Heartless 2

Heartless 2
Chapter 44


__ADS_3

🍁Sebaik apapun kamu menutupi masalahmu pasti akan tetap hancur sewaktu kamu sendirian🍁


.


.


.


.


Xander berjalan keluar dari ruang gym dengan wajah merah padam menandakan ia sangat emosi. Saat tiba di lantai satu seorang pelayan tak sengaja menabrak Xander.


"M....a....afkan sa....ya t....uan" pinta pelayan tadi dengan terbata-bata.


Plak............


Xander menampar pelayan tadi dengan kuat tak peduli jika yang ia tampar itu adalah seorang perempuan karena saat ini emosinya sangat tidak stabil.


"Singkirkan dia dari hadapanku dan cambuk dia 50 kali" hardik Xander dengan suara bergema.


"Baik tuan" ucap pak Josh kepala pelayan di mansion Xander.


Ia lalu memberi isyarat kepada penjaga mansion untuk membawa pelayan tadi ke ruang bawah tanah di belakang paviliun. Suara teriakan pelayan tadi yang memohon ampun tidak di gubris oleh Xander sama sekali.


"Bos" ucap David yang baru saja datang.


Bugh.........bugh.........bugh........bugh..........


Xander memukul David dengan brutal melampiaskan emosinya apa lagi mengingat perkataan Mikhail tadi, sedangkan David hanya diam dan pasrah menerima pukulan bertubi-tubi dari sang bos.


"Apa kinerjamu sudah berkurang berengsek!" bentak Xander dengan aura membunuh.


"Maafkan saya bos" ucap David meminta maaf meski tak tahu dimana letak kesalahannya.


Bugh..........prang...........


Xander menendang David hingga menghantam guci di belakangnya sampai hancur. Pak Josh yang melihat emosi tuannya tak terkendali segera menyuruh pelayan untuk keluar dari sana.


Luki dan Christian yang baru masuk tak luput mendapat bogem mentah dari Xander saat ini sangat emosi.


"Cari tahu bagaimana King sialan itu bisa tahu mengenai Dark Dragon!" bentak Xander dengan tatapan membunuh.


Deg...........


Ketiganya kaget bukan main mendengar ucapan Xander mengenai pasukan gelapnya yang beberapa bulan baru saja pindah ke negera ini meninggalkan markas lama mereka di Spanyol.


"Bagaimana mungkin King mengetahui hal ini bos" ucap David tak habis pikir.


"Itu urusan kalian cari tahu" ucap Xander dengan suara dingin.


"Baik bos" ucap ketiganya serentak.


Xander segera pergi meninggalkan ketiganya yang sudah babak belur belum lagi keadaan mansion dekat tangga dan ruang keluarga yang sudah hancur berantakan seperti di terpa badai.


"Apa barusan ada badai disini?" tanya Victor yang baru saja masuk bersama Rio.


Victor dan Rio kaget bukan main melihat ketiga orang di depan mereka sudah babak belur entah karena apa.


"Tuan muda ketiga" ucap ketiganya serentak.


"Kalian tidak bergulat barusan kan" ejek Victor sambil terkekeh.


"Kami bergulat bersama bos tuan muda ketiga! Apa anda ingin bergabung" tawar David sambil tersenyum penuh arti.


Mata Victor melotot kaget mendengar ucapan David yang memintanya untuk bergabung dalam pergulatan itu bersama kakak kejamnya.


"Tidak terima kasih ka David. Aku harus menjaga wajah dan tubuhku ini" tolak Victor dengan cepat.


Hehehehe.........


David terkekeh melihat wajah Victor yang mulai panik saat mengetahui alasan ketiganya seperti ini.


"Rio kamu panggil Lili di depan buat rawat ka David dan lainnya" perintah Victor dengan santai.


"Who is that Vic?" (siapa itu Vic) tanya Rio yang baru pertama kali dengar nama Lili.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


Victor berbalik menatap manajernya seakan ingin menelannya hidup-hidup saat ini juga.


"Rio jangan banyak tanya lakukan saja perintahku" hardik Victor dengan emsoi.


"Ya ampun Vic aku memang tidak tahu siapa itu Lili" balas Rio dengan wajah kesal.


"Gunakan otakmu itu Rio jangan bodoh" ketus Victor.


Dengan kesal Rio berlalu keluar mencari siapa yang bernama Lili di luar dan menyuruhnya masuk ke dalam untuk mengobati David dan lainnya.


"Dimana brother ka David?" tanya Victor.


"Sebaiknya tuan muda ketiga jangan menganggu bos saat ini" sentak David dengan tegas.


"Why?" tanya Victor dengan kening berkerut.


"Mood bos sedang tidak bagus hari ini tuan muda ketiga"

__ADS_1


Victor mengangguk kepalanya mengikuti ucapan David karena ia tahu jika kakak pertamanya itu kalau emosi hanya daddynya saja yang bisa menghentikannya.


Tak berselang lama Rio masuk bersama Liliana yang berjalan dengan membawa peralatan kesehatan yang selalu ia bawa kemana saja.


"Kenapa tuh muka kayak baju kusut aja" cibir Victor kepada managernya.


"Kenapa kamu tidak bilang kalau Lili itu Liliana sih Vic" protes Rio.


"Loh kan Lili itu namanya bodoh" cibir Victor.


"Tapi aku tahunya namanya Liliana Vic. Buat malu aja nanya ke semua orang siapa itu dokter Lili di luar" sungut Rio dengan cemberut.


"Itu resiko kamu hubungannya sama aku apa" ketus Victor.


"Kamu memang menyebalkan Vic"


"Baru tahu kamu" sinis Victor sambil tersenyum mengejek.


Rio hanya mencebik kesal melihat senyuman Victor yang mengejeknya dan selalu membuatnya darah tinggi akan kelakuannya setiap hari.


Sedangkan David sedari tadi menatap Liliana tanpa berkedip entah kenapa ia merasa betah terus memandang wajah natural Liliana.


"Kapan kamu berangkat ke Indonesia?" tanya David dengan suara dingin.


"B.....eso.....k ka" ucap Liliana dengan gugup.


"Jaga diri disana dan segera kabari aku jika ada yang tidak beres" ucap David mewanti-wanti Liliana.


"Iya ka" ucap Liliana sambil tersenyum manis.


~ Hilton Hotel ~


Clarisa yang merasa lelah di tambah seluruh badannya terasa sakit masih tertidur sejak mereka tiba hingga malam.


"Risa ayok bangun kita makan malam dulu" ucap Zelena mengoyang tubuh Clarisa agar bangun.


"Eeuunggghhh! Gue masih ngantuk Lele. Loe makan aja sana" ucap Clarisa dengan mata terpejam.


"Oke deh kalau gitu"


Zelena segera berlalu keluar menuju restoran hotel karena perutnya sudah keroncongan minta diisi. Sampainya di restoran hotel lagi-lagi ia berdecak kesal melihat Ares dan Gres yang makan satu meja bersama rektor.


Ckk!! Enek gue lihat mereka, batin Zelena dengan kesal.


Zelena mengumpat sambil mengambil makanan dan memaki Ares di dalam hati yang sedari tadi di tempel Gres kayak perangko.


Mata Ares menangkap keberadaan kekasihnya dari saat ia masuk, entah kenapa melihat bibir Zelena yang manyun membuatnya ingin menciumnya karena sangat imut.


Selesai mengambil makanan ia segera berlalu menuju meja paling ujung di dekat jendela agak menjauh dari keramaian.


"Sorry miss, can i sit here because all the seats are full" (maaf miss, apa saya boleh duduk disini karena semua tempat susah penuh) tanya seorang pria paruh baya.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


Saat makan entah kenapa Zelena merasa tak nyaman makan bersama kakek tersebut.


Apa lagi saat ia mendapati kakek di depannya itu sekali-kali melihatnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


Kamu sangat cantik gadis kecilku, batin Steven Lim.


Ya ternyata orang yang duduk satu meja dengan Zelena adalah Steven Lim atau Mario Drule pria yang pernah menculik Zelena dan membuatnya menjadi seorang psycopath.


"Cute girl what's your name?" (gadis manis siapa namamu) tanya Steven dengan suara menggoda.


Zelena mengerutkan keningnya merasa tak suka dengan panggilan itu. Ia langsung menatap Steven yang sedang tersenyum manis menatapnya saat ini.


Deg...............


Jantung Zelena berdetak dengan cepat saat melihat kalung yang di pakai oleh kakek di depannya. Tiba-tiba sekelebat ingatan bermunculan di kepalanya membuat kepalanya terasa sangat sakit.


Zelena berlari keluar tak menggubris panggilan Steven yang bertanya ada apa dengannya. Ares yang melihat hal itu entah kenapa hatinya tak tenang merasa ada sesuatu yang tak beres dengan kekasihnya.


...Bunuh Dia Bunuh Dia Bunuh Dia...


Suara bisikan itu terus berdatangan membuat kesadaran Zelena mulai hilang kendali, tapi sekuat tenaga ia lawan sesuai perkataan aunty Valeria waktu itu.


"Aaarrghhh! Sakit.....hiks hiks hiks" teriak Zelena sambil menangis di dalam lift.


Zelena yang kesakitan tak tahu jika tombol lantai yang ia tekan adalah lantai paling atas menuju rooftop.


"Cari dimana gadisku!" bentak Ares dengan emosi.


"Nona Zelena berada di lift menuju rooftop tuan" ucap Gery saat melihat cctv hotel dari iPad.


Ares bergegas masuk ke dalam lift khusus untuknya dan menekan tombol 60 menuju rooftop menyusul Zelena.


Ceklek.........


Zelena berjalan menuju ke depan sambil bergumam Bunuh Dia apa lagi tatapan matanya yang kosong seperti mayat hidup.


"Zelena" teriak Ares dengan panik saat tiba di rooftop.


Ares berlari dengan langkah cepat menuju Zelena yang sedikit lagi sampai di ujung rooftop apa lagi rooftop tidak ada pembatasnya karena itu adalah landasan heli.


Grep............

__ADS_1


Jantung Ares berdetak dengan cepat setelah berhasil menarik Zelena yang satu langkah lagi ia akan jatuh dari lantai 60 ke bawah.


"Loe udah gila! Hah" bentak Ares dengan suara tinggi.


...Bunuh Dia Bunuh Dia Bunuh Dia...


Ares kaget bukan main mendengar gumaman Zelena seperti gadis kecil waktu itu. Dengan cepat Ares menatap Zelena dan lebih kaget lagi melihat tatapan mata Zelena.


Deg...........


Jantung Ares berdetak dengan cepat saat matanya menangkap kalung yang sangat ia kenali di leher Zelena. Hatinya bergemuruh dan tak sadar air matanya menetes tak menyangka kekasihnya adalah cinta pertamanya.


"Mi Amor" bisik Ares dengan suara lembut.


Seperti obat penenang bisikan-bisikan itu seketika hilang dari pikiran Zelena. Matanya menatap ke atas melihat Ares yang memandangnya dengan tatapan penuh cinta sambil menangis.


"Querido" ucap Zelena dengan suara lembut sambil memegang rahang Ares.


"Yes it's me mi amor" (ya ini aku cintaku) ucap Ares dengan suara lembut.


Zelena tersenyum manis dan tak lama ia pingsan dalam pelukan Ares.


"Mi amor bangun" ucap Ares dengan panik.


Ares mengendong Zelena dengan wajah panik dan cemas segera berlalu menuju kamar khusus untuknya di lantai 58.


"Panggil Liam cepat!" bentak Ares dengan emosi.


"Baik tuan" ucap Gery.


Gery segera menghubungi Liam sahabat sekaligus dokter pribadi Ares untuk segera datang ke hotel Hilton secepatnya.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


Ares membaringkan Zelena di kasur dengan pelan dan duduk di samping Zelena sambil memegang tangan kekasihnya dengan lembut.


Wajahnya terlihat khawatir melihat wajah Zelena yang pucat dan belum juga sadarkan diri.


"Tuan dokter Liam sudah sampai" ucap Gery.


"Loe ngak kenapa-napa kan Ares?" tanya Liam dengan napas satu-satu.


Beruntung ia berada di Bandung jadi ia dengan cepat datang ke hotel Hilton setelah Gery menghubunginya beberapa menit yang lalu.


"Kenapa loe ngak bawa dokter perempuan!" bentak Ares meradang melihat Liam yang datang untuk memeriksa keadaan Zelena.


"Hah! Loe jangan bercanda ya bro. Sejak kapan loe punya dokter pribadi perempuan" ketus Liam dengan kesal.


"Gua ngak mau tahu cepat cari dokter perempuan buat periksa cewek gue" hardik Ares dengan suara tinggi.


"Jadi bukan loe yang sakit?" tanya Liam dengan mata melotot.


"Gery loe budek apa! Hah" bentak Ares dengan tatapan tajam.


"Maaf tuan" ucap Gery dengan suara dingin.


Melihat Gery yang dibentak membuat Liam tak habis pikir dengan kelakuan sahabatnya itu yang egois dan tempramen.


"Tuan lebih baik biarkan dokter Liam memeriksa keadaan nona Zelena sebelum nona kenapa-napa" ucap Geri memberi pendapat.


Area memikirkan ucapan Gery yang ada benarnya juga, pasalnya saat ini prioritasnya adalah Zelena yang tiba-tiba pingsan.


"Loe periksa cewek gue" ucap Ares dengan ketus.


Baru saja Liam ingin menempelkan stektop di dada Zelena ia langsung di sembur oleh Ares.


"Loe mau ngapain sama cewek gue sialan" hardik Ares.


"Lalu gue musti periksa cewek loe gimana sih bro" ketus Liam dengan kesal.


"Periksa nadinya" ucap Ares dengan suara dingin.


Liam tak berkata apa-apa dan memeriksa gadis di depannya sesuai perkataan Ares. Saat menatap Zelena entah kenapa ia merasa pernah melihat wajah itu tapi entah dimana.


"Ini beneran cewek loe kan?" tanya Liam dengan tatapan selidik.


"Ngak usah kepo! Gimana keadaannya" hardik Ares.


"Diam cuma pingsan aja ngak ada yang berbahaya"


"Loe yakin?" tanya Ares selidik.


"Kalau loe ragu loe bawa aja cewek loe ke rumah sakit sana" dengus Liam.


"Heemmm! Ya udah loe pulang sana" usir Ares.


"Berengsek loe sialan! Teman laknat loe" ketus Liam dengan kesal.


Ares tak memperdulikan ucapan sahabatnya dan memberi isyarat kepada Gery untuk mengantar sahabatnya itu pulang.


"Akhirnya gue menemukan loe mi amor" ucap Ares dengan tatapan penuh cinta.


Sedangkan kedua pengawal gelap Zelena saat ini tengah pusing mencari keberadaan Zelena yang tiba-tiba menghilang dari restoran.


Keduanya sibuk mencari keberadaan Zelena karena jika sesuatu terjadi kepada Zelena maka bisa di pastikan nyawa keduanya akan melayang.

__ADS_1


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


To be continue.........


__ADS_2