
πTetap nikmati harimu, meski dewasa tak seindah mimpi diwaktu kecilmuπ
.
.
.
.
Ares menatap Gery memberi isyarat untuk menyuruh anak buahnya menjaga Zelena dari jauh dan melihat apa saja yang dikatakan oleh dua penyihir itu.
Sedangkan Zelena ia yang sudah capek memilih duduk di kursi yang tak jauh dari sana. Daniella dan mamanya yang melihat hal itu tidak terima dan mengikuti Zelena ke tempat duduknya.
"Berapa loe dibayar sama ka Ares buat jadi pe***urnya" hardik Daniella dengan tatapan sinis.
"Loe bilang gue pel***r, emang loe tahu ya tampang pel***r seperti apa?" tanya Zelena.
"Dari tampang loe aja orang udah bisa tahu kalau loe itu seorang pel***r" hina Daniella.
"Mbak" panggil Zelena ke salah satu pelayan yang berdiri tak jauh dari meja makan.
Orang yang di panggil Zelena tadi berbalik menatap Zelena sambil menunjuk dirinya bertanya apa dia yang di panggil.
"Iya mbak. Sini bentar mbak" ucap Zelena melambaikan tangannya ke pelayan itu.
"Nona manggil saya?" tanya pelayan tadi dengan sopan.
"Iya mbak. Saya boleh nanya ngak mbak?" tanya Zelena dengan suara lembut.
"Iya bisa nona"
"Emang tampang saya seperti seorang pel***r ya mbak?" tanya Zelena dengan wajah polos.
Mata pelayan tadi melotot mendengar pertanyaan Zelena barusan. Ia tak menyangka akan di tanyai seperti itu apa lagi saat melihat penampilan Zelena dan auranya bisa ditebak ia bukanlah seorang wanita ja***g.
"Tidak nona! Penampilan nona seperti gadis baik-baik dan berpendidikan" ucap pelayan tadi dengan tegas.
Zelena tersenyum menyeringai melihat Daniella dan Calista yang melotot kaget tak menyangka jika Zelena akan bertanya seperti itu.
"Loe dengar sendirikan! Gue itu bukan pel**ur dan gue ingatkan jangan menilai orang dari luarnya saja" tegas Zelena sambil memoloti Daniella.
"Hey gadis miskin! Berani loe melotot ke gue! Hah! Loe itu hanya gadis miskin yang naik ke ranjang kakak gue buat habisin duit kakak gue!" bentak Daniella dengan suara tinggi.
Seketika tamu undangan yang berada di dekat mereka berbisik-bisik mengenai Zelena. Hal itu dimanfaatkan oleh Daniella dan mamanya untuk membuat Zelena terpojok.
"Loe tahu gue tidur di ranjang Ares? Apa loe ngintip kita ya?" tanya Zelena dengan wajah polos.
Daniella hampir terjatuh mendengar pertanyaan Zelena barusan. Ia tak habis pikir apa otak Zelena terbentur atau apa makanya tidak menangapi ucapannya dengan benar sedari tadi.
"Jadi kamu mengaku kalau kamu itu seorang pel**ur yang naik ke ranjang anak saya" ejek Calista dengan tatapan sinis.
"Anak tante siapa? Kenapa tante tuduh saya naik ke ranjang anak tante?" tanya Zelena dengan bingung.
"You don't know me?" (kamu tidak mengenal aku) tanya Calista dengan bingung.
"Ngak! Emang tante artis ya?" tanya Zelena dengan bingung
"Tapi itu ngak mungkin deh kalau ada agensi yang nerima tante sebagai artis mereka soalnya wajah tante ngak mendukung jadi artis" jujur Zelena dengan santai.
"Kamu" tunjuk Calista dengan mata melotot.
...π π π π π...
Zelena bergidik ngeri melihat polotan mata Calista yang seperti penyihir di film kartun yang pernah ia tonton waktu kecil.
Ah! Mungkin mereka buat film itu tokohnya tante penyihir ini, batin Zelena sambil terkekeh.
"Turunkan tangan sialanmu itu perempuan tua" hardik Ares dengan suara dingin.
__ADS_1
Calista dan Daniella seketika tersentak melihat kedatangan Ares. Apa lagi banyak tamu undangan yang melirik ke arah mereka membuat Ares yang sedari tadi berbincang dengan rekannya menoleh ke arah mereka.
Mati aku pasti pulang aku akan di pukul oleh mas Sean, batin Calista dengan takut.
"Mama gimana ini? Aku takut di pukul ka Ares ma" bisik Daniella.
"Querido apa aku kelihatan seperti pel**ur?" tanya Zelena.
Wajah Ares seketika mengelap mendengar ucapan kekasihnya. Daniella dan Calista menatap Zelena dengan mata melotot seakan berkata untuk diam saja jangan banyak bicara.
"Kenapa kalian ngeliat aku kayak gitu" ucap Zelena dengan wajah polos.
"Beraninya" hardik Ares yang langsung dipotong Sean.
"Son ada banyak tamu disini" potong Sean yang datang tepat waktu sebelum anaknya mengamuk.
Rahang Ares mengeras menatap ibu dan adik tirinya yang menunduk takut melihat kemarahan di wajah Ares.
Zelena sendiri yang tadinya lapar sudah tak berselera lagi untuk makan. Ia rasanya ingin pergi dari sana tapi ia tahu kekasihnya masih harus menemui rekan kerjanya yang lain apa lagi dia yang bertanggung jawab untuk acara ini.
Apa gue tidur aja di mobil sambil nunggu Ares selesai, batin Zelena berpikir sambil melirik Ares.
"Kenapa mi amor?" bisik Ares saat mendapati kekasihnya meliriknya.
"Aku tidur di mobil ya querido" pinta Zelena dengan memelas.
"No mi amor. Kalau kamu bosan mending kamu ngobrol aja sama nenek aku" usul Ares.
"Emang boleh? Aku takut nenek kamu ngak suka aku querido"
"Nenek aku orangnya sangat baik mi amor jadi kamu tenang saja jangan takut"
"Baiklah"
Ares lalu mengajak Zelena untuk berkenalan dengan neneknya yang sedang berbicara dengan keluarga besar mereka.
~ UCLA ~
Ia tersenyum getir melihat Ana yang datang bersama suaminya ke kampus hari ini. Padahal tadi Vincent pergi lebih dulu dari mansion tanpa menunggunya.
Jadi ini alasan kamu buru-buru pergi ya, batin Natasha dengan perasaan hancur.
Beruntung wajahnya yang datar dan minim ekspresi menutup luka yang menganga di hatinya saat ini. Vincent yang baru keluar dari dalam mobil tersentak saat matanya menangkap keberadaan istrinya di samping mobilnya.
Sial, batin Vincent berdecak kesal.
Natasha berlalu pergi seperti orang asing dari hadapan keduanya membuat Vincent mengepal tangannya merasa jika Natasha seakan tidak perduli jika ia berdekatan dengan perempuan lain.
"Vincent anterin aku ke kelas aku ya" ucap Ana dengan manja.
"Ingat batasan kamu Ana. Cukup hari ini aku ijinkan kamu naik ke mobil aku itu semua karena aku hanya kasihan saja jadi jangan meminta lebih" hardik Vincent dengan tatapan tajam.
"Iy......a" cicit Ana dengan takut.
Vincent lalu pergi dari sana menuju kelasnya yang sebentar lagi dimulai. Selesai semester ini dia akan mulai sibuk membuat tesis untum menyelesaikan program magister.
Selesai mengikuti perkuliahan Vincent yang masih kepikiran Natasha bergegas pergi meninggalkan kedua sahabatnya yang menatapnya dengan bingung.
...π π π π π...
"Tuh anak kemana sih?" tanya Alex dengan bingung.
"Lapar kali" jawab Jason dengan asal.
"Bukannya kita mau ke markas ya" tambah Jason lagi.
"Ah! AKU lupa" ucap Alex sambil menepuk keningnya.
"Kamu telpon dia gih tanya dia dimana" ucap Jason.
__ADS_1
Alex lalu mengambil hpnya dan menelpon Vincent tapi tak diangkat hingga panggilan yang ketiga juga tak diangkat.
"Tidak diangkat"
"Kalau gitu ayok kita ke markas nanti biar aku chat aja biar dia ke sana setelah membacanya"
"Oke"
Keduanya segera bergegas ke parkiran dan pergi ke base camp. Sedangkan Vincent ia saat ini sedang berdiri di depan kelas Natasha di jurusan desain.
Natasha yang tak tahu Vincent sedang menunggunya sehabis kuliah masih membahas tugas kelompok yang barusan diberikan dosen mereka.
"Jadi kapan kita ngerjainnya?" tanya Anzel teman kelas Natasha.
"Bagaimana kalau besok. Kebetulan besok kita tidak ada jadwal kuliah kan?" usul Natasha kepada teman kelompok.
"Aku setuju" ucap Risya.
"Oke" ucap Anzel.
"Kita akan ngerjainnya dimana?" tanya Natasha.
"Sweetheart" panggil seseorang dari arah belakang Natasha.
Natasha tersentak saat tiba-tiba ada lengan kekar yang memeluk pinggangnya dan mencium pipinya.
"Vincent" gumam Natasha dengan mata melotot melihat siapa yang memeluk dan menciumnya.
"Nanti tentuin aja tempatnya Natasha terus kabari kita" ucap Risya sambil menarik Anzel pergi saat melihat tatapan tajam Vincent.
"Tapi"
"Kita pergi dulu ya Natasha. Sampai jumpa" pamit Risya sambil menarik Anzel pergi dari sana.
Beruntung hanya ada mereka bertiga saja yang masih di dalam kelas jadi tidak ada temannya yang lain yang melihat aksi suaminya.
"Aku tidak suka kamu berbicara dengan laki-laki lain" ketus Vincent sambil mempererat pelukannya.
"Kenapa? Bukannya kamu yang berdekatan dengan perempuan lain ya" ejek Natasha sambil tersenyum sinis.
"Aku tadi tidak sengaja ketemu dia di jalan menuju kampus dan mobilnya mogok jadi aku memberinya tumpangan" ucap Vincent menjelaskan.
"Oh" ucap Natasha menahan senyum.
Vincent merasa bingung kenapa juga ia harus menjelaskan perihal tadi kepada istrinya. Ia semakin memeluk tubuh Natasha yang terasa nyaman dan menenangkan.
Tanpa keduanya sadari ternyata Ana melihat keduanya di depan pintu sambil mengepal kedua tangannya dengan emosi.
Aku bakal pisahkan kalian berdua apapun yang terjadi karena Vincent hanya milikku seorang bi**h, batin Ana dengan tatapan penuh kebencian.
Ting...........
Marco
"Hay baby aku sudah di parkiran kampus"
Ana tersenyum sambil memikirkan rencana untuk memisahkan keduanya. Ia berpikir untuk memisahkan mereka dengan kehadiran orang ketiga diantara mereka.
"Kamu tunggu saja pertunjukkan yang akan aku siapkan untuk kamu bi**h" gumam Ana sambil tersenyum smirk dan berlalu pergi.
Tak berselang lama setelah kepergian Ana dari depan kelas Natasha akhirnya Vincent keluar dari sana sambil menggenggam tangan sang istri dengan erat.
Tenyata cewek yang bakalan aku dekati sangat cantik, batin Marco tersenyum smirk melihat Vincent dan Natasha di parkiran kampus.
Tatapan matanya tak berpaling dari wajah cantik Natasha yang baru kali ini ia lihat secara langsung. Sampai mobil Vincent pergi ia masih saja menatap kepergian mereka sambil tersenyum menyeringai.
"Kamu harus jadi milikku Natasha Oliver Parker" ucap Marco yang sangat obsesi dengan Natasha.
...π π π π π...
__ADS_1
To be continue............