Heartless 2

Heartless 2
Chapter 30


__ADS_3

🍁Apapun yang kita lakukan dalam kehidupan ini adalah perlombaan dalam kebaikan, bukan perlombaan keunggulan satu sama lain🍁


.


.


.


.


Matanya bertatapan dengan mata hitam elang milik Ares, merasa tak tahan melihat hal tersebut dengan cepat Zelena berlari menjauh dari sana.


Brugh..............


Gres terjatuh di lantai saat tubuhnya di dorong kuat oleh Ares, tatapan tajamnya menatap Gres dengan dingin membuat Gres ketakutan.


"B***h" dengus Ares dengan tajam.


"Sayang kamu kok tega sih sama aku" rengek Gres dengan suara manja.


Ares mengambil sapu tangan yang di sodorkan Geri asisten sekaligus tangan kanannya dan mengelap bibirnya yang di cium Gres barusan.


Cuih...........


Ares meludahi Gres tepat di wajahnya membuat gadis itu mengepal tangannya dengan emosi. Ia sedari dulu sangat terobsesi dengan Ares apa lagi saat ia bisa naik ke ranjang Ares dan menghabiskan satu malam dengan laki-laki itu.


"Sekali lagi loe tunjukkan wajah busuk loe di depan gue jangan salahkan gue perusahaan bokap loe tinggal nama" ancam Ares dengan tatapan membunuh.


Ares dan Geri segera berlalu pergi dari sana meninggalkan Gres yang berteriak kesetanan. Tadi ia berhasil mencium bibir Ares saat melihat laki-laki itu keluar dari toilet setelah bertemu rektor kampusnya.


"Lihat aja Ares suatu hari loe bakal bertekuk lutut di depan gue" ucap Gres sambil tersenyum menyeringai.


Sedangkan di lain sisi Zelena berlari sambil mengelap air matanya yang jatuh sedari tadi. Entah kenapa hatinya seperti di iris-iris melihat Ares berciuman dengan perempuan lain.


Hiks......hiks.......hiks......hiks.......


Zelena menangis sambil memukul dadanya yang terasa sangat sakit, beruntung tidak ada orang yang melewati jalan tersebut.


Setelah puas menangis Zelena melihat sekelilingnya dan ternyata ia berada di gang samping kampusnya. Zelena berjalan menuju jalan utama untuk menunggu taksi.


Ia terduduk di halte dekat kampusnya dengan pandangan kosong, meski sudah jam 18:10 ia tidak perduli. Tak lama sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan halte.


Grep............


Zelena tersentak saat tangannya di tarik sampai ia membentur dada bidang keras di depannya. Saat ia melihat siapa yang sudah menariknya seketika air matanya tumpah tak bisa ditahan.


Hiks........hiks.......hiks........


Ares memeluk Zelena dengan erat entah kenapa ia merasa hatinya sangat sakit melihat gadis di depannya yang berpenampilan cupu menangis.


"Sudah jangan nangis lagi" bisik Ares dengan lembut.


Baru kali ini Ares bisa berkata lembut kepada perempuan selain omanya. Entah kenapa ada perasaan aneh yang menjalar dihatinya saat pertama kali bertemu dengan Zelena.


Setelah puas menangis Ares membawa Zelena masuk ke dalam mobilnya. Di dalam mobil Ares langsung menekan tombol sekat antara dirinya dan sopir.


"Sudah jangan nangis lagi nanti loe semakin jelek" cibir Ares.


"Ckk!!" dengus Zelena sambil mengerucut bibirnya.


"Jangan manyun gitu bibir loe kayak bebek" goda Ares.


"Ishh! Gue bukan bebek" dengus Zelena dengan kesal.


Hehehehe...........


Ares terkekeh melihat wajah Zelena yang kesal karena ucapannya. Entah kenapa ia merasa sangat suka untuk menggoda Zelena apa lagi saat ia memanyunkan bibirnya menurutnya itu sangat imut.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


"Kenapa tertawa" ucap Zelena sambil melepas kaca matanya dan memandang Area dengan wajah polos.


Deg.........


Jantung Ares berdetak dengan cepat melihat tatapan mata hazel yang sangat polos di depannya. Ia pernah melihat mata itu dan itu adalah mata yang sangat sangat ia rindukan selama ini.


"Siapa loe sebenarnya?" tanya Ares dengan tatapan tajam tapi mata hitamnya terlihat penuh kerinduan.


Ehhh.........


Zelena merasa bingung dengan ucapan Ares tak lama matanya melotot kaget karena tentu saja ia belum mengenalkan dirinya kepada Ares.


"Nama gue Zelena"


Ares tak menjawab pertanyaannya dan hanya menatap Zelena dengan tajam. Zelena menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena merasa malu terus ditatap oleh Ares.


"Tuan kita akan kemana?" tanya Geri yang membuat Ares tersadar.


"Dimana rumah loe?" tanya Ares dengan suara dingin.


"Kenapa?" tanya balik Zelena dengan mata memicing.


"Ckk!! Jangan mikir yang aneh-aneh! Gue cuma mau ngantar loe" dengus Ares dengan kesal karena dicurigai.


"Oh gitu! Ngomong dong dari tadi" ucap Zelena sambil terkekeh.


"Ckk!!" decak Ares dengan kesal.


"Gue tinggal di jalan XXX kebetulan gue salah satu pelayan di mansion milik nona D dan diberi ijin untuk kuliah" ucap Zelena panjang lebar.

__ADS_1


Ares memicing menatap Zelena dengan alis berkerut mendengar penuturan Zelena. Ia hanya bertanya dimana rumahnya bukan bertanya alasan kenapa dia tinggal disana.


Ares mendengus menatap Zelena dengan kesal dan menyuruh Geri menuju alamat yang diberitahu Zelena barusan.


~ Hits Cafe ~


Setelah berkutat dengan pekerjaannya di cafe setelah habis dari restoran, sudah waktunya Clarisa pulang. Clarisa melihat jam di hpnya yang sudah retak di layarnya menunjukkan pukul 22:00.


"Phew! Semangat Clarisa" ucapnya menyemangati dirinya sendiri.


Clarisa berpamitan dengan teman kerjanya dan menyusuri jalan menuju kos miliknya yang tak jauh dari cafe tempat ia bekerja.


Duar................


Seketika petir menyambar di langit dan tiba-tiba hujan pun turun. Dengan cepat ia berlari menuju gang yang sangat sepi tapi melewati gang itu ia bisa dengan cepat sampai di kosnya.


Bugh........bugh........bugh......bugh..........


Dor.............dor...........


Tubuh Clarisa menegang melihat kejadian di depannya yang baru pertama kali ia lihat. Matanya seakan ingin keluar dari tempatnya melihat sosok pria berdiri di depannya baru saja memukul 2 orang pria dan menembak mereka hingga tewas.


"Turns out there's a little intruder" (ternyata ada penganggu kecil) ucap pria itu dengan suara baritone sambil terkekeh.


Ya Tuhan apa malam ini hari terakhir gue hidup, batin Clarisa dengan ketakutan.


Orang didepannya terus maju mendekatinya dan terkekeh melihat tubuh gemetar Clarisa. Mata coklat itu memandang gadis mungil didepannya dengan seringai.


NB :Percakapan Mikhail author buat dalam bahasa Indonesia ya😘


"Mungkin malam ini malam terakhir kamu bernapas" bisik Mikhail dengan suara dingin.


Ya orang di depan Clarisa adalah Mikhail yang baru saja menghabisi musuhnya. Tadi setelah pulang dari markas ia memilih membawa mobil sportnya sendiri dan tidak ingin dikawal.


"Ja.....ngan b....unuh aku! A....ku tidak a....kan memberitahu kej.....adian ma....lam ini kepada sia...pa pun" ucap Clarisa dengan terbata-bata.


"Sayangnya aku tidak percaya sama ucapanmu"


"Tua....n boleh menga.....bil apa....pun tapi jan....gan bu....nuh saya tuan" pinta Clarisa dengan wajah memucat.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


Mikhal tersenyum smirk melihat gadis didepannya yang gemetaran ketakutan ada rasa bahagia melihat hal itu.


"Kita ke rumahmu sekarang" ucap Mikhail dengan suara dingin tak ingin dibantah.


Glek...........


Clarisa menelan salivanya dengan susah melihat tatapan tajam itu yang seakan menghunusnya. Dengan patuh Clarisa berjalan dengan pelan menuju kosnya diikuti Mikhail.


~ Kos Healing~


Mikhail menatap papan nama kos yang terpampang jelas di pintu masuk kos. Ia menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan kelakuan warga +62.


Ceklek.........


Pintu kamar kos Clarisa dibuka dan saat masuk kedalam ia segera menghidupkan lampu kamarnya. Tatapan tajam milik Mikhail meneliti kamar Clarisa membuatnya mendengus sinis.


Huhh.............


Clarisa melihat ke arah Mikhail yang mendengus entah kenapa. Seketika matanya berdecak kagum melihat Mikhail yang ternyata bule apa lagi wajahnya seperti titisan dewa yunani.


Bulenya ganteng pisang eeuhh, batin Clarisa dengan kagum.


Mikhail menatapnya dengan kening berkerut pasalnya ia tak mengerti dengan apa yang di pikirkan oleh Clarisa karena memakai bahasa Indonesia.


"Kamarmu seperti kandang peliharaanku" ketus Mikhail.


Mata Clarisa melotot kaget mendengar ucapan Mikhail, ia berdecak kesal karena ucapan Mikhail yang sangat menghinanya. Apa ia tidak tahu jika kamar miliknya ini sudah paling bagus untuk kalangan sepertinya.


"Bawakan aku handuk" ucap Mikhail dengan nada bossy.


"Tahu diri dikit ya, loe pikir loe itu siapa nyuruh-nyuruh gue"


Ingin sekali Clarisa berteriak seperti itu di depan wajah tampan orang di depannya tapi seketika nyalinya menciut melihat tatapan dingin dan tajam di depannya.


"I.....ni tua....n" dengan gemetar Clarisa menyodorkan handuk miliknya.


Mikhail menerima handuk itu dan mengeringkan wajah dan rambutnya yang basah akibat hujan barusan. Selesai ia lalu melemparkan handuk itu tepat di wajah Clarisa.


Isshhh...........


Clarisa meringis sakit saat ujung handuk mengenai mata kanannya sehingga terasa perih. Ia mengucek matanya merasakan perih dan tak mengetahui jika lensa kontaknya terlepas.


"Jangan di kucek" peringat Mikhail dengan suara dingin.


"Perih" ujar Clarisa semakin mengucek matanya.


Grep...............


Mikhail menangkap tangan Clarisa yang akan mengucek kembali matanya tapi seketika matanya terbelak melihat warna mata Clarisa yang berwarna biru perak.


"Kamu" ucap Mikhail dengan tatapan dingin.


Clarisa terbelak saat Mikhail menatap matanya dengan tajam, dengan cepat ia menarik tangannya dan menutup sebelah matanya karena takut dihina oleh Mikhail.


"Lepas lensa kontakmu" ucap Mikhail dengan suara tegas.


"A....ku" ucap Clarisa dengan terbata-bata.

__ADS_1


"Lepas" ucapnya lagi dengan aura kekuasaan mengatakan ia tidak suka dibantah.


Clarisa berjalan menuju cermin lemari dan melepas kontak lensanya di mata kiri. Pandangan keduanya beradu lewat cermin setelah Clarisa melepas kontak lensanya dan terlihat matanya yang berjenis heterochromia.


Grep..........


Mikhail membalik tubuh Clarisa dan memeluknya dengan sebelah tangan dengan erat.


Tangannya yang lain perlahan-lahan menyentuh kedua kelopak mata Clarisa yang berbeda warma, dimana sebelah kanan berwarna biru perak sedangkan yang kiri berwarna silver kecoklatan .


"You are mine baby" (kamu milikmu sayang) ucap Mikhail dengan suara tegas.


~ Madrid, Spanyol ~


Setelah 12 jam diudara akhirnya Chloe dan Xavier tiba di Madrid, Spanyol. Kedatangan keduanya langsung disambut oleh anak buah Devil Dragon yang berada di Madrid.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


"Selamat datang bos dan nyonya" ucap anak buah Devil Dragon dengan serentak.


"Dimana Victor?" tanya Xavier dengan suara dingin.


"Tuan muda ketiga berada di kantor polisi Madrid bos" ucap Rich pimpinan Devil Dragon di Spanyol.


"Apa! Hubby........hiks hiks hiks" pekik Chloe dengan histeris sudah berpikir aneh-aneh tentang anaknya.


"Tenang baby, Victor baik-baik saja" ucap Xander membujuk istrinya yang sudah panik.


"Hiks hiks hiks hiks........aku takut hubby bagaimana kalau Victor masuk penjara"


"Suuuttt! Semua akan baik-baik saja baby" bisik Xavier.


Keduanya segera bergegas menuju kantor polisi dimana Victor berada saat ini. Rahang Xavier mengeras memikirkan orang yang sudah menjebak anaknya.


~ Kerajaan Wizpet ~


Prang........prang.......prmag.......


Terdengar bunyi benda pecahan akibat lemparan putri mahkota di kerajaan Wizpet. Ia membanting benda-benda di sekitarnya karena papanya tak mengijinkan ia pergi.


"Cukup sayang jangan memecahkan barang lagi" bujuk sang ibunda ratu dengan suara lembut.


"Hiks hiks hiks.......aku mau lihat Victor mama! Aku yakin Victor tidak bersalah" ucap Katy sambil menangis histeris.


Mamanya mengurut keningnya yang tiba-tiba sakit karena kelakuan sang anak kepada idolanya itu. Ya Katy adalah fans berat dari Victor Rolando Wesly selama ini.


Semua kebiasaan dan kesukaan Victor ia tahu, bahkan hal-hal yang tidak diketahui publik putrinya bisa tahu entah dari mana ia dapat informasinya.


"Sayang" ucap Bryan yang baru pulang dari meninjau ladang anggur mereka di kota seberang.


"Suamiku akhirnya kamu pulang juga" ucap Elisa istri Bryan Peterson.


"Ada apa hemm?" tanya Bryan sambil mencium kening istrinya dengan lembut.


"Putri kita sejak tadi menangis terus ingin menemui idolanya itu" dengus Elisa dengan kesal.


Phew..........


Bryan menghembuskan napasnya dengan kasar, melihat putrinya lagi-lagi melempar barang dan menangis karena tak diijinkan menemui idolanya di Madrid.


"Aku telpon King dulu sayang"


"Iya suamiku"


Bryan mengambil hpnya dan menelpon Mikhail meminta tolong untuk menyelesaikan masalah Victor demi sang buah hati.


"Heemmmm"


^^^"King"^^^


"Katakan" ucap Mikhail dengan singkat dan suara dingin dari seberang.


^^^"Tolong Katy King, sejak kemarin ia terus menangis karena skandal Victor dan ingin pergi menemui Victor"^^^


"Ckk!! Menyusahkan"


^^^"King" ucap Bryan dengan memelas.^^^


"Apa imbalan buat aku uncle"


^^^"Uncle akan mengirim 10 botol anggur Night Cloud Wine untuk kamu"^^^


"Deal"


^^^"Apapun akan uncle lakukan demi kebahagian putri uncle"^^^


"Ok. Jangan lupa kirim uncle"


Bryan mendengus melihat panggilannya sudah dimatikan sepihak oleh Mikhail.


Matanya lalu menatap sang putri yang sudah tidak menangis lagi dan malah tersenyum bahagia, karena papanya sudah menghubungi Mikhail untuk mencari bukti tentang ketidak keterlibatan Victor.


"Susah puas hemm" dengus Bryan.


"Papa memang terbaik" ucap Katy sambil tersenyum manis.


"Jangan buat mama pusing dengan kelakuanmu putri Katy"


Katy hanya bisa tertawa memamerkan gigi putihnya menjawab ucapan sang papa. Elisa tersenyum manis melihat putrinya yang sudah kembali ceria seperti biasa.

__ADS_1


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


To be continue...............


__ADS_2