
πKamu bukanlah tidak mampu, hanya saja kamu terlalu menakuti dirimu sendiri dengan kemungkinan yang belum tentu terjadiπ
.
.
.
.
Delon berteriak memanggil nama sang adik dengan suara lantang membuat semua karyawan menatap mereka dengan bingung.
Tak berselang lama Jason juga datang dengan wajah panik, saat mendengar sekertarisnya mengatakan kalau ada seorang tamu bernama Clarisa Eleanor yang mencarinya di lobby.
Tadi Delon yang hendak menemui kakaknya, sempat mendengar ucapan sekertaris sang kakak. Oleh sebab itu dia yang pertama kali datang menemui sang adik.
"Dek kamu baik-baik saja kan?" tanya Jason dengan cemas.
Melihat kedua kakaknya yang mengkhawatirkan dia, seketika air matanya jatuh dengan deras karena masih ada yang memikirkannya.
"Hiks hiks hiks........ka Jeni..........hiks hiks hiks........ka Galon" ucap Clarisa sambil menangis histeris.
Dengan cepat Jason menarik sang adik masuk ke dalam pelukannya. Sedangkan Delon ia segera menelpon asistennya untuk menyiapkan mobil buat mereka bertiga.
"Ka sebaiknya kita pergi dari sini" ucap Delon sambil memberi isyarat ke sang kakak kalau mereka sedang menjadi pusat perhatian.
"Heemm! Hubungi Jack untuk menghendel kerjaan gue" balas Jason sambil mengangguk kepalanya.
"Oke ka"
Jason lalu mengendong sang adik yang masih menangis tidak perduli dengan tatapan para karyawan. Delon juga bergegas mengikuti keduanya setelah Jack asisten Jason membawa barang keduanya.
~ Mansion Baker ~
Sampainya di mansion Jason bergegas mengendong Clarisa saat melihat tubuh Clarisa lemah tak bertenaga.
"Bi Tun tolong bawakan teh hangat untuk adik aku" ucap Delon dengan suara lantang.
"Baik den" balas bi Tun kepala pelayan di mansion Baker.
Jason membawa Clarisa ke kamar yang sudah disiapkan mereka untuk dia sejak mengetahui adiknya masih hidup. Tak lupa ia juga menghubungi dokter pribadi keluarga mereka.
"Dek kamu kenapa? Dimana suamimu?" tanya Jason dengan suara lembut.
Hiks.............hiks...........hiks............
Tangis Clarisa semakin pecah mendengar ucapan sang kakak. Apa lagi mendengar nama sang suami membuat dia semakin histeris menangis.
"Ka lebih baik jangan bertanya dulu apa yang terjadi dengan Clarisa" bisik Delon.
"Heemmm" deham Jason mengangguk kepalanya.
"Jangan menangis lagi ya dek. Ada kakak disini dan ka Delon untuk kamu" ucap Jason sambil memeluk sang adik.
Delon juga naik ke ranjang dan ikut bergabung memeluk sang adik. Ia merasa sangat sedih melihat sang adik yang menangis seperti itu.
Sebenarnya kamu kenapa dek, batin Jason penasaran.
Kamu kenapa dek? Dimana suamimu dan kenapa kamu sendirian saja dek, batin Delon penuh tanda tanya.
Entah kenapa ia merasa ada sesuatu yang buruk sudah terjadi kepada adiknya. Belum lagi mereka tidak mendapati keberadaan suami sang adik.
Tok.............tok..........tok............
Delon bangun membukakan pintu saat mendengar pintu di ketuk. Sedangkan Jason ia menidurkan Leila yang sudah tidur karena kelelahan menangis.
"Den Delon ini dokter Rina sudah datang" ucap bi Tun dengan sopan.
"Iya bi makasih ya" balas Delon.
"Sama-sama den"
Delon lalu masuk bersama dokter Rina ke dalam kamar yang ditempati Clarisa. Jason lalu menyuruh dokter Rina memeriksa keadaan sang adik takut ia kenapa-napa.
...π π π π π...
"Gimana keadaan adik saya dok?" tanya Jason dengan cepat.
"Adik anda baik-baik saja tuan hanya kelelahan dan juga kelaparan. Usahakan tolong beri adik tuan makan karena itu bisa berpengaruh dengan janinnya" jawab dokter Rina menjelaskan.
"Janin?" tanya Delon dan Jason serentak.
"Benar tuan. Adik anda sedang hamil dan saya perkirakan umurnya hampir 2 bulan tapi lebih baik anda bawa adik anda ke dokter kandungan untuk di periksa" jawab dokter Rina menjelaskan.
"Baik dok" ucap Delon.
__ADS_1
"Kalau begitu saya pamit tuan"
"Iya dok"
Delon mengantar dokter Rina keluar dari kamar, sedangkan Jason berdiri mematung mendengar kondisi sang adik.
Entah kenapa ia merasa jika kehamilan adiknya berhubungan dengan suaminya. Pikiran-pikiran negatif langsung berputar di kepalanya memikirkan kondisi Clarisa.
"Ka" panggil Delon.
"Kita bicara di luar" ucap Jason dengan suara dingin.
Keduanya berlalu keluar karena tidak ingin menganggu Clarisa. Sampainya di luar Delon langsung mengutarakan apa yang sedari tadi ia pikirkan.
"Ka menurut loe kenapa presdir King tidak bersama Clarisa ya ka?" tanya Delon dengan bingung.
"Gue rasa kehamilan Clarisa ada hubungannya dengan presdir King" jawab Jason.
"Jangan bilang keluarganya menolak Clarisa dan bayinya ka" tebak Delon.
"Bisa jadi ya dan tidak. Kita kan belum tahu apa yang sebenarnya terjadi jadi ngak bisa asal nuduh aja" balas Jason.
"Sebaiknya kita tunggu Clarisa sadar baru kita tanya" tambahnya lagi.
"Besok kita ajak Clarisa ke dokter kandungan ya ka" ucap Delon dengan antusias.
"Loe buat janji dengan dokter kandungan besok pagi" titah Jason.
"Oke ka serahin semuanya ke gue ka"
"Heemmm"
~ Shadow Island ~
Devina duduk sambil menggenggam tangan tunangannya dengan erat. Air matanya sedari tadi mengalir dengan deras memikirkan Xander.
"Ka udah dong jangan sedih lagi" ucap Rey sambil menepuk bahu sang kakak.
"Dia udah janji bakal pulang dengan selamat dek.........hiks hiks hiks.........kakak tidak mau kehilangan orang kakak cintai lagi dek.........hiks hiks hiks" ucap Devina sambil menangis.
Chloe yang baru saja masuk ke dalam rawat sang anak juga ikut menangis mendengar ucapan Devina. dengan cepat ia langsung memeluk Devina.
"Mommy..........hiks hiks hiks" ucap Devina sambil menangis melihat siapa yang memeluknya.
"Iya mommy"
Chloe melepas pelukannya lalu menatap sang putra. Ia lalu mencium kening Xander dengan sangat lembut.
"Mommy" panggil Victor yang baru saja masuk.
"Ada apa nak?" tanya Chloe dengan suara lembut.
"Aku pengen makan makanan Indonesia buatan mommy" jawab Victor dengan manja.
"Baiklah nanti mommy masakin buat kamu" ucap Chloe dengan suara lembut.
"Oke mommy"
"Devina ayok bantu mommy masakin buat semuanya" ajak Chloe.
"Iya mommy" balas Devina sambil tersenyum manis.
Sebelum pergi Chloe menyuruh Victor dan Rey untuk menjaga Xander. Victor tahu jika mommynya sengaja mengajak ka Devina masak, karena tak ingin ka Devina semakin berlarut dalam kesedihan.
2 Bulan kemudian
Sudah 2 bulan berlalu dan belum ada tanda-tanda dari Xander, Mikhail, David, Marcel, dan juga Teivel yang menunjukkan tanda-tanda akan sadar dari koma.
...π π π π π...
Sebulan yang lalu Xander dan David sudah di bawa pulang ke California karena keluarga mereka tidak bisa meninggalkan perusahaan terlalu lama.
Sedangkan Valeria dan Thomas memilih tetap di Shadow Island sambil memantau perusahan dan markas.
Selama 2 bulan mereka terus mencari keberadaan Damon tapi tidak menemukannya. Keduanya berharap agar Damon tidak di temukan oleh orang karena tidak ingin mereka memakai Damon dengan tujuan jahat.
~ Mansion Utama Wesly ~
Hari ini Vincent dan Natasha datang berkunjung ke mansion utama ingin menjenguk keadaan Xander. Kebetulan keduanya tadi baru dari mansion uncle Albert menjenguk ka David juga.
"Apa brother belum ada tanda-tanda akan sadar daddy?" tanya Vincent dengan sedih.
"Belum son. Doakan saja agar kakakmu bisa secepatnya sadar" jawab Xavier.
"Iya daddy"
__ADS_1
"Apa kamu sudah mendengar kabar adikmu Victor son?" tanya Xavier.
"Ckk!! Daddy seperti tidak tahu saja dia dimana sekarang" decak Vincent dengan kesal mengingat saudara kembarnya itu.
"Jangan marah son. Biar bagaimanapun dia itu adik kembarmu"
"Tapi aku kesal sama dia dad. Bagaimana bisa dia memberikan mobil keluaran terbaru aku ke pangeran Maxim sebelum aku lounching" kesal Vincent.
"Kamu kayak tidak tahu saja bagaimana orang yang lagi kasmaran" sindir Xavier dengan tatapan mengejek menatap putra keduanya.
Pasalnya Vincent juga dulu seperti itu saat ingin mengambil hati sang istri. Entah bagaimana reaksi putra sulungnya jika sadar dan mengetahui salah satu koleksi mobilnya lecet karena ulah putra keduanya.
Semoga kakak kamu bisa memaafkanmu son, batin Xander penuh harap.
Prang................
Bunyi benda pecah dari depan ruangan rawat Xander mengagetkan ayah dan anak yang sedang berbincang.
Karena penasaran keduanya bergegas keluar melihat apa yang sedang terjadi.
"HONEY" teriak Vincent dengan suara menggelegar saat melihat sang istri sedang bersandar di tembok sambil memegang perutnya dan terlihat sedang kesakitan.
"Honey perut aku sakit" ucap Natasha dengan kesakitan.
"Son cepat bawa istrimu ke rumah sakit" titah Xavier ikutan panik saat melihat air ketuban Natasha mengalir di kakinya.
Vincent bergegas mengendong Natasha menuju helikopter di luar sana. Ia tidak mau istri dan calon anak mereka kenapa-napa.
~ Wesly Hospital ~
Sampainya di rumah sakit Natasha segera di bawa ke ruang bersalin. Sedangkan Vincent berdiri didepan ruang operasi dengan cemas.
Ceklek.............
"Dok gimana keadaan istri dan anak kami?" tanya Vincent dengan cepat.
"Tuan muda kedua silahkan masuk dan temani nyonya kedua didalam karena pembukaan nyonya sudah lengkap dan akan segera melahirkan" jawab dokter Lucy dengan cepat.
Tak berkata apa-apa Vincent segera masuk ke dalam menemani sang istri yang akan melahirkan.
1 Jam kemudian
Oek.............oek...........oek.............
Suara tangisan bayi menggema didalam ruang bersalin hingga keluar membuat semua keluarga besar Wesly yang sudah disana merasa bahagia.
"Selamat tuan muda kedua bayinya perempuan dan sehat" ucap dokter Lucy sambil menyerahkan bayi keduanya.
"Hiks hiks hiks...........selamat datang ke dunia putri daddy........hiks hiks hiks........nama kamu Olivia Winter Wesly" ucap Vincent dengan suara lembut sambil menangis haru.
Vincent segera memberikan bayinya ke suster untuk dibersihkan. Sedangkan Natasha ia masih pingsan setelah berhasil melahirkan buah hati mereka.
"Terima kasih honey" ucap Vincent sambil mencium kening sang istri dengan lembut.
Setelah bayi dan ibunya di bersihkan keduanya segera di bawa menuju ke ruang VVIP di lantai 7 ruangan khusus untuk pemilik rumah sakit.
...π π π π π...
Detik itu juga berita tentang cucu pertama keluarga Wesly dan Parker mengguncang dunia maya, karena baru saja lahir ia sudah di nobatkan sebagai bayi terkaya di dunia.
~ Mansion Kendrick ~
Mira saat ini sedang mengelap tubuh David, sedangkan suaminya sedang ke rumah sakit menjenguk Natasha.
Leon sendiri sedang berada di perusahaan sedangkan Violet ia sudah mulai kuliah di UCLA, karena Albert dan Mira sudah menerima dia sebagai anak mereka.
"Son maafkan mommy........hiks hiks hiks........mommy akan melakukan apapun asalkan kamu segera bangun dari koma nak.........hiks hiks hiks" ucap Mira sambil menangis menatap tubuh sang anak yang terbaring di ranjang.
"Mommy sangat menyayangi kamu nak.......hiks hiks hiks..........mommy rela menukar nyawa mommy demi kamu asalkan kamu sadar nak........hiks hiks hiks" tambahnya lagi dengan suara lembut.
Mira menangis melihat putranya yang belum sadar juga dari koma dan ia berharap anaknya bisa segera sadar.
Tanpa Mira sadari ternyata air mata David jatuh mendengar ucapan mommynya. Meski ia koma tapi ia masih bisa mendengar apa yang dibicarakan semua orang yang menjenguknya.
Perlahan-lahan tangan itu bergerak bersamaan dengan kelopak mata David yang mulai terbuka.
Mata hitam itu mulai terbuka sambil menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya. Bau obat-obatan dan aroma kamarnya bercampur menjadi satu langsung tercium di hidungnya.
Telinganya lalu menangkap suara orang yang sedang menangis di samping. Saat melihat siapa yang menangisi, air matanya jatuh melihat sosok yang ia benci selama ini ternyata sedang menangisinya.
"Mo.........mm........y" panggil David dengan suara pelan.
...π π π π π...
To be continue..............
__ADS_1