Heartless 2

Heartless 2
Chapter 21


__ADS_3

🍁Hidup itu bukan tentang apa yang sempurna atau pun tentang akhir yang selalu happy ending🍁


.


.


.


.


Sampainya di hotel Xander segera menuju lantai 20, wajahnya menghitam menandakan jika ia saat ini sangat emosi.


Ting.........


Lift berbunyi tanda telah sampai di lantai 20, saat keluar dari lift anak buah Xander sudah menunggu kedatangannya di depan lift.


"Selamat datang bos"


"Dimana dia?" tanya Xander dengan suara dingin.


"Di kamar 2018 bos"


"Buka"


Saat pintu di buka mereka langsung di sambut dengan suara de****n dari dalam kamar hotel. David menggelengkan kepala merasa kasihan untuk kedua orang yang sedang berc***a di dalam sana.


"Sepertinya kalian sangat menikmati" ucap Xander dengan suara dingin.


Aarrgghh.......


Teriak dua orang yang sedang berada di atas ranjang, keduanya kaget karena ada yang masuk ke dalam kamar yang mereka pesan.


"Siapa kamu?" tanya laki-laki yang berada di atas ranjang dengan emosi.


"Xa.......nder" ucap perempuan yang menutup tubuh polosnya dengan kain.


"Sandra Romanov" ucap Xander dengan suara dingin.


"Siapa kamu bajingan, kenapa menganggu kami hah" teriak pria yang bersama Sandra.


Xander menatap wanita yang dicintainya selama 1 tahun terakhir, tapi apa cintanya dibalas dengan pengkhianatan seperti ini.


Hahahahaha...........


Tawa Xander bergema di dalam sana membuat semuanya yang mendengar bergidik ngeri. Pasalnya tawa Xander bukan seperti tawa bahagia tapi tawa yang penuh dengan rasa sakit.


"Selama setahun ternyata aku memelihara seorang j***g dan di butakan oleh j****g yang berpura-pura polos" ucap Xander sambil terkekeh.


"Ba.....b....y" ucap Sandra dengan terbata-bata sambil berjalan menuju Xander yang duduk di sofa.


Xander menatap wanita yang mengenalkannya rasa cinta sekaligus rasa sakit dengan tatapan membunuh. Wajahnya menghitam ingin sekali melempar pisau tepat di jantung Sandra.


Bugh............


Xander menendang Sandra hingga terpental ke belakang membuat kain yang dipakainya jatuh. Tubuh polosnya dipenuhi jejak kissmark bertebaran disana, membuat Xander semakin jijik melihatnya.


"Jangan pernah panggil aku dengan mulut kotormu itu pe***ur!" bentak Xavier dengan suara tinggi.


Tubuh Sandra gemetaran melihat sosok Xander yang baru pertama kali ia lihat. Selama setahun belum pernah ia melihat Xander yang seperti itu, tatapan matanya membuat Sandra seperti di tatap monster berdarah dingin.


"David bawakan sarung tangan" perintah Xander dengan suara dingin.


"Baik bos"


Selang 5 menit David datang membawa sarung tangan untuk Xander. Ia lalu memberikannya ke Xander, entah untuk apa sarung tangan tersebut.


"Beraninya kamu berselingkuh di belakangku b***h" ucap Xander dengan suara dingin.


"Maa....fkan ak...u Xan...der, aku khilaf" ucap Sandra dengan gemetaran.


"Kamu tahu apa yang aku lakukan kepada orang yang mengkhianati aku"


"Ak...u tidak tahu"


"Kematian" ucap Xander sambil tersenyum menyeringai.


Deg..........


Mata Sandra melotot kaget mendengar ucapan Xander barusan, tubuhnya semakin gemetaran melihat Xander yang berjalan menujunya sambil mengeluarkan pisau lipat dari jasnya.


Xander sendiri tersenyum smirk melihat mangsanya yang gemetaran di depannya. Melihat hal tersebut membuat Xander semakin bersemangat.

__ADS_1


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


"Aku moho.....n janga.....n bu....nuh a....ku" ucap Sandra gemetaran sambil berkeringat dingin.


"Kamu tahu b***h, aku paling suka melihat korbanku ketakutan sebelum aku bermain dengannya" ucap Xander sambil terkekeh.


"Kamu" tunjuk Sandra dengan mata melotot.


"Heemmm! Aku kenapa ja***g?" tanya Xander dengan santai.


"Kamu itu iblis" ucap Sandra ketakutan.


"Well, boleh juga kalau aku di sebut iblis"


Xander terkekeh melihat wajah Sandra yang semakin pucat, ia memang sangat senang sekali bermain dengan mangsanya sebelum memberi mereka rasa sakit yang tak akan pernah mereka lupakan.


Crash.......crash.......crash.....crash.......


Arrrggghhh.............


Jeritan kesakitan bergema di dalam kamar saat pisau lipat Xander menusuk Sandra dan menggoresnya di pipi. Tak sampai situ Xander terus mengukir tangan dan tubuh Sandra dengan pisaunya.


Darah segar mengalir di dalam sana membuat pria yang bersama Sandra tadi muntah di atas ranjang. Ia tak tahan dengan bau anyir di dalam sana, apa lagi saat melihat kekejaman Xander.


"Tubuhmu bagus juga untuk jadi kanvas pisau ku" ucap Xander sambil terkekeh.


"Am.....pun aku mohon berhenti, ini san..g....at saki....t" pinta Sandra dengan terbata-bata.


"Sakit hemmm! Kamu pikir aku juga tidak merasa sakit dengan pengkhiantanmu pe****r!" bentak Xander dengan emosi.


Sret..........aarrgghhhh.............


Teriakan kesakitan Sandra bergema di dalam sana, saat Xander menarik ku**t tangannya Sandra hingga terlepas. David hanya melihat apa yang di lakukan oleh Xander dengan wajah datar.


"Bos kita tidak boleh membuat ja***g itu mati disini" ucap David saat melihat Xander mengarahkan pisau ke perut Sandra.


"Ah! Benar juga kamu David"


Xander membuang sarung tangan yang ia gunakan di tubuh Sandra. Ia lalu mengambil rokok dan menghisapnya sambil berjalan menuju laki-laki yang bersama Sandra tadi.


"Kamu mau apa, jangan kesini" ucap laki-laki itu dengan takut.


Teriakan kesakitan laki-laki itu saat Xander menempelkan rokok di keningnya. Bau terbakar tercium di dalam sana, membuat Xander tersenyum smirk.


"Buat perusahaannya bangkrut dalam 30 menit"


"Baik bos"


"Si....apa kamu?" tanya laki-laki itu.


"Dewa kehancuranmu" ucap Xander dengan suara dingin.


Xander memberi isyarat untuk memukul laki-laki itu dan membuatnya lumpuh. Tak lupa ia juga menyuruh mereka membawa Sandra ke ruang bawah tanah di mansion miliknya.


"Kita ke mansion" ucap Xander yang masih belum puas bermain dengan Sandra.


"Baik bos"


~ Mansion Zelena ~


Sudah seminggu Zelena berada di Indonesia dan dua hari lagi ia akan masuk sekolah. Kemarin ia sudah berbelanja bersama Natasha sebelum ia pulang ke Dubai dan melanjutkan kuliahnya di California.


Saat ini Zelena sedang membantu bi Aira dan beberapa pelayan membuat taman kaca. Ada begitu banyak bibit bunga mawar yang di tanam di sana.


"Ah! Akhirnya selesai juga" ucap Zelena sambil mengelap keringat di dahinya.


"Nona muda silahkan minum dulu" ucap bi Aira.


"Makasih ya bi, bibi dan pelayan yang lain boleh istirahat"


"Baik nona muda" ucap mereka semua serentak.


Zelena meminum es jeruk sambil melihat taman kaca miliknya, meski tidak sebesar taman milik mommynya setidaknya ia memiliki taman kaca miliknya sendiri.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


"Princess" teriak seseorang dari arah depan dengan suara kencang.


Byur............


Zelena menyemburkan minumannya karena kaget mendengar teriakan tersebut. Saat melihat siapa yang memanggilnya, matanya berbinar melihat siapa yang datang.

__ADS_1


"Brother Vic" pekik Zelena dengan senang.


"I miss you princess" ucap Victor sambil berlari menuju sang adik.


Saat akan memeluk Zelena seketika ia berhenti. Matanya memandang Zelena dengan jijik melihat penampilan adiknya yang penuh tanah dan berkeringat.


"Ihhh! Jorok banget sih kamu princess" ucap Victor dengan jijik.


"Brother Vic, aku tidak jorok kok! sini peluk" ucap Zelena dengan manja.


"No no! Kamu jorok banyak kuman" ucap Victor dengan ketus.


Victor segera berlalu pergi menjauh dari Zelena, bi Aira dan pelayan yang baru pertama melihat Victor semuanya kaget melihat ketampanan Victor. Meski masih jauh dibawah tuan muda Xander tapi ketampanan Victor tidak usah diragukan lagi.


"Brother Vic jahat" pekik Zelena dengan kesal.


"Biarin. Siapa suruh kamu jorok" ketus Victor.


"Isshh! Nyebelin banget sih" kesal Zelena sambil menghentakkan kaki.


Melihat wajah kesal sang adik membuat Victor tersenyum bahagia. Tak berapa lama ia tersenyum smirk memikirkan ide untuk mengerjai Zelena.


"Ya udah sini peluk brother" panggil Victor dengan suara lembut.


"Beneran, jangan bohong ya" ucap Zelena dengan mata memicing selidik.


"Iya makanya cepat sini, sebelum brother berubah pikiran" ancam Victor.


Zelena tersenyum bahagia sambil berlari menghampiri Victor, melihat hal tersebut Victor tersenyum semakin lebar.


Byur..............


"Brother Vic" teriak Zelena menggema.


Hahahahaha.......................


Victor tertawa terbahak-bahak melihat adiknya yang jatuh ke kolam renang, karena di dorongnya. Ia tak menduga adiknya itu masih sangat mudah dibohongi.


Rio yang baru saja datang hanya menggelengkan kepalanya melihat kedua adik kakak itu, yang tidak akan pernah akur jika bertemu. Dengan cepat ia membawa handuk yang tadi dibawakan oleh bi Aira.


"Vic kamu tega banget sama nona muda" ucap Rio dengan kesal.


"Huaawaa! Brother Vic jahat......hiks hiks hiks" tangis Zelena pecah di dalam kolam renang.


"Udah princess jangan nangis lagi nanti cantiknya berkurang loh" ucap Victor sambil terkekeh.


Huaaawaa..............


Zelena kembali menangis mendengar ucapan Victor, Rio yang membantunya naik ke atas tak tahu harus berbuat apa. Melihat wajah sang adik yang sudah merah padam, akhirnya Victor mendekatinya dan memeluk sang adik dengan erat.


"Udah jangan nangis lagi, nanti brother beliin es krim" bujuk Victor.


"Beneran" tanya Zelena dengan cepat.


"Iya makanya jangan nangis lagi princess"


"Baiklah brother Vic"


Rio menepuk keningnya melihat Victor yang tertawa karena sangat gampang menyogok adiknya itu. Ketiganya segera masuk ke dalam mansion untuk membersihkan diri.


Sesuai janjinya tadi, saat ini Victor, Rio, dan Zelena memilih menghabiskan waktu di mall tak lupa membeli es krim untuk Zelena.


~ SMA Internasional Cempaka Putih ~


Kedatangan Victor hanya dua hari saja di mansion Zelena, ia akan berlibur di Bali menghabiskan cutinya selama dua minggu. Zelena yang tahu kebiasaan kakaknya yang satu itu hanya menggelengkan kepalanya.


Saat ini Zelena sudah sampai di SMA internasional Cempaka Putih, sekolah mommynya dulu. Dengan langkah cepat Zelena masuk ke dalam sekolah mencari ruang kepala sekolah.


"Selamat datang nak Zelena dan senang memiliki siswi berprestasi seperti anda" ucap pak Rasya selaku kepala sekolah.


"Terima kasih banyak pak" ucap Zelena sambil tersenyum manis.


"Kamu boleh ikut ibu Ani ke kelas kamu"


"Baik pak"


Zelena lalu diantar bu Ani menuju kelas XII IPA 1 kelas yang akan ditempatinya. Saat masuk ke dalam kelas semua mata memandang Zelena dengan tatapan jijik dan tak bersahabat.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


To be continue................

__ADS_1


__ADS_2