
πPasangan yang terbaik ialah ketika ia marah ia tidak akan menghinamu karena ia sangat menghormatimu dan tak ingin kehilanganmu hanya karena pertengkaran sederhanaπ
.
.
.
.
Sampainya di rooftop hotel keduanya sudah disambut anak buah Ares dan helikopter yang siap terbang. Sebelum naik ke helikopter Ares mengamati satu persatu wajah anak buahnya takut ada musuh yang menyamar.
Dor...........dor...............aaarrrghhh.........
2 tembakan berbunyi bersamaan dengan suara teriakan Zelena yang menggema ketakutan sambil menutup kedua telinganya.
"Tuan" ucap anak buah kepercayaan Ares.
"Urus dua penyamar itu! Tangkap orang yang membuntuti gue sedari tadi" titah Ares dengan suara dingin.
"Baik tuan"
Ares mengendong Zelena yang masih gemetaran masuk ke dalam helikopter dan bergegas pergi dari sana.
Sedangkan orang yang tadi mengikuti keduanya mengumpat kesal dari balik pintu helipad melihat 2 rekannya sudah meninggal karena ketahuan.
Sial, batin orang itu sambil berbalik ingin pergi.
"Ingin lari? Jangan pernah berpikir bisa lari dari gue bangsat" hardik Gery sambil tersenyum smirk dibelakangnya.
Baru saja ia ingin mengangkat tangannya mau menembak Gery ia kalah cepat dengan Gery yang sudah lebih dulu memukul tangannya hingga pistolnya jatuh di lantai.
Bugh...........bugh...........bugh............
Gery memukul orang itu tak memberinya kesempatan untuk membalas pukulannya. Napas orang itu satu-satu merasa sekujur tubuhnya yang terasa sangat sakit.
"Bos" ucap Ben anak buah Gery.
"Bawa dia ke markas" ucap Gery sambil mengelap tangannya yang berdarah karena memukul orang di depannya.
"Baik bos"
"Apa rekannya sudah ketangkap?" tanya Gery lagi.
"Sudah tuan. Saat ini sedang di perjalanan menuju bandara"
"Heemmm! Kerja bagus Ben" ucap Gery sambil menepuk pundak anak buah kepercayaannya.
"Terima kasih bos" ucap Ben dengan suara dingin.
Keduanya segera beranjak dari sana menuju helipad untuk menunggu helikopter yang akan menjemput mereka kembali.
Sedangkan di dalam ballroom hotel Mikhail tersenyum menyeringai saat Damon membisikan sesuatu kepadanya.
"Cepat juga dia. Kamu punya saingan Xander" gumam Mikhail sambil tersenyum smirk.
"King" ucap Teivel sambil memberi isyarat lewat gerakan matanya.
"Kita pergi sekarang" ucap Mikhail dengan suara dingin.
Mikhail bangkit berdiri dan berlalu pergi tak pamit ke keluarga besar sang mommy. Candra yang sempat melihat kepergiannya langsung di beri isyarat oleh Teivel untuk tak mengikuti mereka.
Saat akan keluar dari ballroom hotel Mikhail melirik ke arah samping kiri yang langsung di beri anggukan kepala oleh uncle Raksa sebagai isyarat kalau ia akan menjaga disini.
Di dalam mobil Mikhail mengeluarkan dua pistol buatannya yang selalu ia pakai. Begitu juga dengan Teivel dan Damon yang mengeluarkan milik mereka.
Mobil Mikhail dan pengawalnya berhenti tepat di jalan sepi dan hanya ada hutan di kedua sisinya tak ada rumah atau bangunan apapun.
"Let's play" (ayo bermain) ucap Mikhail melihat musuhnya sudah mengepung mereka dari semua sisi.
"King mereka ada 200 orang dan semuanya ada tato bulan sabit di leher mereka" ucap Damon setelah memindai semua sisi dengan sensor di matanya.
"Ckk!! Ingin bermain licik loser itu" decak Mikhail dengan aura membunuh.
...π π π π π...
Mikhail memberi isyarat kepada Damon dan Teivel agar keluar bermain dengan mereka. Keduanya mengangguk kepala sambil memberi perintah lewat earpiece kepada seluruh anak buahnya untuk maju.
Duar............duar............duar...........duar..........
Bunyi 4 ledakan mobil milik mafia bulan sabit di depan dan belakang membuat mereka semua terpecah belah karena kaget.
Dor.........dor...........dor........dor........dor.......dor......
__ADS_1
Arrrggh........arrgghh.........aarrgghhhh........
Bunyi tembakan dan jeritan bersahutan dari pihak musuh saat Damon dan anggota Black Shadow keluar dari dalam mobil.
Mendengar jeritan musuhnya membuat sudut bibir Mikhail terangkat. Ia lalu melepas jasnya dan menggulung lengan kemejanya setelah itu ikut bergabung dengan anak buahnya
Dor........dor.........dor..........dor.........dor...........
Mikhail melepas tembakannya tepat di kepala musuh-musuhnya hingga mereka tewas seketika. Jumlah Mikhail yang hanya 50 orang saja tidak takut sedikit pun dengan jumlah musuh 200 orang.
"Habisi mereka semua jangan biarkan satu pun lolos" teriak Mikhail dengan suara lantang.
"Baik King" ucap semua anak buahnya dengan serentak.
Mikhail berjalan maju ke arah depan sambil kedua tangannya terus menembak, tak ada rasa takut sedikit pun saat peluru datang dari arah depan.
Dengan santai Mikhail menghindar peluru-peluru itu membuat pihak musuh kaget bukan main. Baru kali ini mereka melihat ada seorang yang gila seperti Mikhail tak takut jika terkena tembakan.
"Kalian mencariku?" tanya Mikhail mengagetkan mereka karena tiba-tiba menghilang.
Arrrgghhh.............
Teriak pihak musuh saat melihat Mikhail berdiri di belakang mereka sambil tersenyum menyeringai. Matanya berkilat tajam dengan aura membunuh yang menyeruak disana membuat mereka semua tak bisa bergerak.
"Kematian mutlak untuk kalian" ucap Mikhail dengan suara dingin seperti es.
Dor........dor........dor...........dor........dor........
Arrghh........arrrgghh..........aarrghhh.......
Jeritan kesakitan bergema saat peluru menembus kepala mereka. Malam itu terdengar jeritan yang sangat mengerikan disana beruntung tidak ada warga yang tinggal disana.
"King" panggil Teivel setelah membasmi semua musuh.
Dor.............
Bunyi tembakan meleset di pelipis Teivel membuat tubuhnya mematung dengan bunyi orang jatuh di belakangnya. Mata Mikhail berkilat tajam menatapnya dengan tatapan membunuh.
"Selalu waspada berengsek" maki Mikhail dengan suara dingin.
"Maafkan aku King" ucap Teivel dengan menunduk.
"Ada apa?" tanya Mikhail dengan suara dingin.
Mikhail menerima hp Teivel melihat ada panggilan tersambung dari nyonya besar.
^^^"Heeemmm"^^^
"Apa kamu diserang son? Siapa yang menyerangmu?" tanya Valeria dengan cemas dari seberang.
^^^"Hanya sekumpulan tikus mom" jawab Mikhail dengan santai.^^^
"Kamu tidak terluka kan son" pekik Thomas dari seberang.
^^^"No daddy"^^^
"Syukurlah" ucap Thomas dengan lega.
^^^"Ada apa mom?" tanya Mikhail to the point.^^^
"Uncle Kevin keracunan barusan beruntung nyawanya tertolong setelah dioperasi menyedot racun di perutnya" papar Valeria.
^^^"Heeemmmm"^^^
"Apa kamu tahu siapa yang melakukan hal ini son?" tanya Valeria dengan suara dingin.
^^^"I don't know. Mommy dan daddy bisa mencari tahu lewat cctv di mansion uncle Kevin"^^^
"Cctv di mansion uncle kamu itu tidak ada di ruang makan son jadi susah mencari tahu siapa yang menaruh racun itu" ucap Thomas.
^^^"Daddy semakin tua semakin bodoh" ejek Mikhail.^^^
"Apa kamu bilang? Berani kamu mengatai daddy kamu bodoh raja setan sialan!" hardik Thomas dengan suara tinggi.
^^^"It's a fact daddy" (itu fakta papa) ketus Mikhail.^^^
"Kamu memang keterlaluan MIkhail. Awas saja kamu pulang akan daddy hajar kamu!" bentak Thomas.
^^^"Ckk!! Daddy yakin" tanya Mikhail dengan sinis.^^^
...π π π π π...
Mikhail tersenyum smirk mendengar umpatan daddynya dari seberang. Ia lalu mematikan panggilannya sepihak tak perduli kedua orang tuanya yang meradang di seberang sana.
__ADS_1
"Siapkan jet kita kembali ke Jakarta" titah Mikhail dengan suara dingin.
"Baik King" ucap Demon segera berkutat dengan hpnya.
~ Wesly Hospital ~
Thomas mengumpat dan memaki sang anak setelah panggilannya dimatikan sepihak oleh Mikhail. Valeria dan lainnya hanya diam saja melihat Thomas yang sedang meradang di dalam ruangan rawat Kevin.
"Uncle jangan berisik daddy aku sedang istirahat" ucap Henry.
"Diam kamu bocah nakal!" hardik Thomas dengan tatapan tajam.
"Tenangkan diri kamu honey. Kalau masih marah keluar sana!" bentak Valeria dengan suara dingin.
Thomas berdecak kesal mendengar ucapan istrinya barusan. Meskipun begitu ia langsung diam dan duduk di samping Valeria sambil memeluk pinggangnya dengan posesif.
Natasha yang melihat kelakuan daddynya hanya memutar bola matanya dengan malas. Daddy dan kakaknya itu bagai air dan minyak yang tak akan pernah bersatu.
"Nyonya kita ada meeting 1 jam lagi dengan tim race" bisik Mila.
"Siapkan mobil" ucap Natasha dengan suara dingin.
"Baik nyonya"
Vincent yang sempat mendengar ucapan keduanya menatap istrinya dengan tajam. Melihat hal itu Natasha segera memberitahunya karena dia adalah suaminya.
"Jam berapa kamu pulang?" tanya Vincent.
"Aku tidak tahu meetingnya cepat atau lama" jawab Natasha dengan jujur.
"Hubungi aku setelah meeting. Aku akan jemput" ucap Vincent dengan suara tegas.
"Heemmm"
Cup............
Natasha mengecup bibir Vincent membuatnya mematung tak menyangka akan dicium istrinya di depan keluarga besar mereka.
Wajahnya memerah membuat semuanya disana mengulum senyum geli melihat keduanya. Hanya Ana saja yang menatap mereka dengan tatapan kesal.
Natasha melirik Ana sambil tersenyum menyeringai seakan mengejeknya. Valeria yang sempat melihat keduanya hanya menggelengkan kepalanya.
Kamu memang licik putriku sama milikmu, batin Valeria sambil tersenyum.
"Kamu kenapa senyum seperti itu honey?" tanya Thomas.
"Aku tersenyum karena putriku sama seperti daddynya" jawab Valeria sambil menatap suaminya dengan tatapan penuh cinta.
"Oh jelas dong honey! Kan aku yang membuatnya" ucap Thomas dengan sombong.
"Heemmmm"
Valeria tak membalas ucapan suaminya yang sudah memuji dirinya sendiri. Xavier sedari tadi menatap Xander seakan berbicara lewat batin setelah melihat cctv di mansion Kevin.
"Henry ikut aku" ucap Xander dengan suara dingin.
"Kemana ka?" tanya Henry dengan bingung.
Xander sudah berlalu pergi tak menjawab pertanyaan Henry. Melihat hal itu David memberi isyarat kepadanya untuk mengikutinya jangan membantah.
"Hubby" panggil Chloe seakan bertanya apa yang anak mereka lakukan.
"Percayakan semuanya ke Xander baby" ucap Xavier sambil mencium kening istrinya dengan lembut.
Sedangkan di luar Henry berjalan dengan langkah cepat mengikuti Xander, David, dan Luki yang sudah berjalan di depannya menuju lift.
"Ka kita mau kemana?" tanya Henry setelah didalam lift.
"Mansion kamu" jawab Xander dengan singkat.
"Buat apa ka? Apa kita akan mengambil makanan atau sesuatu di mansion aku?" tanya Henry dengan cepat.
"Kamu akan tahu setelah kita sampai Henry" jawab David.
"Tapi ka"
"DIAM!" bentak Xander menggelegar didalam lift.
Glek..............
Henry menelan salivanya dengan susah mendapat tatapan tajam bak singa lapar dari Xander. Dengan takut ia menunduk tak ingin mendapat murka dari Xander.
...π π π π π...
__ADS_1
To be continue...........