Heartless 2

Heartless 2
Chapter 128


__ADS_3

🍁Akhirnya aku mulai menyadari sesuatu kalau menyendiri itu bukan berarti karena kita kesepian🍁


.


.


.


.


Bunyi tamparan menggema di sana membuat Sean, Zelena dan Daniella kaget bukan main melihat siapa yang baru saja menampar Daniella dengan kuat.


“Demian” ucap Daniella dengan tak percaya.


“Mau sampai kapan kakak menghina orang. Apa kakak ngak sadar kalau selama ini udah banyak yang menderita karena mulut dan sifat kakak itu!” bentak Demian dengan suara tinggi.


“Loe berani nampar gue? Kakak kandung loe Demian” hardik Daniella dengan mata tajam.


“Iya gue berani ka, karena kakak udah ngak bisa diajar lagi dengan cara lembut dan harus make cara kasar” ucap Demian dengan suara tegas.


“Berengsek loe bangsat” maki Daniella yang ingin menampar Demian tapi tangannya ditangkap oleh Sean.


“Papa” ucap keduanya dengan kaget.


“Kalian berdua ikut papa ke ruang kerja papa sekarang” titah Sean dengan suara tegas.


Sean melepas tangan Daniella dengan kasar dan berlalu pergi dari sana diikuti oleh Daniella dan Demian dari belakang meninggalkan Zelena sendirian disana. Zelena pun menitip pesan ke bi Susi untuk beritahu papa Sean kalau dia sudah pamit pulang.


“Kemana ya” ucap Zelena dengan bingung.


Ia memutuskan melajukan mobilnya memutar kota Jakarta mencari tempat nongkrong karena ia sangat malas untuk pulang ke mansion.


~ Puri Orchid Apartment ~


Setelah membeli beberapa kebutuhannya di mall untuk persiapan kuliah besok Zelena memutuskan pergi ke apartemen Ares di Puri Orchid Apartment.


Meski daddynya pemilik apartemen tersebut tapi hanya kakaknya Xander yang punya unit apartemen disana karena ia sangat malas mempunyai apartemen sendiri karena sudah memiliki mansion.


Saat sedang menunggu lift terbuka matanya tiba-tiba menangkap keberadaan seseorang yang selama ia cari tapi tidak pernah ketemu padahal mereka sekampus.


“Clarisa” gumam Zelena dengan kaget melihat keberadaan Clarisa disana.


Ia dengan cepat berlari mengejar Clarisa yang sudah sampai di luar apartemen tapi ia terlambat karena orang yang ia kejar sudah pergi dengan mobil dan pengawalannya sangat ketat.


“Apa itu benar Clarisa ya” gumam Zelena dengan bingung karena setahunya Clarisa tidak mungkin dikawal ketat seperti tadi.


Zelena memilih kembali masuk ke dalam apartemen karena ia yakin itu pasti bukan Clarisa karena Clarisa hanya seorang penerima beasiswa.


Tanpa Zelena sadari ternyata itu adalah Clarisa yang memang sedang keluar untuk membeli beberapa kebutuhannya untuk merancang gaunnya sendiri buat dipakai di acara wisudanya nanti.


“Lele” gumam Clarisa yang tadi sempat melihat Zelena mengejarnya.


“Maaf nona apa anda mengatakan sesuatu?” tanya


sang sopir.


“Oh ngak pak. Tolong antar aku ke mall RH ya pak” jawab Clarisa dengan cepat.


“Baik nona”


2 Hari kemudian

__ADS_1


Tak terasa waktu berlalu dengan sangat cepat dan sudah 2 hari berlalu sejak Zelena melihat Clarisa di Puri Orchid Apartment begitu pula juga dengan Clarisa yang melihat keberadaan Zelena.


~ Tokyo, Jepang ~


Saat ini Teivel sedang berdiri di rooftop KM hotel milik Mikhail yang berada di Tokyo, Jepang. Ia berdiri di helipad helikopter di lantai 80 sambil memakai teleskop memantau pergerakan musuhnya yang saat ini sedang memasang bom di sekitar hotel.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


^^^“Apa semuanya sudah di posisi?” tanya Teivel lewat earpiece.^^^


“Sudah bos” ucap anak buahnya dengan serentak.


^^^“Lakukan sekarang dan jangan sampai ketahuan” titah Teivel dengan suara dingin dan tegas.^^^


“Baik bos” ucap anak buahnya serentak dari seberang.


Teivel tersenyum menyeringai melihat pergerakan anak buahnya lewat teleskop di sekitar hotel begitu pula dengan di empat lokasi yang berbeda.


Ia tak menyangka jika Light akan menyuruh anak buahnya untuk meledakan milik Kingnya dan juga tuan muda Wesly yang berada di Tokyo. Ternyata Light ingin meledakkan perusahaan milik King dan juga Xander serta hotel mereka.


“Bos lokasi 1 selesai” ucap anak buah Teivel yang bernama Lucas yang selalu mengikutinya kemana pun ia pergi.


“Heemmmm”


“Tangkap anak buah sialan itu untuk jadi makanan penutup anak-anak Pita” ucap Teivel sambil tersenyum menyeringai.


“Baik bos”


Bos sama kejamnya seperti King, batin Lucas bergidik ngeri.


Selang 10 menit lokasi 2, 3, 4 sudah berhasil dilumpuhkan oleh anak buah Teivel dan mereka juga sudah meringkus anak buah Light yang memasang bom di keempat lokasi tersebut. Tersisa satu lokasi saja yang masih diurus oleh anak buah Teivel.


“Bos anak buah kita kehilangan satu bom di lokasi 5” ucap Lucas memberitahu.


“Baik bos” ucap Lucas dengan patuh.


“Berapa lama waktu yang di set di bom sebelumnya?” tanya Teivel dengan cepat.


“1 Jam bos”


Teivel melihat jam di pergelangan tangannya menghitung waktu sejak bom-bom tadi di pasang dari satu jam yang lalu dan sekarang sudah 30 menit berlalu artinya tersisa 30 menit lagi.


“Matikan cctv di seluruh area hotel dan suruh anak buah kita sisir semua tempat jangan sampai membuat pengunjung hotel tahu akan hal ini” titah Teivel dengan suara tegas.


“Baik bos”


Teivel mengingat-ingat pergerakan anak buah Light tadi yang masuk ke dalam hotel tempat ia berada saat ini. Ia ingat jika ada 5 anak buah Light di luar hotel dan 5 lainnya masuk kedalam hotel.


4 bom sudah ditemukan didalam hotel begitu pula juga 5 lainnya di luar tersisa satu saja, batin Teivel.


Kring…………..


Hpnya tiba-tiba berbunyi menyadarkannya dari lamunannya dan saat melihat nama Damon yang tertera di layar hpnya dengan cepat ia menjawabnya.


^^^“Halo”^^^


“1 bom di pasang tepat berada di lantai bawah kamu berdiri”


“F**K” umpat Teivel setelah melihat Damon mematikan panggilannya sepihak sebelum ia bertanya.


Teivel berlari turun ke lantai dibawahnya sesuai ucapan Damon barusan diikuti oleh Lucas. Sampai di ruangan presdir ia mencari ke segala arah melihat dimana orang tadi memasang bom tapi tak ketemu.

__ADS_1


“Bos disini” ucap Lucas dengan suara tinggi.


Teivel berlari menuju arah Lucas dan melihat ada bom didalam lemari kaca yang berisi hiasan bunga. Ia melihat jika waktunya tersisa 24 menit 08 detik sampai bom itu meledak.


Prang……………..


Lucas menutup telinga mendengar bunyi pecahan karena pukulan Teivel yang menghancurkan lemari kaca tersebut. Teivel lalu mengeluarkan pisau kecil dari sakunya yang selalu ia bawa kemana pun.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


Teivel meneliti kabel-kabel di bom tersebut karena semuanya berwarna merah tidak seperti bom yang pernah ia jinakkan, dimana kabelnya berbeda warna. Lucas yang melihat bosnya diam sudah menelan salivanya berkali-kali apa lagi waktu yang tersisa 19 menit lagi.


“Bos, apa bos tahu kabel mana yang harus dipotong?” tanya Lucas dengan cemas.


“No” jawab Teivel dengan suara dingin.


Phew…………………


“Pergi selamatkan dirimu” titah Teivel dengan suara tegas saat mendengar helaan napas Lucas barusan.


“Tidak bos! Aku akan tetap menemani bos disini” tegas Lucas.


“Meski kita bisa akan mati disini” ucap Teivel sambil tersenyum menyeringai.


“Jika aku mati hari ini aku tidak akan menyesal bos. Karena aku akan mati dengan bahagia bersama orang yang sudah menyelamatkan hidupku selama ini” ucap Lucas dengan suara tegas tak ada keraguan sama sekali.


Teivel menatap Lucas sekilas dan melihat tatapan tegas dan tulusnya saat ia berbicara barusan, bibirnya terangkat sangat tipis tak menyangka akan mendengar ucapan Lucas barusan yang memilih mati bersamanya.


Kamu tidak akan mati hari ini bocah, batin Teivel dengan yakin.


Keringat dingin terus keluar dari kening Lucas melihat waktu yang terus berjalan dan tersisa 5 menit saja. Sedangkan Teivel dengan teliti masih melihat kabel-kabel tersebut karena salah sedikit saja mereka akan meledak bersaman dengan hotel ini.


Sret………klik……………..


Lucas seketika terjatuh dilantai karena kedua kakinya yang lemas merasa sangat bersyukur akhirnya waktu dibom tadi berhenti setelah Teivel memotong kabel bagian tengah.


Melihat hal itu Teivel terkekeh menatap wajah Lucas yang sudah pucat seperti orang mati.


“Ckk!! Segitu takutnya sampai wajahmu pucat seperti vampir” ejek Teivel.


“Jiwa aku sebagian seperti sudah keluar dari dalam tubuhku bos” ucap Lucas dengan jujur.


Hehehehe…………


Teivel terkekeh mendengar ucapan Lucas barusan karena memang baru kali ini Lucas ikut dengannya melakukan hal-hal seperti ini.


“Ayok kita balas orang yang sudah membuatmu seperti ini” ajak Teivel sambil mengulurkan tangannya.


“Ayok bos aku sudah tidar sabar” ucap Lucas sambil menerima ularan tangan Teivel.


Keduanya bergegas pergi ke rooftop hotel sambil membawa bom tersebut karena mereka masih harus menyiapkan hadiah khusus untuk Light atas perbuatannya barusan tak lupa hadiah spesial darinya juga.


Sedangkan Mikhail yang menonton aksi keduanya dari ipad didalam ruang kerjanya di markas mereka di Rusia tersenyum menyeringai melihat keduanya yang sama-sama ketakutan tapi tetap berusaha untuk kuat dari luar.


“Suruh Teivel kirim hadiah spesialnya sekarang” ucap Mikhail memberi perintah.


“Baik King” jawab Damon sambil berkutat dengan hpnya.


“Selamat menikmati hadiah dariku loser” gumam Mikhail sambil tersenyum menyirangi seperti iblis.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...

__ADS_1


To be continue………………


__ADS_2