
πOrang lain tidak akan pernah mengerti sebelum mereka mengalami apa yang kamu rasakanπ
.
.
.
.
Sepanjang perjalanan menuju Bandung Zelena dan Clarisa merasa seperti sedang berada di kandang macan dan ular.
Bagaimana tidak sejak bus melaju pergi, keduanya baru sadar jika mereka ternyata berada satu bus bersama mahasiswa jurusan Bisnis Manajemen dan lebih parahnya lagi semua mahasiswa itu adalah teman sekelas geng 4G.
Siapa yang tidak kenal geng 4G yang sudah terkenal sejak masa SMA hingga kuliah dan sialnya geng 4G adalah geng yang sering membully Clarisa dan Zelena sejak SMA sampai saat ini.
"Lele kenapa kita berdua bisa apes gini sih" bisik Clarisa sambil menunduk tak berani mengangkat kepalanya.
"Mana gue tahu kalau bus ini itu sarangnya macan dan ular" bisik Zelena dengan suara pelan.
Zelena sebenarnya tidak takut dengan geng 4G tapi yang ia takutkan itu adalah sahabatnya. Ia takut jika Clarisa bermasalah dengan geng 4G maka akan berdampak pada beasiswanya selama ini.
Awalnya Zelena berniat untuk membantu biaya kuliah Clarisa tapi di tolak olehnya. Ia ingin kuliah dengan hasil jerih payahnya sendiri dan tidak mau menyusahkan orang lain dengan kehidupan pribadinya.
"Wah wah wah! Ternyata ada 2 manusia museum disini" ejek Gres sambil tersenyum sinis.
"Ihh! Kenapa sih kampus kita harus nerima cupu menjijikan kayak mereka berdua" ucap Gisel dengan tatapan jijik melihat keduanya.
"Menurut gue mereka pantas kok berada di kampus kita" tambah seorang mahasiswa bernama Meysa.
"Hello Meysa!! Apa otak loe lagi terbentur b***h" pekik Gisel dengan sinis.
"Maybe" (mungkin) balas Meysa sambil mengangkat bahu.
"Ria pulang tour nanti bawa sana teman loe psiakiater" ketus Gisel dengan sombong.
Ria mendengus kasar mendengar ucapan Gisel yang sering kali mengejek keduanya. Memang keduanya dari keluarga berada tapi tidak sekaya Gisel yang merupakan anak donatur terbesar di kampus mereka.
"Heh cupu! Sampai disana loe berdua harus ikut apa yang kita suruh!" bentak Gebi.
"Kalau kita ngak mau" ucap Zelena dengan santai.
"Jangan salahkan gue kalau beasiswa teman loe itu dicabut" bisik Gisel sambil tersenyum smirk.
Zelena mengepal tangannya mendengar apa yang Gisel bisikan. Meski ia berpenampilan cupu tapi kelakuan dan sifatnya tidak seperti orang cupu hanya kelewat polos.
Byur..............
"Ups! Sorry gue ngak sengaja" Gisel tersenyum menyeringai saat jus yang ia pegang dengan sengaja menumpahkan di kepala Clarisa.
"Loe" tunjuk Zelena dengan tatapan tajam.
"Lele udah jangan diladeni Segel! Gue ngak apa-apa kok" ucap Clarisa menahan tangan Zelena yang akan berdiri.
"Hay cupu miskin! Sekali lagi loe panggil gue Segel gue ngak segan-segan robek mulut sialan loe itu" bentak Gisel dengan emosi.
Hahahaha...................
Tawa teman-teman Gisel seketika pecah saat mendengar ucapan Clarisa yang memanggilnya dengan nama Segel.
"Woy Gisel nama Segel cocok juga buat loe" ucap Si A.
"Nama baru ya cantik" ucap si B.
"Sang primadona Karya Bangsa akhirnya memutuskan menganti namanya dengan nama Segel" ucap si C.
...π π π π π...
Wajah Gisel merah padam merasa sangat malu saat mendengar ucapan teman sekelasnya. Matanya berkilat menatap Clarisa seakan ingin menelannya hidup-hidup.
Grep..........
"Ini semua karena cupu miskin ngak tahu diri kayak loe!" bentak Gisel sambil menjambak rambut Clarisa.
"Aarrgh! Lepasin Segel" pinta Clarisa memohon merasa kepalanya sangat sakit.
"Apa yang loe lakuin Gisel? Lepasin Clarisa" hardik Zelena dengan emosi.
Plak........plak........plak.........plak.......
Gisel seperti kesetanan menampar Clarisa berulang kali ketika mendengar ucapan Clarisa lagi, Zelena yang ingin menyelamatkan sahabatnya malah di tahan oleh Gebi dan Gres.
"Lepasin Risa berengsek" teriak Zelena melengking.
Plak.............
Wajah Zelena seketika menoleh ke samping saat ia ditampar oleh Gisel. Ia menatap Gisel dengan tatapan tajam tak takut sedikit pun.
"Berani loe bilang gue berengsek gadis miskin" maki Gisel dengan wajah merah padam.
"Loe memang pantas di panggil berengsek" ketus Zelena dengan emosi.
__ADS_1
Baru saja Gisel ingin menampar kembali Zelena tiba-tiba tangannya di tahan oleh seseorang. Tatapan dingin dan tajam pria itu membuat Gisel meneguk salivanya dengan susah karena tahu siapa yang menahan tangannya.
"Demian" ucap Gisel dengan gugup.
"Loe ganggu tidur gue" ucap Demian dengan suara dingin.
Demian lalu melepas tangan Gisel dan berlalu menuju kembali ke kursinya. Seketika suasana di dalam bus menjadi hening tak ada yang berbicara karena tahu jika Demian sudah berbicara bisa-bisa mereka akan dikeluarkan dari kampus.
"Loe ngak apa-apa Risa?" tanya Zelena membantu Clarisa duduk kembali di kursinya.
"Gue ngak apa-apa Lele" ucap Clarisa sambil tersenyum manis.
Zelena meringis melihat bekas tamparan di kedua pipi Clarisa yang sangat terlihat jelas hingga membengkak. Ia yang tadi di tampar sekali saja merasa pipi kanannya terasa kebas dan bengkak.
"Kita laporin mereka ke dosen ya entar" bisik Zelena.
"Jangan Lela. Gue ngak apa-apa kok" Clarisa menggelengkan kepalanya tak ingin memperpanjang masalah tadi.
Ia tahu jika ia melapor bukannya mendapat keadilan tapi pasti ia yang akan disalahkan disni. Sudah terlalu banyak hal terjadi dalam hidupnya dan ia tahu jika orang yang menang adalah orang yang punya uang dan berkuasa.
~ Mansion Albert ~
Mira menatap taman bunga di samping mansion dengan tatapan penuh luka. Meski suaminya telah memaafkannya tapi ia tahu jika dalam hati suaminya ada rasa sakit.
Apa lagi mengingat kedua anaknya yang sudah tak menganggapnya lagi seorang mommy.
Maafkan mommy nak, batin Mira sambil menangis dalam diam.
Setiap hari ia akan menangis merenungi semua kesalahan waktu itu saat suami dan anaknya tak ada. Tanpa Mira sadari ternyata Albert mengetahui apa yang di lakukan istrinya jika sendiri di mansion.
"Nyonya" panggil pak Ed dengan sopan.
"Ada apa pak Ed?" tanya Mira sambil menghapus air matanya agar pak Ed tidak melihatnya.
"Tuan barusan menelpon memberitahu kalau nyonya di suruh bersiap"
"Memangnya ada apa pak Ed?" tanya Mira dengan bingung.
"Saya tidak tahu nyonya. Tadi tuan menelpon anda tapi nyonya tidak menjawabnya sehingga tuan menelpon saya nyonya"
"Oh hp aku tertinggal di kamar pak Ed. Terima kasih informasinya pak Ed"
"Sama-sama nyonya"
Mira segera beranjak menuju kamarnya untuk bersiap, ia tidak tahu mereka akan pergi kemana dan hanya menuruti perintah suaminya untuk bersiap.
~ Mansion Walikota ~
...π π π π π...
Malam ini ternyata Albert mengajaknya datang ke acara ulang tahun walikota California. Saat keduanya akan melangkah tatapan mata Mira menatap ke arah depan dengan penuh kerinduan.
Di depan sana dua putranya yang ia rindukan bersiap di depan pintu masuk sepertinya keduanya baru saja datang. Albert yang mengetahui pikiran istrinya mengelus tangan sang istri dengan lembut.
"Semua pasti akan kembali seperti dulu lagi sayang" bisik Albert dengan tatapan penuh cinta.
Mira mengangguk kepalanya menjawab bisikan sang suami apa lagi melihat tatapan matanya yang memandangnya dengan penuh cinta.
"Daddy" ucap David dengan suara lembut.
"I miss you son" ucap Albert memeluk putra sulungnya.
David membalas pelukan sang daddy dengan senyum manis tapi saat matanya menatap ke arah Mira wajahnya seketika berubah menjadi dingin dan penuh kebencian.
Deg.........
Hati Mira terasa seperti di tikam pisau tepat di jantungnya, rasanya sungguh sakit sekali melihat tatapan kebencian dari anak kandungnya.
"Ayok kita masuk uncle" ajak Xander dengan suara dingin.
"Iya bos muda" ucap Albert.
Mereka lalu masuk ke dalam aula tempat acara dan langsung di sambut dengan begitu banyak tamu dari kalangan atas yang hadir di acara kali ini.
David berjalan di belakang Xander menemani bosnya sedangkan Leon berjalan di samping kedua orang tuanya sambil memeluk lengan Albert.
Albert menggelengkan kepalanya melihat kelakuan putra bungsunya yang tak perduli dengan tatapan mata para tamu yang aneh melihat mereka.
"Selamat ulang tahun Mr. Wods" ucap Xander dengan suara dingin.
"Suatu kehormatan anda bisa hadir di pesta kecil saya tuan muda Wesly dan terima kasih atas ucapannya" ucap Mr. Wods dengan kekehan.
"Heemmm"
"Selamat ulang tahun Mr. Wods" ucap Albert menjabat tangannya.
"Terima kasih tuan Kendrick" ucap Mr. Wods sambil menerima jabatan tangan Albert.
Mereka lalu berbincang sebentar dan setelah Mr.Wods permisi menemui tamu yang lain, Xander dan David juga menemui rekan kerja mereka.
Tak berselang lama riuh tamu undangan kembali terdengar saat melihat kehadiran tuan dan nyonya Wesly di acara tersebut.
__ADS_1
Xander menatap kedua orang tuanya yang ternyata juga hadir dengan tatapan datar. Tak lama ia mengerut keningnya melihat kehadiran adiknya yang datang bersama Natasha.
"Cari tahu kenapa Vincent bisa datang bersama Natasha" ucap Xander dengan suara dingin.
"Baik bos" ucap David.
David lalu mengutak-atik hpnya memberi perintah kepada anak buahnya dan juga pengawal Vincent menanyakan kenapa keduanya bisa hadir bersama.
Sedangkan Leon saat ini sedang berbicara dengan rekan bisnisnya. Tak lama seorang pelayan yang membawa nampan minuman tersenggol salah satu tamu dan akhirnya menumpahkan minuman yang ia bawa di nampan ke jas Leon.
Prang...........
Bunyi pecahan kaca bergema di dalam sana membuat mata tamu hadirin menatap ke arah suara mencari tahu apa yang terjadi.
"S**t" geram Leon melihat jasnya sudah basah dan kemeja putihnya sudah berubah warna.
Gadis pelayan itu berdiri dengan kepala menunduk dan tubuh gemetar tak kuat melihat kemarahan di wajah Leon.
Ia tahu pasti sebentar lagi ia akan dimaki oleh orang di depannya bahkan lebih parahnya lagi ia pasti tidak akan mendapat upah dari kepala pelayan sebentar.
"M......aaf....kan saya tua......n" ucap gadis tersebut dengan menunduk sambil gemetar ketakutan.
"Ikut saya" ucap Leon dengan suara dingin.
Leon pergi ke kamar mandi di ikuti gadis pelayan tersebut dari belakang. Ia pasrah jika ia akan di pukul karena kesalahannya barusan.
...π π π π π...
Sampai di toilet Leon masuk bersama gadis itu dan salah satu pengawal pribadinya di dalam toilet.
"Ma....afk....an sa....ya t.....uan" ucap gadis tersebut sambil menunduk.
"Tatap lawanmu kalau lagi bicara" ucap Leon dengan suara dingin.
Pelahan-lahan gadis itu mengangkat kepalanya dan menatap Leon dengan wajah pucat karena terlalu takut. Saat melihat wajah tersebut entah kenapa Leon merasa ada perasaan sedih dan sayang kepada gadis di depannya itu.
"Kamu tahu harga jasku?" tanya Leon dengan tatapan tajam.
"T.....idak t....uan" ucap gadis itu sambil menggelengkan kepalanya tak tahu.
"Gajimu selama 10 tahun tidak akan bisa kamu ganti jasku dengan baru"
Deg............
Jantungnya berdetak dengan cepat mendengar ucapan tersebut. Tubuhnya kembali gemetar tak tahu harus mengantinya dengan uang apa sedangkan di dompetnya hanya tersisa 200$.
"Pergi bawakan aku baju dari sekertarisku di luar sana" usir Leon yang merasa iba dengan gadis di depannnya.
"T.....uan" ucap gadis tersebut dengan kaget.
"Cepat! Sebelum aku berubah pikiran" hardik Leon.
"B.....aik t....uan"
Dengan cepat gadis tersebut berlari keluar mencari siapa sekertaris orang yang sudah ia tumpahi minuman. Beruntung saat keluar ia melihat seorang pria datang sambil menentang paper bag berisi jas dan kemeja untuk Leon.
Setelah mengganti pakaiannya yang basah Leon keluar dari kamar mandi dan menatap gadis yang tertunduk di depannya.
"Beritahu kepala pelayan jika aku tidak mempermasalahkan kejadian tadi"
"Terima kasih tuan" ucap gadis tersebut dengan senang tak menyangka Leon akan berbaik hati kepadanya.
Leon tersenyum dan kembali berlalu masuk ke acara pesta. Gadis tadi menatap punggung Leon dengan mata berkaca-kaca, karena baru kali ini ada orang kaya yang tidak menghinanya atau menyuruhnya bertanggung jawab atas kesalahan yang ia buat.
"Semoga anda selalu sehat dan bahagia terus tuan" ucap gadis pelayan tadi dengan tulus.
~ Shadow Island ~
Mikhail menatap informasi gadis cupu yang sudah menyita pikirannya beberapa minggu ini. Tatapan tajam dan dingin matanya membaca setiap informasi Clarisa dengan teliti.
"Dibuang oleh keluarganya sendiri" Mikhail tersenyum menyeringai.
Ia membaca setiap informasi Clarisa dan merasa kesal karena semua informasi Clarisa sangat menyedihkan apa lagi ia selalu di bully oleh orang di sekitarnya.
"Beruntung kamu punya sahabat seperti Zelena baby" gumam Mikhail menatap foto Zelena dan Clarisa saat keduanya berada di taman kampus.
"King" ucap Damon.
"Heemmm"
"Mr. S sudah mengetahui nona muda Wesly dan saat ini ia berada di Indonesia"
"Siapkan jet kita ke Indonesia sekarang"
"Baik king"
Mikhail memikirkan masalah Zelena dan ia pikir jangan memberitahu hal ini dulu kepada Xander dan keluarganya karena ia yakin Xander pasti akan kembali menyembunyikan Zelena.
...π π π π π...
To be continue.................
__ADS_1