Heartless 2

Heartless 2
Chapter 48


__ADS_3

🍁Carilah seseorang yang tidak hanya bangga karena memilikimu tapi dia juga selalu ada bersamamu apapun resikonya🍁


.


.


.


.


Natasha terduduk menggelengkan kepalanya yang terasa pening. Merasa ada yang mengalir di keningnya dengan cepat Natasha meraba keningnya.


Deg.................


Jantung Natasha berdetak dengan cepat melihat darah di tangannya. Seketika pikirannya hanya tertuju pada satu nama yaitu kakaknya.


Dengan cepat Natasha berdiri sambil menyeka darah di keningnya agar tidak keluar lagi. Melihat hal itu Vincent menatapnya dengan kening berkerut.


"Apa yang kamu lakukan gadis sialan?" tanya Vincent dengan ketus.


Mata Vincent melotot saat Natasha berbalik menatapnya, dengan reflek Vincent bangun dan mendekati Natasha tapi terlambat Natasha sudah berlari keluar.


"Natasha" teriak Vincent berlari mengikutinya.


Natasha tidak memperdulikan teriakan Vincent karena di pikirannya hanya ingin menutup lukanya agar tak sampai anak buah kakaknya tahu karena itu bisa jadi masalah besar.


"Natasha kalian sudah sampai" teriak Zelena yang baru masuk ke dalam mansion dengan senang.


"Zelena" ucap Natasha dengan kaget.


Seperti Vincent mata Zelena melotot melihat kening Natasha yang berdarah. Dengan wajah cemas dan panik Zelena segera menghampirinya.


"Apa yang terjadi Nata? Kenapa kening kamu bisa berdarah?" tanya Zelena dengan panik.


"Princess" ucap Vincent dengan suara lembut.


"Brother Vin cepat bawa Natasha ke rumah sakit" pekik Zelena dengan panik.


"Heemmm"


"Tidak perlu ini luka kecil kok" tolak Natasha dengan cepat.


"Kecil atau besar tetap harus di obati Nata! Kalau sampai infeksi gimana" hardik Zelena dengan suara tinggi.


"Jangan keras kepala. Ikut aku kita ke rumah sakit sekarang!" bentak Vincent dengan suara tinggi.


Natasha yang tak ingin ke rumah sakit ditarik paksa Vincent. Zelena sendiri mendukung kakaknya untuk mengantar Natasha ke rumah sakit karena takut dia kenapa-napa.


"Kalian mau kemana" teriak Leon dari lantai dua.


"Ke rumah sakit ka. Kepala Natasha berdarah" teriak Zelena.


"Apa" teriak Leon dan Lili serentak.


Keduanya berlari turun dari lantai dua menuju ketiganya, diikuti Henry yang baru saja keluar dari kamar saat mendengar teriakan kakaknya.


"Nata kamu kenapa bisa sampai berdarah gini" ucap Lili dengan panik menatap kening Natasha yang berdarah.


"Apa Natasha berdarah" teriak suara menggelegar dari pintu depan mansion.


Seketika pandangan keenamnya langsung tertuju ke arah suara pria paruh baya yang berteriak melengking di depan pintu.


Wajahnya khawatir mendengar putrinya yang berdarah, dengan langkah cepat Thomas masuk ke dalam mansion di ikuti sang istri yang juga sama khawatir seperti suaminya.


Natasha menutup mata menormalkan degup jantungnya yang berdetak dengan cepat melihat kedatangan orang tuanya yang entah bagaimana berada di Indonesia.


Aku harus lindungi Vincent jangan sampai semuanya tahu ini semua karena dia, batin Natasha melirik Vincent yang juga saat itu sedang menatapnya.


"Baby apa yang terluka? Gimana sampai kamu berdarah begini? Apa kamu merasa pusing?" tanya Thomas memberondong Natasha.


"Daddy satu-satu nanyanya" ucap Natasha dengan pusing.


"Kenapa bisa kayak gini baby, siapa yang buat kamu berdarah seperti ini" pekik Thomas dengan histeris.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


Mati aku, batin Vincent menelan salivanya dengan susah.


"Bawa kotak P3K!" bentak Valeria dengan suara tinggi.


Seketika suasana menjadi hening saat Valeria berbicara. Aura di dalam sana terasa mencekam dan mengintimidasi membuat mereka semua tak berani berkata apa-apa.


Dengan pelan Valeria menuntun putrinya ke sofa lalu melihat luka di keningnya yang tidak terlalu besar. Setelah bi Aira memberikan kotak P3K dengan cepat Valeria mulai membersihkan luka putrinya sebelum diberi obat.

__ADS_1


"Aw aw aw........sakit mommy" teriak Natasha meringis kesakitan.


"Honey ambilkan air"


"Vincent bawakan air" ucap Thomas menyuruh Vincent.


Vincent menatap uncle Thomas dengan kening berkerut karena menyuruhnya. Tapi tetap ia melakukan apa yang disuruh uncle Thomas mengambil air minum untuk Natasha.


"Ini aunty" ucap Vincent menyodorkan segelas air ke Valeria.


Valeria menerimanya lalu memberikan ke anaknya karena ia tahu anaknya butuh minum saat ini.


"Sekarang katakan bagaimana kamu bisa terluka sayang?" tanya Valeria dengan suara lembut.


"Nata terjatuh dari tempat tidur dan mengenai meja mommy" ucap Natasha dengan gugup.


"Kamu tidak berbohongkan baby" selidik Thomas dengan cepat.


"Tidak daddy" jawab Natasha dengan sungguh-sungguh.


Karena memang keningnya terluka saat ia jatuh dari tempat tidur dan membentur meja di samping tempat tidur. Sedangkan Vincent yang mendengar ucapan Natasha hatinya terasa sakit seperti diiris.


"Natasha berbohong aunty" ucap Vincent dengan suara dingin membuat semua disana berbalik menatapnya.


Please Vincent aku mohon kali ini jangan bicara apapun, batin Natasha menatap Vincent sambil menggelengkan kepalanya.


Vincent sendiri menatap Natasha dengan tatapan datar dan dingin tak perduli dengan isyarat Natasha yang menyuruhnya untuk tak berbicara jujur.


"Apa maksud kamu Vincent?" tanya Thomas dengan suara tegas.


"Jangan dengerin Vincent daddy. Dia itu hanya bicara omong kosong" potong Natasha dengan cepat.


"Baby kamu diam" tunjuk Thomas dengan suara tinggi.


Natasha meremas tangannya menekan rasa berdebar dalam hatinya. Ia tahu jika daddynya sudah berbicara dengan nada tinggi artinya ia tidak ingin di bantah.


Sepertinya ada sesuatu yang terjadi dengan keduanya, batin Leon.


"Katakan" hardik Thomas dengan tatapan tajam.


"Aku yang mendorong Natasha dari ranjang hingga dia terjatuh dan membentur meja di samping ranjang uncle" ucap Vincent dengan jujur.


"Brother Vic" pekik Zelena dengan emosi.


Valeria menatap keduanya meneliti wajah keduanya mana yang benar karena sejak melahirkan Mikhail ia sudah tidak bisa membaca pikiran orang lagi.


"Vincent kenapa kamu bisa ada di kamar Natasha?" tanya Thomas dengan tatapan membunuh.


Vincent tersenyum smirk melihat Natasha yang sudah bergetar ketakutan di sofa membuat kedua orang tuanya menebak ada sesuatu yang disembunyikan keduanya.


"Vincent jawab aunty. Apa betul kamu yang membuat kening Natasha berdarah?" tanya Valeria dengan suara dingin.


"Benar aunty"


"Dia bohong mommy" bantah Natasha dengan cepat.


"NATASHA OLIVER PARKER!" bentak Valeria dengan suara tinggi sambil menekan nama sang anak.


Glek..........


Natasha menelan salivanya dengan susah mendengar bentakan sang mommy yang baru kali ini ia dengar lagi. Tubuhnya bergetar ketakutan membuat Zelena dan Liliana segera memeluknya.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


"S**t! Cepat tutup lukamu Natasha" pekik Valeria dengan suara tinggi saat matanya menangkap keberadaan pengawal gelap Mikhail yang baru saja menghilang.


"Ada apa honey?" tanya Thomas yang melihat istrinya panik.


"Dimana Mikhail honey?" tanya balik Valeria.


"Aku tidak tahu honey. Sudah 2 minggu raja setan itu tidak menghubungiku bahkan nomornya tak aktif" dengus Thomas dengan kesal.


"Uhmm! Aunty uncle. Aku tahu dimana keberadaan ka Mikhail" ucap Zelena.


"Dimana?" tanya keduanya dengan serentak.


"Di mansion aunty yang disini"


Valeria menutup mata sambil mengurut keningnya tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia yakin sebentar lagi pasti anaknya itu akan datang.


"Vincent katakan kenapa kamu berada di dalam kamar Natasha" sentak Thomas dengan cepat.


"Aku tidak masuk ke kamar Natasha uncle tapi dia yang masuk ke kemarku dan menggoda aku untuk bercinta"

__ADS_1


"Apa" teriak Thomas dengan kaget.


Saking kagetnya ia berdiri dari duduknya menatap Vincent dan Natasha dengan tatapan tajam.


"Natasha!" bentak Thomas menggelegar.


Hiks........hiks........hiks.......hiks........


Hati Natasha seperti ditusuk pedang tajam mendengar bentakan daddynya yang baru pertama kali membentaknya selama ia hidup.


Tapi lebih sakit hatinya mendengar ucapan laki-laki yang sangat ia cintai dengan teganya berbohong kepada kedua orang tuanya.


Brak..............


Semuanya seketika dikagetkan dengan bunyi pintu yang di buka dengan kuat di depan sana.


Tak.......tak.......tak.......tak.......


Bunyi langkah kaki bergema di dalam sana membuat semuanya penasaran siapa yang datang saat ini. Valeria membuang napasnya dengan kasar melihat kehadiran Teivel dan ia yakin itu suruhan putranya.


"Ka Te.....ivel" ucap Natasha dengan gemetar.


Tatapan mata tajam dan dingin Teivel membuat Vincent dan lainnya merinding, tak berkata apa-apa Teivel berjalan menghampiri mereka dan langsung menarik Vincent di kepala belakangnya.


"Teivel hentikan!" bentak Valeria.


"Hiks hiks hiks.......ka Teivel aku mohon lepaskan Vincent.........hiks hiks hiks" pinta Natasha dengan memohon di depan Teivel.


"Lepaskan aku bajingan!" bentak Vincent dengan emosi.


Tak banyak bicara dengan sekali hentakan Teivel menarik Vincent meski ia memberontak tapi tenaganya tak sebanding dengan Teivel.


Prang...........


"Brother Vic" teriak Zelena menggema dengan mata melotot melihat kepala kakaknya di bentur di meja.


"Hiks hiks hiks......kakak keterlaluan......hiks hiks hiks" teriak Zelena sambil memeluk tubuh Vincent yang sudah berdarah di bagian kepala.


"Berengsek kamu Teivel" teriak Leon dengan emosi.


Bugh.......bugh.......bugh.........bugh........


Keduanya berkelahi menghancurkan barang di dalam mansion. Sedangkan Zelena dan Natasha sudah menangis histeris melihat Vincent yang terus mengeluarkan darah dari kepalanya.


Liliana sendiri sudah menghubungi David di California dari awal kedatangan uncle Thomas dan aunty Valeria di mansion Zelena.


"Kalian berdua hentikan" teriak Thomas dengan suara menggelegar.


Teivel dan Leon seketika berhenti saat mendengar teriakan Thomas. Teivel kembali menghampiri Vincent yang sudah berdarah di lantai dengan tatapan datar.


Brugh............


"Aku mohon ka......hiks hiks hiks......jangan sakiti Vincent.....hiks hiks" pinta Natasha sambil berlutut di depan kaki Teivel.


"Apa yang kamu lakukan Natasha. Cepat bangun" hardik Valeria dengan emosi.


"Kamu keterlaluan ka!" bentak Zelena dengan marah menatap Teivel dengan tatapan membunuh.


"Pergi kamu Teivel jangan buat aku membunuhmu disini!" bentak Thomas dengan emosi.


"Ini perintah King" ucap Teivel dengan santai.


"Suruh King sialanmu itu kesini!" bentak Thomas.


"Baik tuan besar akan saya sampaikan"


"Pergi Teivel kamu sudah membalas Vincent sama seperti yang Nata dapatkan" ucap Valeria dengan suara dingin.


"Baik nyonya"


~ California, Los Angeles ~


David dan Xander menonton semua yang terjadi dengan diam. Tangan Xander terkepal melihat kedua adiknya yang menangis di seberang sana.


"Suruh mommy dan daddy kesini sekarang!" bentak Xander dengan suara tinggi.


"Baik bos"


"Siapkan jet kita ke Indonesia sekarang" ucap Xander dengan tatapan berkilat melihat darah di kepala adiknya Vincent.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


To be continue.................

__ADS_1


__ADS_2