
πLebih baik hidup sebagai orang tak punya tapi memiliki kelakuan yang baik dari pada hidup sebagai orang yang berpunya tapi memiliki kelakuan yang burukπ
.
.
.
.
Karena keasyikan membuka kado yang begitu banyak Zelena sampai lupa apa yang disuruh Ares tadi.
Ting...........
Zelena yang mendengar ada bunyi pesan masuk bergegas mengambil hpnya di atas tempat tidur dan melihat siapa yang menghubunginya.
Manusia Es
"Gue udah di gerbang depan mansion"
Mata Zelena melotot membaca pesan Ares, ia menepuk jidatnya karena melupakan ucapan Ares yang akan menjemputnya 1 jam lagi.
Dengan cepat Zelena membalas pesan Ares untuk menunggu sebentar lagi karena ia masih bersiap padahal ia baru saja akan mandi.
"Bodoh loe Zelena kenapa bisa ampe lupa sih" gumam Zelena merutuki kebodohannya sambil bersiap-siap.
Ares mendengus kesal setelah menunggu 35 menit Zelena belum muncul juga. Baru saja ia akan menghubungi Zelena ternyata yang di tunggunya sudah muncul di gerbang.
Zelena bergegas masuk ke dalam mobil Lamborghini warna hitam milik Ares dengan napas satu-satu. Ternyata capek juga berlari dari mansion ke gerbang depan.
"Nih minum dulu" Ares menyodorkan sebotol air mineral ke Zelena.
"Loe ngak nga....sih racun k...an?" tanya Zelena dengan napas satu-satu.
"Ckk!! Gue udah taruh sianida tadi" ketus Ares dengan kesal.
"Apa" teriak Zelena dengan kaget.
"Zelena" desis Ares merasa kupingnya sangat sakit mendengar teriakan Zelena barusan.
"Ternyata loe mau racunin gue ya" tuduh Zelena.
"Ngak"
"Tapi tadi loe bilang loe udah taruh sianida"
"Zelena loe itu polos banget ya. Mana mungkin gue taruh sianida di minuman loe padahal botol minumannya masih tersegel" dengus Ares dengan tatapan tajam.
"Yah bisa aja kan, kayak di TV orang bisa taruh racun ke minuman tanpa harus membuka segel tutupnya"
"Jangan terlalu banyak nonton film yang ngak jelas" ketus Ares dengan kesal.
"Kenapa?" tanya Zelena dengan wajah polos.
"Nanti otak loe bisa tercemar"
"Gimana caranya. Bukannya otak ada di dalam kepala dan ngak bisa tercemar ya" ucap Zelena dengan tatapan bingung.
Phew...............
Ares membuang napasnya dengan kasar mendengar ucapan Zelena yang kelewat polos. Entah kenapa saat bersama Zelena ia yang pribadinya datar dan dingin sedingin gunung es bisa mencair.
Ares lalu membuka botol mineral tadi dan meneguknya setengah lalu memberikan ke Zelena.
"Gue udah minum kalau ada racun gue juga bakal mati" sarkas Ares dengan kesal.
Lama Zelena berpikir akhirnya ia menerima botol minuman dari Ares, ia yakin jika Ares tidak akan menaruh racun apa lagi ia juga sudah meminumnya jadi tidak mungkin.
Ares lalu melajukan mobilnya pergi dari mansion Zelena, pengawal gelap Zelena yang sedari tadi memantau keduanya juga bergegas mengikuti keduanya pergi tak lupa mengirim pesan ke Xander.
"Kita mau kemana?" tanya Zelena yang susah bosan duduk terlalu lama di dalam mobil.
"Bentar lagi sampai" ucap Ares dengan singkat.
...π π π π π...
Benar saja tak sampai 10 menit mobil Ares berhenti di sebuah bukit di pinggiran kota. Keduanya lalu bergegas turun dan saat Ares menatap Zelena ia tersenyum melihat Zelena yang sepertinya menyukai tempat ini.
"Wah indah banget" ucap Zelena dengan decak kagum.
__ADS_1
"Loe suka?" tanya Ares dengan suara lembut.
"Suka banget! Gue baru tahu ada tempat seindah ini di sini" pekik Zelena dengan berlari ke tengah bukit.
Zelena menatap sekelilingnya yang gelap berkilau karena cahaya bintang dari langit yang menyinari tempat itu. Dia yakin jika siang hari pasti bukit ini akan terlihat indah.
"Ayo ikut gue" ajak Ares menggenggam tangan Zelena.
"Kemana?" tanya Zelena.
Ares tak mengatakan apa-apa dan berlalu pergi ke arah ujung bukit dan seketika Zelena kaget sampai mulutnya menganga melihat pemandangan di depannya.
Wowww................
Zelena tak berhenti berdecak kagum melihat ratusan kunang-kunang yang beterbangan di depannya dan sangat indah untuk di pandang.
Duar..........duar..........duar........
"Happy birthday Zelena" bisik Ares di telinganya saat kembang api meledak di langit.
"Ares........hiks hiks hiks" ucap Zelena tak kuasa menahan tangisnya.
"Jangan menangis" ucap Ares dengan suara lembut.
Grep..........
Zelena memeluk tubuh Ares dengan erat karena tak menyangka ia akan di beri kejutan yang sangat indah di malam ulang tahunnya.
"Terima kasih Ares" ucap Zelena sambil tersenyum manis menatap Ares dalam pelukannya.
Deg...............
Jantung Ares berdetak dengan cepat melihat senyuman manis Zelena yang sama persis dengan gadis kecilnya yang menjadi cinta pertamanya.
Perasaan apa ini, kenapa rasanya sama persis dengan waktu itu, batin Ares menatap Zelena tak berkedip.
"Ares" panggil Zelena dengan suara lembut.
"Jadi pacar gue Zelena" ucap Ares dengan suara tegas setelah lama berpikir.
"A....pa" ucap Zelena dengan kaget.
"Gue udah suka sama loe sejak kita bertemu pertama kali. Entah kenapa gue selalu ingat loe terus dan rasanya sangat nyaman saat dekat loe" jujur Ares dengan perasaannya sendiri.
"Zelena" ucap Ares sambil mengelus pipinya dengan lembut.
"Loe cuma penasaran aja sama gue Ares! Perasaan loe itu hanya sesaat aja" ucap Zelena sambil tersenyum getir.
Ares tahu maksud ucapan Zelena tapi entah kenapa ia tidak suka mendengar ucapan Zelena barusan. Zelena lalu melepas pelukannya dan memilih melihat ke depan tak ingin melihat Ares yang semakin membuat hatinya sakit.
Kenapa rasanya sakit sekali, batin Zelena tanpa sadar air matanya jatuh.
Grep...........
Ares memeluk Zelena dari belakang dengan erat merasakan rasa yang tak pernah ia rasakan selama ini selain dengan cinta pertamanya.
~ Kenzo Resto ~
Xander dan David baru saja selesai meeting bersama kliennya. Setelah kliennya pergi keduanya masih duduk di salah satu ruang VIP yang tadi mereka pakai.
"Apa kamu sudah dapat identitas orang itu?" tanya Xander dengan suara dingin.
"Aku sudah mengirimnya ke email bos" ucap David dengan suara dingin.
"Heemmm"
Xander menatap informasi yang dikirim David ke emailnya di iPad. Saat melihat foto Ares entah kenapa Xander seperti pernah melihatnya.
"Dia adalah salah satu bilioner termuda dan terkaya di Asia dan saat ini perusahaannya sedang merambat ke Eropa" jelas David.
"Ares Maladika Rahardian" ucap Xander seperti pernah mendengar namanya entah dimana.
...π π π π π...
Xander membaca semua informasi tentang Ares sampai sepak terjangnya di dunia bawah dan juga percintaannya.
"Mafia" gumam Xander sambil tersenyum menyeringai.
"Sepertinya orang ini cocok untuk melindungi princess disana" ucap Xander dengan suara dingin.
__ADS_1
"Tapi dia pemain wanita bos"
"Same like you" (sama seperti kamu) cibir Xander.
David mendengus mendengar ucapan Xander yang tepat sekali. Padahal bosnya itu juga sama sepertinya pemain wanita dan pencinta ONS selama ini.
"Jangan mengumpatku David" ucap Xander dengan aura membunuh.
"Maaf bos"
Xander tak mengatakan apa-apa dan segera beranjak pergi dari sana di ikuti David dan pengawal pribadinya.
Saat hendak keluar dari restoran Xander melihat Leon yang sedang makan bersama seorang wanita yang semalam ia pakai untuk menghangatkan ranjangnya.
"David adikmu arah jam 9" ucap Xander dengan datar.
David menoleh ke arah yang diberitahu oleh bosnya dan seketika matanya melotot melihat adiknya yang tengah bermesraan dengan wanita yang semalam ia bawa untuk bosnya.
"Leon" desis David mengepal tangannya.
"Pergilah! Aku akan kembali ke perusahaan" ucap Xander berlalu pergi.
"Baik bos" ucap David meski Xander sudah berlalu pergi.
David lalu mendekat ke arah meja adiknya dengan langkah tegap. Rahangnya mengeras melihat sang adik yang tidak bekerja malahan sedang pacaran.
"Jadi ini kerjaanmu Leon" ucap David dengan suara dingin.
Deg..........
Jantung Leon berdetak dengan cepat mengenali suara di belakangnya. Perlahan-lahan ia menoleh ke belakang dan tubuhnya langsung bergetar melihat wajah dingin sang kakak.
"Kakak" ucap Leon dengan gugup.
"Ikut aku sekarang" ucap David tak mau dibantah.
Leon dengan cepat mengikuti langkah kakaknya meninggalkan teman kencannya disana. Ia yakin hari ini ia tidak akan bebas seperti hari lainnya.
~ Wesly Group ~
David dan Leon segera masuk ke ruangannya di seberang ruangan Xander. Baru saja pintu di tutup seketika David langsung memberi bogem mentah kepada adiknya.
Bugh.........bugh........bugh.......bugh.......bugh......
"Am.....pun kak" pinta Leon sambil meringis kesakitan.
"Aku suruh kamu bekerja bukan untuk bersenang-senang Leon!" bentak David dengan emosi.
Bugh.........bugh.......bugh....bugh........bugh.....
David menghajar adiknya tak memberi kesempatan kepada adiknya untuk membalas pukulannya. Leon hanya bisa meringis kesakitan di sekujur tubuhnya.
"Am......pun ka" pinta Leon dengan wajah penuh lebam.
"Sekali lagi aku lihat kamu bolos di jam kerja, maka kedua kakimu akan kakak patahkan Leon" ancam David tak main-main.
"Maaf ka! Ini yang terakhir" ucap Leon.
David lalu menghubungi anak buahnya untuk membawa Leon ke rumah sakit, saat keluar dari ruangan sang kakak bertepatan dengan kedatangan Xavier yang menggeleng kepala melihat kelakuan David seperti Albert.
Ceklek..........
Pintu ruangan Xander di buka dari luar, baru saja ia ingin memarahi siapa yang berani masuk ke ruangannya seketika ia mengurungkan niatnya melihat sosok didepannya.
"Daddy" ucap Xander dengan wajah datar dan dingin.
"Heemmm"
"Ada apa daddy kesini?" tanya Xander to the point.
"Siapa perempuan yang membuatmu berubah seperti ini son?" tanya balik Xavier kepada putranya.
Tatapan mata keduanya langsung bertatapan dengan tajam. Xavier yakin ada sesuatu yang tak ia ketahui selama ini sehingga putra yang sangat ia sayangi itu berubah.
"Aku tidak ingin membahasnya dad" ucap Xander dengan suara dingin.
"Sandra Romanov"
Xander menatap daddynya dengan tatapan tak suka saat mendengar nama itu. Melihat hal tersebut Xavier hanya tersenyum smirk karena apa yang ia pikirkan ternyata benar.
__ADS_1
...π π π π π...
To be continue..............