
πTidak semua orang yang terlihat baik akan berbuat baik, bahkan orang terdekat sekalipunπ
.
.
.
.
Tak terasa waktu pun berlalu dengan sangat cepat dan kini tiba saatnya Mikhail bersama pasukannya akan menuju ke markas Erich Jems Turner di pulau antah berantah.
Mata Mikhail sesekali berubah warna menjadi merah sedari tadi menandakan saat ini emosinya tidak terkontrol. Kedua orang tuanya yang melihat perubahan warna mata sang anak dari lantai satu, hanya bisa berdoa dalam hati untuk keselamatannya.
"Kembalilah dengan selamat son" ucap Chloe sambil memeluk tubuh Xander.
"Pasti mommy" jawab Xander sambil membalas pelukannya.
"Daddy harap kamu pulang dengan selamat tanpa ada satu pun luka di tubuhmu" pinta Xavier dengan tatapan yang sangat sulit diartikan.
"Akan aku usahain daddy" balas Xander dengan suara tegas.
"Hemmmm"
Xavier memeluk sang putra dengan sangat erat, entah kenapa perasaannya tidak enak dan sangat berat untuk melepaskan kepergian putra sulungnya.
Doa daddy, mommy, dan semua adik kamu menyertai kamu son, batin Xavier dengan tulus.
"Aku akan pulang daddy. Jangan khawatir" bisik Xander yang tahu kegundahan daddynya.
"Heemmm"
"Brother" ucap Vincent dan Victor serentak sambil memeluk kakak mereka.
"Jaga keluarga kita saat kakak pergi ya. Kalian berdua yang akan bertanggung jawab dengan keselamatan mereka! Jangan lupa selalu hubungi princess dan pastikan dia baik-baik saja" ucap Xander dengan suara tegas kepada kedua adik kembarnya.
"Iya brother" jawab keduanya dengan serentak.
"1 pintaku tolong pulanglah dengan selamat sayang" ucap Devina dengan mata berkaca-kaca.
"Iya sayang" balas Xander sambil mencium kening kekasihnya.
Cup.................
Xander mencium bibir Devina dengan lembut tidak perduli dimana mereka berada saat ini. Bukan cuma Xander saja tapi David juga tidak mau kalah mencium bibir kekasihnya.
"Jaga diri kamu son dan kembali dengan selamat" ucap Albert dengan sendu.
"Doakan David ya daddy" pinta David.
"Pasti son!" balas Albert dengan suara tegas.
"Ka aku mohon kembali dengan selamat ya" pinta Leon.
"Pasti adikku" ucap David sambil mengelus kepala sang adik dengan lembut.
Mira menatap putranya dengan tatapan sedih ingin sekali memeluknya tapi diacuhkan oleh David. Ia hanya bisa berdoa semoga anaknya pulang dengan selamat.
Semuanya lalu memeluk Xander dan David bergantian. Tak berapa lama Mikhail keluar dari lift dengan aura membunuh membuat semuanya bergidik ngeri tapi tidak dengan Xander.
"Kita berangkat sekarang" ucap Mikhail dengan suara dingin dan tegas.
"Heemmm" deham Xander dan David.
"Son" panggil Thomas.
Grep..............
Thomas memeluk putranya dengan erat sambil mengelus punggungnya. Melihat hal itu Valeria dan Natasha juga ikut memeluk Mikhail.
"Doa kami semua menyertai kamu son" ucap Valeria.
"Iya mommy"
"Kembalilah dengan selamat putraku" lirih Thomas dengan mata berkaca-kaca.
"Pasti daddy" jawab Mikhail dengan suara tegas.
"Damon pastikan putraku baik-baik saja" ucap Valeria sambil memeluk Damon.
"Baik nyonya besar" jawab Damon.
"Kamu juga Teivel. Ingat jaga diri kamu disana dan kembalilah dengan selamat" ucap Valeria memeluk Teivel.
"Iya nyonya besar" ucap Teivel sambil tersenyum tulus.
"Sayang jangan terlalu lama peluknya" ketus Thomas sambil memisahkan keduanya.
...π π π π π...
Valeria memutar malas matanya melihat sifat posesif sang suami. Mereka lalu mengantar Xander, David, dan Mikhail ke landasan pribadi untuk berangkat.
"JIKA KALIAN INGIN PULANG DENGAN SELAMAT MAKA HABISI MEREKA SEMUA" ucap Mikhail dengan suara lantang.
Prok..........prok...........prok...........
Seperti gemuruh di langit suara tepuk tangan pasukan elite Mikhail bergema di sana, membuat semua orang menatap mereka dengan takjub.
"INGAT INI! DIBUNUH ATAU MEMBUNUH!" teriak Mikhail dengan suara menggelegar.
Prok..........prok.........prok..............
__ADS_1
Mikhail lalu naik ke dalam pesawat yang akan membawa mereka ke pulau antah berantah milik Erich.
Tunggu aku disana baby, batin Mikhail dengan aura membunuh.
10 Jam kemudian
Xander, Mikhail, Damon, Teivel, dan David sedang membahas taktik penyerangan yang akan mereka pakai saat sampai disana.
"David kamu pimpin pasukan A dan serang dari arah timur. Teivel kamu pimpin pasukan B dan C serang mereka dari arah barat. Xander kamu pimpin pasukan D, E, F serang mereka dari arah Utara di bagian markas pasukan mereka. Damon dan aku akan serang dari arah selatan di kastil" papar Mikhail menjelaskan.
"Bukannya di kastil lebih banyak pasukannya?" tanya Xander.
"Ya makanya aku akan bersama Damon. Apa lagi menurut Marcel di bagian kastil virus yang ia sebarkan lebih mematikan jadi aku yang akan menyerang disana" jawab Mikhail dengan suara dingin.
"Oke" balas Xander.
"Uhm! Lalu senjata apa yang akan kita pakai?" tanya David yang sedari tadi tidak melihat satupun senjata didalam sana.
"Senjata kita sudah berada disana lebih dulu" jawab Teivel sambil tersenyum smirk.
Ehhh............
David bingung dengan ucapan Teivel tak mengerti sama sekali. Tak lama Damon mengambil kedua tangan mereka lalu menyuntikan sesuatu didalam tubuh mereka.
"Apa yang kamu suntikan ke aku?" tanya Xander dengan suara dingin.
"Nano pelacak yang terhubung dengan darah anda tuan muda pertama Wesly" jawab Damon sambil menunjukkan GPS Xander di iPad.
Tak berselang lama Mikhail, Damon, dan Teivel memakai baju layang membuat Xander dan David menatap ketiganya dengan bingung.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Xander dengan bingung.
"Kalau anda ingin mati tertembak di pesawat maka silahkan saja tuan muda pertama Wesly" jawab Teivel sambil tersenyum menyeringai.
"Kita akan bertemu di kastil" ucap Mikhail singkat.
Xander dan David segera memakai baju yang sama persis dengan ketiganya. Selang 10 menit pintu belakang pesawat terbuka dan mereka segera melompat keluar dari sana, bahkan pilot dan co-pilot juga.
Duar.............duar............
Pesawat yang dinaiki mereka tadi tiba-tiba meledak di atas langit. Xander menatap Mikhail dengan tatapan tajam, karena tidak memberitahu jika pesawat yang mereka tumpangi ternyata sudah terdeteksi.
Raja setan sialan, batin Xander dengan kesal.
Mikhail menunjuk tangannya memberi isyarat untuk pergi ke lokasi mereka masing-masing lewat map di jam tangan mereka yang tadi diberi Damon.
Mereka lalu berpencar menuju lokasi mereka masing-masing dimana pasukan Mikhail sudah sampai disana.
Xander mengakui kelicikan Mikhail dalam mengatur strategi. Ia tidak menyangka kalau pesawat yang mereka naik tadi ternyata menjadi umpan untuk mengoceh musuhnya.
Menarik, batin Xander melihat pulau didepannya yang terdapat begitu banyak kamp pelatihan.
"Kita punya waktu 10 menit untuk masuk ke dalam pulau tersebut karena aku sudah mematikan sistem keamanan mereka. Jangan lupa gunakan topeng wajah kalian dan masker" ucap Damon lewat earpiece.
Wush...................
...π π π π π...
Seperti angin yang berhembus Xander tiba di lokasinya di bagian utara. Ia melihat semua anak buah Mikhail yang sudah sampai lebih dulu dan mereka berjumlah 7.000 orang.
Xander lalu mengambil 2 senjata MI6 untuk ia pakai. Pistol kesayangannya desert eagle juga ia bawa tidak lupa dengan pisau lipat kesayangannya yang selalu dibawa kemana saja.
"Tembakan rudal ke tengah-tengah markas mereka" titah Xander lewat earpiece.
Pasukan inti Mikhail yang memang sedari dulu tidak akan berbicara hanya mengangguk kepala mereka menjawab perintah Xander.
Duar...........duar..........duar..........duar...........
Xander tersenyum lebar melihat kobaran api didepannya saat markas pasukan Erich di ledakan. Dengan cepat ia bersama pasukannya masuk ke dalam dan mulai menembak mereka.
Dor..........dor........dor........dor............dor.......
Aaarrgghhh.............aaarrggh.............
Bunyi tembakan dan suara jeritan bergema di pulau itu. Bukan hanya dari arah utara saja tapi dari arah barat dan timur juga sama.
Kein yang melihat apa yang sedang terjadi diluar sana dari ruang kontrol segera berlari keluar menuju ke kamar Erich. Tak lupa ia juga menyalakan alarm peringatan kalau mereka sedang diserang.
"Berengsek! Bagaimana bisa mereka masuk?" tanya Kein dengan emosi.
Brak.................
"Lord" panggil Kein dengan suara melengking membuka pintu kamar Erich dengan kuat.
"Berengsek! Beraninya kamu menggangguku sialan!" hardik Erich dengan suara menggelegar.
"Maafkan saya Lord" ucap Kein sambil menunduk.
Ia tidak berani melihat apa yang sedang dilakukan oleh Erich di atas ranjang.
Dimana saat ini ia sedang bersetubuh dengan wanita yang biasa menemaninya, tubuh kedua polos dan tetap melanjutkan kegiatan mereka tidak perduli dengan kehadiran Kein.
Kamar Erich yang kedap suara dan berada paling atas kastil membuat dia tidak mengetahui jika saat ini ia sedang dalam bahaya.
Ahh....................
Desa**n Erich bergema saat mendapat pelepasan, ia lalu mendorong wanita itu dan segera mengambil jubah tidur dan memakainya.
"Ada apa?" tanya Erich dengan suara dingin sambil meminum wine.
"Kita saat ini diserang musuh tak dikenal Lord" jawab Kein.
__ADS_1
Prang................
"Apa kamu bilang bangsat!" bentak Erich setelah menjatuhkan gelas yang ia pegang hingga hancur dilantai.
Erich segera membuka brangkas rahasianya di balik lukisan di dinding. Ia lalu mengambil tombol berukuran kecil membuat Kein melotot melihat hal itu karena ia tahu itu apa.
"Lord anda yakin?" tanya Kein dengan cepat.
"Sangat yakin" jawab Erich dengan suara tegas.
Ia lalu mengambil pistol kesayangannya dan segera memakai jubah kebesarannya. Ia juga menyuruh Kein untuk menyuntik obat penawar dari Marcel semuanya ke tubuhnya.
"Suruh semua pasukan inti aku berjaga di sekitar kastil" titah Erich dengan suara t gas.
"Sudah aku suruh Lord" lapor Kein.
"Heemmmm"
Erich lalu pergi keluar dengan wajah berkilat emosi sudah tidak sabar, ingin melihat siapa yang berhasil mengetahui keberadaannya dan juga sudah berhasil menyerangnya disini.
Aku yakin ini semua kerjaan King sialan itu, batin Erich dengan yakin.
Sedangkan di ruangan Marcel saat ini ia sedang menghancurkan semua ramuannya yang ia buat. Ia lalu memeriksa tubuh sang nyonya yang sejak semalam lemah karena terus muntah.
"Tubuh nyonya sudah tidak ada racun lagi" ucap Marcel.
"Mersi tolong berikan aku minuman yang kemarin lagi" pinta Clarisa dengan lemah.
"Tunggu nyonya aku ambilkan" ucap Marcel mengambil ramuan kopi herbal yang ia buat kemarin karena Clarisa ngidam ingin minum kopi pahit.
...π π π π π...
Duar...............
Bunyi ledakan di kastil bergema membuat bangunan kastil bergetar hebat. Marcel yang tahu apa yang sedang ia terjadi segera menyiapkan dua masker untuk mereka yang telah ia beri penawar racun didalamnya.
"Mersi apa yang terjadi?" tanya Clarisa.
"Kastil diserang nyonya. Kita harus bergegas pergi dari sini" jawab Marcel.
"Hah! Apa kita akan mati disini?" tanya Clarisa dengan panik.
"Tidak akan nyonya karena yang menyerang kastil adalah King dan pasukannya" jawab Marcel.
"Suamiku datang" ucap Clarisa dengan wajah bahagia.
"Iya nyonya"
Seperti mendapat energi saat mendengar nama sang suami, tubuh Clarisa yang tadi lemah tiba-tiba menjadi lebih kuat seperti orang tidak sakit saja.
Sepertinya anak King sudah tidak sabar ingin bertemu daddynya, batin Marcel sambil tersenyum lembut.
Marcel dan Clarisa segera keluar dari ruang kerja Marcel. Di luar semuanya pada panik dan berlari berhamburan dari sana mencari tempat bersembunyi.
"Markus apa yang kamu lakukan disini?" tanya dokter Rahel.
"Ya aku tidak tahu kemana harus pergi" jawab Marcel.
"Cepat menuju ke arah dapur dan segera masuk ruang bawah tanah untuk pergi dari dalam kastil. Itu adalah jalan rahasia" papar dokter Rahel menjelaskan.
"Lalu kenapa kamu tidak pergi?" tanya Marcel.
"Aku harus berada di samping Lord untuk mengecek kondisinya. Kamu adalah ahli racun Lord yang sangat berharga jadi kamu harus selamat" jawab dokter Rahel sambil berlalu pergi.
"Mersi jadi kita akan kemana?" tanya Clarisa dengan panik melihat begitu banyak mayat di sana.
"Kita cari jalan lain untuk keluar dari kastil nyonya. Aku sudah mengirim lokasi jalan rahasia tadi ke Damon untuk dihancurkan" jawab Marcel.
"Heemmm"
Sedangkan Mikhail dan Damon yang sudah berada didepan kastil terus menembak musuh yang terus berdatangan.
"King Marcel mengirim lokasi jalan rahasia mereka" lapor Damon.
"Kamu hancurkan jalan rahasia itu" titah Mikhail.
"Dimana keberadaan istriku?" tanya Mikhail.
"Nyonya dan Marcel berada di samping utara kastil untuk keluar dari kastil King" jawab Damon sambil memindai lokasi Clarisa.
"Heeemm! Jangan lupa pasang bom di setiap sudut kastil dan robohkan sekaligus" titah Mikhail dengan suara dingin.
"Baik King"
Mikhail lalu menatap ke arah kastil di bagian atas dan bertatapan langsung dengan Erich yang juga sedang menatapnya.
Mata coklat Mikhail seketika berubah warna menjadi merah dengan aura membunuh yang sangat mengerikan di sana.
Wush...........
Sret................sret...........sret.........sret...........
Mikhail menebas kepala musuhnya dengan sekali tebasan seperti angin yang berhembus. Erich yang melihat itu mengepal kedua tangannya dan menyuruh Kein untuk memusatkan tembakan ke Mikhail.
"KEMATIAN MUTLAK UNTUK KALIAN SEMUA" teriak Mikhail dengan suara menggelegar.
Deg..................
Xander, David, Teivel, Marcel, Clarisa, dan semua orang di pulau itu bergidik ngeri mendengar teriakan barusan. Apa lagi aura saat ini terasa sangat mencekam dan membuat jiwa mereka seperti di cekik.
...π π π π π...
__ADS_1
To be continue................