Heartless 2

Heartless 2
Chapter 90


__ADS_3

🍁Tanpa rasa sakit kita tidak akan pernah belajar menjadi kuat🍁


.


.


.


.


Tubuh Vincent menegang melihat sang istri yang sudah pingsan dengan berlumuran darah. Ia memeluk tubuh Natasha dengan gemetar melihat hal tersebut dan seketika ingatan-ingatan sama seperti saat ini bermunculan di kepalanya.


"NATASHA" teriak Thomas dan Valeria yang baru saja datang.


Thomas dan Valeria berlari dengan khawatir dan cemas melihat keadaan putri mereka yang berada di pelukan Vincent.


"Hiks hiks hiks...........apa yang terjadi baby?" tanya Thomas sambil berderai air mata.


"Natasha melindungi aku dan Vincent dari Marco saat dia ingin memukul kami dari belakang dengan kursi uncle" papar Alex menjelaskan.


Seketika mata Valeria berkilat tajam mengeluarkan aura membunuh. Suasana di dalam cafe terasa sangat dingin dan mencekam membuat Alex bergidik ngeri.


Apa ini? Kenapa tubuhku tidak bisa digerakkan, batin Alex dengan bingung.


Bugh..............bugh............bugh...........


Belum hilang keterkejutannya ia kembali dibuat tercengang melihat aksi aunty Valeria yang menghajar Marco dengan brutal tak kenal ampun.


"Beraninya kamu melukai mutiaraku!" bentak Valeria dengan suara bergema.


Bugh............bugh..............krek...........


Aaarrgghh...........


Marco berteriak kesakitan saat kakinya dipatah oleh Valeria hingga tulang di lututnya mencuat keluar.


Alex gemetar ketakutan melihat aksi aunty Valeria yang sangat sadis seperti Xander kakaknya Vincent.


"Honey cukup! Kita harus segera bawa Natasha pergi" ucap Thomas dengan suara tinggi.


Mendengar nama Natasha disebut gerakan kaki dan tangan Valeria seketika terhenti. Ia menutup mata mengontrol emosinya sejenak karena benar yang dikatakan suaminya putri mereka sedang dalam kondisi sekarat.


Thomas mengendong Natasha dan berlari keluar dari cafe diikuti oleh Valeria sedangkan Alex merasa lemas seketika seolah baru saja bebas dari kurungan yang paling mengerikan.


Vincent masih terduduk di lantai dengan tubuh gemetaran menatap kosong ke depan apa lagi sedari tadi air matanya terus mengalir dari kedua pipinya dalam diam.


"Dude kamu kenapa? Ayok kita segera menyusul mertua kamu" ajak Alex.


1 detik


2 detik


3 detik


4 detik


5 detik


Kening Alex mengerut melihat keadaan sahabatnya yang hanya diam menatap kosong ke depan tak bergeming sedikit pun.


"Kenapa dengan Vincent? Apa dia kesurupan?" tanya Alex dengan bingung.


"VINCENT" teriak Xander yang baru saja sampai di cafe.


Sedari tadi perasaannya tak tenang memikirkan saudaranya Vincent. Apa lagi Victor saudara kembar Vincent terus menelponnya memberitahu jika perasaannya tak tenang mengenai kembarannya.


Grep................


Xander memeluk adiknya dengan erat saat melihat tatapan mata sang adik yang terlihat kosong menatap ke depan dengan air mata terus mengalir di kedua pipinya.


"Semua baik-baik saja Vin" ucap Xander menenangkan adiknya.


Hiks.............hiks............hiks........hiks...........


Tangis Vincent pecah saat mendengar ucapan sang kakak barusan. Entah kenapa hatinya terasa sangat sakit saat ini seperti ditusuk seribu pedang.


"Nata lagi-lagi berdarah karena aku.......hiks hiks......seperti waktu itu di ruang baca brother.........hiks hiks hiks" ucap Vincent semakin menangis histeris.


Deg............


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


"Kamu ingat?" tanya Xander dengan mata melotot kaget.


"Kenapa kalian tidak memberitahu aku? Kenapa brother?" tanya Vincent dengan emosi.


"Tenangkan dirimu Vin. Ini bukan waktunya kamu menyesal atau menyalahkan siapapun" ucap Xander dengan bijak.


"KENAPA BROTHER? KENAPA KALIAN MENUTUPI SEMUANYA DARIKU?" teriak Vincent dengan suara melengking.


Plak...............


Bunyi tamparan yang sangat kuat bergema di dalam sana membuat Alex mematung melihat hal itu. Apa lagi saat melihat wajah sahabatnya yang merah bekas tamparan Xander.


Saking kuatnya tamparan Xander barusan sampai membuat bibir Vincent robek. Xander menatap adiknya dengan tatapan membunuh memperingatinya untuk tidak berteriak didepannya.

__ADS_1


"Kamu tanya kenapa kami tak memberitahumu waktu itu?" tanya Xander dengan suara dingin mengontrol emosinya.


"Kamu lupa siapa yang waktu itu tidak mempercayai ucapan kami! Siapa yang marah jika kami ingin berbicara tentang Natasha berengsek! Itu semua karena kamu yang lebih percaya dengan asumsimu sendiri tidak ingin mencari tahu kebenarannya!" bentak Xander dengan suara tinggi.


Duar.................


Bagi disambar petir tubuh Vincent menegang mendengar ucapan sang kakak yang benar adanya. Dulu ia lebih percaya dengan apa yang menjadi pemikirannya tidak ingin mendengar cerita dari orang lain.


Bahkan ia sendiri tidak mencari tahu tentang kebenaran dari kecelakaan waktu itu dan Vincent menganggap jika Natasha adalah gadis ular yang sudah mencelakai adiknya.


Padahal waktu itu Natasha yang menolong dia dan Zelena saat lemari buku akan jatuh mengenai mereka. Waktu itu Natasha mendorong Zelena dan dia dari rak buku hingga kepala keduanya terbentur di meja.


Kerena benturan itu kening Zelena berdarah sedangkan dia kepala bagian belakang terbentur dengan sangat keras.


Sebelum Vincent jatuh pingsan sayup-sayup ia melihat seorang anak kecil perempuan tertimpa rak buku sehingga darah bercucuran dari kepalanya.


Aarrgghhhh................


Teriak Vincent histeris mengingat dengan jelas kejadian waktu itu. Hatinya hancur berkeping-keping selama balasan tahun ia susah membenci orang yang salah bahkan menoreh luka di hati orang itu.


Xander dengan cepat menarik adiknya agar ikut dengannya ke rumah sakit melihat keadaan Natasha. Sedangkan Luki ia tinggal di cafe dan mengurus semua kekacauan disana.


~ Rumah Sakit Wesly ~


Thomas tak tenang menunggu di depan ruang operasi menunggu putrinya yang sedang operasi didalam sana.


"Putri daddy..........hiks hiks hiks" lirih Thomas sambil menangis.


"Honey" panggil Valeria dengan suara lembut.


Grep...............


Thomas memeluk istrinya dengan erat sambil menangis histeris meluapkan semua kesedihannya di hatinya saat ini.


"Kenapa? Kenapa harus putri kita lagi honey?" tanya Thomas dengan sedih.


Valeria mengelus pundak suaminya menenangkannya yang saat ini sangat sedih. Ia tahu pasti suaminya ingat dengan kejadian balasan tahun yang lalu yang sama seperti ini.


"Apa kita salah menikahkan putri kita dengan Vincent honey? Kenapa putri kita harus alami hal seperti ini setiap bersama dia honey?" tanya Thomas dengan tangisan semakin menjadi.


Sret...............


Seperti ada pisau yang menusuk tepat di jantungnya mendengar ucapan mertuanya barusan. Tubuhnya mematung dengan perasaan yang hancur-sehancurnya.


Maafkan aku Nata. Maaf atas semua perbuatan aku selama ini, batin Vincent merasa sangat bersalah.


"Jangan marah dan sakit hati dengan ucapan mereka meski ini berat buat kamu Vin" ucap Xander sambil menepuk pundak adiknya dengan lembut.


"Iya brother" ucap Vincent dengan suara tegas.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


Keduanya lalu bergegas menuju ke ruang operasi menghampiri aunty Valeria dan uncle Thomas yang menatap Vincent dengan tatapan dingin.


"Daddy mommy bagaimana keadaan istriku?" tanya Vincent dengan raut wajah cemas.


"Masih dioperasi" jawab Valeria dengan suara dingin seperti biasa.


Thomas hanya melirik Vincent dengan tatapan dingin sambil memeluk tubuh istrinya tak memperdulikan dimana mereka berada dan siapa saja yang melihatnya.


"Dimana berengsek itu Xander?" tanya Thomas dengan tatapan membunuh.


"Di markas aku uncle" jawab Xander dengan suara dingin.


"Jaga dia buat uncle jangan sampai dia mati Xander. Uncle sendiri yang akan memberinya pelajaran" ucap Thomas dengan suara dingin.


"Heemmm"


Glek...............


Vincent menelan salivanya dengan susah merasakan aura daddy mertuanya yang persis seperti uncle Albert sangat mengerikan.


~ Paris, Perancis ~


Victor mondar-mandir sedari tadi membuat Rio yang melihatnya merasa pusing. Bagaimana tidak sudah 2 jam Victor mondar-mandir seperti setrika rusak.


"Vic apa kamu tidak capek seperti itu terus?" tanya Rio sudah tak bisa menahannya lagi.


"Diam kamu jangan menggangguku" hardik Victor dengan suara dingin.


"Kalau begitu mending kamu duduk saja Vic. Aku itu pusing lihat kamu seperti itu"


"Berani kamu mengaturku!" bentak Victor dengan mata melotot.


Rio diam tak berbicara lagi takut jika ia berbicara maka pasti gaji atau bonusnya dipotong Victor seperti biasa.


Victor melihat manajernya dengan sinis karena sudah membuatnya semakin kesal. Entah kenapa perasaannya sedari tadi tidak tenang memikirkan saudara kembarnya itu.


"Arrgghhh! Berengsek" teriak Victor dengan kesal.


"Vic kamu kenapa?" tanya Rio dengan cemas.


"Kapan giliranku?" tanya Victor dengan suara dingin.


"1 jam lagi"

__ADS_1


"Beritahu fotografer 10 menit lagi aku harus sudah mulai photoshoot jika tidak kita pergi saja" ucap Victor dengan kesal.


"Apa! Vic kamu jangan macam-macam ya ini itu udah sesuai jadwalnya karena kita akan bergantian dengan model yang lain" ucap Rio dengan cepat.


"Aku tidak perduli. Cepat pergi beritahu mereka jika aku tidak mulai dalam 10 menit aku akan pergi" hardik Victor tak mau dibantah.


"Tapi Vic" ucap Rio memohon agar Victor mau mengalah kali ini.


"Cepat Rio" hardik Victor bergema.


"Oke aku pergi" ucap Rio bergegas pergi dari sana tak mau mendapat bentakan dari Rio.


Sesuai perkiraannya sang fotografer tak mau mengikuti keinginan Victor dan menolak dengan keras permintaan Victor.


Mood Victor yang memang sedang tidak bagus membuatnya semakin kesal dan berlalu pergi dari sana membuat semua orang tercengang.


Pasalnya Victor adalah pemeran utama dalam serial terbaru yang akan dirilis musim depan tapi ia sudah pergi tidak mau melakukan photoshoot lagi.


Hanya karena gilirannya sangat lama dan fotografer menolak dengan keras keinginan Victor untuk melakukan sesi photo terlebih dahulu.


"Ckk! Dia pikir dia siapa menolak keinginanku" ketus Victor saat berada dalam mobil.


"Dia itu fotografer paling berbakat saat ini Vic" balas Rio.


"Jadi menurutmu aku harus ikut keinginannya dan di atur oleh sialan itu" hardik Victor dengan suara tinggi.


"Maksud aku bukan begitu Vic. Sebelum kita mulai photoshoot kan kita sudah diberitahu jadwal pemotretan kita jadi menurut aku apa salahnya kita sabar menunggu giliran kita Vic" papar Rio menjelaskan.


"Pokoknya aku tidak mau kerja bareng dia lagi" putus Victor tak mau dibantah.


Phew............


Rio membuang napasnya dengan kasar melihat sikap artisnya yang susah sekali ditebak. Ia yakin sebentar lagi hpnya akan berbunyi panggilan masuk dari pak tua itu.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


Nah baru aja aku mikir, batin Rio melihat nama yang tertera dilayar hp saat hpnya bergetar.


Sedangkan Victor ia tidak perduli dengan masalah apa yang akan Rio dapatkan karena ulahnya barusan. Dipikirannya hanya ada saudara kembarnya saja karena keduanya memiliki ikatan batin.


Apa yang terjadi sama kamu twin, batin Victor dengan gusar.


Victor menelpon sang kakak ingin bertanya tentang Vincent karena sedari tadi hatinya tak tenang.


"Hmmmmm"


^^^"Brother dimana twin?" tanya Victor to the point.^^^


"Vincent sudah mengingat semuanya" jawab Xander dengan suara dingin.


^^^"Apa? Bagaimana bisa dia mengingatnya brother?" tanya Victor dengan kaget.^^^


"Natasha mendapat pukulan tepat di kepala bagian belakangnya dari Marco orang suruhan sialan itu dan lukanya persis seperti waktu itu"


^^^"Bagaimana keadaan twin brother?" tanya Victor yang tahu pasti kembarannya saat ini pasti sangat terpukul.^^^


"Dia sangat menyesal mengetahui kejadian yang sebenarnya. Saat ini Natasha sedang dioperasi semoga tidak ada cidera serius kali ini" papar Xander yang merasa adiknya Vincent akan sangat terpukul jika kondisi Natasha parah.


^^^"Aku pulang sekarang brother"^^^


"Heeemm! Selalu waspada Vic"


^^^"Iya brother"^^^


Phew..............


Terdengar helaan napas dari kursi belakang menandakan saat ini suasana hati Victor sedang buruk.


"Siapkan jet kita pulang sekarang"


"Tapi besok kita harus bertemu desainer Jesika Vic"


"Suruh Jesika bawa baju itu ke hotel sekarang biar aku coba disana"


"Oke"


Rio segera menelpon Jesika Keung untuk ke hotel tempat mereka menginap sesuai perintah Victor barusan.


~ Jakarta, Indonesia ~


Saat ini Zelena sedang makan bakso di kantin kampus setelah habis kuliah. Saat makan bakso mata Zelena menangkap sosok yang beberapa hari ini ia cari.


"Clarisa" panggil Zelena saat melihat Clarisa sedang membayar minumannya.


Clarisa berbalik melihat siapa yang memanggilnya dan seketika matanya terbelak melihat Zelena yang sedang tersenyum manis menatapnya.


Clarisa yang masih sakit hati dengan perlakuan Zelena waktu itu bergegas dengan cepat pergi dari kantin tak ingin berbicara dengan Zelena.


Melihat hal itu dengan cepat Zelena bangun dan mengejar Clarisa tak perduli jika baksonya belum habis. Dipikirannya saat ini hanya ingin meminta maaf kepada Clarisa.


"Calrisa gue mohon berhenti! Ada yang mau gue omongin" teriak Zelena terus mengejar Clarisa yang berjalan dengan sangat cepat.


Sampai diparkiran Zelena mengumpat kesal karena kehilangan jejak Clarisa yang jalannya sangat cepat. Padahal Clarisa sedang bersembunyi di samping mobil yang parkir disana.


"Sial! Cepat banget thu anak" kesal Zelena sambil mengelap keringatnya.

__ADS_1


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


To be continue...............


__ADS_2