
🍁Janganlah menjadi tersangka yang berpura-pura menjadi korban karena perlahan-lahan kamu akan berubah menjadi tersangka🍁
.
.
.
.
“Bangsat!!!” maki Xander dengan suara tinggi setelah Mikhail pergi.
Semuanya diam tak ada yang berani menegur Xander karena tak ingin menjadi pelampiasan amarahnya. Sedangkan Victor ia segera menyuruh Lili untuk memeriksa tubuhnya tak lupa mengambil darahnya untuk diperiksa lagi.
“David bereskan semua kekacauan ini” ucap Xavier dengan suara tegas.
“Baik bos besar” ucap David dengan suara dingin.
“Lili kamu teliti penawar yang diberikan Damon tadi dan buat penawar itu untuk para pelayan dan penjaga yang terkena racun” titah Kevin dengan suara tegas.
“Iya daddy” jawab Lili dengan patuh.
Sedangkan Xander ia pergi bersama daddynya menuju ruang kerja daddynya. Vincent dan lainnya lalu pergi ke lantai dua karena para pelayan akan membersihkan seisi mansion yang penuh dengan pecahan kaca.
“Aku tidak menyangka hari ini akan melihat sosok asli seorang King Shadow” ucap Henry dengan histeris.
“Auranya sangat menakutkan” ucap Leon.
“Iya aku setuju dengan ucapan ka Leon. Apa lagi saat ka Xander dan King bertarung tadi” tambah Henry dengan suara melengking.
“BOCAH” hardik Vincent dengan suara tinggi merasa kesal karena Henry sangat berisik.
“Hehehe! Sorry brother Vin” ucap Henry sambil terkekeh.
“Setidaknya kamu sudah mendapat penawarnya Vic” ucap Rio dengan lega sambil menatap Victor.
“Apa yang kamu pikirkan Vic?” tanya Vincent yang melihat kembarannya sedari tadi diam saja.
“Aku itu penasaran dari mana King bisa mengetahui pelayan sialan itu? Bukannya brother dan ka David sudah mengecek ulang semua pekerja disini?” tanya Victor dengan cepat.
“Aku sependapat dengan ucapan Victor barusan” tambah Leon.
“Ka Mikhail itu orang yang sangat sulit ditebak. Bahkan aku, mommy, dan daddy tidak bisa menebak pikiran ka Mikhail” ucap Natasha dengan suara tegas.
“Apa selama ini King tidak pernah bercerita tentang apa yang sedang dia kerjakan atau lakukan?” tanya Leon dengan penasaran.
“Tidak pernah ka Leon. Ka Mikhail sedari kecil selalu melakukan sesuatu sendiri sampai kedatangan Damon di kastil” jawab Natasha.
“Mata ka Damon sangat menyeramkan ya” ucap Henry bergidik ngeri mengingat mata merah Damon.
“Apa dia itu manusia? Seumur hidup aku baru pertama kali melihat orang dengan warna mata merah seperti itu” ucap Rio.
“Aku sebenarnya juga sangat penasaran dengan mata merah ka Damon yang katanya persis dengan daddynya yaitu uncle Ares. Tapi setiap kali aku ingin bertanya aku mengurungkan niatku karena mengingat ucapan ka Mikhail” ucap Natasha.
“Memangnya apa ucapan King ka Nata?” tanya Henry dengan cepat.
Natasha diam tak langsung menjawab pertanyaan Henry membuat semuanya menatapnya dengan penasaran.
“Orang yang banyak bertanya biasanya mati lebih cepat” ucap Natasha dengan suara tegas.
Skakmat……………..
Semuanya bungkam tak ada yang berbicara lagi mendengar ucapan Natasha, entah kenapa mereka semua merasa seperti sedang diawasi seseorang disana padahal kenyataannya tidak ada orang sama sekali disana.
Sedangkan didalam ruang kerja Xavier ia saat ini kedua Wesly berbeda umur itu saling menatap dengan aura seorang penguasa.
...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...
“Setelah mommy sadar segera minta maaf karena sudah menghancurkan seisi mansion” titah Xavier dengan suara tegas.
“Oh come on dad! Ini semua bukan perbuatan aku saja” keluh Xander merasa bukan sepenuhnya salah dia.
“Tidak ada bantahan son! Semua terjadi karena kamu yang memulai duluan son” ucap Xavier dengan suara tegas tak menerima bantahan.
“Terserah daddy” ketus Xander sambil berlalu keluar.
__ADS_1
Anak itu semakin hari kelakuannya persis aku waktu muda, batin Xavier sambil membuang napas dengan kasar.
~ Jakarta, Indonesia ~
Zelena menatap danau didepannya dengan tatapan kosong seperti tak ada semangat untuk sekadar tertawa atau berbicara mengingat kejadian semalam.
#Flashback On
Zelena yang belum tidur meski waktu sudah menunjukan pukul 01:00 dini hari. Sedari tadi pikirannya berkelana memikirkan reaksi kekasihnya jika pulang dan tak mendapatinya disana.
Phew…………………
Zelena membuang napasnya dengan kasar tak mau terlalu berpikir. Tak lama ia dikagetkan dengan deru bunyi mobil didepan mansion.
“Querido” ucap Zelena dengan kaget saat melihat Ares turun dari mobil dengan wajah merah padam menandakan ia dalam keadaan emosi.
Brak………………
Zelena tersentak kaget saat pintu kamarnya dibuka dengan kuat padahal ia baru saja hendak turun ke bawah untuk menemui Ares. Mata hitam Ares menatapnya dengan tajam membuat tubuh Zelena seketika kaku tak bisa digerakkan.
“Que…..rido” ucap Zelena terbata-bata karena gugup.
“Apa maksud kamu pergi dari mansion?” tanya Ares dengan suara menggelegar.
“A…ku”
“JAWAB ZELENA DUSCHA WESLY!” bentak Ares dengan suara tinggi.
Deg…………….
Jantung Zelena berdetak dengan cepat karena untuk pertama kalinya ia dibentak oleh Ares. Tanpa sadar air matanya menetes sambil menatap Ares dengan sendu.
“Hiks hiks hiks…………….karena aku ngak mau dibilang jadi penghangat ranjangmu. Apa kamu tidak sadar kalau selama ini aku seperti ja**ng kamu!“ ucap Zelena dengan suara tinggi.
“Apa maksudmu? Kamu itu bukan ja**ng aku tapi kekasihku!” ucap Ares dengan emosi.
“Kita memang sepasang kekasih tapi tidak pantas tinggal bersama tanpa ada ikatan. Apa kata orang jika mereka tahu hal ini” ucap Zelena dengan suara tegas.
“Persetan dengan ucapan orang! Gue ngak perduli dengan ucapan mereka! Sekarang juga loe ikut gue pulang!” titah Ares dengan suara tinggi karena emosi.
“Ngak! Loe emang ngak perduli tapi gue perduli” hardik Zelena dengan suara tinggi.
“Gue tetap disini dan ngak akan kemana-mana” lirih Zelena dengan suara bergetar.
Ares mengusap wajahnya dengan kasar tak mau sampai menyakiti kekasihnya karena saat ini ia sedang menahan emosinya.
Prang……………..prang…………..prang………….
Aaarrgghh………………
Teriak Zelena dengan ketakutan saat Ares tiba-tiba saja menghancurkan semua barang didalam sana melampiaskan emosinya.
“Hentikan querido…………hiks hiks hiks…………….aku mohon hentikan” pinta Zelena sambil menangis histeris.
Tak lama Gery datang dan langsung menahan Ares yang hendak menendang kursi didepannya meski ia juga takut menjadi pelampiasan tuannya.
Ares tersenyum smirk mendengar bisikan Gery yang memberitahunya kenapa Zelena memilih kembali ke mansionnya.
“Jadi nenek tua itu biang keroknya?” tanya Ares dengan rahang mengeras.
“Iya tuan” jawab Gery.
Ares beranjak pergi dari sana tanpa mengatakan satu katapun, membuat Zelena menatapnya dengan penuh tanda tanya.
#Flashback Off
“Semoga querido ngak lakuin hal aneh” gumam Zelena dengan suara lemah.
...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...
~ Markas I Black Shadow ~
Clarisa mematung melihat pemandangan didepannya setelah ia bertemu dengan kedua kakaknya di apartemen, mereka lalu bersama-sama datang ke markas Black Shadow yang ada di Indonesia.
“Ini” tunjuk Clarisa ke arah depan dimana ada 3 orang dengan tubuh penuh luka didepan sana sangat menyedihkan.
__ADS_1
“Mereka adalah, papa, kakek, dan saudara tiri kita dek” ucap Jason.
“Apa yang terjadi sama mereka ka?” tanya Clarisa dengan cepat.
“Itu” ucap Jason sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil menatap Delon dan Max bergantian.
Melihat hal itu Clarisa langsung menatap Max dengan selidik karena yakin jika ini semua kerjaan Max.
Bukan tanpa alasan ia menuduh Max, karena setahunya Max adalah orang yang bertanggung jawab disini. Terlihat saat mereka datang dan semua didalam sana menunduk memberi hormat kepada Max.
“Men bisa kamu jelaskan maksud ka Jeni?” tanya Clarisa dengan suara tegas.
“Siapa Jeni?” tanya Jason dengan bingung sambil melirik kanan dan kiri mencari perempuan yang dimaksud adiknya.
“Jeni itu anda tuan muda Jason” jawab Max dengan suara dingin.
“Hah! Gue” pekik Jason sambil menunjuk dirinya.
Hahahahaha………………….
Tawa Delon seketika pecah didalam sana mendengar ucapan Max tentang siapa itu Jeni, sedangkan Clarisa ia menatap kakaknya Delon dengan kening berkerut pasalnya tidak ada yang lucu.
“Ka Galon apa ada yang lucu?” tanya Clarisa dengan wajah polos.
Hah………….
“Loe cocok kalau dipanggil Galon dek” ejek Jason sambil tersenyum mengejek.
“Cih! Gue bukan galon sialan” hardik Delon dengan kesal.
“Galon”
“Jeni”
“Galonnnn”
Melihat keduanya yang saling mengejek Clarisa memilih menghampiri papanya yang memakai rantai lehernya. Matanya mentap orang yang sudah membuangnya dengan tatapan sulit diartikan.
Bastian mengangkat kepalanya saat melihat sepasang kaki indah berdiri tepat didepannya.
Matanya seakan ingin keluar dari tempatnya melihat sosok wajah yang sama persis dengan istri pertamanya dan yang membedakan adalah warna mata keduanya.
“Anak siluman” ucap Bastian dengan suara tinggi mengagetkan semua yang ada didalam sana.
Clarisa tersenyum getir mendengar ucapan dari papa kandungnya sendiri dan seperti ada pisau yang menusuknya tepat di jantungnya.
Bugh………………..
“Hentikan Men!” bentak Clarisa saat Max tiba-tiba menendang papanya hingga terjungkal ke belakang.
“Dek biarkan saja! Lagian dia pantas mendapatnya” ucap Jason dengan tatapan penuh kebencian.
“Kalian semua lebih baik keluar” usir Clarisa dengan suara menggelegar.
“Dek” panggil Jason suara lembut.
“Keluar! Aku mohon” pintanya dengan memohon.
Ketiganya tak membantah lagi dan keluar dari ruangan siksaan yang ditempati oleh Dion Baker, Sandy Baker, dan Lovely baker.
“Jadi kamu masih hidup ternyata” ucap Sandy sambil tersenyum sinis.
“Ya aku masih hidup tuan besar Bakar yang terhormat dan maaf mengecewakanmu karena semua usahamu selalu gagal untuk melenyapkan aku dari dunia ini” balas Clarisa sambil tersenyum manis.
“Ah! Rupanya kamu tahu ya” ucap Sandy dengan tatapan kebencian.
“Ya itu semua berkat suamiku yang menyelidiki masa lalu aku”
“Aku kasihan sama suami kamu yang akan bernasib sial seperti kami karena memilih istri seorang siluman” ucap Sandy dengan cemooh.
“Ah! Nasib sial ya” ucap Clarisa dengan wajah polos.
“Bukannya kamu sendiri yang bernasib sial karena gagal mendapat CINTA NENEKKU yang memiliki mata sama persis seperti punyaku tuan besar Bakar” ucap Clarisa dengan suara tinggi menekan kata nenek.
Deg……………….
__ADS_1
...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...
To be continue……………