Heartless 2

Heartless 2
Chapter 13


__ADS_3

🍁Jangan membenci siapapun, sejahat apapun orang tersebut kepada kita. Karena sejatinya saat kita membenci sejatinya kita yang rugi🍁


.


.


.


.


"Kenapa dude?" tanya Alex sambil mengangkat alisnya sebelah.


Vincent melihat kedua sahabatnya dan tersenyum smirk memikirkan ide licik di otaknya. Melihat senyum sahabatnya Alex segera bangun ingin pergi tapi kakinya di tahan oleh Vincent.


"Lepas Vin aku ingin ke kamar mandi" ucap Alex berbohong.


"Jangan menipuku Alex, aku tahu apa yang ada di otak kecilmu itu" ucap Vincent tersenyum penuh arti.


"Kalian berdua kenapa?" tanya Jason dengan bingung.


Alex mendengus kesal karena rencananya ingin kabur sudah ditebak oleh Vincent, sedangkan temannya yang lambat itu hanya menatap mereka dengan tatapan bingung.


"Jangan aneh-aneh Vin malam ini aku ada kencan" dengus Alex dengan kesal.


"Tenang aja ini tidak akan lama kok" ucap Vincent.


"Terserah" decak Alex dengan ketus.


Jason memandang keduanya dengan bingung tak mengerti apa yang mereka bicarakan. Vincent lalu mengajak keduanya pergi setelah memberitahu teman-temannya, sedangkan Ana yang sedang tiduran di sofa lantai dua tidak tahu jika Vincent sudah pergi.


"Hey babu" panggil Ana ke seorang anggota geng yang hendak turun ke lantai satu.


"Aku" tunjuk orang tadi ke dirinya sendiri yang bernama Kino.


"Yaiyalah kamu. Memangnya ada siapa lagi selain kamu disini?" bentak Ana.


"Kamu kan ada juga disini" ucap Kino dengan ketus.


"Berengsek kamu ya, aku bakal aduin kamu ke babe Vincent" hardik Ana dengan kesal.


"Silahkan aku tidak perduli" ucap Kino berlalu pergi.


Melihat hal tersebut Ana berteriak kesal sambil membuang bantal sofa di lantai. Anggota geng Vincent yang mendengar teriakan Ana hanya menggelengkan kepala meraka.


"Penyihir itu sangat berisik" ucap Angga salah satu anggota geng Vincent.


"Ketua kenapa bisa sih tahan sama penyihir berisik itu" timpal Vino.


"Mana dandannya menor banget, kayak pakai tepung sekilo" ucap Angga.


Hahahahaha..........


Tawa anggota geng Vincent pecah mendengar ucapan Angga yang terkenal savege. Sudah biasa mereka selalu menjelekkan nama Ana di belakang ketuanya, bahkan Vincent pernah mendengarnya tapi ia acuh saja tak perduli.


~ SevenEleven ~


Sedangkan di depan mini market Alex menatap kedua temannya dengan kesal. Pasalnya ia disuruh Vincent membeli pesanan Zelena yang membuat harga dirinya jatuh.


Saat masuk ke dalam Alex terus mengumpat dengan kesal melihat kebanyakan pengunjung adalah perempuan. Apa lagi saat ia mencari benda yang di carinya.


"Sialan kenapa aku sial banget hari ini" umpat Alex dengan kesal.


Bagaimana tidak ada beberapa gadis remaja yang berdiri tepat di depan rak pembalut. Alex membuang napasnya dengan kasar bersikap cool berjalan menuju mereka.


Sampai di depan ke 3 gadis remaja tadi mereka berdecak kagum melihat ketampanan Alex, tapi sedetik kemudian ketiganya tertawa kencang melihat benda yang di ambil Alex.


"Buat adiknya ya kak?" tanya gadis A.


"Pasti buat pacarnyalah" timpal gadis C.


"Uhhh! Sosweetnya jadi pacar kakak, udah ganteng mana perhatian banget lagi. Mau dong jadi yang kedua ka" ucap gadis B dengan suara menggoda.


"Ini buat istriku" ketus Alex dengan kesal.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


Ketiga gadis remaja tadi diam tak berkata apa-apa mendengar ucapan Alex. Dengan cepat Alex segera ke kasir, sampai disana ia kembali mengumpat kesal melihat petugas kasir yang menahan senyum melihat apa yang di beli Alex.


Brak............


"Berengsek kamu Vin, awas aja aku bakal balas kamu nanti" ucap Alex dengan kesal sambil membuang kantong plastik ke dalam mobil Vincent.


"Thank's dude" (terima kasih kawan) ucap Vincent sambil terkekeh.


Alex mengumpat sambil mengacungkan jari tengahnya dan berlalu pergi ke mobilnya. Sedangkan Jason tertawa puas di dalam mobil Alex melihat sahabatnya kembali dengan wajah merah padam dan kesal.


"Diam loe sialan" hardik Alex.


"Santai dude jangan marah-marah nanti cepat tua" ucap Jason sambil terkekeh.


~ Mansion Xavier ~

__ADS_1


Vincent pulang bertepatan dengan Xander yang baru pulang. Melihat baju kakaknya yang sudah berganti ia yakin pasti kakaknya itu baru dari markas.


"Brother" panggil Vincent.


Xander melihat adiknya yang datang sambil menenteng kantong belanja berlogo 711 di depannya dan sekotak pizza. Sedangkan sebelah tangannya membawa laptop.


"Pizza?" tanya Xander dengan kening berkerut.


"Ini pesanan artis gila itu" umpat Vincent dengan kesal.


Xander hanya mengangguk kepalanya dan melirik kantong berlogo 711 di tangannya. Tahu arti tatapan mata Xander ia langsung mengatakannya.


"Pesanan princess tiap bulan" ucap Vincent menggerutu.


Hehehehe............


Xander terkekeh tahu arti ucapan adik kembarnya itu, ia yakin pasti Vincent merasa sangat kesal karena selalu di perintah oleh kedua adiknya. Meski pun begitu ia tetap melakukannya, berbeda dengan Xander yang tak akan pernah melakukannya.


"Selamat datang tuan muda berdua" ucap pak Max.


"Pak max dimana artis gila itu?" tanya Vincent.


"Tuan muda ketiga berada di taman belakang bersama nona muda"


"Ngapain?" tanya Vincent dengan bingung.


"Tuan muda kedua dan nona muda di hukum tidur di luar oleh nyonya"


Xander dan Vincent tak bertanya lagi mendengar kata hukuman dari ibunda ratu. Keduanya sudah bisa menebak pasti Vincent dan Zelena sudah membuat Chloe sangat emosi sampai menghukum mereka tidur di luar.


Xander lalu bergegas naik ke kamar untuk menganti pakaian, sedangkan Vincent memberi pesanan keduanya ke pak Max dan berlalu ke kamarnya untuk membersihkan diri.


Sedangkan di taman belakang Victor dan Zelena sedang duduk menikmati api unggung. Keduanya yang dihukum sang mommy menyuruh pak max menyiapkan tenda besar agar malam ini mereka berkemah.


"Brother Vic kapan-kapan kita camping lagi ya di Swiss" ucap Zelena dengan antusias.


"Iya nanti kalau aku ada waktu kosong ya"


"Ckk!! Tunggu sampai kucing punya tanduk pun brother Vic tidak akan punya waktu kosong" cibir Zelena sambil mengerutu.


"Nah itu tahu" ucap Victor sambil terkekeh.


Victor sedang memanggang marshmellow buat mereka berdua, tak berselang lama pak Max datang sambil membawa pesanan keduanya. Dengan cepat Zelena dan Victor langsung memakan pizza yang dibawa pak Max.


"Enak ya" cibir Vincent dengan wajah dingin.


"Hehehe! Makasih twin" ucap Victor sambil terkekeh.


"Ya enaklah brother Vin, orang namanya juga makanan pasti enaklah" ucap Zelena dengan polos.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


"Brother mau pizza" tawar Zelena.


"No princess, itu junk food jangan terlalu memakannya" (tidak putri, makanan cepat saji) ucap Xander dengan tegas.


"Oke brother" ucap Zelena sambil mengangkat jarinya tanda oke.


"Aaarrgghh! Marshmellowku" teriak Victor dengan histeris.


"Dadar bodoh" ucap Vincent mencibir kembarannya itu.


"Brother Vic memang payah panggang marshmellow aja sampai hangus" ucap Zelena sambil menggelengkan kepala.


"Diam deh kalian berdua" ketus Victor.


Xander hanya diam saja menggelengkan kepala melihat ketiga adiknya yang sudah mulai beragumen. Ia sibuk membaca informasi mengenai Luki yang barusan dikirim David sambil menikmati wine dan buah yang sudah di siapkan oleh pak Max.


Malam itu entah kenapa Keempatnya tidur di tenda berdempetan memeluk tubuh Xander dengan erat. Chloe dan Xavier yang melihat anak-anak mereka dari balkon kamar tersenyum bahagia.


~ Hotel Arthur ~


Mario Drule atau yang sekarang lebih dikenal Stevan Lim membanting gelas wine di tangannya sampai pecah. Ia sangat emosi mendengar jika lagi-lagi ia gagal menghancurkan keamanan Wesly Group.


"Daddy sebaiknya besok kita segera pulang sebelum anak buah Xavier mengetahui jejak kita" ucap Joana.


"Baiklah kamu siapkan kepulangan kita besok" ucap Steven dengan wajah merah padam.


"Baik daddy"


"Jangan lupa suruh anak buahmu mencari tahu tentang putri berengsek itu"


"Iya daddy, tapi kenapa harus putrinya kenapa tidak istrinya saja?" tanya Joana dengan penasaran.


"Karena istrinya tidak akan pernah jauh dari sisinya tapi tidak dengan putrinya" ucap Steven sambil tersenyum smirk.


"Baiklah dad"


Joana segera pergi dari kamar hotel daddynya menuju kamar hotel ia dan keluarganya. Tanpa Joana tahu jika Steven sudah terobsesi dengan kecantikan Zelena sejak kecil.


Meski waktu itu ia masih sangat kecil baru berumur 4 tahun, tapi aura kecantikannya membuat Steven sangat bernafsu. Tak memandang jika umurnya itu sudah kakek-kakek dan berbau tanah.

__ADS_1


"Aku tidak sabar ingin menikmati tubuhmu itu gadis kecil" ucap Steven sambil tersenyum smirk.


~ Club Heaven ~


Di lantai 3 tepatnya salah satu ruangan VVIP suara ******* seorang wanita bergema di dalam sana. Wanita itu adalah seorang model internasional yang malam ini melayani presdir VA Corp yang tak lain Mikhail.


Meski di dalam sana ada 2 orang lainnya tapi tak membuat model itu malu menunjukkan tubuhnya. Mikhail dengan kasar menghujam i**i wanita di bawahnya tak memperdulikan rasa sakit yang diterima oleh lawan mainnya itu.


Tak berselang lama ia sudah selesai dengan ga***hnya dan membuang bekas k***om di lantai. Selama kegiatan mereka Mikhail hanya menurunkan resleting celananya tak membuka pakaiannya sedikit pun.


"Tuan apa anda puas?" tanya model itu dengan napas satu-satu karena sangat leleh.


"No"


Seperti di hantam batu besar mendengar ucapan Mikhail yang berhasil membuat hati model itu hancur. Harga dirinya terluka mendengar ucapan Mikhail yang sangat tak menghargainya.


"Anda sangat keterlaluan tuan!" bentak wanita itu dengan histeris.


Plak..............


Satu tamparan kaut di pipi wanita itu hingga terjatuh di lantai. Darah segar mengalir di sudut bibirnya saat Teivel dengan cepat menampar pipinya karena membentak kingnya.


"Jangan pernah membentak King dengan mulut kotormu ja***g!" bentak Teivel.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


Mikhail memandang keduanya dengan tatapan datar dan dingin tak ingin ambil pusing, ia lalu menghembuskan asap rokok ke udara menikmati rokok ditangannya.


"Berikan dia ke pengawal di luar" ucap Mikhail dengan suara dingin.


"Ampun tuan, saya mohon jangan" teriak wanita tadi dengan histeris mendengar perintah Mikhail.


"Teivel jika kamu ingin menikmatinya juga silahkan" ucap Mikhail sambil tersenyum smirk.


"Baik King" ucap Teivel sambil tersenyum menyeringai.


Dengan cepat ia menarik wanita tadi yang belum berpakaian sama sekali keluar. Ia lalu menyuruh 2 orang pengawal ikut masuk ke ruangan di sebelah mereka.


"Apa anak buahku sudah siap?" tanya Mikhail dengan suara dingin.


"Sudah King. Mereka sudah menunggu kita di Spanyol" ucap Damon dengan suara tak kalah dingin.


"Bagus, besok kita harus menghancurkan markas mereka"


"Iya King"


"David?" tanya Mikhail dengan singkat.


"Saya sudah mengirim lewat email 3 jam lalu King"


"Aku yakin dia pasti akan sangat hancur"


"Benar King"


Mikhail yakin informasi yang dikirimkan oleh Damon ke David akan membuat David semakin membenci mommynya. Bahkan kalau perlu David bisa saja membunuh mommynya sendiri


"Kalau itu terjadi di keluargaku aku sendiri yang akan membunuh orang itu" ucap Mikhail dengan tatapan membunuh.


Damon diam tak membalas ucapan Kingnya karena tahu sifat Mikhail seperti apa. Meski namanya berarti malaikat tapi sifatnya jauh terbalik dari kata malaikat, malahan daddynya sendiri menyebutnya king of devil.


~ Mansion Albert ~


Karena seharian sangat capek David yang pulang ke mansion segera menuju kamar dan membersihkan diri. Tak lupa ia mengambil obat tidur yang selalu ia bawa kemana saja sebelum tidur.


Karena kecapean dan sudah meminum obat tidur ia dengan cepat sudah tertidur, saat ia tidur hpnya berbunyi ada pesan masuk dari Damon. Beruntung ia sudah tidur jika tidak malam ini juga kamarnya akan kembali hancur.


Leon yang tahu kakaknya pulang ke mansion langsung masuk ke dalam kamar sang kakak. Tapi ia langsung keluar setelah melihat David yang tertidur pulas.


"Apa kakakmu sudah tidur?" tanya Albert.


"Iya dad, padahal aku ingin bercerita dengan kakak" ucap Leon dengan kesal.


"Biarkan kakakmu tidur son, ia pasti capek hari ini karena ada masalah di perusahaan"


"Dari mana daddy tahu?" tanya Leon dengan cepat.


"Dari anak buah daddy"


"Oh"


"Kamu cepat tidur sana, karena besok kita akan berkuda"


"Yang benar daddy" pekik Leon dengan senang.


"Heemmm! Itu ide kakakmu" ucap Albert.


"Oke daddy kalau begitu aku tidur dulu, good night dad"


Albert hanya terkekeh melihat kelakuan anak keduanya yang seperti anak kecil. Padahal umurnya itu sudah 21 tahun tapi masih seperti anak kecil saja, Mira yang melihat hal tersebut tersenyum bahagia.


Ia berharap suatu saat anaknya David akan kembali memanggilnya dengan sebutan mommy. Tanpa ia sadari jika mulai besok kebencian David akan semakin bertambah.

__ADS_1


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


To be continue................


__ADS_2