Heartless 2

Heartless 2
Chapter 146


__ADS_3

🍁Saat hatimu tak baik-baik saja, tak apa untuk bersedih atau meneteskan air mata, karena hidup bukan hanya tentang senyum dan tawa🍁


.


.


.


.


Semua mata langsung tertuju ke arah suara pecah didepan pintu kamar dimana Vincent yang menjatuhkan minuman untuk istrinya karena kaget mendengar ucapan kakaknya barusan.


“Brother apa maksudnya? Kenapa princess di rumah sakit dan bagaimana bisa?” tanya Vincent dengan cemas dan panik.


“Apa yang terjadi dengan princess brother?” tanya Victor tak kalah cemas.


“Son kamu tidak sedang bercandakan? Adikmu baik-baik saja kan disana son?” tanya Xavier dengan wajah cemas.


Xander melihat keluarganya satu-persatu dengan tatapan tajam sambil menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan mereka jika apa yang barusan ia katakan itu benar adanya.


“Saat ini princess berada di RH Hospital. Princess terjatuh dari tangga parkiran kampus dan mendapat 18 jahitan di kepalanya karena terkena benda tajam dan juga kaki kirinya patah dan harus di gips selama 2 bulan.


“APA” pekik mereka semua dengan kaget.


Hiks…………..hiks………….hiks……………hiks………….


Seketika semuanya menangis histeris didalam sana mendengar penjelasan Xander mengenai kondisi Zelena saat ini. Chloe yang hampir terjatuh dengan cepat di tangkap oleh suaminya dan memeluknya dengan sangat erat.


“Hubby putri kita………….hiks hiks hiks” ucap Chloe dengan lirih.


“Kamu tenang ya baby. Putri kita akan baik-baik saja karena dia anak yang kuat” ucap Xavier dengan suara lembut menenangkan istrinya.


“Brother princess baik-baik saja kan? Tidak ada cidera serius?” tanya Vincent dengan cepat.


“Tidak ada Vin” jawab Xander dengan cepat.


“Hiks hiks hiks………brother ayok kita pergi ke Indonesia. Aku tidak tenang sebelum melihat keadaan princess” ajak Victor sambil menangis sesegukan.


“Aku sudah siakan jet pribadiku dan kita akan berangkat 30 menit lagi” ucap Xander dengan suara dingin.


“Vic panggil pak Max untuk menyiapkan keperluan daddy dan mommy” titah Xavier dengan suara tegas.


“Oke daddy” balas Victor dengan cepat dan berlalu keluar.


“Daddy aku tidak bisa pergi karena istriku belum diijinkan pergi jauh” lirih Vincent dengan sedih.


“Ya daddy tahu. Kamu dan Natasha jaga saja mansion dan ingat jaga diri kalian juga selama kami pergi” balas Xavier dengan suara tegas.


Vincent dan Natasha segera keluar dari kamar orang tua mereka karena orang tua mereka akan bersiap-siap pergi ke Indonesia.


Sedangkan Victor dengan santai ia duduk di sofa sambil memberi perintah ke Rio untuk mengurus semua keperluannya.


“Vic apa kamu yakin akan lama disana?” tanya Rio sambil menaruh pakaian-pakaian Victor ke dalam koper.


“Apa kamu itu sudah pikun Rio?” tanya balik Victor.


“Hah! Maksudmu Vic?” tanya Rio dengan bingung.


“Ckk!! Kamu memang sudah mulai pikun Rio. Bukannya semalam kamu baru saja memberitahu aku jika lokasi pemotretan aku minggu depan nanti di Indonesia” hardik Victor dengan kesal.


“Oh iya aku lupa Vic! Hehehehe” balas Rio sambil terkekeh menggaruk kepalanya yang tak gatal.

__ADS_1


“Cih!” decih Victor dengan sinis.


Selesai packing mereka segera berangkat menuju ke mansion Xander dan naik jet pribadi Xander yang sudah terparkir di landasan pribadi miliknya di samping mansion.


Victor, Rio, Xander, Xavier, dan Chloe memilih untuk beristirahat selama perjalanan karena perjalanan mereka akan memakan waktu yang sangat lama.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


~ RH Hospital ~


Setelah mengabari semua keluarga kekasihnya Ares segera duduk di kursi di samping brankar Zelena sambil memegang erat tangannya.


Ceklek………..


Tiba-tiba Gery masuk ke dalam ruangan rawat Zelena sambil menatap tuannya dengan tatapan dingin. Ia berjalan menuju ke arah Ares untuk memberitahu semua informasi yang telah ia dapatkan sebelum Zelena terjatuh dari tangga parkiran kampus.


“Tuan” panggil Gery dengan sopan.


“Apa loe udah tahu kenapa pacar gue bisa jatuh dari tangga?” tanya Ares dengan suara dingin.


“Sudah tuan” jawab Gery sambil menyodorkan iPad miliknya ke Ares.


Ares melepas genggaman tangannya dari Zelena lalu menerima iPad dari Gery.


Setelah beberapa saat kemudian matanya berkilat tajam melihat informasi yang diberikan oleh Gery, bahkan giginya sampai mengeletuk saat menonton rekaman cctv di parkiran kampus.


Prang…………….


Gery menatap iPadnya dengan sendu karena sudah hancur berserakan di lantai karena dibanting oleh Ares barusan. Sedangkan Ares sendiri wajahnya mengelap dengan rahang mengeras setelah mengetahui siapa yang sudah berani mendorong kekasihnya.


“Dimana pe***ur itu?” tanya Ares dengan suara dingin dengan tatapan berkilat tajam.


“Di mansion tuan besar tuan” jawab Gery.


“Sudah saya laksanakan tuan” jawab Gery dengan sopan.


“Siapkan helikopter sekarang juga dan perketat penjagaan kekasih gue disini. Larang semua orang yang ingin masuk kecuali Liam” titah Ares dengan suara tinggi.


“Baik tuan”


Gery berlalu keluar untuk melakukan perintah Ares barusan, sedangkan Ares ia mengepal kedua tangannya dengan kuat hingga buku-buku jarinya terlihat menandakan saat ini emosinya sudah tidak bisa dikontrol lagi.


“Mi amor aku akan membalas semua yang kamu rasakan kepada perempuan ja***g itu” ucap Ares sambil menatap kekasihnya dengan tatapan sendu melihat Zelena yang masih pingsan setelah operasi tadi siang.


~ Mansion Sean Rahardian ~


Sret……………..sret……………sret………………


Brugh…………..


Daniella menarik pakaiannya acak-acakan dari dalam walk in closet membuat semua pakaiannya berantakan didalam sana. Apa lagi ia yang selalu menabrak benda apa saja karena saking gugupnya dan takut memikirkan kejadian tadi siang.


“Apa yang kamu lakukan Daniella? Kenapa kamar kamu kamu seperti kapal pecah?” tanya Calista yang kaget saat masuk ke dalam kamar putrinya.


Daniella tak mengubris pertanyaan sang mama karena dipikirannya saat ini hanya ingin pergi jauh dari sini sebelum kakaknya mengetahui apa yang ia lakukan tadi siang.


“Daniella jawab mama jangan diam saja!” bentak Calista dengan suara tinggi.


“MENDING MAMA DIAM! KARENA MAMA ITU HANYA BUAT AKU PUSING MA!” bentak Daniella dengan suara menggelegar.


Calista tercengang tak menyangka akan dibentak oleh putri kandungnya sendiri yang selama ini sangat ia manjakan.

__ADS_1


“Kamu membentak mama Daniella?” tanya Calista dengan syok.


“Ya. Lebih baik mama keluar saja karena saat ini bukan waktunya aku harus mendengar ceramah mama yang sangat memusingkan itu” jawab Daniella dengan suara tinggi.


Calista tak bisa berkata apa-apa karena syok mendapat perlakuan seperti itu dari putri kandungnya sendiri.


Daniella sendiri tidak perduli dengan mamanya yang menatapnya dengan nanar, merasa sangat kecewa di perlakukan seperti itu oleh putri kandungnya sendiri.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


Selesai menaruh barang penting miliknya di koper dengan cepat Daniella menarik kopernya keluar dari dalam kamar melewati sang mama begitu saja.


Calista yang tersadar anaknya sudah pergi bergegas menyusulnya untuk menanyakan kemana ia akan pergi.


“Daniella tunggu. Kamu mau kemana nak?" tanya Calista setelah berhasil menyusul anaknya di anak tangga terakhir.


“Ma please deh. Kali ini saja jangan tanya dulu kemana aku pergi karena aku akan mengabari mama setelah tiba nanti” ucap Daniella dengan kesal.


“Tapi Daniella, mama bakal khawatir jika tidak mengetahui kemana kamu akan pergi sayang” ucap Calista dengan cepat.


“Mama ngerti ngak sih? Aku akan kabari mama setelah aku sampai jadi jangan halangi aku ma” hardik Daniella dengan suara tinggi.


Ia lalu menarik kopernya dan pergi dari sana dengan terburu-buru, tapi baru saja sampai di ruang keluarga langkahnya terhenti saat mendapat tatapan tajam dan tegas dari papanya yang sedang menonton tv disana.


“Pap….a” ucap Daniella dengan gugup.


“Mau kemana kamu jam segini?” tanya Sean dengan suara dingin sambil melihat jam sudah menunjukkan pukul 21:30.


“I…tu aku mau ke Labuan Bajo pa. Ada pemotretan disana bes…..ok pagi pa” jawab Daniella dengan gugup.


“Benar kamu mau Labuan Bajo?” tanya Sean dengan selidik merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Daniella.


“Beneran pa” jawab Daniella dengan cepat.


“Mas apa yang Daniella katakan itu benar. Tadi aku sudah konfirmasi ke kantor agensinya kok” ucap Calista membela putrinya.


“Heemmmm” deham Sean tak perduli dan kembali melanjutkan tontonannya.


Phew……………….


Daniella membuang napasnya dengan lega merasa diselamatkan oleh mamanya dari sang papa. Saat ia hendak pergi tiba-tiba langkah kaki yang banyak masuk ke dalam mansion membuat semua disana segera menatap ke asal suara dengan penuh tanda tanya.


“Ada apa Hans?” tanya Sean yang mengenali Hans sebagai pengawal pribadi Zelena.


“Bos memerintah kami untuk menahan nona Daniella tidak boleh keluar dari mansion ini tuan besar” jawab Hans dengan sopan.


“Daniella? Memangnya kenapa?” tanya Sean dengan bingung.


“Nanti bos datang baru tuan besar akan tahu” jawab Hans sambil menatap Daniella sambil tersenyum smirk.


Deg……………..


Jantung Daniella berdetak dengan cepat memikirkan maksud kakaknya menyuruh anak buahnya untuk menahan dia disana.


Seketika tubuhnya gemetar menebak apa yang terjadi, apa lagi melihat senyuman Hans yang semakin membuatnya yakin dengan apa yang ia pikirkan.


Sedangkan Sean dan Calista menatap mereka berdua bergantian memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Demian yang baru saja pulang dari hangout bersama teman-temannya menatap keluarganya dengan bingung melihat suasana yang tidak seperti biasa.


Apa yang terjadi? Kenapa ka Daniella bawa koper segala, batin Demian dengan bingung.


Mati gue, batin Daniella dengan gemetar ketakutan.

__ADS_1


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


To be continue……………..


__ADS_2