
πBukan tentang siapa lagi yang menarik, tapi tentang siapa yang mampu menerima segala kekurangan dan kondisimu dengan baikπ
.
.
.
.
"Apa kamu yakin itu gadis kecilmu?" tanya Sean yang masih ragu.
"Heemmm! Aku yakin pa. Hanya aku dan dia saja yang tahu ucapanku malam itu pa" ucap Ares menerawang jauh.
Sean yang melihat perubahan wajah anaknya menepuk pundaknya menyadarkan sang anak untuk tidak memikirkan kejadian tragis waktu itu, karena ia tahu sampai detik ini anaknya setiap malam tidak bisa tidur tanpa obat tidur.
"Jangan di pikirkan lagi nak"
"Iya pa"
"Malam datanglah ke mansion papa tunggu" Sean berdiri dan berlalu pergi tapi saat akan membuka pintu langkahnya terhenti karena ucapan sang anak.
"Jauhkan ketiga manusia rendahan itu saat aku datang pa" ucap Ares dengan suara dingin sambil mengepal kedua tangannya.
"Datanglah sesudah jam makan malam"
"Heemmm"
Sean segera keluar dari ruangan sang anak tak menggubris ucapan Ares yang tak sopan saat menjawab ucapannya karena ia tahu saat ini pasti anaknya sedang menahan emosi.
Maafkan papa yang tak bisa memberimu sosok seorang ibu yang baik nak, batin Sean dengan rasa bersalah.
Meskipun begitu selama ini Sean selalu memanjakan putranya itu dengan kasih sayang yang berlimpah melebihi kedua anaknya yang lain hasil jebakan istrinya yang sekarang.
Tok.........tok...........tok............
"Masuk" ucap suara baritone tegas dari dalam sana.
Gery membuka pintu ruangan Ares setelah dipersilahkan masuk. Saat masuk ia melihat Ares yang sedang berdiri menatap suasana siang kota Jakarta dari kaca jendela sambil menghisap sebatang rokok.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya Gery dengan sopan.
"Kamu bantu om Dion untuk mempersiapkan pesta kakek minggu depan"
"Baik tuan"
"Nanti malam aku akan menyetir sendiri pulang ke mansion"
"Baik tuan" Ares lalu memberi isyarat kepada Gery untuk keluar.
Melihat Gery sudah pergi Ares segera mengerjakan pekerjaannya karena sebelum pulang ke mansion ia akan menemui kekasihnya yang sejak kemarin tak ada kabar.
~ Mansion Zelena ~
Setelah memeriksa keadaan Vincent dan mengobati luka di sekujur tubuhnya, dokter Sarah segera permisi pulang karena tugasnya sudah selesai.
"Ayo biarkan Vincent beristirahat" ajak Xavier ke seluruh keluarganya untuk keluar.
Di ruang keluarga Thomas bersama keluarganya, Leon, Rio, Liliana, dan Henry sudah duduk di sofa menunggu kedatangan Wesly sekeluarga.
"Maaf kan anakku Val, Thomas" ucap Chloe dengan tulus.
"Mommy" lirih Xander dengan suara lembut.
Chloe mengangguk kepalanya mengatakan jika mereka memang harus meminta maaf atas kelakuan Vincent kepada Natasha.
"Aku ingin mereka menikah bos" tegas Thomas dengan suara lantang.
Xavier sudah menduga jika Thomas pasti akan mengatakan hal ini, tapi di lain sisi Chloe menatap Natasha yang sedari tadi menunduk tak mau jika anaknya dan Natasha di paksa menikah bukan karena cinta.
"Aku setuju" ucap Xavier dengan suara tegas.
"Daddy" lirih Victor sambil menggelengkan kepalanya untuk menunggu Vincent sadar baru membicarakan hal ini.
"Keputusan daddy sudah bulat tak bisa di rubah" ucap Xavier menatap anak ketiganya dengan tatapan tajam.
...π π π π π...
Semuanya diam tak mengatakan satu kata pun karena sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
"Natasha" panggil Chloe dengan suara lembut.
"Iya aunty" jawab Natasha mengangkat kepalanya menatap Chloe yang sedang tersenyum manis.
"Bagaimana pendapatmu sayang. Karena ini semua tentang kamu dan Vincent yang akan menikah?" tanya Chloe.
"Maaf sebelumnya karena aku sudah berbohong"
__ADS_1
"Pernikahan bukan mainan yang asal menikah tapi itu adalah sakral. Aku hanya minta kepada semuanya agar menunggu Vincent sadar baru kita membicarakan hal ini karena di sini bukan hanya aku yang akan menikah" papar Natasha dengan suara tegas.
"Aku setuju dengan ucapan putriku" tambah Valeria.
"Baiklah kita tunggu Vincent sadar baru kita lanjutkan pembicaraan ini" tegas Xavier.
"Tapi satu yang mau aku tekankan! Pernikahan ini akan tetap berjalan tidak perduli dengan jawaban keduanya" tambahnya lagi dengan suara lantang.
Ckk!! Bukannya itu sama saja hubby, batin Chloe berdecak kesal menatap suaminya.
Buat apa tunggu twin jika ujung-ujungnya mereka tetap menikah, batin Victor dengan kesal.
Daddy memang aneh, batin Xander tak habis pikir.
"Kenapa kalian lihat daddy seperti itu?" tanya Xavier dengan kening berkerut.
Ketiganya mendengus kesal mendengar ucapan suami dan daddy mereka yang tak sadar diri dengan ucapannya barusan.
"Baiklah besok kita lanjutkan lagi pembicaraan kita dan kami tunggu kedatangan bos di mansion" ucap Thomas.
"Heemmm" deham Xander sambil mengangguk kepala.
Keluarga Thomas segera pamit undur diri, setelah itu masing-masing segera membubarkan diri entah kemana.
"Vic kasian ya tuan muda kedua" ucap Rio saat keduanya bersantai di taman samping.
"Aku tahu twin pasti akan menolak pernikahan ini"
"Tapi tadi tuan besar bilang kalau tetap pernikahan mereka akan terjadi"
Phew..............
Victor membuang napas dengan kasar mendengar ucapan Rio. Memikirkan hal itu membuatnya pusing sendiri sedangkan Rio matanya melotot melihat nama pemanggil di layar hpnya.
"Vic Vic gawat" ucap Rio dengan wajah panik.
"Kenapa?" tanya Victor dengan kening berkerut.
Rio tak mengatakan apa-apa dan menunjukkan hpnya dimana tertera nama Direktur Cole disana. Melihat hal itu Victor bukannya takut malah tersenyum santai seakan tahu apa yang akan terjadi.
"Angkat saja" ucap Victor dengan santai.
"Baiklah" ucap Rio dengan pasrah jika ia akan mendapat amukan dari direktur Cole.
"DiMANA SI BERENGSEK ITU.......HAH" teriak direktur Cole saat panggilannya diangkat.
Rio menelan saliva dengan susah mendengar teriakan direktur Cole yang memekikkan telinga dari seberang sana.
^^^"Ha.....lo direktur" ucap Rio dengan terbata-bata.^^^
Dasar lemah, batin Victor tersenyum menyeringai melihat manajernya gemetaran.
"DIMANA KALIAN SEKARANG BERENGSEK. KENAPA ARTIS GILA ITU TIDAK DATANG KE LOKASI PEMOTRETAN!" bentak direktur Cole berapi-api.
^^^"Uhhm! Kita saat ini ada di Indonesia direktur"^^^
"APA" teriak direktur Cole hingga Rio harus menjauhkan hpnya dari telinganya karena berdengung sakit mendengar teriakannya.
"BERIKAN HPMU KE SIALAN ITU" pekik direktur Cole lagi.
"Vic" ucap Rio sambil menyodorkan hpnya.
^^^"Kenapa pak tua. Apa kamu kangen sama aku?" tanya Victor sambil terkekeh.^^^
"Dasar artis gila kamu Victor. Kenapa kamu pergi tanpa memberi kabar kepadaku"
^^^"Daddy yang menyuruhku untuk menyusul mereka kesini"^^^
Mata Rio melotot kaget mendengar ucapan Victor yang berbohong jika kedatangan mereka kesini karena di suruh tuan besar. Victor sendiri terkekeh melihat wajah managernya yang sangat lucu.
...π π π π π...
"Kamu tidak berbohong kan Vic?" tanya direktur Cole dengan selidik.
^^^"No. Kalau tidak percaya tanya saja sama daddy"^^^
"Baiklah aku percaya. Kapan kamu pulang"
^^^"Minggu depan"^^^
"Apa! Kenapa selama itu"
^^^"Ya mana aku tahu. Protes saja sama daddy kenapa harus lama disini" ucap Victor dengan santai.^^^
Phew...............
Victor mengulum senyum geli mendengar helaan napas direktur Cole dari seberang karena harus mengatur ulang jadwal Victor yang sudah berantakan.
__ADS_1
"Baiklah kamu jaga diri disana dan ingat jangan ada gosip selama disana"
^^^"Lihat saja pak tua aku tidak janji"^^^
"Suruh managermu selalu stand by di sampingmu 24 jam Vic"
^^^"Oke"^^^
Victor lalu mematikan panggilan sepihak tak menunggu jawaban dari direktur Cole. Rio menggeleng kepalanya melihat sifat artisnya yang sangat acuh dan santai dengan direktur mereka sendiri.
Aku yakin pak tua disana pasti sedang memaki Victor, batin Rio sambil terkekeh.
"Kamu kenapa kayak orang gila saja" ketus Victor dengan mata memicing.
"Ckk!! Aku masih waras Vic" dengus Rio dengan kesal.
"Waras kok ketawa sendiri tidak jelas" cibir Victor.
"Sukamu saja mau omong apa Vic" pasrah Rio tak mau berdebat dengan Victor.
Sedangkan di balkon lantai dua saat ini Lili sedang menatap taman belakang Zelena setelah
selesai menelpon kedua orang tuanya.
"Kenapa kamu disini sendiri?" tanya David mengejutkan Lili.
"Ka David kenapa disini?" tanya balik Lili.
David diam tak menjawab pertanyaan Lili dan malah ikut berdiri di sampingnya. Lili merasa gugup saat berduaan dengan David apa lagi jarak keduanya sangat dekat.
"Kita semua akan pulang lusa"
"Kenapa secepat itu ka?" tanya Lili.
"Perintah bos"
"Oh ia ka"
"Istirahat sana. Sore kita akan jalan-jalan" ucap David dengan suara lembut sambil menatap Lili.
"I.....ya ka" ucap Lili dengan terbata-bata.
Deg............
Tubuhnya menegang saat pipinya di elus David dengan sangat lembut hingga wajahnya merah padam. Baru pertama kali ada laki-laki yang menyentuhnya selain adik dan daddynya.
"Istirahat sana baby" bisik David.
Tak mengatakan apapun Lili segera berlalu menuju kamarnya dengan wajah merah padam membuat David terkekeh melihat tingkah lucu Lili.
"Apa seru ka?" tanya Leon yang sedari tadi mengintip keduanya.
"Heeemmm"
"Jangan permainkan dia kak. Dia itu beda sama wanita di luar sana"
"I know" (aku tahu) ucap David dengan suara dingin.
"Ka aku main ke rumah uncle Rudi ya"
"Sore baru kita semua ke sana sekalian jalan-jalan"
"Beneran kak" pekik Leon dengan senang.
"Heemmm"
Leon segera berlalu pergi setelah membicarakan keinginannya kepada sang kakak. Melihat adiknya yang senang bibirnya terangkat merasa ikut bahagia juga.
~ California, Los Angeles ~
Di sebuah perusahaan saat ini Albert baru selesai memeriksa laporan setelah selesai meeting tadi sore.
Melihat jam sudah menunjukkan pukul 19:00 Albert segera merapikan pekerjaannya dan mengambil tasnya untuk pulang ke mansion.
Saat di lobby Albert segera masuk ke dalam mobil setelah asistennya membuka pintu untuknya. Tanpa Albert sadari ternyata ada pengendara motor yang sedang memantaunya sedari tadi dan saat melihat mobil Albert sudah pergi ia lalu menelpon seseorang.
^^^"Target baru keluar dari perusahaan"^^^
"Baiklah. Kamu segera pergi dari sana sesuai rencana"
^^^"Oke"^^^
Pengendara motor tadi berlalu pergi berlawanan arah dengan arah mobil Albert. Saat tiba di persimpangan lampu merah tiba-tiba truk kayu melaju dengan kencang menuju mobil Albert yang terparkir sendiri di sana.
Brak.................
...π π π π π...
__ADS_1
To be continue............