Heartless 2

Heartless 2
Chapter 25


__ADS_3

🍁Cobalah belajar dari kegagalan karena hidup tidak selamanya baik, kadang kita berada di atas dan kadang di bawah🍁


.


.


.


.


Sampai di ruangannya Mikhail langsung duduk di kursi kebesarannya sambil menutup mata. Ia sangat tidak menyukai ketidak profesional dalam bekerja.


"Hancurkan perusahaan bangsat itu dalam 5 menit" ucap Mikhail dengan suara dingin.


"Baik King" ucap Teivel.


"Damon 2 jam lagi siapkan seperti biasa"


"Baik King"


Brak.............


Mata Mikhail langsung terbuka mendengar pintu ruangannya yang dibuka. Hanya ada 1 saja orang yang bisa membuka pintu ruangannya selain dia dan itu adalah Valeria.


"Mommy" ucap Mikhail bingung karena tumben mommynya datang sendiri saja.


"Pergi" ucap Valeria dengan suara dingin.


Setelah Teivel dan Damon keluar, aura di dalam ruangan Mikhail seketika menjadi sangat dingin. Keduanya sama-sama mengeluarkan aura kekuasan dari tubuh mereka masing-masing.


"Bisa kamu jelaskan son?" tanya Valeria dengan tegas.


"Seperti yang mommy tahu" ucap Mikhail dengan santai.


"Jelaskan" ucap Valeria tak menerima penolakan.


"Itu semua untuk kebaikan sweety mom" ucap Mikhail dengan wajah dingin.


"Ckk!! Kamu tidak bisa membohongi mommy son" ketus Valeria sambil menyeringai.


Mikhail tersenyum smirk melihat mommynya yang tahu maksudnya. Hanya mommynya saja yang tahu apa maksud dari perbuatannya.


"Biarkan keduanya bertemu untuk menyelesaikan ini semua son" ucap Valeria dengan bijak.


"No mommy. Sampai kapan pun aku tidak akan mengijinkannya!" bentak Mikhail dengan tatapan tajam.


"Son" panggil Valeria sambil memberi isyarat untuk mendekat.


Mikhail lalu menghampiri mommynya yang duduk di sofa. Setelah duduk ia menaruh kepalanya di pangkuan Valeria, tangan lentik itu yang masih terawat lalu mengelus kepala anaknya dengan lembut.


"Mommy tahu apa yang adikmu rasakan" ucap Valeria dengan suara lembut.


"Heemmm"


"Jangan terlalu lama son, mommy tidak sanggup lihat adikmu selalu yang menangis di saat tidur"


"Heemmmmm" deham Mikhail yang tidak bisa menjawab ucapannya sang mommy.


Keduanya hening dalam pikiran masing-masing, tak berselang lama Mikhail berdecak kesal mendengar suara gedoran pintu dengan tak sabar dari luar.


"Itu daddymu son" ucap Valeria sambil terkekeh.


"Ckk!! Pengganggu" dengus Mikhail dengan kesal.


Brak.................


"Honey" teriak Thomas menggelegar di dalam sana.


Valeria menggelengkan kepalanya melihat kelakuan suaminya yang semakin hari tambah posesif. Mikhail sendiri berdecak kesal melihat kelakuan daddynya yang menurutnya sangat memalukan.


"Kenapa kamu tinggalin aku sendiri di kastil honey?" tanya Thomas dengan cepat.


"Daddy jangan kayak anak kecil deh" cibir Mikhail.


"Kamu diam saja raja setan" teriak Thomas menatap tajam putranya.


"Raja setan ini putramu daddy" ucap Mikhail dengan arogan.


"Ckk!!" decak Thomas dengan kesal.


Mikhail memutar matanya dengan malas melihat tingkah daddynya yang semakin parah setiap hari. Kedua pasangan itu tidak memperdulikan dimana mereka sekarang.


"Mom take your husband away from me" (mama bawa suamimu pergi dari hadapanku) ucap Mikhail dengan suara dingin.


"Awas kamu raja setan" dengus Thomas dengan kesal.


"Son, mommy dan daddy pergi dulu ya" ucap Valeria menengahi keduanya.


"Heemmm" deham Mikhail dengan wajah datar.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


Sampai di depan pintu Thomas berbalik melihat putranya dan menatapnya dengan kesal. Mikhail tak memperdulikan tatapan daddynya yang menurutnya tidak penting.


Ia lalu mengambil hpnya dan melihat informasi yang dikirim X tentang adik kesayangannya.


Phew..........

__ADS_1


Mikhail menghembuskan napas dengan kasar mengingat ucapan mommynya. Ia tahu apa yang ia lakukan saat ini pasti membuat adiknya sedih.


"Maafkan kakak sweety" gumam Mikhail dengan sedih.


Meski berada di kota yang sama tapi Mikhail selalu menggagalkan pertemuan mereka yang tak terduga. X adalah orang yang paling sengsara karena harus selalu memantau setiap hal yang terjadi kepada Natasha.


Tok........tok...........tok........


Mikhail menekan tombol di samping meja membuka pintu. Setelah pintu terbuka Damon segera masuk ke dalam ruangan Mikhail.


"King ada masalah dengan poyek kita di Indonesia" ucap Damon sambil menyodorkan iPad.


Mikhail menerima iPad yang disodorkan Damon dan membaca informasi yang dikatakan Damon barusan. Keningnya mengerut membaca setiap kata yang tertulis disana.


Prang...............


Damon menatap iPad yang sudah hancur di lantai dengan datar. Wajah Mikhail merah padam menandakan ia sangat emosi, tak lama ia tersenyum menyeringai.


"Siapkan jet malam ini kita berangkat ke Indonesia"


"Baik King"


"Suruh uncle Raksa bawa tikus-tikus itu ke markas"


"Baik King"


Mikhail mengelutuk giginya sudah tak sabar ingin ke Indonesia. Sebelum itu ia bergegas menyelesaikan pekerjaannya sebelum berangkat nanti malam.


~ California, Los Angeles ~


Natasha membereskan laptop dan bukunya di atas meja karena sudah selesai menyelesaikan tugasnya. Ia lalu bergegas keluar dari perpustakaan kampus.


Sudah 2 tahun ia kuliah di California, di kampus ternama dunia yaitu UCLA (Universitas California Los Angeles) jurusan desain transportasi dan mobil. Saat ini ia sudah semester 4 dan seminggu lagi akan diadakan ujian akhir semester.


Sampainya di parkiran Natasha bergegas masuk ke dalam mobil. Saat menghidupkan mobil matanya menangkap sosok yang selama ini ia rindukan sekaligus benci.


"Vincent" gumam Natasha dengan mata berkaca.


Dengan cepat Natasha mengelap air matanya yang jatuh dan melajukan mobilnya dengan kencang keluar dari parkiran kampus. Sosok yang tadi ia lihat ternyata juga melihat mobil yang sangat ia kenali dengan tatapan tajam dan dingin.


Kenapa aku emosi lihat dia bawa mobil kayak gitu ya, batin Vincent dengan bingung.


~ Nuka Cafe ~


Natasha memilih pergi ke cafe yang sedang hits saat ini. Sampainya disana Natasha segera memesan makanan dan minuman karena perutnya sudah keroncongan.


"Wah ternyata ada ja***g yang sedang makan" ucap seorang gadis seumuran Natasha dengan ketus.


Mendengar ada yang berbicara di depannya, ia segera mengangkat kepala melihat siapa yang berbicara. Tatapan datarnya menatap perempuan yang berdandan menor di depannya yang sangat ia kenali.


Ia tersenyum smirk melihat dandanan perempuan didepannya yang seperti badut.


"Ja***g teriak ja***g" ucap Natasha sambil terkekeh.


"Kamu" tunjuk Ana dengan tatapan tajam.


Natasha terkekeh tak memperdulikan tatapan tajam Ana dan kembali melanjutkan makan siangnya. Melihat reaksi Natasha yang acuh membuat Ana semakin menjadi emosi.


Brak............


Ice americano milik Natasha tumpah saat mejanya di gebrak Ana. Napsu makannya seketika hilang karena ulah Ana.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


"Pergi sebelum aku patahkan kedua tangan kamu" usir Natasha dengan suara dingin.


"Kalau aku tidak mau gimana" ejek Ana dengan sinis.


"Silahkan tapi jangan pernah menggangguku b***h" ucap Natasha memperingati.


"Aku peringatkan ya, jangan berani kamu deketin Vincent karena dia milikku!" bentak Ana dengan suara tinggi.


Alis mata Natasha terangkat mendengar ucapan Ana barusan. Ia tak mengerti kenapa perempuan ular berbisa di depannya bicara kalau ia sedang mendekati Vincent.


"Sebaiknya kamu segera berobat ke psikiater takut gangguan jiwamu semakin menjadi" ucap Natasha sambil terkekeh.


"Apa kamu bilang ja***g" teriak Ana dengan emosi.


Dengan cepat ia ingin menampar Natasha tapi tak disangka gerakan tangannya di tepis kuat oleh Natasha. Dengan sekali gerakan Natasha langsung memelintir tangan Ana ke belakang.


"Berani kamu sentuh tubuh aku, maka aku pastikan saat itu juga kamu tinggal nama" bisik Natasha dengan suara dingin.


"Lepasin tanganku b***h" umpat Ana dengan emosi.


Brugh...........


Ana terjatuh di lantai saat Natasha melepas tangannya dan mendorongnya ke depan. Karena tak siap akhirnya ia terjatuh di lantai membuat semua pengunjung cafe tertawa.


Wajahnya merah padam menatap Natasha dengan tatapan penuh kebencian. Melihat hal tersebut bukannya takut tapi Natasha malah tersenyum sinis.


"Lihat saja aku bakalan adu hal ini ke Vincent" ucap Ana dengan berapi-api.


"Silahkan Anabele, aku tunggu" ucap Natasha dengan santai.


Natasha lalu menaruh beberapa lembar dolar di atas meja dan berlalu pergi meninggalkan Ana yang sangat emosi. Ia tak menyangka akan bertemu pertama kali dengan perempuan ular itu.


Sialan tuh Anabele gara-gara dia napsu makanku hilang, batin Natasha berdecak kesal.

__ADS_1


Sepanjang jalan Natasha terus mengumpat dan mengutuk Ana, ia berharap perempuan jelmaan ular itu jatuh ke dalam selokan atau lubang yang penuh kotoran.


~ UCLA ~


Vincent mengumpat kesal karena dia harus mendengar rengekan perempuan yang sangat ia benci saat ini.


Siapa lagi kalau bukan Ana, meski dia adalah perempuan yang sudah menyelamatkan dia dan adiknya di masa lalu tapi Vincent sangat benci dengan perempuan seperti Ana.


"Sialan" umpat Vincent setelah mematikan panggilannya.


"Kenapa lagi dude?" tanya Alex.


"Siapa lagi kalau bukan perempuan tepung itu" jawab Jason dengan cepat.


"Kali ini apa lagi dude?" tanya Alex yang tahu siapa yang dimaksud oleh Jason.


"Malas aku bahas dia" dengus Vincent dengan kesal.


"Pasti dia merengek lagi ya" tebak Jason.


"Heemmm"


"Kalau tidak suka ya bilang aja dude, ngapain harus bikin capek diri sih" ucap Jason.


"Kalian tahu jawabannya" ucap Vincent dengan suara dingin.


Alex dan Jason hanya bisa menarik napas dalam tahu maksud sahabat mereka. Mereka sangat tahu jika Vincent tidak bisa menjauhi atau menolak keinginan dari Ana atau perempuan tepung tebal julukan anggota geng Vincent.


"Gimana kalau malam kita ke club buat senang-senang" ajak Alex.


"Heemm" deham Vincent.


"Aku ikut" ucap Jason.


"Oke, kalau gitu aku beritahu anak geng juga biar lebih rame" ucap Alex memberi ide.


"Terserah" ucap Vincent dengan suara dingin.


Alex segera mengirim pesan ke group geng mereka, memberitahu jika malam ini akan ada pesta di club Heaven seperti biasanya.


~ VR Entertainment ~


Berbeda dengan kembarannya yang sedang pusing, saat ini di ruang direktur sedang terjadi ketegangan. Bagaimana tidak salah satu penyanyi dan artis nomor satu di VR Entertainment sedang berdebat sengit dengan direkturnya.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


Siapa lagi kalau bukan Victor Rolando Wesly, dengan santai dia duduk sambil berpangku kaki menatap direktur agensinya dengan angkuh.


"Vic kamu tahu apa yang sudah kamu lakukan" ucap Cole direktur VR Entertainment dengan wajah kesal.


"Memang ya apa yana aku lakukan" ucap Victor dengan wajah tak berdosa.


"Apa kamu sudah gila Vic, kenapa kamu bisa berbicara seperti itu saat live tadi!" bentak Cole.


"Aku jawab sesuai kenyataan kok! Memang salahnya dimana coba"


"Vic dia itu yang akan jadi lawan mainmu nanti bulan depan di film terbaru kamu" teriak Cole dengan emosi.


"Aku tidak perduli dan ingat aku tidak sudi bekerja dengan artis jelek seperti dia" ucap Victor dengan suara tinggi.


"Apa! Victor apa kamu buta! Hah" hardik Cole.


"Aku tidak buta pak tua! Mungkin yang buta itu kamu pak tua!" bentak Victor dengan suara tinggi.


"Pokoknya aku tidak mau tahu Vic, hari ini juga kamu harus minta maaf sama Helena" ucap Cole tak mau dibantah.


"Aku tidak sudi, kalau kamu mau minta maaf ya sudah sana minta maaf sendiri" ketus Victor sambil berlalu pergi.


"Mau kemana kamu Vic, kita belum selesai bicara" ucap Cole dengan bingung.


"Malas bicara sama pak tua kayak kamu" dengus Victor.


"VICTORRRRR" teriak Cole menggelegar sampai di luar ruangannya.


Rio hanya menutup mata mendengar teriakan direktur mereka, dengan cepat ia berlari mengikuti Victor sebelum pak tua itu melampiaskan emosinya kepada dia.


"Vic kamu jangan kayak gitu sama direktur Cole" ucap Rio saat keduanya berada di lift.


"Kamu itu manajer aku atau pak tua itu! Hah" bentak Victor.


"Ya kamulah Vic, masa aku jadi manajer direktur Cole"


"Kalau begitu tidak perlu banyak protes dan bertanya" ketus Victor.


"Iya iya iya"


"Apa jadwalku selanjutnya?" tanya Victor.


"Sejam lagi kita akan bertemu dengan direktur HK food" ucap Rio membaca jadwalnya di iPad.


"Heeemmm"


Sampainya di lobby keduanya segera bergegas masuk ke dalam mobil Van khusus Victor. Dari lantai 7 Cole menatap Victor dengan kesal, bagaimana tidak ia harus mengurus masalah yang di perbuat oleh Victor tadi di acara live.


Sialan kamu Victor selalu saja buat darah tinggi aku naik, batin Cole dengan kesal.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...

__ADS_1


To be continue.....................


__ADS_2