
πLebih baik terjebak hujan dari pada terjebak masa laluπ
.
.
.
.
Natasha bangun perlahan-lahan sambil memegang perutnya yabg terasa sangat sakit karena tendangan preman tadi.
Saat matanya melihat siapa yang menolongnya ia kaget bukan main tak menyangka jika Marco orang menolongnya.
"Siapa kamu? Berani ikut campur urusan kami!" bentak ketua preman yang ingin membunuh Natasha.
"Memangnya kenapa kalau aku ikut campur? Apa kalian ingin seperti teman kalian yang sudah tak bernyawa lagi?" tanya Marco sambil tersenyum sinis.
"Bangsat kamu bajingan! Aku akan membunuhmu sialan" teriak salah satu preman dengan emosi.
Marco yang melihat gerakan tangan preman hendak mengambil pistol di belakangnya dengan cepat melepas tembakannya.
Dor..............dor............
2 Tembakan langsung bersarang di kepala keduanya menyisakan 2 orang lagi. Marco yang melihat pelurunya habis berdecak dengan kesal karena harus turun tangan langsung melawan mereka.
"Sial" umpat Marco sambil melempar pistolnya ke tanah.
"Bunuh dia" teriak preman yang menjadi ketua mereka.
Bugh........bugh.........bugh.........bugh.......bugh.....
Marco melawan 2 orang sekaligus beruntung ia pernah belajar bela diri jika tidak sudah dipastikan ia akan mati dihajar mereka.
Marco menyerang keduanya bergantian sambil menahan pukulan keduanya yang sangat brutal. Melihat Marco yang kesusahan dengan cepat Natasha segera membantunya.
"Kita lawan mereka sama-sama" ucap Natasha dengan suara dingin.
"Oke" ucap Marco tak membantah.
Natasha dan Marco melawan mereka satu lawan satu dengan sekuat tenaga. Marco tersenyum manis melihat gerakan tangan dan kaki Natasha yang sangat lincah mengahadapi lawannya.
Bugh............bugh.............
Keduanya terpental bersamaan ke belakang saat Marco dan Natasha sama-sama menendang mereka tepat di titik saraf mereka hingga keduanya tewas seketika.
Bruummm............bruuumm...........
Tiba-tiba bunyi mobil bersahutan di belakang mereka saat keduanya mengambil napas sebanyak-banyaknya karena terlalu lelah menghadapi mereka.
"Apa itu teman mereka.......hosh hosh hosh?" tanya Marco dengan napas ngos-ngosan.
"Bukan. Mereka anak buah daddy aku" jawab Natasha saat melihat lambang Devil Dragon di bagian depan mobil mereka.
"Syukurlah" ucap Marco lega.
Natasha melihat Marco yang berdiri dengan tangan di pinggang menetralkan napasnya yang satu-satu. Ia tak menyangka orang yang akan menolongnya adalah Marco.
"Terima kasih" ucap Natasha dengan tulus.
Hahh................
Marco tercengang berbalik menatap Natasha dengan kaget tak menyangka akan mendapat ucapan terima kasih dari Natasha.
"Kamu tidak kenapa-napa kan?" tanya Marco yang melihat wajah Natasha pucat.
"Aku baik-baik saja" jawab Natasha dengan suara dingin sambil menahan sakit di perutnya.
Tak.............tak............tak...........
Bunyi langkah kaki yang sangat banyak datang menghampiri keduanya. Natasha tak menyangka jika daddynya akan bergerak dengan cepat mengirim bantuan.
"Nona muda" sapa mereka semua serentak.
"Bereskan ini semua jangan sampai meninggalkan jejak" perintah Natasha dengan suara dingin.
"Baik nona muda"
Grep............
Marco dengan cepat menangkap Natasha yang tiba-tiba jatuh pingsan. Melihat hal itu dengan cepat ia mengendong Natasha ke mobil untuk segera ke rumah sakit.
Didalam mobil Marco menatap Natasha dengan cemas melihat wajah Natasha yang semakin pucat. Ia tak menyangka jika pesan dari bos besarnya tadi agar dia datang ke sana ternyata berhubungan dengan Natasha.
...π π π π π...
Jadi ini semua rencana bos besar agar aku semakin dekat dengan Natasha, batin Marco sambil tersenyum penuh arti.
~ Markas Black Dragon ~
Bugh............bugh.............bugh..........bugh............
Xavier memukul kedua anaknya dengan brutal tak membiarkan mereka membalasnya. Meski ia sudah berumur 50-an tapi tenaganya masih stabil karena sering berolahraga.
"Kalian itu saudara tapi kenapa harus berkelahi" bentak Xavier dengan suara tinggi.
"Maaf daddy" ucap Xander dan Vincent serentak.
__ADS_1
"Ini peringatan terakhir buat kalian berdua. Jika kalian membuat mommy kalian menangis lagi daddy tidak segan-segan mengunci kalian berdua di dalam kandang Sandra selama seminggu" ancam Xavier dengan tatapan tajam.
"Iya dad" ucap keduanya sambil mengangguk kepala.
Xavier melenggang pergi dari ruang latihan setelah memberi kedua anaknya hukuman. David dengan sigap memberikan air minum dan handuk kepada keduanya.
"Ka David dimana handphone aku?" tanya Vincent sambil mengelap keringat.
"Ada disini tuan muda kedua" jawab Luki dari arah belakang.
Vincent menerima hpnya dari Luki dan menghidupkan hpnya yang tadi ia matikan. Saat hpnya sudah menyala ada banyak notifikasi pesan dan panggilan tak terjawab yang masuk.
Ya ampun aku lupa jemput istriku, batin Vincent berdecak kesal.
Dengan cepat ia langsung menelpon istrinya tapi hingga panggilan ketiga juga tidak diangkat. Ia mencoba menelpon lagi dan akhirnya panggilannya diangkat.
^^^"Kenapa kamu lama sekali jawabnya!" bentak Vincent dengan suara tinggi membuat ketiga pasang mata disana menatapnya dengan bingung.^^^
"Halo tuan muda kedua"
Vincent diam mengerutkan keningnya mendengar suara laki-laki yang menjawab hp istrinya. Ia melihat apa benar ia menelpon di nomor istrinya atau bukan dan itu benar nomor Valeria.
^^^"Siapa kamu? Kenapa kamu yang jawab panggilan istriku?" tanya Vincent dengan suara dingin.^^^
"Maaf taun muda kedua saya pengawal tuan besar Parker. Hp nona muda tertinggal di dalam mobilnya tuan"
^^^"Lalu dimana istriku? Kenapa mobil istriku kamu yang bawa?" tanya Vincent dengan suara tinggi.^^^
"Nona muda barusan dilarikan ke rumah sakit tuan muda ketiga"
^^^"APA" teriak Vincent dengan kaget.^^^
^^^"Apa yang terjadi dengan istriku? Di rumah sakit mana istriku dibawa" hardik Vincent dengan panik.^^^
"Nona muda dibawa ke rumah sakit Wesly karena"
Vincent langsung mematikan panggilannya sepihak tak mendengar penjelasan anak buah daddy Thomas lagi. Dengan langkah cepat ia berlari keluar untuk bergegas ke rumah sakit.
"David cari tahu apa yang terjadi dengan Natasha" ucap Xander dengan suara dingin.
"Baik bos" ucap David dengan wajah datar.
Luki bergegas keluar setelah melihat isyarat dari David yang menyuruhnya untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan Natasha.
"Dimana Victor?" tanya Xander dengan suara dingin.
"Tuan muda ketiga saat ini berada di Italia bos"
"Ckk!! Apa dia masih mengejar putri Katy?" tanya Xander dengan ketus.
"Iya bos"
Xander membuang napasnya dengan kasar tak habis pikir dengan kelakuan ketiga adiknya yang saat ini sibuk dengan dunia percintaan mereka.
Menyebalkan, batin Xander mendengus kasar tak percaya lagi akan namanya cinta.
Xander segera bergegas pergi dikuti David menuju kamar pribadinya di markas Devil Dragon di lantai 3. Sedangkan David ia memilih pulang ke mansion untuk melihat keadaan Albert.
...π π π π π...
~ Mansion Kendrick ~
Sampainya di mansion ia langsung masuk ke dalam mansion tak memperdulikan sapaan pelayan yang berbaris rapi menyambut kepulangannya.
"Brother" pekik Leon dengan senang dari lantai 2.
Brugh.............
Tubuhnya langsung diterjang Leon karena sangat senang melihat kedatangan kakaknya. Beruntung David bisa menahan bobot keduanya sehingga mereka tak jatuh.
"Kamu bukan anak kecil lagi Leon" dengus David dengan tatapan tajam.
"Biarin" ucap Leon dengan keras kepala sambil memeluk lengan David dengan erat.
"Ckk!! Dasar anak kecil" decih David.
Leon tersenyum sambil memamerkan giginya tak perduli dengan ucapan sang kakak. Tal lama Mira keluar bersama ibunya dari dalam lift.
"David cucuku" pekik ibu Salma dengan bahagia melihat David.
"Oma" ucap David melepas tangan Leon dan memeluk sang oma yang sudah lama ia tak temui.
Mira menghentikan langkahnya melihat kedekatan anak dan ibunya saat ini. Ada rasa sakit dan iri dalam hatinya melihat pemandangan didepannya.
David sempat bertatapan dengan Mira tapi ia segera membuang wajahnya ke samping tak sudi melihat Mira. Sampai detik ini ia masih belum memaafkan sang mommy atas kejadian itu.
"Kamu sudah makan malam nak?" tanya oma Salma setelah pelukan mereka terlepas.
"Belum oma"
"Kenapa belum David? Kamu pasti melewatkan makan malam! Ingat nak kesehatan itu lebih penting dibandingkan apapun di dunia ini" nasehat oma Salma sambil menarik cucunya ke meja makan.
David diam dan pasrah saja mengikuti langkah sang oma yang tak akan melepasnya sebelum ia makan malam.
Leon sendiri terkekeh melihat wajah cemberut sang kakak dan ia yakin kakaknya pasti akan semakin kesal sampai di meja makan.
Betul sekali tebakan Leon karena saat ini David mendengus kesal melihat makanan yang ditaruh oma Salma di atas piringnya.
__ADS_1
Astaga ini semua karbohidrat. Mana lauknya semua berlemak, batin David mendengus kasar.
"Pokoknya kamu harus habiskan David dan ingat jangan coba-coba menyisakan sedikit pun" ucap oma Salma memperingatinya.
Leon terkekeh melihat keduanya sambil menatap kakaknya dengan mengejek. Melihat senyuman adiknya seketika David tersenyum smirk memikirkan sebuah ide.
"Oma" panggil David dengan suara lembut.
"Ada apa? Apa kamu mau nambah lagi?" tanya oma Salma.
"Ini cukup om" dengan cepat David menggelengkan kepalanya.
"Leon barusan memberi tahuku kalau dia lapar lagi oma" ucap David dengan santai.
Byur............
Leon menyemburkan minuman yang sedang ia minum saat mendengar ucapan kakaknya. Matanya melotot kesal tak menyangka jika kakaknya akan berkata seperti itu.
"Ya ampun pasti karena tadi kamu makannya dikit aja Leon. Kalau begitu kamu juga harus makan Leon" pekik oma Salma dengan histeris.
"Tapi oma" ucap Leon yang langsung dipotong David.
"Leon sangat kelaparan oma jadi beri dia makanan yang banyak oma! Hehehehe" potong David sambil terkekeh.
Leon menatap kakaknya dengan horor karena kebohongan sang kakak. David tersenyum smirk dan mulai memakan makanannya seakan tidak ada yang terjadi.
"Ayo makan Leon. Kalau lapar itu jangan diam saja beritahu oma" ucap oma Salma dengan tegas sambil menaruh banyak lauk di piring Leon.
Dengan terpaksa Leon harus makan lagi akibat ulah sang kakak. Mira yang melihat ketiganya dari pintu ruang makan menahan rasa sakit dihatinya.
Oma Salma menatap putrinya dengan iba merasa kasihan karena anaknya tak dianggap oleh kedua cucunya selama ini.
...π π π π π...
"Kamu yang kuat ya ndok" ucap oma Salma tak mengeluarkan suara menatap putrinya.
Mira mengangguk kepalanya menjawab ucapan sang ibu saat membaca gerakan bibirnya.
Selesai makan malam David segera pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Ia yang tadinya hanya ingin berkunjung ke mansion untuk menjenguk daddynya harus menginap di mansion malam ini.
Itu semua karena sang oma yang meminta untuk menginap di mansion dengan alasan sudah terlalu larut untuk pulang.
Padahal menurutnya biasa saja jika dia pulang di jam seperti ini karena memang suasana malam di California tak seperti di Bandung.
"Brother" ucap Leon membuka pintu kamar David tanpa mengetuk.
"Sekali lagi kamu masuk tanpa mengetuk siap-siap saja tanganmu aku patahkan Leon" ancam David dengan tatapan tajam.
Glek..................
Leon menelan salivanya dengan susah mendengar ucapan kakaknya yang terdengar sangat menyeramkan. Ia tahu ucapan kakaknya itu tak main-main.
"Maaf ka aku lupa soalnya udah kebiasaan" ucap Leon sambil tersenyum lebar.
"Kebiasaan yang buruk" decak David dengan sinis.
Leon menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil terkekeh menatap sang kakak karena apa yang dibilang kakaknya barusan memang tak salah lagi.
"Bagaimana perusahaan?" tanya David dengan suara dingin.
"Baik seperti biasa ka tapi pekerjaan aku semakin menumpuk karena daddy tak ada" keluh Leon dengan sedih.
"Jangan mengeluh karena saat ini kamu sedang belajar untuk memimpin perusahaan jika suatu saat daddy pensiun" tegas David.
"Tapi ka"
"Semua yang kamu lakukan sekarang akan membantumu di masa depan" nasehat David dengan bijak.
"Tapi aku capek ka" keluh Leon sambil berguling di atas ranjang.
"Dibandingkan kamu lebih capek kakak Leon" ucap David sambil berlalu keluar dari kamarnya ingin menemani daddynya.
Leon memikirkan ucapan sang kakak yang ada benarnya juga. Ia memang tahu bagaimana kerjaan kakaknya yang 10 kali lipat lebih banyak.
Meski hanya asisten saja tapi Leon tahu jika pekerjaan sang kakak lebih banyak dari seorang CEO perusahaan.
David masuk ke dalam ruang perawatan Albert dan menatap daddynya dengan sedih melihat begitu banyak alat yang dipasang ditubuh sang daddy.
"Kapan daddy sadar? Aku sangat butuh daddy saat ini" lirih David sambil memegang erat tangan Albert.
Hiks..........hiks..........hiks........
Air matanya jatuh tak kuasa melihat daddynya yang terbaring seperti ini. Setiap kali ia datang menjenguk daddynya ia tak bisa menahan air matanya yang akan tumpah.
Mira yang hendak masuk ke dalam mengurungkan niatnya saat mendengar suara sang anak yang berbicara didalamnya.
Maafkan mommy nak, batin Mira dengan rasa bersalah.
David menangis dengan pilu di depan Albert mencurahkan semua isi hatinya. Tanpa David sadari ternyata jari tangan Albert bergerak.
Mata itu perlahan-lahan mengerjab terbuka menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam matanya. Telinganya langsung menangkap suara tangis yang terdengar menyayat hati di sampingnya.
"Dav........id" panggil Albert dengan suara amat pelan.
Deg...........
...π π π π π...
__ADS_1
To be continue.....................