
πBersyukur bukan saja saat dalam keadaan baik tapi bersyukurlah dalam segala keadaan yang terjadiπ
.
.
.
.
Mikhail tersenyum smirk melihat rekaman cctv di mansion Zelena saat ini. Saat X mengirim foto-foto sang adik yang di dorong Vincent saat itu ia sangat ingin membunuh Vincent.
Tapi ia urungkan karena Teivel juga mendapat kiriman foto tersebut dan ia yakin Teivel akan bertindak sebelum ia perintah karena itu adalah tugas Teivel yang pernah ia katakan.
Tok..........tok........tok............
Damon membuka pintu saat pintu diketuk lalu menyuruh Teivel untuk masuk.
"King" ucap Teivel dengan gugup karena ia sudah melakukan sesuatu tanpa disuruh Mikhail.
"Kerja bagus Teivel" puji Mikhail sambil tersenyum menyeringai.
"Maafkan aku King! Karena aku bertindak tanpa perintah dari King" ucap Teivel dengan bersalah.
"No! Aku suka kerja kamu dan kedepannya harus seperti itu"
"Baik King"
"Damon dimana kucing kecilku?" tanya Mikhail dengan senyum di wajahnya.
"Nona Clarisa dari pagi tak keluar dari kamar kosnya King" ucap Damon melihat informasi yang dikirim anak buahnya.
"Kita ke sana sekarang!" bentak Mikhail dengan emosi.
"Baik King" ucap Damon segera menyuruh sopir menyiapkan mobil.
Mikhail berjalan dengan langkah cepat entah kenapa perasaannya tak tenang saat mendengar ucapan Damon tentang kekasihnya.
~ *Kos Healin**g* ~
"Damon" perintah Mikhail dengan singkat saat masih di dalam mobil.
"Baik King"
Damon keluar dari dalam mobil segera menyuruh anak buahnya untuk mengosongkan kos dan sekitarnya. Teivel yang melihat cara kerja Damon berdecak kagum di dalam hati.
"Semua sudah selesai King" ucap Damon di samping kaca mobil.
Mikhail segera keluar dari mobil tak lupa memakai kaca mata hitam karena cuaca yang terasa sangat panas. Sampai di depan kos Clarisa ia mengetuk pintu Clarisa berulang kali tapi tak ada jawaban.
Brak...........
Pintu kamar Clarisa seketika rusak karena pukulan Mikhail yang entah sekuat apa hanya dengan sekali pukulan saja pintunya terlepas dari engselnya.
Dengan panik Mikhail berjalan masuk ke dalam kamar Clarisa dan melihat sosok yang di carinya sedari tadi sedang bergelung di bawah selimut.
"Baby" panggil Mikhail dengan khawatir.
Mikhail menarik selimut yang menutup tubuh Clarisa hingga leher dan ia kaget karena badan Clarisa sangat panas dan pucat.
"Hey baby! wake up baby" (bangun sayang) Mikhail menggoyang tubuh Clarisa dengan tak sabar.
"Khai.....l" lirih Clarisa dengan suara lemah saat membuka mata dan melihat sosok yang entah kapan sudah berada disana.
"Kita ke rumah sakit ya baby"
"Tidak........hiks hiks hiks hiks........aku tidak mau" tangis Clarisa pecah mendengar kata rumah sakit.
"Tapi badan kamu sangat panas baby!" bentak Mikhail dengan emosi.
"Aku tidak mau ke rumah sakit........hiks hiks hiks......aku mohon Mikhail" pinta Clarisa dengan tubuh gemetar.
Mikhail mengerutkan keningnya melihat tubuh sang kekasih yang gemetar mendengar kata rumah sakit seperti seseorang yang trauma saja.
"Damon" panggil Mikhail dengan suara dingin.
"Iya King" ucap Damon di depan pintu sambil menunduk.
"Panggil dokter ke apartemen sekarang"
"Baik King"
...π π π π π...
Mikhail lalu mengendong Clarisa membawanya ke apartemen karena jaraknya lebih dekat dengan kos Clarisa di bandingkan dengan mansion.
~ Puri Orchid Apartment ~
Sampainya di apartemen Mikhail kembali mengendong Clarisa menuju apartemennya tak memperdulikan tatapan Teivel dan anak buahnya yang kaget melihat apa yang dilakukan King mereka.
"Periksa kekasihku" ucap Mikhail dengan suara dingin setelah menaruh Clarisa di tempat tidur.
Beruntung dokter yang Damon panggil adalah dokter perempuan jadi Mikhail tak mempermasalahkan jika dokter itu memeriksa tubuh kekasihnya.
Tatapan mata Mikhail terlihat datar dan dingin tapi dalam hatinya ia sangat mencemaskan keadaan Clarisa yang terbaring lemah dan pucat di atas ranjang.
"Bagaimana?" tanya Mikhail setelah dokter selesai memeriksa keadaan Clarisa tak lupa memasang infus juga.
"Tubuh nona ini penuh dengan lebam tuan. Sepertinya nona ini mengalami tindak kekerasaan dan hal itu yang membuatnya terkena demam tinggi" papar dokter menjelaskan.
"Nanti setelah infusnya habis sudah bisa dicabut dan setelah pasien sadar tolong beri dia makan karena perutnya kosong tak ada makanan sejak semalam tuan. Ini obat yang tuan bisa tebus di apotik" tambah dokter tadi sambil menyodorkan kertas berisi nama obat.
"Baik dok dan terima kasih" ucap Damon mewakili Mikhail.
__ADS_1
Rahang Mikhail mengeras mendengar penjelasan dokter, giginya gemeletuk menandakan ia saat ini sangat emosi.
Dokter yang tadi memeriksa Clarisa bergidik ngeri melihat tampang Mikhail dan terlihat sangat mengerikan apa lagi udara disana terasa sangat dingin membuat bulu kuduknya merinding.
"Dokter silahkan" ucap Damon memberi isyarat untuk segera pergi.
"Ah! I.....ya" ucap dokter tadi dengan gugup.
Sret.............
Dengan sekali tarikan gaun tidur Clarisa sudah terlepas dari tubuhnya karena dirobek Mikhail. Matanya mengelap melihat tubuh sang kekasih yang penuh dengan memar.
"Aku akan membunuh mereka semua" ucap Mikhail dengan suara dingin.
Sebelum keluar Mikhail memakaikan baju kemejanya di tubuh Clarisa tak lupa mengecup keningnya dengan lembut.
"King" ucap Damon dan Teivel di depan pintu.
"1 jam temukan mereka dan beri mereka pelajaran seperti yang dialami kekasihku" ucap Mikhail dengan suara dingin dan tatapan membunuh.
"Baik King" ucap keduanya dengan serentak.
~ Mansion Utama Wesly ~
Mobil yang ditumpangi Victor akhirnya sampai di mansion setelah pemotretan hari ini dari pagi sampai malam.
"Kamu pulang sana Rio dan jangan lupa besok bawakan yang aku mau" ucap Victor setelah turun dari mobil.
"Kalau nyonya besar tahu bagaimana Vic"
"Gunakan otakmu itu bodoh" ketus Victor.
"Ya ya ya! Sudah kamu masuk sana aku mau pulang" debgnus Rio dengan kesal selalu di katai Victor.
Victor berlalu masuk ke dalam mansion tak perduli dengan raut kesal Rio yang merajuk di dalam mobil. Melihat Victor sudah masuk Rio segera melajukan mobilnya menuju apartemen.
"Selamat datang tuan muda ketiga" ucap pak Max dengan sopan.
"Dimana mommy dan daddy pak Max?" tanya Victor.
"Tuan, nyonya, dan tuan muda pertama sedang pergi ke Indonesia"
"Apa" pekik Victor dengan kaget.
Victor berdecak kesal mendengar kedua orang tuanya pergi ke Indonesia bahkan kedua kakaknya juga pergi ke sana dan hanya dia saja yang tidak pergi.
"Aku juga harus pergi ke sana" ucap Victor dengan cepat.
"Pak Max telpon pilotku suruh mereka bersiap. 1 Jam lagi aku akan menyusul mereka semua" tambah Victor dengan cepat.
"Baik tuan muda ketiga" ucap pak Max.
...π π π π π...
Victor berlalu menuju kamarnya menyiapkan barang yang akan dia bawa tak lupa dia menghubungi Rio untuk kembali.
^^^"Cepat kembali kesini"^^^
"Apa! Vic kamu jangan aneh-aneh ya aku sudah mau sampai apartemen" ketus Rio.
^^^"Aku tidak perduli cepat kembali kesini dan jangan lupa bawa paspormu" hardik Victor.^^^
Ia segera mematikan panggilannya tak ingin mendengar ucapan Rio yang pasti akan mengeluh seperti ibu-ibu kompleks.
Selang 20 menit mobil Rio kembali terdengar memasuki halaman mansion setelah tadi dia pergi ke apartemen mengambil paspornya dan kembali lagi.
"Selamat datang tuan muda Rio" ucap pak Max dengan sopan.
"Dimana si gila tuan muda ketiga itu pak Max?" tanya Rio dengan kesal.
"Berani kamu katai aku gila Rio" hardik Victor yang baru saja keluar dari lift.
"Hehehehe! Bercanda Vic. Kamu jangan marah gitu dong" ucap Rio sambil terkekeh.
"Bulan ini bonus kamu hangus" ketus Victor.
"Apa! Kamu jangan bercanda Vic" teriak Rio dengan mata melotot.
"Sayangnya aku tidak bercanda" sinis Victor dengan senyum mengejek.
Victor berlalu keluar sambil mendorong kopernya ke Rio tak memperdulikan rengekan Rio yang membujuknya untuk tak menghilangkan bonusnya bulan ini.
"Vic sebenarnya kita mau kemana dan kenapa harus bawa paspor segala?" tanya Rio penasaran di dalam mobil.
"Indonesia" jawab Victor dengan santai.
"Oh"
1 detik
2 detik
3 detik
4 detik
"Apa" teriak Rio yang baru mencerna ucapan Victor.
Beruntung bukan dia yang membawa mobil jika tidak mereka akan kecelakaan karena Rio pasti akan mengerem mendadak jika seperti itu.
"Berisik sialan!" bentak Victor.
"Vic kamu jangan main-main ya kalau direktur Cole tahu kita bisa dimarahi"
__ADS_1
"Emang aku peduli dengan pak tua itu" cibir Victor dengan santai.
"Ayolah Vic, jangan buat manajermu ini terkena amukan direktur kita" bujuk Rio dengan memelas.
"Bukan urusanku" ketus Victor.
Rio tak bisa berkata apa-apa lagi karena sampai kapanpun Victor tak akan mengikuti ucapannya dan ia hanya pasrah saja jika sebentar lagi ia yang akan menjadi pelampiasan kemarahan direktur Cole.
~ Mansion Zelena ~
Suasana di ruang keluarga Zelena saat ini terasa sangat mencekam saat kedatangan Xander dan kedua orang tuanya.
Plak.............
"Hubby" teriak Chloe dengan mata melotot saat anaknya di tampar oleh sang suami.
"Baby diam di tempatmu" ucap Xavier dengan suara tegas menatap sang istri yang sudah berdiri ingin menghadang keduanya.
"Tapi" ucap Chloe yang langsung dipotong Xander.
"Mommy serahkan semuanya ke daddy" potong Xander dengan suara dingin.
Xander menuntun mommynya kembali duduk di sofa sambil memeluk sang mommy yang sudah menangis karena tak bisa melihat anaknya ditampar oleh suaminya
"Maafkan aku daddy" ucap Vincent sambil menunduk.
"Tatap lawan bicaramu saat sedang berbicara VINCENT KEANDRE WESLY" ucap Xavier bergema di dalam mansion.
Deg...........
Jantung Vincent berdetak dengan cepat mendengar ucapan daddynya. Dengan cepat ia menatap daddynya yang berdiri di depannya dengan wajah dingin dan datar.
"Jelaskan" ucap Xavier dengan suara dingin.
"Aku yang salah uncle bukan ka Vincent" potong Natasha menyela ucapan Xavier.
"Natasha dimana sopan santunmu" hardik Thomas dengan suara dingin.
"Maafkan aku daddy, uncle"
"Kalau begitu jelaskan semuanya Natasha" ucap Xavier dengan suara dingin.
...π π π π π...
Natasha melirik sang mommy yang mengangguk kepalanya seakan menyuruhnya melakukan apa yang ia mau.
"Maafkan Natasha uncle dan aunty. Natasha memang masuk ke kamar Vincent dan menggodanya sehingga Vincent marah lalu mendorong ku hingga aku jatuh dan membentur meja di samping ranjang" papar Natasha dengan tatapan tegas dan sungguh-sungguh.
Deg...............
Jantung Vincent berdetak dengan cepat mendengar ucapan Natasha dan ia mengerutkan keningnya karena Natasha memilih berbohong menutup apa yang telah ia perbuat.
"NATASHA OLIVER PARKER!" bentak Thomas bergema.
Brugh............
"Maafkan aku daddy, mommy" ucap Natasha sambil berlutut menahan tangisnya yang akan pecah.
"Nata........hiks hiks hiks" lirih Zelena dan Lili yang sudah menangis.
"Vincent" ucap Xander dengan suara dingin.
"Semua yang aku katakan benar ka Xander dan aku mohon jangan marahi ka Vincent karena ini bukan salahnya" pinta Natasha dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu membuat daddy kecewa Natasha" lirih Thomas dengan wajah penuh kekecewaan.
"Honey!" bentak Valeria sambil menatap tajam suaminya.
Air mata Natasha mengalir dengan deras di kedua pipinya mendengar ucapan sang daddy. Semuanya di dalam sana hening tak ada yang berbicara apa-apa.
"Kalian berdua harus dinikahi secepatnya" ucap Xander dengan suara dingin.
"Brother" pekik Vincent dengan mata melotot tak mau.
"Daddy setuju sama ucapan Xander. Thomas, Valeria bagaimana menurut kalian" ucap Xavier.
"Aku tidak setuju. Pasangan kedua anakku mereka yang menentukan sendiri bukan kami orang tuanya" ucap Valeria dengan suara tegas.
"Mommy.........hiks hiks hiks" ucap Natasha berderai air mata menatap mommynya dengan tatapan lembut.
"Mommy percaya sama anak mommy sendiri" ucap Valeria dengan senyum manis.
"Honey tapi kamu dengar sendiri apa yang sudah dilakukan oleh putri kita" ucap Thomas.
"Diam! Apa kamu tidak mengenal sifat dan watak anakmu sendiri!" bentak Valeria bergema menatap suaminya dengan tatapan tajam.
Deg............
Jantung Thomas serasa di pukul hamar mendengar ucapan istrinya, tatapan matanya lalu melihat sang anak yang berlutut di lantai sambil menangis dalam diam.
"Baby" panggil Thomas dengan suara lembut menatap putrinya.
Natasha berdiri dan memeluk daddynya sambil menangis histeris di pelukan daddynya. Hatinya yang tadi terasa sangat sakit perlahan-lahan sakitnya berkurang.
"Kenapa kalian semua pada nangis" ucap Victor dengan suara lantang di depan pintu.
"Brother Vic" pekik Zelena dengan senang melihat kakaknya Victor.
Victor tertawa lebar melihat mereka semua yang melotot melihat kedatangannya di sana. Sedangkan adiknya Zelena sudah berlari menujunya dan langsung melompat ke pelukannya.
Brugh............
"Victor, Zelena" teriak Chloe bergema.
__ADS_1
...π π π π π...
To be continue.............