Heartless 2

Heartless 2
Chapter 83


__ADS_3

🍁Banyak orang baik tapi tidak semuanya tulus, tetap jadikan hal-hal yang tidak baik menjadi pelajaran kedepan agar bukan cuman jadi orang baik tapi jadi orang tulus🍁


.


.


.


.


Air mata Clarisa mengalir dengan deras tak menyangka jika sahabat satu-satunya di dunai ini akan menamparnya.


Lidahnya mendadak keluh tak bisa berkata apa-apa untuk menceritakan yang sebenarnya terjadi malam itu. Ia tak menyangka jika orang yang dianggapnya sahabat selama ini tidak mempercayainya.


Apa loe juga berpikir tentang gue seperti mereka Lele, batin Clarisa dengan hati hancur berkeping-keping.


Sedangkan Gres ia bersedekap tangan di dada sambil tersenyum puas karena berhasil membuat persahabatan keduanya hancur.


"Lele" lirih Clarisa dengan tatapan sedih dan hancur.


"Gue ngak nyangka loe ternyata seperti itu Risa. Pantes aja loe bisa beli hp keluaran terbaru yang hanya di produksi 10 unit saja. Ternyata itu semua adalah hasil jual diri loe" hina Zelena dengan tatapan jijik melihat Clarisa.


Sret...............


Hati Clarisa seperti di tikam pisau hingga tembus ke belakang. Hinaan Zelena barusan sungguh membuatnya sakit hati tak menyangka jika Zelena akan berkata seperti itu.


"Perempuan pe***ur kayak loe itu ngak pantas kuliah disini" hardik Gres dengan suara tinggi.


"Iya benar tuh kata Gres. Gue jijik sekelas sama pel***r kotor kayak loe" ketus Uni teman sekelas Clarisa.


"Usir aja dia dari kelas kita biar kelas ini ngak ada pel***r rendahan kayak dia kalau ngak kelas kita ini bakal terkena sial" teriak Isna sahabat Uni.


Mendengar ucapan Isna semua teman sekelas Clarisa lalu berbondong-bondong menarik Clarisa dengan kasar dan mendorongnya keluar dari kelas.


Brugh................


Tubuh Clarisa terbentur tembok di luar kelas hingga keningnya berdarah. Clarisa tak memperdulikan keningnya yang berdarah karena saat ini hatinya terasa sangat sakit sekali.


Tatapan matanya sedari tadi tertuju kepada Zelena yang menatapnya dengan jijik dan cemooh. Baru kali ini ia melihat tatapan itu dan hal itu sukses membuat hatinya hancur berkeping-keping.


Dasar ja***g hina


Mending loe ngak usah lagi kuliah di sini karena loe itu cuma bikin kampus kita sial


Pel***r itu tempatnya bukan di kampus tapi di club malam sana


Penampilannya cupu tapi ternyata kelakuannya menjijikan seperti anj*ng


Bisik-bisik teman sekelas Clarisa terdengar disana hingga membuat satu fakultas desain yang berbeda kelas ikut menonton apa yang sendang terjadi.


"HENTIKAN" teriak Beni ketua BEM kampus dengan suara menggelegar membuat suasana yang tadinya ricuh seketika hening.


Beni menatap Clarisa dengan iba melihat penampilannya yang berantakan dengan luka di keningnya yang terus berdarah.


Ia diminta rektor untuk memanggil salah satu mahasiswa beasiswa anak fakultas desain bernama Clarisa dan tak menyangka akan melihat hal seperti ini.


"Apa kalian tidak punya hati? Kalian semua bisa dituntut karena melakukan tindakan kekerasan terhadap Clarisa!" bentak Beni dengan suara menggelegar.


"Kenapa kita harus takut? Kita juga punya hak untuk menolak sekelas dengan seorang pe***ur" ucap Gres dengan suara tinggi.


"Loe bukan mahasiswa disini lagi dan ngak perlu ikut campur! Sekarang juga loe pergi dari sini sebelum gue nyuruh pihak keamanan ngusir loe" tunjuk Beni ke arah Gres dengan tatapan tajam.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


Gres berdecak kesal menatap Beni dengan emosi karena diusir oleh Beni. Ia menghentakkan kakinya dengan kesal sambil menatap Beni dan Clarisa dengan tatapan penuh kebencian.


Gres memilih pergi dari sana karena tahu ucapan Beni tak main-main, tapi saat melewati Clarisa dengan sengaja ia menabraknya kuat hingga terpental ke belakang.


"Loe semua bubur sekarang" hardik Beni dengan suara lantang.

__ADS_1


Semua mahasiswa fakultas desain seketika bubar meninggalkan Beni, Clarisa, dan Zelena disana. Clarisa hanya berdiri mematung tak bisa berkata apa-apa memikirkan semua kejadian yang barusan terjadi.


"Clarisa loe di panggil sama rektor buat menghadapnya sekarang" ucap Beni.


"Mulai detik ini loe bukan sahabat gue lagi Clarisa. Gue nyesel bersahabat sama perempuan murahan dan kotor kayak loe" ucap Zelena dengan suara dingin.


Duar.............


Bagai disambar petir tubuh Clarisa menegang mendengar ucapan Zelena barusan. Air matanya mengalir dengan deras tak bisa ditahan mendengar setiap kata-kata yang diucapkan Zelena barusan.


Beni yang sedari tadi diam, tak menyangka jika Zelena yang dikenalnya gadis polos dan baik hati selama ini akan mengucapkan kata-kata kasar seperti itu kepada sahabatnya sendiri atau lebih tepat mantan sahabatnya.


Ternyata kita itu ngak boleh cuma melihat orang dari luarnya aja, batin Beni.


Zelena berlalu pergi meninggalkan Clarisa dan Beni yang berdiri mematung tak tahu harus berkata apa. Setelah agak lama Beni kembali mengajak Clarisa untuk menuju ke ruang rektor.


"Kening loe masih berdarah" ucap Beni saat sampai di depan ruang rektor.


"Iya ka" ucap Clarisa sambil menyeka keningnya.


"Gue percaya loe bukan cewek seperti di gosip" ucap Beni dengan tegas.


"Terima kasih ka" ucap Clarisa sambil tersenyum manis tak menyangka Beni akan mempercayainya.


Clarisa bergegas masuk ke dalam ruang rektor ingin segera menghadap rektor ingin tahu kenapa ia dipanggil.


"Kening kamu kenapa?" tanya rektor.


"Ada apa bapak manggil saya?" tanya balik Clarisa tak menjawab pertanyaan rektor.


"Ini mengenai gosip kamu di forum kampus" ucap rektor.


"Apa beasiswa saya dicabut pak?" tanya Clarisa yang sudah bisa menebak apa yang akan terjadi.


"Maaf! Ini semua sesuai peraturan kampus jika penerima beasiswa melakukan pencemaran nama baik kampus maka beasiswanya akan dicabut" papar rektor menjelaskan.


"Kamu itu pintar dan saya merasa sedih kehilangan mahasiswa sepintar kamu. Tapi maaf karena gosip itu maka dengan berat hati beasiswa kamu kami cabut"


Clarisa tersenyum getir mendengar ucapan rektor barusan dan tak mau berlama-lama disana ia pun pamit pergi.


Pikirannya saat ini kosong tak tahu harus berbuat apa karena masalah yang datang hari ini bertubi-tubi membuatnya seperti kehilangan separuh jiwa.


~ Puri Orchid Apartment ~


Mikhail duduk di ruang kerjanya dengan hati tak tenang seperti ada sesuatu yang terjadi meski ia sedang meeting. Tiba-tiba pikirannya tertuju ke kekasihnya yang saat ini berada di kampus.


Mikhail melirik Damon dan memberinya isyarat untuk mengecek keadaan kekasihnya.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


Damon mengangguk kepalanya dan berlalu keluar dari ruang kerja Mikhail meninggalkan Mikhail dan Teivel sendiri disana.


^^^"Dimana nona Clarisa?" tanya Damon to the point ke pengawal Clarisa.^^^


"Nona Clarisa saat ini sedang dalam perjalanan pulang ke kosnya dengan keadaan kacau bos"


^^^"Apa yang terjadi?" tanya Damon dengan suara dingin.^^^


Pengawal Clarisa lalu menceritakan kejadian yang terjadi dari awal Clarisa sampai di kampus sampai ia pulang ke kosnya.


Damon mematikan panggilan sepihak lalu kembali masuk ke dalam ruang kerja Mikhail dengan tatapan datar dan dingin.


Mikhail menatap Damon dengan wajah dingin saat melihat Damon kembali masuk ke dalam tak beberapa lama setelah ia keluar. Seketika mata Mikhail berkilat tajam mendengar bisikan Damon.


"Teivel kamu hendel meeting dan laporkan semuanya kepadaku" ucap Mikhail dengan suara dingin.


"Baik King" ucap Teivel dengan patuh.


Damon lalu menemani Mikhail keluar dari ruang kerjanya dengan aura membunuh. Semua pengawal pribadi Mikhail bergetar saat merasakan aura King mereka.

__ADS_1


~ California, Los Angeles ~


Setelah meeting di perusahaan OlivTech bersama tim race yang akan ikut lomba race car bulan depan, Natasha segera menghubungi suaminya tapi nomornya tak aktif.


Berkali-kali Natasha menelpon suaminya tapi tetap saja nomornya tak aktif. Merasa kesal karena sudah menunggu selama 2 jam akhirnya Natasha memutuskan untuk pulang sendiri saja.


Mila asistennya sudah ia suruh pulang terlebih dulu karena berpikir jika suaminya akan menjemputnya tapi ternyata tidak.


"Tahu gitu mending aku pulang dari tadi" gerutu Natasha sambil melajukan mobilnya keluar dari perusahaan.


Brak.............


Natasha kaget saat tiba-tiba mobilnya diserempet dari arah kiri. Ia tetap melajukan mobilnya tak perduli mungkin pengendara itu tak sengaja menyerempetnya.


Brak.............brak.............


Natasha terpental ke depan tiba-tiba saja mobilnya ditabrak dari belakang dan samping kiri bersamaan. Melihat hal itu Natasha tahu jika ia sedang dalam keadaan berbahaya.


Cekittt...............


Natasha mengerem mobilnya dengan cepat hingga bannya berdecit karena ada 2 pengendara motor yang berdiri memblokir jalannya.


Melihat situasinya tak aman dengan cepat Natasha mengunci pintu lalu mengambil hpnya dan menelpon Vincent tapi nomornya tak aktif.


Tok...........tok...........tok...........


Tubuhnya tersentak saat kaca mobilnya diketok dari luar, dengan cepat Natasha menelpon daddynya meminta bantuan.


"Halo baby"


^^^"Daddy lacak keberadaan aku sekarang" ucap Natasha dengan singkat.^^^


"Memangnya kenapa baby"


^^^"Mobilku dihadang oleh orang tak dikenal saat ini daddy dan segera kirim bantuan kesini daddy"^^^


Prang..........prang.........


Natasha mematikan panggilannya sepihak saat kaca mobil belakang di pecahkan. Mau tak mau ia harus keluar karena ia yakin orang di luar sana tak akan puas sebelum ia keluar.


"Siapa kalian?" tanya Natasha dengan suara dingin.


"Ternyata dia sangat cantik bos" ucap salah satu preman yang menghadangnya.


"Mau apa kalian? Kenapa kalian menghadangku!" bentak Natasha dengan suara tinggi.


"Mau kami nyawamu gadis manis" ucap preman yang menjadi ketua mereka di depan Natasha dengan suara dingin.


"Dalam mimpimu berengsek" ketus Natasha.


"Serang dia" teriak preman itu dengan suara lantang.


Bugh...........bugh.........bugh.........bugh........


Kedelapan preman tadi memukul Natasha tak perduli jika dia perempuan. Natasha memang bisa berkelahi tapi ia kesusahan karena diserang bersamaan.


"Berengsek" umpat Natasha saat perutnya ditendang hingga ia terpental ke belakang.


Dor..........dor...........dor............dor..........


4 tembakan meleset mengenai 4 preman yang akan menghajar Natasha. Melihat teman mereka sudah tak bernyawa dengan cepat mereka berbalik ke arah suara tembakan.


"Siapa kamu? Berani kamu ikut campur berengsek" hardik orang yang manjadi ketua mereka.


"Ckk!! Bisanya kalian main keroyok apa lagi lawan kalian itu perempuan. Malu dong!!" decih Marco mencibir mereka.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


To be continue...................

__ADS_1


__ADS_2