
πJangan lupa untuk menyadarkan diri sendiri bahwa manusia bisa berubah kapan sajaπ
.
.
.
.
Clarisa membekap mulutnya agar tangisannya tak terdengar orang lain. Masih dengan jelas ingatannya tentang kejadian tadi di cafe.
Flashback On#
Sebenarnya jam kerja Clarisa sudah selesai dari jam 4 tapi karena cafe yang sedang ramai tadi membuat owner cafe meminta Clarisa untuk lembur malam ini dan akan dibayar.
Memikirkan uang lembur yang akan di dapat membuat Clarisa mengiyakan permintaan owner cafe untuk bekerja lembur hari ini.
Tepat jam 4 sore perempuan yanga tadi menemuinya kembali datang tapi saat melihat Clarisa sedang sibuk bekerja ia memutuskan untuk kembali lagi nanti setelah bertanya kepada salah satu pelayan tentang jam pulang Clarisa.
Disinilah keduanya berada di meja paling ujung cafe agak jauh dari pengunjung karena tidak terlalu banyak pengunjung lagi.
"Langsung aja gue ngak suka basa-basi lagi. Kenalin nama gue Lovely Alisa Parker!" ucap perempuan di depan Clarisa yang bernama Lovely.
Deg................
Jantung Clarisa berdetak dengan sangat cepat mendengar nama Baker. Nama yang sudah ia buang sejak kecil lebih tepatnya di hapus dengan paksa dari namanya.
"Baker?" tanya Clarisa dengan wajah pucat.
"Ya itu nama belakang gue dan sekaligus putri satu-satunya keluarga Baker dari 3 bersaudara" jawab Lovely sambil tersenyum lebar.
Tubuh Clarisa menegang mengetahui maksud saudara yang dikatakan Lovely barusan. Ia meremas kemeja yang di pakainya dengan erat menahan air matanya yang ingin tumpah.
"Maaf gue ke toilet" ucap Clarisa dan berlaku pergi dengan cepat.
Lovely melihat kepergian Clarisa dengan senyum manis seakan tidak ada apa-apa yang terjadi dengan mereka. Dengan cepat ia lalu menyusul Clarisa ke toilet.
Sampai di depan toilet ia menaruh tanda toilet sedang dibersihkan di depan pintu agar tidak ada yang masuk.
"Kasihan banget ya nasib loe selama ini" hina Lovely sambil bersedekap tangan di dada setelah masuk ke dalam toilet.
Clarisa kaget bukan main melihat Lovely yang sudah berada di dalam toilet bersama dengannya. Apa lagi wajahnya yang selalu tersenyum manis tadi sudah tidak ada lagi hanya ada wajah angkuh dan sombong.
"Loe" ucap Clarisa dengan mata melotot.
"Gimana rasanya hidup sebagai anak terlantar anak siluman?" tanya Lovely sambil tersenyum menyeringai.
"Gue bukan anak siluman" lirih Clarisa dengan keringat dingin.
"Bukan? Loe itu bego atau bodoh sih? Meski loe pakai lensa kontak tapi tetap darah dalam tubuh loe itu adalah darah siluman makanya loe dibuang sama papa, kakek, dan nenek" hardik Lovely sambil menunjuk kening Clarisa dengan kuat.
"Gue bukan anak siluman!" bentak Clarisa dengan tatapan membunuh.
Plak.................
"Berani loe bentak gue anak sialan? Loe itu sekarang beda kelas sama gue dan ingat posisi loe kalau ngak mau gue bisa hancurkan hidup loe sekarang!" bentak Lovely sambil menampar pipi Clarisa dengan kuat.
"Pergi! Jangan ganggu gue lagi gue mohon" pinta Clarisa dengan takut.
"Tenang aja anak siluman gue ngak bakal ganggu hidup loe kok! Lagian buat apa juga gue ganggu hidup loe yang ngak berharga itu" sinis Lovely dengan tatapan merendahkan.
...π π π π π...
Tes..........tes............tes.............
Air mata Clarisa jatuh tak bisa ditahan mendengar hinaan Lovely tentang hidupnya. Tak tahu saja jika hidupnya ini sangat berharga di matanya dan sang mama.
"Beruntung ya mama loe udah mati jadi ngak perlu lagi lihat hidup anak silumannya yang tidak berarti apa-apa" ejek Lovely.
Mama, batin Clarisa semakin menangis sambil menunduk.
__ADS_1
Lovely tersenyum puas melihat Clarisa yang sangat terpukul dengan ucapannya. Itu adalah rencananya karena ingin menghancurkan mental Clarisa.
Rasain loe emang enak jadi anak terlantar karena darah siluman di tubuh loe itu, batin Lovely sambil tersenyum puas di hati.
"Oh satu lagi lusa itu ulang tahun papa jadi gue harap loe jangan sedih ya kalau lihat gue dekat sama papa dan semua keluarga besar Baker" ucap Lovely sambil tersenyum menyeringai.
Lovely bergegas pergi meninggalkan Clarisa yang terduduk lemas di lantai dan menangis sejadi-jadinya dalam diam.
Flashback off#
"Mama Clarisa kangen..........hiks hiks hiks........kenapa mama pergi ngak bawa Clarisa sekalian........hiks hiks hiks" ucap Clarisa dengan derai air mata.
Clarisa menangis sejadi-jadinya hingga tertidur di lantai sambil meringkuk seperti bayi. Sedari dulu ia hanya sendiri saja dan tidak pernah ada yang menemaninya atau memeluknya saat ia menangis.
Ting................
Hp Clarisa berbunyi ada notifikasi terbaru dari laman gosip yang ia ikuti baru-baru ini.
~ Dubai, Uni Emirates Arab ~
Bugh..............bugh............
Mikhail meninju Teivel di perutnya dua kali dengan tatapan membunuh. Teivel menunduk menahan rasa sakit di perutnya karena kelalaiannya barusan.
"Maafkan aku King" ucap Teivel dengan menunduk.
"Hancurkan karir ja***g itu" ucap Mikhail dengan suara dingin.
"Baik King"
"10 menit buat perusahaan orang tuanya gulung tikar"
"Baik King"
Mikhail membuka jas dan kemejanya yang tadi sempat di sentuh oleh Bela Milano. Model yang pernah menjadi pelampiasan hasratnya saat berada di New York.
"Bakar baju sialan itu!" bentak Mikhail dengan aura membunuh.
"Baik King" ucap Damon.
"King ada telpon dari nyonya besar" ucap Damon sambil memberikan hp Mikhail.
Mikhail mengambilnya dan langsung menjawab panggilan dari sang mommy.
^^^"Kenapa mom?" tanya Mikhail to the point.^^^
"Where are you son?" (kamu dimana nak) tanya Valeria dengan suara lembut dari seberang.
^^^"Lounge hotel KM" jawab Mikhail dengan santai.^^^
"Jangan terlalu banyak minun alkohol son"
^^^"Hanya beberapa gelas saja mom"^^^
"Baiklah! Mommy ingin menyuruhmu untuk menghadiri acara ulang tahun Candra sepupumu son" ucap Valeria dengan was-was dari seberang.
^^^"No" tolak Mikhail dengan tegas.^^^
"Son come on. Kali ini saja karena mommy dan daddy tidak bisa pergi" pinta Valeria.
^^^"Aku bilang tidak tetap tidak mommy! Jangan paksa aku!" tegas Mikhail dengan suara dingin.^^^
"Kali ini saja dan mommy tidak akan memintamu lagi untuk ke sana" bujuk Valeria.
^^^"Selamanya dan tidak akan dipaksa lagi" tawar Mikhail sambil tersenyum menyeringai.^^^
"Oke deal" ucap Valeria sambil membuang napasnya dengan kasar dari seberang.
^^^"Deal"^^^
...π π π π π...
__ADS_1
Mikhail tersenyum penuh arti dan langsung mematikan panggilannya sepihak tak menunggu balasan sang mommy lagi.
Kali ini saja ia akan pergi bertemu dengan keluarga sang mommy yang tidak disukainya sedari dulu hingga sekarang.
Akhirnya mommy tidak akan memaksa aku lagi, batin Mikhail sambil tersenyum menyeringai sambil melihat rekaman percakapan yang tadi sempat dia rekam.
"Segera beritahu aku jika ada informasi terbaru dari loser itu" Mikhail tersenyum penuh arti menyebut nama itu.
"Baik King" ucap Damon dengan suara dingin.
"Siapkan jet besok kita ke Indonesia"
"Baik King" ucap Damon sambil mengutak-atik iPad di tangannya.
~ Mansion tua Rahardian ~
Zelena berulang kali menghembuskan napasnya dengan kasar merasa bosan apa lagi kakinya sudah pegal sedari tadi berdiri terus.
Ares tahu kekasihnya merasa bosan dan ia merasa bersalah karena sifat cemburunya ia tidak melepas kekasihnya sedetik saja sedari tadi.
"Apa kamu capek mi amor" bisik Ares.
"I'm hungry too querido" (aku juga lapar cintaku) ucap Zelena dengan bibir mengerucut.
"Ayo aku antar buat ngambil makan" ajak Ares.
"Biar aku sendiri saja querido. Bukannya kamu sedang berbicara dengan rekan kerja kamu" potong Zelena dengan suara pelan.
"Jangan bicara dengan laki-laki lain mi amor, aku akan memantaumu dari sini" ucap Ares memperingatinya.
"Iya querido"
Cup...................
Zelena melotot membuat Ares terkekeh saat keningnya di kecup Ares di depan umum. Ia bergegas pergi sambil menunduk melihat semua pasang mata memandang ke arahnya.
Aduh malu banget gue, batin Zelena
Zelena memilih menuju meja yang menyediakan makanan dan minuman agak jauh dari Ares. Saat mengambil makanan ia tak sadar kalau ibu dan adik tiri Ares sedang mendekat ke arahnya.
"Mama lihat deh gadis itu seperti pengemis makanan yang baru pertama kali lihat makanan mewah" ucap Daniella adik tiri Ares dengan sinis.
"Kamu benar sayang! Mama seperti mau muntah lihat cara makannya" ucap Calista ibu tiri Ares berlagak muntah.
"Bau apa nih? Baunya seperti bangkai busuk?" tanya Daniela sambil menutup hidung.
"Iya sayang. Baunya sangat menjijikan dan asalnya seperti dari depan kita" jawab Calista.
"Eeuhhh! Mama ternyata baunya dari gadis miskin ini ma" ucap Daniela dengan jijik.
Zelena menatap keduanya dengan wajah polos membuat keduanya semakin meradang karena niatnya ingin memprovokasi Zelena agar marah di depan umum tapi kenyataannya Zelena hanya diam saja.
"Kalian kenapa?" tanya Zelena dengan wajah polos.
"Hey perempuan miskin! Disini itu bukan tempat loe buat nyari makan gratis" hardik Daniela dengan ketus.
"Loe ngomong gue?" tanya Zelena sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Ya iyalah. Emang loe pikir siapa lagi yang berdiri didepan gue" ketus Daniella dengan sombong.
"Oh gue kira loe ngomong orang di samping loe"
Seketika Daniella dan mamanya melotot mendengar ucapan Zelena yang mengatai Calista adalah perempuan miskin yang dibilang Daniella barusan.
Demian yang sedari tadi memperhatikan Zelena terkekeh mendengar ucapan Zelena yang membalas ucapan mama dan kakaknya.
Baru kali ini ada orang yang berani mengatai sang mama dan juga membalas ucapan kakaknya.
Ares yang melihat kekasihnya sedang bersama orang yang paling dia benci mengepal tangannya menahan emosi.
Sial! Gue lupa kalau ada dua nenek lampir itu disini, batin Ares dengan emosi.
__ADS_1
...π π π π π...
To be continue.................