
πTidak ada proses yang mudah untuk tujuan yang indah dan tetaplah fokus pada tujuanmuπ
.
.
.
.
Sebelum pisau yang dipegang orang itu mengenai punggung Victor, mulutnya sudah dibekap lebih dulu oleh anak buah Mikhail.
Selepas kepergian keduanya Victor berbalik melihat ke belakang merasa ada seseorang dibelakangnya tapi ternyata tidak ada.
Apa perasaanku saja ya, batin Victor dengan penuh tanda tanya.
"Sebaiknya anda duduk bersama keluarga besar anda tuan muda ketiga" ucap Damon di samping Victor.
Aaarrgghhh.............
Teriak Victor kaget saat tiba-tiba Damon berbicara di sampingnya. Para tamu yang berdiri tak jauh dari mereka menatap keduanya dengan bingung, sedangkan Damon menatap Victor dengan wajah datar dan dingin.
Victor mengelus dadanya yang hampir copot karena ulah Damon beruntung ada kursi di sampingnya jadi ia bisa memegang kursi agar tidak jatuh.
"Apa kamu ingin membuatku jantungan" pekik Victor setelah beberapa saat.
"Jika anda jantungan maka silahkan ke rumah sakit tuan muda ketiga"
"Apa! Jadi kamu berharap aku jantungan begitu" hardik Victor dengan mata melotot.
"Anda sendiri yang bilang anda jantungan bukan saya tuan muda ketiga" ucap Damon dengan santai.
"Ckk! Menyebalkan" dengus Victor dengan sinis.
"Jangan berdiri sendiri di bagian pojok jika tidak ingin terbunuh tuan muda ketiga" bisik Damon sambil berlalu pergi.
Deg..............
Jantung Victor berdetak dengan cepat mendengar bisikan Damon barusan. Perasaannya seketika tak tenang dan ia yakin jika ada sesuatu yang sedang terjadi di luar saat ini.
"Vic ini makanan dan minuman buat kamu" ucap Rio sambil membawa piring dan segelas jus.
"Heemmm"
Victor menerima jus tersebut dan langsung meminumnya sekali teguk. Keduanya lalu berjalan menuju Leon dan lainnya yang sedang berkumpul bersama di satu meja.
"Kamu dari mana aja sih Vic?" tanya Leon.
"Habis dari toilet" jawab Victor.
"Oh"
"Wow Lili apa ini benar kamu" puji Victor dengan decak kagum.
"Iya ka Vic" ucap Lili dengan malu-malu.
"Jangan centil ka" ucap Henry dengan sinis.
"Diam kamu bocah" hardik Lili dengan suara tinggi.
"Lagian kenapa sih ka pakai baju kurang bahan kayak gitu. Kayak orang miskin aja tak mampu beli kain apa!" ketus Henry tak suka melihat gaun kakaknya yang sangat terbuka.
"Bocah mana paham tentang fashion" tambah Leon.
"Kakak jangan tambah deh" ketus Henry dengan sinis karena masih kesal dengan Leon.
"Bocah jangan bilang kamu masih kesal karena semalam" tebak Leon.
"Kalau iya emang kenapa"
"Nih bocah emang minta di pukul lagi" Leon berjalan menghampiri Henry dan merangkul lehernya dengan kuat.
"Sialan! Lepasin aku ka! Lepas ka Leon" pekik Henry dengan suara tinggi.
"Tidak sebelum kamu bilang tidak kesal lagi"
"Oke oke!! Aku tidak kesal lagi sama ka Leon" jawab Henry dengan cepat.
"Nah gitu dong" ucap Leon sambil melepas leher Henry.
Henry memaki dan mengumpat Leon dalam hati karena selalu saja ia tidak akan pernah bisa kesal terlalu lama dengan Leon.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Max yang melihat wajah adiknya merah padam.
...π π π π π...
Semua mata langsung menatap Katy dan Max, Victor yang berada di samping Katy kaget karena melihat sosok yang tadi sudah menyita perhatiannya sewaktu di gereja.
"Gadis kecil kamu sakit?" tanya Victor menunduk melihat Katy.
Blush.................
Wajah Katy semakin merah padam saat wajah keduanya terlalu dekat berjarak hanya berapa centi saja.
Apa yang harus aku lakukan. Pikiran aku blank, batin Katy dengan bingung.
"Playboy dilarang mendekati adikku" ketus Max menjauhkan kepala keduanya.
"Ckk!! Pangeran menyebalkan" decih Victor.
"Sana jangan dekat sama adikku. Putri Kerajaan Wizpet tidak boleh berdekatan dengan raja playboy seperti kamu" hardik Max dengan tatapan tak suka.
"Tutup mulutmu bocah sebelum aku robek" hardik Victor tak terima ucapan Max.
"Aku omong sesuai fakta kan"
"Salahkan saja mereka yang tergoda sama pesonaku. Lagian mereka itu yang datang kepadaku bukan aku yang minta" ucap Victor dengan sombong.
__ADS_1
"Kalian berdua berhenti debat bikin malu aja" potong Leon dengan cepat.
Keduanya saling menatap dengan tatapan tak suka membuat Katy yang melihatnya terbengong karena setahunya kakaknya tak pernah berbicara seperti itu.
"Kalian jangan musuhan nanti bisa jadi saudara loh" ucap Henry sambil terkekeh.
"Tutup mulutmu bocah sialan" maki keduanya dengan serentak.
Prok..........prok..........prok..........
"Fix! Kalian berdua itu cocok satu sama lain buat jadi ipar" ucap Henry sambil bertepuk tangan.
"Never" ucap keduanya lagi dengan serentak.
Hahahaha................
Tawa Henry dan Leon pecah disana membuat semua pasang mata tertuju kepada mereka tapi tidak dipedulikan.
Victor dan Max mendengus kesal sambil duduk kembali di kursi mereka masing-masing. Sebelum itu Max bertukar kursi dengan adiknya membuat Katy menatap sang kakak dengan bibir mengerucut.
"Jangan membantah princess. Bibirmu itu jelek seperti bebek" ejek Max.
"Prince menyebalkan!!" kesal Katy dengan wajah cemberut.
Mengemaskan, batin Victor.
Eehhhh...........
Ia menggelengkan kepalanya mengingat ucapan Henry barusan tentang ia dan Max yang menjadi saudara. Otaknya langsung menentang hal itu karena tak suka dengan kelakuan Max.
"Ka Victor boleh minta foto bareng tidak?" tanya Jesika.
"Boleh"
Katy menatap Jesika dengan bibir mengerucut melihat Jesika yang berfoto dengan idolanya. Padahal ia juga mau tapi dilarang oleh Max kakaknya sedari tadi.
"Kenapa?" tanya Max pura-pura tak tahu dengan apa yang adiknya inginkan.
"Prince" lirih Katy dengan mata berkaca-kaca.
"Baiklah! Ingat jangan terlalu dekat" pasrah Max mengijinkan adiknya berfoto dengan idolanya.
Katy memeluk Max dengan erat merasa sangat senang. Ia kemudian mendekati Victor dengan malu-malu ingin foto bareng.
"Kenapa gadis kecil? Mau foto bareng pangeran tampan ini?" tanya Victor sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Bo....leh" ucap Katy dengan gugup sambil menunduk.
"Tentu saja boleh" ucap Victor dengan cepat.
Victor lalu mengambil hp Katy dan menyerahkannya ke Rio untuk memfoto keduanya. Mata Katy melotot kaget saat tiba-tiba pinggangnya dipeluk erat Victor.
"Lihat kameranya baby girl" bisik Victor di telinga Katy.
Dengan cepat Katy melihat ke arah kamera dan langsung dibidik oleh Rio yang mendadak jadi fotografer dadakan.
Beruntung Max sedang sibuk dengan hpnya jadi ia tidak melihat keduanya jika tidak ia pasti sudah memaki Victor.
"Sosweet banget" ucap Lili dengan wajah imut.
"Terima kasih k.....a" ucap Katy dengan gugup.
"Sama-sama baby girl" bisik Victor membuat bulu kuduk Katy remang.
Victor tersenyum manis melihat wajah Katy yang merona karena malu. Dengan cepat Katy bergegas menuju tempat duduknya tak ingin terlalu lama berada dekat Victor karena jantungnya seperti sedang lari maraton.
"Ka Victor tahu tidak Katy itu ngefans banget sama kakak" ucap Jesika yang tahu sepupunya itu sangat mengidolakan Victor.
"Really?" tanya Victor dengan kaget.
"Heemmm! Bahkan di dalam kamarnya penuh dengan foto dan poster ka Victor. Apa lagi ada album foto khusus ka Victor yang Katy buat sendiri dari foto ka Victor masih bayi hingga sekarang" papar Jesika dengan menggebu-gebu.
"JESIKA KEUNG" ucap Max dengan suara dingin sambil menatap tajam Jesika.
Jesika menunduk takut karena ia tahu tatapan Max saat ini menyiratkan kalau ia sedang marah.
"Maaf ka" cicit Jesika.
"Heemmm"
Henry yang orangnya penasaran melihat Katy semakin penasaran seberapa fansnya Katy kepada Victor.
"Katy beneran kamu fansnya ka Victor?" tanya Henry dengan cepat.
Bocah ini mulai lagi, batin Leon yang tahu tingkat penasaran Henry seperti apa.
"Iya ka" ucap Katy dengan pelan.
"Wah berarti ka Victor menang banyak dong dapat fans yang cantik dan mengemaskan kayak kamu"
"Henry" hardik Max dengan mata melotot.
"Isshh! Ka Max biasa aja dong matanya. Orang lagi nanya Katy juga" dengus Henry dengan kesal menatap Max.
"Bocah jangan bertanya lagi deh" ucap Leon.
"Kamu fansnya ka Victor sejak kapan?" tanya Henry lagi.
"Sejak dia masih SD" jawab Jesika dengan cepat.
"Beneran?" tanya Henry dengan mata melotot.
"Beneran. Bahkan waktu gosip ka Victor yang bunuh orang waktu itu membuat Katy menangis ingin menemui ka Victor karena ia yakin ka Victor bukan pembunuh" papar Jesika dengan cepat.
"Bahkan uncle Bryan waktu itu sampai meminta bantuan ke ka Mikhail mencari bukti tentang ka Victor yang dituduh membunuh di club karena permintaan Katy. Dan karena hal itu uncle Xavier bisa mendapat bukti dari ka Mikhail tentang siapa pembunuh yang sebenarnya" tambah Jesika dengan menggebu-gebu.
"Apa" ucap Victor dengan kaget.
__ADS_1
"JESIKA!" bentak Max dengan tatapan membunuh
Jesika menunduk takut melihat kemarahan di wajah Max. Sebelum Victor berbicara tangan Katy sudah ditarik Max pergi dari sana sambil memberi isyarat Jesika untuk mengikutinya.
Jadi karena dia aku bebas dari tuduhan itu, batin Victor dengan kaget.
~ *Mansion Utama R**ahardian* ~
Suasana makan malam terasa sangat mencekam seperti tidak biasanya. Sean menatap putra sulungnya yang duduk di depannya dengan tatapan dingin tak ada ekspresi apapun.
Riko menatap satu persatu keluarga besarnya dan ia sangat pusing melihat keluarga putranya yang sedari dulu tidak pernah akur.
Kenapa keluarga anakku seperti ini, batin Riko.
Tatapan mata Riko bertatapan dengan adiknya Riki yang menatapnya menanyakan perihal Ares dan saudara tirinya.
Selesai makan malam mereka semua beranjak menuju ke ruang keluarga dan duduk disana. Riko menatap putra tunggalnya dengan tatapan datar melihat Sean yang tidak duduk berdampingan dengan istrinya Calista.
"Aku harap lusa semuanya bisa ambil bagian di pesta kesembuhan aku di sini" ucap Riko dengan suara tegas diusia tua.
"Baik pa" ucap Sean dan Calista serentak.
"Baik ka" ucap Riki dan suami Rani serentak.
"Baik opa" ucap semua cucunya serentak
"Om berapa banyak tamu undangan kali ini?" tanya Denis.
"1000 undangan om" jawab Ares karena dia yang menghendel acara kali ini.
"Banyak juga ya. Kamu yakin jamin keselamatan kita semua" ucap Calista dengan senyum sinis.
...π π π π π...
Ares menatap tajam ibu tirinya dengan tatapan tajam tak ada senyum sama sekali. Ia lalu tersenyum smirk menatap ibu tirinya itu.
"Kenapa? Apa anda takut ada musuh yang menyerang lusa?" tanya Ares sambil tersenyum menyeringai.
"Kamu" tunjuk Calista dengan emosi.
"Turunkan tangan sialanmu itu Calista!" bentak Sean dengan suara tinggi.
Suasana semakin panas karena ulah Calista, semua keluarga besar Rahardian sedari dulu sudah tahu bagaimana kelakuan Calista dan rumah tangga Sean selama ini.
"Mama cukup" bisik Demian yang tak suka sifat sang mama sejak dulu suka mengadu domba mereka.
"Diam loe sialan. Loe senangkan lihat mama di permalukan di depan keluarga besar papa" sentak Daniella kakak Demian dengan tatapan tajam.
Ares menatap ketiganya dengan tatapan sinis tak menyukai mereka. Ia lebih memilih untuk tinggal di hotel dari padi harus tinggal serumah dengan rubah licik seperti mereka.
"Aku harap di pesta lusa nanti kalian tidak menunjukan sikap seperti ini lagi" tegas Riko.
"Iya" jawab semuanya serentak.
"Ka Ares apa butuh bantuanku?" tanya Darius adik sepupunya anak dari Denis dan Sandra.
"Nanti gue kabari"
"Oke ka"
"Ka maaf anak dan cucuku mereka akan datang besok jadi tidak bisa ambil bagian untuk membantu menyiapkan pesta lusa nanti" ucap suami Rani.
"Tidak apa-apa yang penting mereka hadir. Di pesta nanti kita akan mengumumkan peresmian rumah sakit terbaru kita di Singapura"
Ares menatap Darius sepupunya yang menangani rumah sakit itu dan ia mengangguk kepala memberikan pujian untuk sepupunya itu.
"Beritahu gue jika loe butuh sesuatu" ucap Ares dengan suara dingin.
"Oke ka gue akan beritahu nanti" ucap Darius sambil tersenyum lebar.
Sifatnya yang ceria seperti Denis sang papa membuat Darius selalu bisa berbaur dengan siapa saja dengan cepat.
Ting..............
Ares mengambil hpnya yang berbunyi dan melihat ada pesan dari kekasihnya.
Mi Amorβ€
"Querido kamu pulang jam berapa?"
^^^"Aku belum tahu mi amor, mungkin larut"^^^
"Padahal aku ingin kamu beli martabak telur untukkuπ₯Ί"
^^^"Suruh pengawal untuk membelikannya buat kamu mi amor"^^^
"Aku tidak mau querido. Tak usah biar aku pergi sendiri saja"
^^^"Jangan coba-coba keluar dari mansion mi amorπ‘π‘"^^^
"Aku hanya cepat querido jadi kamu tenang saja ya"
^^^"Aku bilang TIDAK artinya TIDAK mi amor"^^^
Ares menunggu balasan pesan kekasihnya tapi tak dibalas-balas. Apa lagi pesannya belum dibaca dengan cepat Ares melihat GPS di hp Zelena dan posisinya berada di mansion.
"Kenapa son?" tanya Sean kepada putranya.
"Aku pulang pa" ucap Area berlalu pergi tak pamit lagi.
Mereka menatap Ares dengan bingung melihat kelakuan Ares yang main pergi saja tidak meminta ijin atau pamit terlebih dahulu.
"Anakmu persis kayak kamu son" cibir Riko.
"Jangan lupa watak keras aku dan dia semua dari papa" ejek Sean kembali.
"Cih" decih Riko dengan tatapan kesal menatap sang anak.
__ADS_1
...π π π π π...
To be continue..................