Heartless 2

Heartless 2
Chapter 41


__ADS_3

🍁Jangan pernah berbohong kepada seseorang yang mempertahankanmu dengan ketulusan, jika kamu kehilangan dia maka kamu tidak akan menemukan dia lagi🍁


.


.


.


.


David dan Leon segera pergi setelah membahas kejadian tadi bersama Xander dan twin. Saat tiba di lobby Leon yang malas menyetir menyuruh pengawalnya membawa mobilnya mengikuti dia dan David dari belakang.


"Ka kita mau kemana?" tanya Leon yang melihat jalan yang mereka lewati berbeda dari jalan menuju mansion.


"Uncle Kevin" ucap David dengan suara dingin.


"Mau ngapain ka"


"Daddy berada di sana"


"Sama wanita pengkhianat itu" tebak Leon dengan wajah tak suka.


"Alone" (sendiri)


"Oh baiklah! Ka sebenarnya apa yang terjadi dengan Natasha" ucap Leon yang mengingat obrolan mereka tadi.


David melihat sekilas adiknya yang terlalu kepo sama seperti Victor. Di antara mereka semua kedua orang itu yang paling kepo di tambah anak kedua uncle Kevin yaitu Hendri meski baru SMP tapi sifat ingin tahunya itu sangat tinggi.


"Jangan pernah mencari masalah dengan Natasha" ucap David memperingati adiknya.


"Memangnya kenapa ka? Lagian buat apa juga aku cari masalah sama Nata ka?" tanya Leon sekaligus protes.


"Jangan bilang ini ada hubungan sama kejadian waktu kita kecil ka" tebak Leon dengan mata melotot.


"Heemmm" deham David membenarkan ucapan adiknya.


"Kayaknya kali ini Vincent menggali kuburannya sendiri ka" decak Leon tak habis pikir.


"Kenapa dia harus amnesia segala sih" tambahnya lagi dengan kesal.


"3 donatur di UCLA seminggu yang lalu bangkrut" ucap David dengan suara dingin.


"Jangan bilang ini ada hubungan dengan Natasha ka"


"Heemmm! 3 anak mereka adalah orang yang menganggu Natasha di kampus"


"Dan ka Mikhael di balik kebangkrutan keluarga mereka" potong Leon.


"Heemmn"


Leon menggelengkan kepalanya tak bisa berkata apa-apa mendengar ucapan kakaknya. Ia baru pertama kali melihat Mikhail saat acara ulang tahun Wesly Group dan belum melihatnya lagi atau bertemu.


"Apa ka Mikhail sangat hebat ka?" tanya Leon dengan penasaran.


"King Mikhail itu namanya di dunia bisnis saat ini. Di umur yang ke 20 tahun ia sudah menjadi presdir VA Corp dan menyelesaikan S3 saat diumur 18 tahun"


"Apa" pekik Leon dengan kaget.


Pasalnya ia saja yang sudah berumur 24 saat ini belum juga menyelesaikan S1. Apa lagi memimpin perusahaan segitu besarnya ia belum mampu.


"King adalah namanya di Black Shadow tapi tidak ada yang mengetahui hal itu selain keluarga kita dan bos besar"


"Apa dia juga hebat dalam dunia hacker ka?" tanya Leon dengan penasaran.


"He is number one dalam dunia hacker dan King adalah nama samarannya. Bahkan kemampuannya lebih dari aunty Valeria bahkan bisa lebih dari bos juga"


Leon tak bisa berkata apa-apa mendengar ucapan kakaknya tentang seorang King Mikhail. Itu hanya sebagian saja yang ia dengar dari kakaknya belum semuanya.


"Satu hal yang harus kamu tahu Leon" ucap David dengan tatapan tajam.


"Mikhail adalah orang yang sangat kejam dan tak ada kasih, adiknya sendiri di cambuk 50 kali hanya karena masalah sepele" tambahnya lagi.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


Glek...........


Leon merasa kerongkongannya terasa kering mendengar ucapan kakaknya. Menurutnya apa yang dilakukan oleh Mikhail sungguh tak masuk akal apa lagi adik kandungnya sendiri tak di beda-bedakan jika bersalah.


"Satu luka di tubuh Natasha berarti orang yang memberinya luka harus mendapat hal sama" ucap David dengan suara dingin.


"Lalu kenapa bukan Vincent yang dihukum dan malah Natasha ka?" tanya Leon dengan bingung.


"Dia melindungi Vincent dari kakaknya dengan jaminan dirinya sendiri"


"Vincent sangat bodoh ka" dengus Leon dengan kesal memikirkan pengorbanan Natasha hanya untuk Vincent.


David tak membalas ucapan adiknya dan memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju mansion uncle Kevin dan aunty Rahel.


~ Puncak, Jawa Barat ~


Zelena menepuk keningnya karena Ares ia melupakan sahabatnya yang sedang ia cari.


"Kenapa?" tanya Ares dengan suara lembut.


"Ini semua gara-gara loe" tunjuk Zelena dengan kesal.


"Zelena" desis Ares dengan tatapan tajam mengintimidasinya.


"Hehehehe! Aku lupa" Zelena terkekeh melupakan ucapan Ares tadi.


"Heemmm"


"Aku harus pergi" Zelena berbalik ingin pergi tapi belum sempat membuka pintu tangannya di tahan oleh Ares.

__ADS_1


"Mau kemana?" tanya Ares sambil mengelus kepala Zelena dengan lembut.


"Nyarin Risa! Udah dari tadi aku ngak lihat dia, aku takut dia kenapa-napa" ucap Zelena dengan cemas.


"Aku temani ya sayang"


"Ngak" bantah Zelena dengan mata melotot tajam.


"Kenapa?" tanya Ares dengan tatapan menyelidik.


"Apa kata anak-anak kalau lihat aku sama kamu. Apa lagi kita keluar bareng dari kamar ini" ucap Zelena dengan panik.


Ares melihat sekelilingnya dan memang saat ini keduanya sedang berada di dalam vilanya, kebetulan lampu yang hidup hanya lampu di dinding jadi dari luar tidak bisa di lihat jika mereka berdua ada di dalam.


"Selalu bawa hpmu kemana-mana"


"Oke"


Zelena lalu membuka pintu dan mengintip keluar, melihat tak ada orang di sekitar kamar Ares ia bergegas keluar dan pergi dari sana tak ingin ada yang melihatnya.


Syukurlah ngak ada yang lihat, batin Zelena dengan lega.


Zelena lalu bergegas ke kamar yang ia tempati bersama Clarisa dan beberapa teman lainnya. Sampai di dalam kamar Zelena bernapas dengan lega melihat sosok yang sedari tadi ia cari.


"Risa" panggil Zelena dengan suara tinggi mengagetkan Clarisa yang sedang membereskan tasnya.


"Lele" ucap Clarisa sambil memperbaiki kaca matanya yang melorot.


"Loe kemana aja sih dari tadi gue nyariin?" tanya Zelena dengan wajah khawatir.


"Tadi gue bantuin panitia di halaman depan vila Lele. Pas mau kembali ke kamar kaki gue keseleo dan akhirnya gue jatuh ke lumpur jadi pas loe nyari gue mungkin gue masih di kamar mandi" jelas Clarisa sambil tersenyum manis.


"Kaki loe ngak kenapa-napa kan?" tanya Zelena dengan cemas.


"Ngak apa-apa Lele beruntung keseleo ngak parah"


"Sakit ngak"


"Ngak lagi"


"Syukurlah" Zelena menghembuskan napasnya dengan lega mendengar ucapan sahabatnya.


"Loe dari mana Lele?" tanya Clarisa.


"Gue nyari loe keliling vila"


"Hah! Beneran loe" pekik Clarisa dengan kaget.


"Beneranlah! Ampe gue tanya sama teman-teman jurusan loe tapi mereka pada ngak tahu loe dimana" cerita Zelena dengan semangat.


"Maaf ya Lele udah buat loe khawatir" ucap Clarisa merasa bersalah.


"Ngak usah di pikirin yang penting loe baik-baik aja" ucap Zelena sambil tersenyum manis.


Clarisa membalas senyuman sahabatnya dengan senyuman manis dan tulus. Beruntung sebelum Zelena datang Clarisa sudah menutup bekas tamparan Gres tadi dengan foundation.


Keesokan harinya Zelena dan Clarisa sudah bersiap-siap untuk jelajah hutan di belakang vila. Udara puncak yang terasa sangat dingin dan lembab membuat Zelena sedari tadi menggosok tangannya terus.


"Loe kedinginan ya Lele?" tanya Clarisa.


"Iya nih. Gue lupa bawa sarung tangan kemarin" ucap Zelena menggosok kedua tangannya.


"Ya udah loe pakai aja punya gue"


"Ngak usah Risa! Loe juga butuh sarung tangan kali" tolak Zelena dengan halus.


"Tapi" ucap Clarisa yang di potong Zelena.


"Udah mending kita lihat nama tim kita saja" potong Zelena dengan cepat.


Keduanya lalu menuju ke papan pengumuman ingin melihat siapa saja yang berada dalam tim mereka. Seketika mata keduanya terbelek melihat nama geng 4G yang satu tim dengan mereka.


"Sial kita setim sama geng 4G ngak jelas itu" dengus Zelena dengan kesal.


Sedangkan Clarisa hanya diam saja ia yakin pasti akan ada sesuatu yang bakal di lakuin Gres kepada mereka saat di dalam hutan.


Gue harus jagain Zelena dari Gres dan gengnya nanti, batin Clarisa melirik Zelena.


"Risa gue ambil air mineral buat kita bawa ke hutan bentar ya" ucap Zelena menyadarkan Clarisa dari pikirannya.


"Oh oke"


Zelena bergegas menuju ruang konsumsi mengambil 2 botol air mineral tak lupa ia juga mengambil 2 potong roti untuknya dan Clarisa jika mereka lapar.


Aarrgghhh..........


Teriak Zelena saat tubuhnya di peluk dari belakang oleh seseorang. Tapi saat mencium bau parfum yang ia kenali ia langsung berbalik menghadap ke belakang.


"Ares lepas kalau ada yang lihat gimana" pekik Zelena dengan kesal.


"Bentar aja sayang. Aku kangen sama kamu" ucap Ares memeluk tubuh Zelena semakin erat.


"Isshhh! Lepas Ares" dengus Zelena dengan kesal sambil memberontak.


"Ckk!!" decak Ares dengan kesal.


"Kamu apa-apain sih Ares! Kalau ada yang lihat terus sebarkan gosip gimana!" bentak Zelena dengan kesal.


"Biarin aja" ucap Ares dengan santai.


"Isshhh" Zelena memanyunkan bibirnya dengan kesal mendengar jawaban Ares.


Ares sendiri terkekeh melihat wajah kesal sang pacar apa lagi bibirnya yang manyun membuatnya semakin imut dimatanya.

__ADS_1


"Pakai ini" ucap Ares sambil memberikan sarung tangan.


"Buat apa?" tanya Zelena dengan wajah polos.


"Biar kamu ngak dingin nanti" ucap Ares memasangkan sarung tangan ke kedua tangan Zelena.


Zelena tersenyum manis melihat hal tersebut tak menduga akan mendapat perhatian kecil dari pacarnya itu, meski ia di paksa menjadi kekasihnya.


"Jangan dekat laki-laki lain disana" ucap Ares memperingatinya.


"Aku ngak dekat sama mereka! Lagian mana ada yang mau dekat sama anak cupu dan jelek kayak aku" ketus Zelena.


"Kamu cantik dimata aku" ucap Ares.


"Berarti mata kamu itu rusak karena ngak bisa bedain mana yang cantik dan ngak"


"Kamu itu adalah kamu bukan orang lain sayang! Kalau aku bilang kamu cantik berarti kamu itu cantik di mata aku" tegas Ares dengan tatapan tajam.


"Heemmm" deham Zelena dengan pipi yang merona.


Ares tersenyum melihat kedua pipi pacarnya yang blushing, sesaat matanya menangkap sudut bibir sang pacar yang luka dan lebam di pipi kirinya.


"Siapa yang ngelakuin ini?" tanya Ares dengan aura mengelap menyentuh pipi kirinya.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


Zelena tersentak mendengar pertanyaan Ares apa lagi udara di sekitarnya seketika berubah menjadi sangat dingin.


"I....tu a...ku jatuh di ka...mar mandi semalam" ucap Zelena dengan terbata-bata.


Ares mengangkat alisnya sebelah mendengar ucapan kekasihnya, ia tak percaya begitu saja dengan ucapannya karena ia tahu itu bekas tamparan.


"Jangan membohongiku sayang" desis Ares dengan suara dingin.


"Ares udah waktunya berangkat aku harus pergi" ucap Zelena mengalihkan pembicaraan.


"Heemmm"


Zelena segera pergi meninggalkan Ares di dalam ruang konsumsi. Setelah kepergian Zelena tiba-tiba Geri muncul dari belakangnya.


"Cari tahu apa yang terjadi sama gadisku" ucap Ares dengan suara dingin dan tatapan membunuh.


"Baik tuan" ucap Geri membungkuk sambil berlalu pergi.


Ares mengepal tangannya akan membalas siapa saja yang sudah melukai pipi kekasihnya hingga lebam dan luka.


~ Bandar Udara International Soekarno Hatta ~


Mikhail turun dari jet pribadinya sambil memakai kaca mata hitam dan jangan lupa tatapan dingin dan tajam dari seorang Mikhail.


"Mansion" ucap Mikhail dengan suara dingin.


Mikhail lalu masuk ke dalam mobil mewahnya bersama Damon dan Teivel. Selama di dalam mobil Mikhail sudah tak sabar ingin bertemu dengan gadis yang sudah ia klaim jadi miliknya.


"Where is she?" (dimana dia) tanya Mikhail dengan suara dingin.


"Di Puncak King! Mereka sedang tour disana selama 3 hari 2 malam" ucap Damon.


"Zelena"


"Ada bersama nona Clarisa King"


"Heemmm! Teivel apa Mr. S sudah bergerak?" tanya Mikhail dengan tatapan tajam.


"Orangnya sudah mengetahui dimana lokasi nona muda Wesly tinggal King"


"Pengawal bayangannya?" tanyanya lagi.


"Keduanya tidak tahu King"


"Bodoh" cibir Mikhail dengan sinis.


Damon dan Teivel diam saja mendengar ucapan King mereka di kursi belakang. Sedangkan Mikhail tersenyum smirk melihat informasi terbaru tentang Ares dan Zelena.


"Takdir akhirnya mempertemukan kalian" ucap Mikhail sambil terkekeh.


"King. Nona muda akan datang ke Indonesia 3 hari lagi" ucap Damon melihat jadwal Natasha.


"Beritahu X untuk mengawasinya terus"


"Baik King"


"Apa kamu sudah dapat informasi mengenai Light?" tanya Mikhail dengan aura membunuh.


"Belum King! Tapi kemarin pagi tuan muda Wesly mendapat kiriman foto di penthousenya tentang kegiatan mereka sekeluarga beserta keluarga tuan Kendrick dan tuan Walst" papar Damon menjelaskan.


"Siapa?" tanya Mikhail dengan singkat.


"Kurir yang mengantar paket itu King tapi ada seseorang yang menyuruhnya dan dia seorang wanita Asia"


"Nama"


"Jovita Joy asal Filipina berumur 26 tahun King dan dia seorang pengedar narkoba terbesar di Filipina"


"Cari orang di belakangnya"


"Baik King"


Mikhail tahu sepertinya ada seseorang yang ingin bermain bersama mereka disini, tapi orang ini tidak berhubungan dengan Steven Lim yang mengincar Zelena.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


To be continue...............

__ADS_1


__ADS_2