
πAda titik dimana kita benar-benar merasa lelah, tapi kita tetap tidak akan menyerah setelah melangkah sejauh iniπ
.
.
.
.
Waktu berlalu dengan cepat dan tak terasa sudah jam 18:00, saat ini David dan Luki sedang menunggu Xander di depan ruangannya. Ketiganya akan berangkat ke mansion Albert untuk menghadiri perayaan ulang tahun Albert.
"Bos" ucap Luki dengan pelan.
"Heemmm"
"Apa saya perlu membawa hadiah untuk tuan Kendrick bos?" tanya Luki.
"Tidak perlu" ucap David dengan suara dingin.
Tak berselang lama Xander keluar dari ruangannya dan bergegas pergi ke mansion Albert.
~ Mansion Albert ~
Luki yang baru pertama kali ke mansion Albert berdecak kagum. Ia tak menyangka jika mantan asisten tuan besar juga memiliki mansion yang sangat mewah meski masih jauh mewah dari mansion utama Wesly.
Semenjak Luki menjadi asisten kedua Xander ia sudah mengetahui identitas asli dari Xander dan David. Ia waktu itu kaget bukan main mengetahui identitas asli mereka yang ternyata mafia nomor satu di dunia.
Meski begitu Luki bersyukur karena kumpulan mafia bosnya bukan seperti mafia lainnya. Mereka adalah kumpulan mafia yang bisa dibilang memberantas kejahatan dan tidak melakukan kegiatan ilegal.
"Ingat selalu berdiri dekat bos jangan pernah pergi" ucap David memperingati Luki.
"Baik bos" ucap Luki dengan sopan.
Ketiganya segera menuju ke taman belakang tempat acara kali ini. Saat mereka tiba semua pandangan langsung tertuju ke ketiganya.
"Kakak" ucap Leon menghampiri mereka semua dengan senang.
Leon langsung memeluk David karena ia pikir kakaknya itu tidak akan datang. Xander memberi isyarat kepadanya untuk bergegas menghampiri uncle Albert di depan sana.
Xander dan Luki lalu menuju ke arah kedua orang tuanya sebelum menghampiri uncle Albert. Melihat putra sulungnya sudah datang Chloe langsung memeluk anaknya.
"Baby" ucap Xavier dengan nada cemburu.
"She is my mom dad" (ini mama ku juga papa) ucap Xander dengan suara dingin.
"Ckk!" dengus Xavier.
Luki kaget melihat keposesifan bos besarnya itu, baru kali ini ia melihat langsung dengan matanya tingkat posesif seorang Xavier Wesly kepada istrinya.
"Brother" ucap Vincent memeluk kakaknya.
"Heemmm" deham Xander dengan suara dingin membalas pelukan adiknya.
"Son kenapa kamu membatalkan kerja sama dengan Mikhail?" tanya Xavier.
"Aku tidak cocok dengannya" jawab Xander dengan santai.
"Loh kenapa son? Bukannya itu akan lebih bagus jika kamu bisa bekerja sama dengan Mikhail?" tanya Chloe.
"No mom" jawab Xander singkat.
"Heemmm! Daddy percaya pilihan kamu son" ucap Xavier.
"Iya dad"
Tak jauh berbeda dengan Xavier dan keluarganya, saat ini Albert sangat senang melihat kedatangan putra sulungnya yang sedari tadi ia tunggu.
"Selamat ulang tahun daddy" ucap David sambil memeluk Albert.
"Terima kasih son, daddy senang kamu datang" ucap Albert dengan bahagia.
"David sayang sama daddy"
"Me too son" (papa juga nak).
"Leon juga sayang sama daddy dan kakak" ucap Leon berhamburan memeluk keduanya.
Semua tamu bertepuk tangan melihat kedekatan ketiga laki-laki itu. Hanya satu orang saja yang menatap ketiganya dengan perasaan bersalah, dia adalah nyonya di mansion ini.
...π π π π π...
Maafkan aku, batin Mira merasa sangat bersalah dan menyesal.
"Ndok kamu kenapa" ucap bu Asmi menepuk pundak putrinya.
"Ngak apa-apa kok bu. Aku bahagia melihat mereka bertiga" ucap Mira sambil tersenyum manis menutup luka di hatinya.
__ADS_1
"Apa kalian baik-baik saja ndok?" tanya ibu Asmi dengan curiga.
"Kami baik kok bu" jawab Mira.
Mira tersenyum getir memandang ibunya, ia tahu jika ibunya pasti mencurigainya. Perasaan seorang ibu tidak akan pernah salah menebak sesuatu yang sedang terjadi dalam rumah tangga putrinya.
"Bu aku kamar mandi dulu ya" ucap Mira saat melihat David yang berjalan menuju mansion.
Sampai di ruang tengah mansion Mira melihat David yang akan naik ke lantai dua. Ia bergegas memanggil David sebelum ia naik ke lantai dua.
"David" panggil Mira dengan suara lembut.
David berhenti saat akan naik ke lantai dua, ia berbalik melihat sosok yang sangat ia benci berdiri di depannya dengan gugup.
"Jangan sebut namaku dengan mulut kotor anda" ucap David dengan suara dingin.
"Maafkan mommy nak, mommy minta maaf untuk semua kesalahan mommy" ucap Mira dengan mata berkaca-kaca.
"Maaf! Hahahahaha" tawa David seketika pecah.
Ia melihat wanita di depannya yang sudah tak sudi ia panggil dengan sebutan mommy dengan penuh kebencian. Matanya berkilat seakan ingin mencabik-cabik Mira.
"Anda tahu, melihat anda seakan aku ingin membunuh anda saat ini juga" ucap David dengan suara dingin.
"Da....vid m....aafka...n mom....my nak" ucap Mira terbata-bata.
"Wanita ja***g seperti anda tidak pantas dimaafkan, apa lagi wanita yang tega membuang anaknya sendiri!" bentak David.
"Hiks hiks hiks......mommy salah........hiks hiks hiks......maafkan mommy nak"
"Sampai mati pun aku tidak sudi memaafkan wanita ja***g seperti kamu. Pergi dari hadapanku sebelum aku mencabikmu dan membuang tubuh kotormu itu ke anjing jalanan" teriak David menggelegar.
Duar............
Tubuh Mira bagai disambar petir mendengar ucapan anaknya, hatinya hancur berkeping-keping tak kuasa menahan rasa sakit di hatinya. Ia berlari menuju kamarnya yang tak jauh dari tangga.
Air mata David dan Mira mengalir sama-sama karena terluka. Tanpa David sadari ternyata omnya Rudi mendengar semua pembicaraan mereka, ia bergegas kembali keluar dari mansion tak bisa menahan emosinya disana.
"Keluar" ucap David dengan suara dingin.
"Ma...af ka" cicit Liliana yang juga berdiri di belakang guci saat tadi keluar dari kamar mandi.
David berjalan mendekati Liliana dengan langkah tegap membuat Liliana semakin ketakutan. Jantungnya berdetak dengan cepat takut jika David memukulnya karena sudah menguping.
"Menguping pembicaraan orang bisa membuatmu mati" ucap David dengan suara dingin.
Deg............
Jantung Liliana berdetak dengan cepat saat dagunya di angkat oleh David. Air matanya mengalir deras merasa takut jika David memukulnya atau bahkan membunuhnya karena kedapatan menguping.
...π π π π π...
"Jangan diulangi lagi" ucap David dengan suara dingin.
Liliana mengangguk kepalanya merasa takut mendengar suara baritone David. Air matanya terus mengalir deras melihat tatapan tajam dan dingin David.
David tersenyum tipis dan melepas dagu Liliana berlalu pergi. Liliana seketika terjatuh di lantai menormalkan detak jantungnya yang maraton barusan.
Sedangkan di dalam kamar utama, Mira menangis histeris sambil memukul dadanya yang terasa sangat sakit.
"Maafkan mommy nak......hiks hiks hiks" ucap Mira dengan histeris.
Mira kembali mengingat kejadian waktu itu saat pertama kali ia pergi ke club.
Flashback On#
Entah sudah berapa gelas Mira habiskan di sudut meja di dalam club di London, Inggris. Sudah 1 tahun ia pergi meninggalkan suami dan anaknya karena jati diri Albert yang seorang mafia.
Mira sangat membenci mafia dan menganggap mereka adalah pembunuh berdarah dingin dan kejam. Karena hal itulah ia memilih pergi meninggalkan suami dan kedua anaknya.
"Gue benci loe Albert" racau Mira dengan suara tak jelas.
Melihat orang-orang bergoyang di lantai dansa membuat Mira ingin melakukannya juga. Mira meliuk badannya di bawah sana tidak memperdulikan beberapa orang yang menjamah tubuhnya saat bergoyang.
"Kamu sangat menggoda sayang" bisik seorang laki-laki sambil bergoyang memeluk pinggang Mira.
"Siapa kamu?" tanya Mira yang kesadarannya mulai hilang.
"Reno baby" bisik Reno dengan sensual di telinga Mira.
Keduanya berjoget mengikuti irama musik yang semakin kencang membuat keduanya panas. Entah siapa yang memulai duluan keduanya sudah berciuman panas di bawah sana.
Dengan cepat Reno menarik Mira keluar dari club menuju hotel di seberang club. Malam itu Mira melewati malam panas bersama Reno, mengkhianati pernikahannya sendiri.
Paginya Mira bangun dan kaget melihat tubuhnya yang polos dan tidur bersama seorang laki-laki asing. Dengan cepat ia bangun dan memakai pakaian berniat pergi dari sana.
"Mau kemana sayang?" tanya Reno yang baru saja bangun.
__ADS_1
Mira tak memperdulikan ucapan Reno dan bergegas pergi, melihat hal tersebut Reno mengabaikannya toh mereka hanya melakukan hubungan satu malam.
Mira menyesal sudah pergi ke club sehingga berakhir dengan tidur dengan orang asing, sedangkan ia tidak sama sekali memikirkan pernikahannya yang sudah ia khianati.
1 Bulan kemudian
Hoekkk......hoekkk.....hoekkk......
Entah kenapa pagi ini Mira merasa sangat mual, sedari tadi ia terus memuntahkan isi perutnya. Tiba-tiba Mira mengingat sesuatu jika daru bulan lalu ia belum mendapat haid.
Tidak. Itu ngak mungkin, batin Mira dengan frustasi.
Dengan cepat ia bergegas menuju apotik dan membeli testpack. Setelah pulang dengan cepat Mira segera masuk ke dalam kamar mandi.
"Tidak! Ini semua bohong" ucap Mira dengan kaget.
Aaargghhhh..........
Mira berteriak sambil membuang testpack yang menunjukkan 2 garis tanda ia positif hamil. Air matanya mengalir tak menduga jika apa yang ia lakukan bulan lalu membuahkan hasil.
Selama kehamilannya Mira berusaha mengugurkan anak itu tapi tetap tidak berhasil. Anak di dalam kandungan Mira ternyata sangat kuat sehingga ia bertahan.
9 bulan 10 hari akhirnya Mira melahirkan seorang anak perempuan yang wajahnya sangat persis dengan Reno. Mira menangis merasa hancur saat memikirkan suami yang masih sangat ia cintai.
Melihat wajah bayinya ia sangat membenci wajah itu. Setelah bayi itu berumur 1 bulan dengan tak berperasaan Mira meninggalkan bayinya di sebuah panti asuhan.
Ia tidak memperdulikan bayi tersebut yang dianggap hanya pembawa sial saja. Selang 2 bulan kemudian Mira tiba-tiba bertemu dengan Albert saat hendak ke cafe tempat ia bekerja.
...π π π π π...
Setelah 2 tahun akhirnya Mira kembali pulang dimana Albert terus membujuknya setelah pertemuan mereka. Karena masih mencintai suaminya Mira akhirnya memilih kembali dan menerima identitas suaminya.
Ia berjanji akan menutup rapat tentang kejadian 1 tahun yang lalu, bahkan mengenai bayi perempuan yang sudah ia buang 2 bulan yang lalu di panti asuhan.
Flashback Off#
"Ini semua karena bayi sialan itu" ucap Mira dengan tatapan penuh kebencian.
2 Tahun kemudian
Selama 2 tahun hubungan Mira dan kedua anaknya belum berubah sama sekali. Albert memang sudah memaafkan istrinya dan menerimanya kembali, bahkan ia berniat menerima anak istrinya dengan laki-laki lain.
Tapi Leon dan David menentang hal tersebut, keduanya tak mau daddy mereka menerima orang lain yang bukan darah Kendrick di keluarga mereka.
Tanpa mereka sadari jika kehidupan anak itu sangatlah menderita selama ini karena hanya anak yatim piatu yang sering direndahkan orang.
~ Universitas Karya Bangsa ~
Dua orang gadis berpenampilan cupu sedang menikmati makan siang mereka di kantin. Keduanya sudah bersahabat sejak SMA dan masuk ke universitas yang sama karena beasiswa.
"Wah Zelena gue ngak nyangka ternyata masakan loe seenak ini" puji Clarisa.
"Oh jelas dong kan gue itu anak tata boga" ucap Zelena dengan sombong.
Ya kedua gadis itu adalah Zelena dan Clarisa, selama 2 tahun keduanya selalu terus bersama dan bahkan Clarisa sudah mengetahui identitas yang sebenarnya dari Zelena.
"Gimana sama kuliah loe?" tanya Zelena.
"Biasa aja seperti biasanya" ucap Clarisa.
"Apa mereka masih menganggu loe?" tanya Zelena lagi.
"Udah ngak lagi, karena emang fakultas kita kan beda sama gengnya 4G"
"Gue ngak nyangka ya bisa-bisanya mereka menamai geng mereka dengan nama 4G, emang mereka itu jaringan apa! Hehehe" ucap Zelena sambil terkekeh.
"Jangan kencang-kencang ngomongnya Lele. Kalau mereka dengar gimana"
"Bisa ngak sih sekali aja jangan manggil gue Lele" dengus Zelena dengan kesal.
"Ngak bisa Lele, kan loe tahu sendiri apa penyebabnya! Hehehe" ucap Clarisa sambil terkekeh.
"Terserah loe aja. Malas gue harus benerin nama gue terus" ucap Zelena dengan kesal.
"Jangan marah atuh neng. Nanti gue traktir es boba deh" bujuk Clarisa.
"Yang jumbo ya" ucap Zelena dengan mata berbinar.
"Oke"
Clarisa tak menyangka jika temannya itu sangat gampang dibujuk. Apa lagi ia hanya disogok sama es boba jumbo sudah tidak lagi kesal.
Keduanya bergegas pergi dari kantin menuju tempat jual es boba di depan kampus. Tanpa keduanya sadari ternyata ada seseorang yang mengambil foto Zelena dan Clarisa sedari tadi dan mengirimnya ke tuannya.
...π π π π π...
To be continue.............
__ADS_1