Heartless 2

Heartless 2
Chapter 43


__ADS_3

🍁Tersenyumlah dalam situasi apapun karena tanpa disadari senyum itu yang akan menguatkanmu🍁


.


.


.


.


Clarisa tersenyum manis meski saat ini tubuhnya rasanya sangat sakit sekali. Ia sedari dulu memendam semua yang ia rasakan dan tidak ingin memberitahu apa yang ia alami kepada orang lain.


"Kenapa Risa........hiks hiks hiks.......apa loe puas di geniin terus" hardik Zelena dengan wajah berlinang air mata.


"Le....l...e" ucap Clarisa dengan terbata-bata memaksa tubuhnya untuk bangun.


Melihat hal itu Zelena berlari ke arah sahabatnya dan memeluknya sambil menangis. Keduanya menangis menumpahkan segala yang ada di di hati mereka di dalam hutan.


"Jangan nangis lagi Lele" lirih Clarisa dengan suara pelan.


"Loe itu bodoh......hiks hiks hiks...... meski gue itu polos tapi gue ngak sebodoh loe Risa!" bentak Zelena.


"Hehehehe! Terima kasih Lele udah mau jadi sahabat gue" ucap Clarisa sambil terkekeh.


"Berengsek loe! Gue lagi sedih malah loe ketawa" ketus Zelena.


"Habis loe lucu kalau lagi marah" ucap Clarisa sambil tersenyum manis.


Air mata Zelena terus mengalir melihat wajah sahabatnya yang babak belur dengan bekas tamparan, entah kenapa wajah sahabatnya hanya ada senyum saja tidak seperti orang yang merasa sakit.


"Ini pasti sakit" ucap Zelena meringis menunjuk lebam di kedua pipi Clarisa.


"Ngak terlalu Lele"


"Yakin loe?" tanya Zelena selidik.


"Apa raut wajah gue kelihatan sakit?" tanya balik Clarisa.


"Ngak sih. Tapi gue yakin pasti sakit banget" ringis Zelena bergidik ngeri.


"Kalau sakit gue pasti bilang sakit Lele"


"Biar gue obatin baru kita lanjut lagi" ucap Zelena sambil membuka tasnya mengambil betadine dan krim untuk bekas memar.


Beruntung ia selalu membawa first aid kemana-mana sedari dulu jadi saat seperti ini luka apapun bisa ditangani dengan cepat.


"Dimana lagi yang sakit?" tanya Zelena.


"Kayaknya kaki gue keseleo deh tapi ngak terlalu sakit sih"


"Mana gue lihat"


"Ngak usah Lele, lagian kita harus pergi sekarang takut yang lain pada nyariin"


"Benar juga kata loe" ucap Zelena sambil melihat sekelilingnya.


Entah kenapa bulu kuduknya merinding saat melihat sekeliling hanya ada pohon yang lebat, bahkan tidak ada cahaya matahari sedikit pun yang menerangi di sana karena cuaca di puncak yang selalu mendung dan turun hujan.


Sedangkan di vila Ares sedari tadi terus melihat ke arah hutan menanti kedatangan kekasihnya bersama timnya yang tak muncul juga.


"Gery kenapa mereka belum datang juga" bisik Ares dengan suara dingin.


"Mungkin sebentar lagi nona Zelena dan kelompoknya muncul tuan" bisik Gery menenangkan tuannya itu yang sedari tadi gelisah.


Baru kali ini ia melihat tuannya merasa gelisah dan panik karena seorang gadis padahal ia tahu tuannya itu seorang pemain wanita dan tidak pernah memberi hatinya untuk wanita-wanita yang selama ini dekat dengannya.


Tak berselang lama rombongan kelompok Zelena muncul, melihat kedatangan kekasihnya ia merasa sangat lega.


Gres yang datang lebih dulu saat melihat Ares dengan semangat ia langsung mendekat dan memeluk lengannya dengan erat.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


Mata Zelena melotot melihat hal itu dan seketika ia merasa marah dan kesal. Saking kesalnya ia memalingkan wajahnya saat pandangan keduanya bertemu.


"Lepas" ucap Ares dengan suara dingin.


"Honey aku kangen sama kamu" ucap Gres dengan suara manja.


"Lepaskan tangan kotormu dari lenganku b***h!" bentak Ares dengan tatapan tajam.


Melihat tatapan Ares akhirnya ia melepaskan tangannya karena tak ingin di permalukan oleh Ares di depan umum.


"Lele kita mau kemana?" tanya Clarisa.


"Pulang" ucap Zelena dengan wajah cemberut.


"Hah! Loe jangan bercanda deh Lele! Kegiatan kita selesainya besok bukan hari ini" ucap Clarisa dengan cepat.


"Risa tolong sekali ini aja pikirkan kondisi loe jangan pikirkan kuliah dulu" ucap Zelena dengan suara tinggi.


"Maaf Lele mungkin menurut loe kuliah itu biasa saja tapi untuk gue itu sangat penting" ucap Clarisa dengan sendu.


Deg.............


Zelena tersadar akan perkataannya barusan dan ia yakin itu sudah menyakiti hati sahabatnya.


"Risa maksud gue bukan gitu" ucap Zelenandengan panik.


"It's okay Lela gue tahu kok. Gue ke kamar mandi dulu ya" ucap Clarisa tersenyum meski hatinya sungguh hancur.


"Gue temani ya"


"Ngak usah Lele, gue sendiri aja" tolak Clarisa dengan suara lembut.


Clarisa berlalu pergi ke kamar mandi meninggalkan Zelena yang melihat kepergian sahabatnya dengan rasa bersalah.


Bodoh banget sih loe Zelena, batin Zelena mengatai dirinya sendiri.

__ADS_1


Tak lama pandangan Zelena menangkap Ares yang sedang berdiri tak jauh darinya, karena masih kesal dengan cepat Zelena berlari menghindari dari Ares.


~ Hotel Hilton ~


Saat ini Steven Lim bersama Kaito asistennya sedang berada di salah satu kamar hotel Hilton di lantai 23.


"Apa kamu yakin gadis kecilku akan menginap disini?" tanya Steven.


"Yakin tuan" ucap Kaito dengan suara tegas.


"Cari tahu dimana kamarnya"


"Maaf tuan sepertinya tidak bisa" ucap Kaito yang langsung di poloti Steven dengan tatapan tajam.


"Kamar hotel mereka akan di bagi saat tiba di hotel dan satu kamar akan di huni 3-4 mahasiswa tuan" papar Kaito menjelaskan maksudnya.


"Heemmm" deham Steven sambil memikirkan cara agar bertemu dengan Zelena.


"Bagaimana kalau tuan bertemu dengannya di restoran hotel saja saat makan malam" usul Kaito.


"Idemu boleh juga" ucap Steven tersenyum bahagia mendengar usulan asistennya.


"Iya tuan"


Tak lama hp milk Steven berdering dan saat melihat nama putrinya tertera disana ia segera mengangkatnya.


^^^"Halo Joana"^^^


"Halo pa. Papa lagi dimana kenapa tidak ada di vila?" tanya Joana to the point.


^^^"Papa berada di Indonesia"^^^


"Apa Indonesia! Papa ngapain ke sana" ucap Joana dengan kaget dari seberang.


^^^"Papa sudah menemukan putri sialan itu sayang" ucap Steven sambil tersenyum smirk.^^^


"Maksud papa putri Xavier Wesly?" tanya Joana.


^^^"Heemmm"^^^


"Papa kenapa pergi ke sana sendirian saja dan tidak beritahu aku pa! Kalau sialan itu tahu papa di sana bagaimana" pekik Joana dengan emosi.


^^^"Tenangkan diri kamu Joana!" bentak Steven.^^^


"Papa pikir tidak sih konsekuensinya kalau papa ketahuan" hardik Joana.


^^^"Papa tahu tapi kamu tenang saja karena tidak ada yang tahu kalau Steven Lim adalah Mario Drule" ucap Steven dengan suara tegas.^^^


"Aku harap papa jangan bertindak bodoh disana sebelum membuat rencana yang pasti"


^^^"Papa tahu sayang"^^^


"Aku akan kirim tambah pengawal untuk papa selama disana"


^^^"Terima kasih nak"^^^


"Sama-sama papa"


Steven mematikan panggilan setelah berbicara dengan sang putri, ia sudah tidak sabar ingin membalas Xavier lewat Zelena apa lagi ia sangat terobsesi dengan Zelena sejak ia masih kecil.


"Kamu tumbuh dengan baik gadis kecil" ucap Steven dengan napsu sambil menatap foto Zelena.


Tepat pukul 15:00 sore rombongan mahasiswa Universitas Karya Bangsa akhirnya tiba di hotel Hilton. Saat pembagian kamar Clarisa merasa senang karena ia satu kamar dengan sahabatnya Zelena.


"Clarisa, Zelena loe berdua di panggil sama ka Bima" ucap Sarah salah satu panitia tour.


"Baik ka terima kasih infonya" ucap Zelena dengan suara lembut.


"Oke sama-sama"


Clarisa dan Zelena lalu berjalan ke arah cafe di lobby hotel, saat berjalan Clarisa sempat mendapat tatapan intimidasi dari Gres dan sesaat matanya melotot melihat gerakan tangan Gres.


Berani loe buka mulut lihat aja loe apa yang bakal gue lakukan ke loe, seperti itu makna tatapan Gres barusan.


"Sore ka" ucap keduanya serentak.


"Kalian ayo duduk" ucap Bima dengan sopan.


"Ka ada apa ya manggil kita berdua?" tanya Zelena to the point.


"Sebelum maaf gue udah manggil loe berdua kesini. Gue mau tanya apa yang terjadi sama loe berdua di hutan tadi?" tanya Bima dengan tatapan menyelidik.


"Maksud ka Bima apa?" tanya Zelena dengan polos.


"Pipi loe berdua gue lihat ada lebam" ucap Bima.


Deg............


Jantung Clarisa berdetak dengan cepat mendengar ucapan Bima tentang pipinya, padahal ia sudah memakai foundation sangat tebal untuk menutupi bekas lebam di kedua pipinya.


"Itu gue kepentok pintu kamar mandi tadi pagi ka" ucap Zelena berbohong.


"Clarisa?" tanya Bima dengan tatapan tajam.


"I....tu ka" ucap Clarisa dengan gugup sampai meremas tangannya dengan kuat.


Pandangan mata Clarisa lalu berpindah ke tangannya yang di genggam Zelena seakan tahu saat ini ia sangat gugup dan takut.


"Gue jatuh di hutan ka karena ngak konsen lagi jalan" ucap Clarisa setelah mengontrol gugupnya.


"Yakin loe jatuh bukan yang lain?" tanya Bima yang tidak percaya dengan ucapan Clarisa.


"Memangnya menurut ka Bara lebam gue karena apa?" tanya balik Clarisa sambil menatap Bima.


"Bara?" kening Bima berkerut mendengar ucapan Clarisa.


"Maaf ka, sebenarnya teman gue ini otaknya sedikit error sejak lahir jadi sering salah sebut nama orang ka" potong Zelena.

__ADS_1


"Lele" pekik Clarisa tak terima di katai error yang artinya ia gila.


"Kakak dengar sendiri kan! Nama gue yang bagusnya kayak nama artis malah di panggil Lele" protes Zelena dengan wajah cemberut.


Bima tersenyum geli melihat wajah kesal Zelena dan Clarisa di depannya entah kenapa kedua orang di depannya yang berpenampilan cupu memiliki daya tarik mereka sendiri.


"Lele kok loe malah ngatain gue sih" dengus Clarisa dengan suara pelan.


"Lebih malu loe atau gue yang selama ini di panggil Lele" protes Zelena tak terima.


"Ihhhhh! Loe mah gitu" gerutu Clarisa sambil manyun bibirnya.


"Udah kalian jangan berantem lagi" potong Bima.


"Kita ngak berantem ka tapi berdebat" protes keduanya dengan serentak.


"Ya ya ya berdebat" ucap Bima sambil terkekeh.


Bima lalu menyuruh keduanya pergi sambil menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kedua gadis cupu tadi.


Tanpa mereka bertiga sadari ternyata sedari tadi Ares menatap mereka dengan tatapan cemburu melihat hal itu, bukan hanya Ares saja tapi anak buah Mikhail juga mengambil foto Clarisa dan mengirimnya ke Mikhail.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


~ Mansion Xander ~


Bugh.........bugh........bugh........bugh...........


Saat ini Xander tengah meninju samsak di depannya dengan brutal merasa sangat marah karena lagi-lagi ia belum bisa mendapat petunjuk mengenai adiknya.


"Bos" ucap Luki dengan sopan.


"Katakan" ucap Xander dengan suara dingin.


"King saat ini berada di Indonesia bos"


"Buat apa raja setan itu ke Indonesia?" tanya Xander dengan wajah datar.


"Meninjau pembangunan resortnya di Bali bos"


"Aku yakin tujuannya bukan hanya itu saja" tebak Xander seakan tahu Mikhail ke sana bukan hanya itu saja.


Luki diam tidak bisa berkata apa-apa karena memang informasi mengenai Mikhail sangat tertutup dan susah di dapat.


"Apa kamu sudah dapat petunjuk orang yang mengirim paket itu?" tanya Xander.


"Sudah bos! Kurir itu di suruh oleh seorang wanita asal Filipina bernama Jovita Joy"


"Filipina" Xander menatap Luki dengan alis terangkat sebelah menginginkan informasi lebih tentang orang itu.


"Ia bos dia adalah pengedar narkoba terbesar di Filipina dan selalu berhasil lolos dari polisi"


"Menarik" ucap Xander sambil terkekeh.


Selama ini ia tidak mempunyai silih paham dengan perempuan itu tapi kenapa ia menargetkan keluarga besarnya.


"Cari tahu siapa saja orang terdekatnya dan bersamanya saat ini"


"Baik bos"


"Kirim mata-mata kita ke sana"


"Baik bos"


Luki berlalu pergi setelah memberi informasi yang dibutuhkan Xander. Melihat Luki sudah pergi dengan cepat Xander mengambil hpnya dan menelpon seseorang.


"Heeemmm"


^^^"Mikhail" desis Xander dengan suara dingin.^^^


"Asisten keduamu itu sangat lambat" ejek Mikhail dari seberang.


^^^"King" hardik Xander dengan suara tinggi.^^^


"Tanpa aku kamu tidak bisa mendapat informasi wanita pengedar itu"


^^^"Apa yang kamu sembunyikan dari kami?" tanya Xander to the point.^^^


Mikhail terkekeh dari seberang menebak kalau Xander pasti sudah tahu tentang informasi yang ia miliki saat ini.


"Kamu tahu aturannya"


^^^"Berapa yang kamu mau?" tanya Xander to the point.^^^


"Aku tidak butuh uang"


^^^"Katakan"^^^


"Markas lama pasukan gelapmu"


Xander kaget bukan main mendengar ucapan Mikhail mengenai pasukan gelap miliknya yang selama ini ia sembunyikan dari siapapun.


^^^"How do you know about that?" (bagaimana kamu tahu tentang hal itu) tanya Xander dengan penasaran.^^^


"Apa yang tidak di ketahui oleh seorang King Black Shadow" ucap Mikhail sambil terkekeh dari seberang.


^^^"Apa tujuanmu Mikhail?" tanya Xander seperti tahu ada maksud lain.^^^


"Bukan urusanmu"


^^^"Mikhail" desis Xander dengan rahang mengeras tanda ia sangat emosi saat ini.^^^


"Hubungi aku jika kamu sudah memikirkannya"


Prang...............


Xander melempar hpnya sampai pecah di lantai saat Mikhail mematikan panggilannya sepihak. Dadanya naik turun tanda ia sangat emosi karena seorang King Devil itu.

__ADS_1


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


To be continue...............


__ADS_2