
πTersenyumlah karena semua yang di takdirkan itu indah pada waktunyaπ
.
.
.
.
Ares menganga melihat penampilan kekasihnya yang malam ini sangat berbeda dan sangat cantik. Biasanya Zelena berdandan cupu jika akan pergi keluar tapi malam ini penampilannya sangat berbeda jauh.
Para pelayan yang baru kali ini melihat penampilan asli Zelena tercengang dan terpesona dengan kecantikannya.
Nona Zelena sangat cantik
Apa nona Zelena seorang dewi yang turun ke bumi
Cantiknya! Kapan aku bisa secantik nona Zelena
Apa nona Zelena seorang manusia
Bisik-bisik pelayan terdengar jelas di telinga Ares dan hal itu membuatnya menatap mereka dengan tatapan tajam.
Seketika semuanya hening saat mendapat tatapan tajam dari sang tuan yang sangat menyeramkan. Pak Tio berdeham agar mereka semua tak menatap Zelena jika tidak ingin dihukum.
"Querido" panggil Zelena setelah sampai di depan Ares.
Grep...................
Ares menarik pinggang Zelena membuat Zelena kaget dan jatuh ke dalam pelukan sang kekasih. Melihat gerakan kepala Ares yang ingin menciumnya dengan cepat Zelena menutup mulut Ares yang hampir mencium bibirnya.
"Kenapa mi amor?" tanya Ares sambil mengangkat alisnya sebelah.
"Ada banyak orang disini querido" ucap Zelena sambil melirik ke arah pelayan.
"Pergi" usir Ares dengan suara dingin.
"Baik tuan" ucap pak Tio sambil membungkuk dan berlalu pergi.
Zelena melotot melihat perbuatan Ares yang mengusir semua pelayan dan pak Tio dari sana. Padahal tadi ia hanya mencari alasan saja karena tidak ingin dicium oleh Ares takut lipstiknya rusak.
"Aku tidak suka lisptikmu! Warnanya terlalu menyala mi amor" ucap Ares dengan tatapan tajam.
"Tapi ini bagus querido dan sesuai gaun yang aku pakai"
Ares menatap gaun yang dipakai oleh Zelena berwarna merah senada dengan jasnya yang berwarna merah maron gelap.
Cup................
Ares mencium bibir Zelena dengan menuntut karena sudah tak sabar ingin melahap bibir kekasihnya yang sedari tadi menggodanya.
Seketika mata Ares melotot saat tangannya menyentuh punggung Zelena yang polos karena gaunnya terbuka di bagian belakang.
"Gaun apaan ini!" bentak Ares dengan suara tinggi.
"Ini kan gaun yang kamu kirim querido" ucap Zelena dengan kening berkerut.
"Ganti! Aku tidak suka milikku dilihat orang lain" tegas Ares dengan mata melotot.
"Tapi ini gaun yang kamu siapkan querido. Masa harus diganti sih?" tanya Zelena dengan kesal.
"Aku bilang ganti harus ganti mi amor" ucap Ares dengan suara dingin.
"Ya sudah kamu pergi saja sendiri. Bukannya kamu yang mengirim gaun ini lalu kenapa kamu protes sih?" tanya Zelena dengan kesal.
"Aku ngak pergi lagi! Kamu ajak perempuan lain sana" hardik Zelena dengan suara dingin karena kesal harus menganti gaunnya lagi.
Zelena berbalik pergi tak sadar jika ucapannya barusan membuat Ares mengepal kedua tangannya emosi.
"Berhenti mi amor" teriak Ares dengan suara menggelegar.
Langkah kaki Zelena terhenti saat akan menaiki tangga, Zelena berdiri mematung mendengar bunyi langkah kaki yang terdengar mendekatinya.
Glek...............
Apa gue bakal di pukul, batin Zelena gugup sambil menelan salivanya dengan susah.
...π π π π π...
__ADS_1
"Kenapa kamu selalu membuat aku seakan ingin memakanmu mi amor" bisik Ares di telinga Zelena sambil memeluk pinggangnya dengan erat.
"Queri....do" lirih Zelena menegang merasakan hembusan napas Ares di tengkuknya.
Ares menarik tubuh Zelena menuju kamar tamu di samping tangga. Tubuhnya di dorong ke tembok saat keduanya sudah berada di dalam kamar tamu.
Cup...............
Ares mencium bibir Zelena dengan kasar dan menuntut. Ciuman Ares terasa memburu dan menuntut membuat Zelena kewalahan membalas ciuman sang kekasih.
Eeemmpp..............eeemmpp...............
Mata Zelena melotot tiba-tiba kakinya di lingkarkan ke pinggang Ares sehingga posisi keduanya sangat intim. Ingin marah tapi bibirnya dibungkam Ares tak melepasnya.
"Kamu mau bikin aku mati! Hosh hosh hosh" hardik Zelena dengan tatapan tajam dan napas satu-satu.
"Tidak akan mi amor" ucap Ares dengan santai.
Bibir Zelena kembali dibungkam Ares tak memberi Zelena waktu untuk berbicara. Zelena mengalungkan kedua tangannya dileher Ares menikmati ciuman kekasihnya yang sangat memabukkan.
Ah.............
Des**an Zelena terdengar saat Ares mencium lehernya di bagian belakang dan meninggalkan jejak kepemilikannya disana.
"Jangan memakai lipstik yang merah terang seperti itu lagi jika ingin keluar mi amor" ucap Ares dengan suara lembut.
"Heemmm"
Ares lalu membantu merapikan penampilan Zelena kembali karena mereka hampir terlambat ke acara syukuran sang kakek.
"Gaji loe bulan ini potong 50%" ucap Ares saat Gery membuka pintu mobil untuk keduanya.
"Baik tuan" pasrah Gery tak bisa membantah ucapan Ares.
"Querido kenapa kamu potong gajinya Gery?" tanya Zelena dengan bingung.
"Karena dia sudah memberikan gaun sialan ini untukmu mi amor" ketus Ares dengan kesal.
"Tapi"
"Jangan membelanya mi amor" potong Ares dengan suara tegas.
Zelena mengerucut bibirnya dengan kesal karena lagi-lagi Ares tak mau dibantah. Padahal menurutnya itu hanya masalah sepele saja.
Mobil Ares akhirnya berhenti tepat di depan pintu masuk mansion. Sudah banyak tamu undangan yang hadir, keduanya lalu masuk menuju taman belakang tempat pesta berlangsung.
Ares memeluk pinggang Zelena dengan posesif tak ingin mata laki-laki melirik kekasihnya apa lagi punggungnya yang terbuka.
"Kamu pakai jas aku saja ya mi amor" bisik Ares.
"Jangan ngaco querido" ucap Zelena dengan tatapan tajam.
"Ckk!! Mulai sekarang aku tidak mau kamu pakai baju sialan seperti ini lagi" dengus Ares dengan kesal.
Zelena mengangguk kepalanya menjawab ucapan sang kekasih yang terlalu posesif dan cemburuan.
Ares lalu membawa Zelena menuju kakeknya yang sedang berbicara dengan papanya dan rekan kerja mereka.
"Kakek" panggil Ares dengan suara dingin membuat ketiga orang disana menoleh ke arah suara.
"Cucuku" ucap Riko dengan senyum manis melihat kedatangan cucu kesayangannya.
"Siapa son?" tanya Sean melihat ke arah Zelena yang dipeluk posesif oleh anaknya.
Deg...................
Mata dan wajah itu, batin Sean dengan kaget melihat mata dan wajah perempuan yang berdiri di samping putranya.
"Chloe" gumam Sean dengan suara sangat pelan yang hanya ia sendiri yang mendengarnya.
"Papa, kakek! Kenalin ini pacar aku" ucap Ares dengan suara tegas memperkenalkan Zelena.
"Apa" ucap Riko dengan kaget.
Pasalnya ia tahu bagaimana kehidupan cucunya yang tak jauh berbeda dengan anaknya dulu dan sering gonta ganti perempuan.
"Siapa nama kamu nak?" tanya Sean yang sudah bisa mengontrol dirinya dan tak terlalu kaget dengan ucapan sang anak.
"Kamu tahu Ares sudah punya pacar son?" tanya Riko dengan penasaran.
__ADS_1
"Heemmmm" deham Sean sambil mengangguk kepalanya.
...π π π π π...
Matanya masih tertuju ke wajah Zelena dan membuat Zelena merasa malu dan gugup di tatap seperti itu.
"Papa jangan tatap kekasihku seperti itu" ucap Ares dengan suara dingin dan wajah tajam.
"Querido" lirih Zelena sambil menggelengkan kepalanya untuk tidak berbicara seperti itu.
"Halo om. Kenalin saya Zelena pacarnya Ares om" ucap Zelena dengan suara lembut.
"Panggil papa saja seperti Ares. Lagian kamu itu pacarnya anak saya" ucap Sean dengan suara lembut.
Ares mengangkat sebelah alisnya mendengar ucapan papanya yang terdengar lembut seperti ia biasa berbicara kepadanya.
Padahal Ares tahu jika papanya ini sulit sekali di dekati oleh orang lain dan tidak suka dengan orang yang sok akrab.
Zelena menarik jas Ares sehingga mata keduanya bertatapan, tahu maksud tatapan kekasihnya Ares hanya mengangguk kepalanya untuk menuruti ucapan papanya.
"Baik papa" ucap Zelena sambil tersenyum manis.
Riko tersentak melihat senyuman Zelena yang sama persis dengan perempuan yang dicintai anaknya sedari dulu hingga sekarang.
Ini ngak mungkin, batin Riko.
Sedangkan rekan kerja Sean yang tadi berbicara dengannya mengepal kedua tangannya menahan emosi karena ia tadi baru saja menawarkan perjodohan putrinya dengan Ares kepada Riko dan Sean.
Sial gagal sudah rencana aku untuk menjodohkan putriku dengan tuan muda Rahardian, batin orang tersebut dengan kesal.
Zelena? Bukannya itu nama teman sekelas gue di kampus dan SMA dulu ya, batin Demian yang berdiri tak jauh dari mereka.
~ Rumah Steven Lim ~
Steven tersenyum menyeringai mendengar informasi mengenai Zelena dari Kaito barusan. Dia sudah tak sabar ingin menjalankan rencananya untuk menculik Zelena.
"Jadi besok dia sudah kembali berkuliah?" tanya Steven dengan tatapan tajam.
"Iya tuan" jawab Kaito.
"Kirim beberapa anak buahmu untuk mengawasi Zelena di kampusnya. Kalau perlu suruh mereka menyamar menjadi mahasiswa"
"Baik tuan"
"Jangan membuat kesalahan lagi kali ini Kaito" ucap Steven memperingati Kaito.
"Saya akan berusaha semaksimal saya tuan"
"Heemmm"
"Tuan tadi nona muda mengirim pesan untuk memberitahu tuan agar kembali ke Jepang bulan depan"
"Untuk apa?" tanya Steven dengan kening berkerut.
"Bulan depan ulang tahun nona Misya dan nona muda minta tuan harus berada disana"
"Beritahu Joana aku tidak akan pulang sampai aku selesai dengan urusan gadis kecilku"
"Tapi tuan"
"Aku itu tuanmu bukan Joana bangsat!" bentak Steven Lim dengan suara tinggi.
"Maafkan saya tuan" ucap Kaito sambil menunduk.
"Heemmm"
Kaito bergegas pergi setelah melihat isyarat tangan Steven yang menyuruhnya pergi. Steven duduk di sofa sambil menutup mata dan membayangkan ia berc***a dengan Zelena.
"Kamu membuat aku terangsang gadis kecil" ucap Steven sambil mengelus i**i tubuhnya dengan lembut di bawah sana.
~ Healing Kos ~
Tes.........tes.........tes............
Air mata Clarisa jatuh saat ia sudah berada di dalam kamar kosnya. Ia menutup mulutnya agar suara tangisannya tidak keluar membuat penghuni kos berpikir aneh karena tahu ia menangis.
Hatinya hancur berkeping-keping mengingat kejadian tadi di toilet cafe saat bertemu kembali dengan perempuan yang tadi siang menghampirinya.
"Hiks hiks hiks.............kenapa kalian selalu menyakiti gue.......hiks hiks.....apa ngak cukup kalian buang gue sejak kecil.......hiks hiks hiks" ucap Clarisa dengan derai air mata.
__ADS_1
...π π π π π...
To be continue..............