Heartless 2

Heartless 2
Chapter 181


__ADS_3

🍁Orang yang baik adalah orang yang sangat berbahaya karena jika kita menyakiti orang baik maka dia akan membalas kita lebih dari apa yang kita lakukan kepadanya🍁


.


.


.


.


Clarisa menatap Marcel dengan bingung melihat isyarat tubuhnya yang seperti tertekan padahal wajahnya terlihat seperti biasa.


Nyonya maafkan aku, batin Marcel lewat tatapan matanya yang terlihat menyesal.


Ada apa dengan dia? Kenapa seperti orang kesurupan aja, batin Clarisa dengan bingung.


Hoeek...............


Clarisa kembali memuntahkan isi perutnya saat matanya menatap Erich. Melihat hal itu emosi Erich semakin menjadi karena berpikir jika Clarisa muntah akibat ramuan Marcel tadi.


"Perempuan rendahan! Beraninya kamu muntah di hadapanku!" bentak Erich dengan suara tinggi.


"Lord kontrol emosi Lord. Ingat Lord tidak boleh emosi karena itu akan mempengaruhi saraf-saraf Lord sehingga membuat organ tubuh Lord menegang" potong Marcel dengan cepat.


Bukan tanpa alasan Marcel memotong ucapan Erich, karena ia melihat gerakan tubuh Erich yang hendak mengangkat tangan untuk menampar Clarisa.


Phew............


Erich membuang napasnya dengan kasar mengontrol emosi didalam dirinya. Melihat hal itu Marcel merasa sangat lega karena jika ada luka sekecil saja di tubuh sang nyonya maka nyawanya taruhannya.


"Perhatikan perempuan ja***g itu! Pastikan dia tidak memuntahkan ramuan berhargaku!" titah Erich dengan suara tegas.


"Baik Lord serahkan semuanya kepada aku" jawab Marcel dengan suara tegas.


" Waktumu 1 Minggu Marcus untuk menyelesaikan obat untukku" ucap Erich dengan suara dingin.


"Akan aku usahakan Lord"


"Jika kamu gagal dalam seminggu maka tubuhmu akan menjadi makanan penutup ular peliharaanku" ancam Erich.


"Baik Lord"


Erich segera pergi dari sana meninggalkan Marcel dan Clarisa. Mata Marcel berkilat tajam menatap punggung Erich sambil tersenyum menyeringai.


"Aku atau kamu yang akan menjadi makanan penutup ularmu itu" gumam Marcel sambil tersenyum smirk.


Hoek...........hoek...........hoek...........


Lamunan Marcel seketika buyar saat mendengar suara muntahan dari belakangnya. Saat ia berbalik ia kaget melihat wajah Clarisa yang sudah sangat pucat.


"Nyonya" ucap Marcel dengan khawatir.


"Mersi" lirih Clarisa dengan suara pelayan sambil menatap cctv di sudut ruangan.


Marcel yang tahu maksud Clarisa langsung mengangguk kepalanya mengerti. Ia lalu bertingkah acuh seakan tidak perduli dan berlalu menuju meja kerjanya.


Dengan gerakan cepat Marcel membuatkan ramuan untuk mengatasi rasa mual Clarisa. Beruntung ia membelakangi cctv jadi tidak ada yang tahu apa yang sedang ia racik saat ini.


"Nyonya seperti orang hamil saja yang selalu muntah terus" ucap Marcel dengan suara pelan tapi masih bisa didengar oleh Clarisa.


"Hamil?" tanya Clarisa dengan kaget.


Deg...............deg...........deg..........


Jantungnya berdetak dengan cepat mendengar kata hamil dan ia baru ingat jika ia sudah terlambat datang bulan bulan ini.


Marcel yang juga mendengar ucapan Clarisa seketika berbalik melihat Clarisa. Keduanya saling menatap dengan pemikiran masing-masing.


"Jadi?" tanya Marcel dengan syok.


"Aku bulan ini belum datang bulan dan aku belum memeriksanya juga" ucap Clarisa tanpa mengeluarkan suara.

__ADS_1


"Nyonya berbaring di brankar biar aku periksa" balas Marcel tanpa bersuara juga.


"Jangan lupa sarung tangannya Mersi"


"Aku tahu nyonya"


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


Beruntung keduanya bisa membaca gerakan bibir orang sehingga mempermudah mereka untuk berkomunikasi satu sama lain tanpa ada yang mendengar pembicaraan mereka.


Marcel mulai memeriksa kondisi Clarisa dengan teliti dan seketika dia syok setelah memeriksa kondisi Clarisa.


"N.....yonya" panggil Marcel dengan terbata.


"Ada apa Mersi?" tanya Clarisa dengan suara pelan.


"Anda hamil saat ini dan usianya baru 2 minggu" jawab Marcel tak bersuara.


Tes.............


Air mata Clarisa jatuh membaca gerakan bibir Marcel. Ada perasaan bahagia, sedih, dan takut didalam hatinya memikirkan dirinya yang sedang hamil.


Hubby aku mohon cepat datang, batin Clarisa penuh harap.


Sedangkan di ruangan berbeda didalam kastil Erich lebih tepatnya di kamar pribadi Erich, saat ini Kein sedang melapor tentang penyerangan anak buah mereka.


"Jadi mereka semua tidak berada di mansion mereka masing-masing?" tanya Erich dengan suara dingin.


"Iya Lord. Mereka semua pergi dengan jet milik tuan muda pertama Wesly dan nyonya Parker" jawab Kein.


"Apa anak buahmu berhasil menyusup?" tanya Erich dengan cepat.


"Mereka tidak berhasil Lord tapi mereka sudah menaruh pelacak di salah satu anak buah tuan muda pertama Wesly Lord" jawab Kein dengan suara dingin.


"Heemmm! Pastikan pelacak itu berfungsi agar kita bisa tahu kemana tujuan mereka" titah Erich.


"Baik Lord"


"Tidak perlu karena itu percuma saja. Aku hanya ingin darah semua keluarga besar mereka bukan barang mereka" jawab Erich dengan suara tinggi menatap Kein dengan sinis.


"Baik Lord saya paham" ucap Kein sambil membungkuk hormat.


"Suruh anak buah kita untuk stand by dan jika sudah dapat lokasi mereka segera kalian bergerak semua" titah Erich dengan suara tegas.


"Baik Lord"


Kein segera keluar dari kamar Erich dan mengirim kabar kepada anak buahnya yang berada di California.


Setelah kepergian Kein tiba-tiba darah keluar dengan sangat banyak dari hidung Erich. Ia bergegas mengambil suntikan penawar racun yang dibuatkan oleh Marcel dan menyuntiknya di tangan.


"Sialan!" maki Erich setelah berhasil menyuntik obat penawar racun itu.


Ia berpikir jika hal itu karena racun ditubuhnya yang harus di suntik dengan penawar setiap 12 jam sekali agar kembali ke semula, tapi ternyata ia salah.


Darah yang keluar dari hidung Erich adalah efek racun yang dilepas Marcel beberapa waktu yang lalu, mimisan adalah tanda jika racun itu sudah mulai menggoroti organ didalam tubuhnya.


~ Shadow Island ~


Deg................


Jantung Mikhail tiba-tiba terasa sangat sakit membuat Damon yang sedang didepannya segera memindainya saat melihat Kingnya meringis.


"Tubuh anda semuanya baik-baik saja King" ucap Damon setelah memindai tubuh Mikhail.


"Clarisa" gumam Mikhail dengan rasa khawatir.


Entah kenapa ia merasa sangat sedih, takut, dan cemas memikirkan sang istri. Ia tahu jika jantungnya yang tiba-tiba sakit itu ada hubungan dengan sang istri.


"Apa ada informasi terbaru dari Marcel?" tanya Mikhail dengan suara dingin.


"Tidak ada King. Marcel hanya mengirim kabar jika racunnya sudah mulai menyebar dan kita bisa menyerang mereka 4 hari lagi King" jawab Damon dengan suara dingin dan tegas.

__ADS_1


"Fu*k! Kenapa selama itu sih!" bentak Mikhail dengan emosi.


"Itu karena racunnya akan bekerja sepenuhnya dalam empat hari lagi King" ucap Damon menjelaskan.


"Kita ke lab dokter gila itu" titah Mikhail dengan suara dingin.


"Baik King"


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


Keduanya lalu pergi ke lab Marcel yang terletak di paling ujung pulau terpisah dari kastil. Sepanjang jalan semua anak buah Black Shadow menunduk memberi hormat kepada King mereka.


Mereka tidak berani mengangkat kepala mereka melihat Mikhail karena tidak ingin mendapat pukulan dari tangan kanannya.


Aura King sangat menakutkan, batin uncle Juan dengan tubuh gemetar saat Mikhail melewatinya.


~ Markas Utama Devil Dragon ~


Jet milik Xander, Xavier, dan Valeria akhirnya tiba di markas utama Devil Dragon. Saat Xander keluar ia langsung disambut oleh seluruh anak buahnya.


"Selamat datang bos" ucap semua anak buah Xander dengan serentak.


"Uncle Ken, uncle Sean datang ke ruangan aku sekarang" titah Xander dengan suara dingin dan tegas.


"Baik bos" ucap keduanya dengan serentak.


Xander melirik daddynya untuk membawa seluruh keluarga mereka ke tempat mereka masing-masing karena ia harus mengurus pengamanan disini dan mengatur anak buahnya.


"Twin aku lapar" bisik Victor di telinga Vincent karena Vincent sedang mengendong Natasha yang sedang tertidur pulas.


"Minta sana sama pak Dev" balas Vincent dengan suara dingin.


"Aku tidak mau twin. Aku pengen masakan mommy tapi mommy terlihat sangat lelah makanya aku minta sama kamu twin" ucap Victor sambil memanyunkan bibirnya.


"Ckk!! Kamu kan tahu aku tidak bisa masak Vic" ketus Vincent dengan kesal.


"Tapi sandwich buatanmu rasanya persis dengan buatan mommy twin" balas Victor dengan wajah memelas.


Phew............


Vincent membuang napasnya dengan kasar melihat wajah sedih kembarannya. Ia tahu jika saat ini Victor memang benar-benar ingin masakan mommy mereka tapi ia tidak ingin menganggu mommy mereka yang sudah tidur.


"Baiklah akan aku buatkan" ucap Vincent mengalah pada akhirnya.


"Yeayy! Kamu memang terbaik twin" pekik Victor dengan senang.


Vincent hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sang adik. Ia lalu bergegas menuju kamarnya di markas dan menaruh Natasha di tempat tidur dengan sangat pelan.


Sebelum pergi ia sudah menyelimuti istrinya dengan selimut agar tidak kedinginan.


Sampainya di dapur di markas Vincent kaget melihat keberadaan Leon, Henry, Rio, Katy, Jesica, dan Lili disana.


"Kalian kenapa disini?" tanya Vincent dengan mata memicing.


Semuanya memamerkan gigi mereka membuat Vincent yakin ada sesuatu yang tidak beres dengan mereka.


"Kami juga ingin sandwich buatan kamu Vin" ucap Leon mewakili semuanya.


"VICTOR" teriak Vincent dengan suara tinggi menatap kembarannya.


"Hehehehe! Aku hanya pamer saja ke mereka twin tidak tahunya mereka juga ingin sandwich buatanmu twin" ucap Victor sambil terkekeh.


"Fu*k you" maki Vincent dengan kesal.


Victor tidak perduli dengan makian kembarannya karena sudah terbiasa. Mau tak mau Vincent harus membuatkan sandwich untuk mereka semua dengan dibantu pak Max dan koki yang mereka bwa dari mansion.


Tanpa mereka semua sadari ternyata saat ini pasukan Erich yang berjumlah 5.000 orang sedang menyusul mereka ke sana setelah mendapat lokasi mereka dari pelacak yang mereka pasang.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


To be continue...............

__ADS_1


__ADS_2