dikawal oleh Kein dari belakang.
“Waktunya pertunjukan” gumam Marcel sambil tersenyum menyeringai.
Erich mengangkat tangannya setelah duduk di kursi kebesarannya di bagian depan membuat suasana disana seketika menjadi hening.
Marcel sendiri sedari tadi menaruh tangannya kepala sambil memutar-mutar kepalanya untuk merekam semua orang yang berada didalam aula perjamuan lewat cincin yang ia pakai.
...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...
King semoga anda suka dengan hadiah yang aku kirim, batin Marcel sambil tersenyum licik melihat Erich didepan sana.
“Malam ini adalah malam peringatan kematian saudaraku yang sangat aku sayangi! Malam ini juga aku ingin memberitahu kalian, jika sebentar lagi kita akan menyerang kelompok mafia nomor satu di dunia ini untuk mendapatkan posisi nomor satu buat klan kita” ucap Erich dengan suara lantang didalam sana.
“HIDUP LORD! HIDUP LORD! HIDUP LORD! HIDUP LORD!” teriak semua anak buah Erich serentak bergema didalam sana seperti suara ombak di pantai.
“Tunjukkan pada dunia kalau kita adalah klan mafia nomor satu dan terkuat di dunia ini dan tidak ada yang bisa menandingi kita”
“Yeahh! HIDUP LORD!” teriak semuanya dengan suara menggelegar.
“HIDUP LORD ERICH!” teriak Kein sambil mengangkat gelas minumannya ke atas membuat semua anak buahnya juga mengikuti apa yang ia lakukan.
Erich tersenyum puas melihat 10.000 anak buahnya yang sudah ia latih dengan keras selama ini, hanya untuk membalas kematian saudara sepupunya dan ia berjanji akan menghabisi seluruh keturunan dari keluarga besar Wesly.
Tak berselang lama Erich segera memberi isyarat kepada semuanya untuk mulai menikmati jamuan makan malam yang sudah disediakan oleh para koki di kastil.
Marcel tersenyum menyeringai melihat Tristan yang sudah menaruh makanan istimewa khusus untuk Erich.
Bibirnya tersenyum lebar melihat Erich yang makan makanannya dengan lahap, merasa masakan koki utamanya malam ini terasa sangat nikmat berbeda dengan makanan sebelumnya.
“Perfecto! Makanan malam ini sungguh sangat nikmat” puji Erich membuat Tristan merasa sangat sombong karena dipuji oleh Lord mereka.
“Terima kasih Lord! Makanan yang barusan Lord makan adalah makanan khusus yang saya buatkan untuk Lord dengan bahan yang berkualitas tinggi” balas Tristan dengan nada angkuh dan terdengar sedang memamerkan diri didepan Erich.
“Mulai besok masak makanan dengan bahan seperti ini” titah Erich dengan suara tegas.
“Maafkan saya Lord tapi saya tidak bisa memasakkan masakan seperti ini setiap hari untuk Lord karena bahan utamanya sangat susah buat didapat apa lagi harus lewat persetujuan Lord” balas Tristan keberatan.
“Apa maksudmu? Bukannya semua yang ada di pulau ini milikku berarti kamu boleh mengambilnya dan membuatkan makanan khusus buat aku?” tanya Erich dengan bingung.
“Uhmm! It…..u” ucap Tristan dengan bingung harus bagaimana menjelaskan ke Erich.
Melihat Tristan yang kesulitan untuk berbicara membuat Kein menebak jika ada sesuatu yang disembunyikan oleh Tristan saat ini.
“Katakan apa bahan utama dari makanan yang barusan Lord makan” titah Kein dengan suara tinggi.
Tristan melihat Kein dan Erich bergantian merasa bingung apa harus memberitahu mereka mengenai bahan utama makanan tersebut atau tidak. Entah kenapa ia merasa jika sesuatu yang buruk akan terjadi kepadanya.
“Katakan” hardik Kein dengan suara tinggi membuat semuanya seketika berhenti makan dan menatap ke arah mereka ingin tahu apa yang sedang terjadi.
“Bahan utamanya adalah ular peliharaan milik Lord” ucap Tristan dengan gugup.
Prang……………………
__ADS_1
...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...
To be continue……………………