
πLupakanlah yang telah berlalu karena hidup terus berjalanπ
.
.
.
.
Aaarrrgghhh................
Teriakan Clarisa menggema sampai ke luar kesehatan membuat pak Josh semakin panik. Tubuhnya gemetaran tak tahu harus berbuat apa, ia takut sesuatu yang buruk terjadi kepada sang nyonya dan anaknya.
Jika hal itu terjadi maka sudah di pastikan mereka semua yang berada di kastil akan tinggal nama saja di bumi.
"King saya mohon angkat telpon saya" ucap pak Josh dengan gemetaran dan panik.
Sedangkan didalam ruang kesehatan Marcel dan dokter Rahma sedang menangani Clarisa yang sedang kesakitan. Mereka sudah memindai tubuh Clarisa dengan alat pemindai buatan Marcel, tapi tidak menemukan penyakit atau sejenisnya.
"Dokter Marcel bagaimana menurut dokter?" tanya dokter Rahma yang kebingungan.
"Saya bingung dok. Nyonya tidak ada kondisi kritis atau penyakit di dalam tubuh nyonya tapi nyonya terus mengeluh sakit" jawab Marcel yang ikut kebingungan.
"Sepertinya otot-otot tubuh nyonya yang mengencang itu menyebabkan nyonya mengalami kesakitan" seru dokter Rahma menunjukkan gambar otot punggung Clarisa yang menegang.
"Sepertinya dok" ucap Marcel setuju.
Ia lalu memeriksa kondisi bayi dan tubuh Clarisa lagi, sebelum memberikan pengobatan berupa ramuan alami yang aman untuk janin Clarisa.
"Mersy" panggil Clarisa dengan suara pelan.
"Nyonya apa yang anda rasakan?" tanya Marcel.
"Suamiku" lirih Clarisa dengan suara lemah.
"Maaf nyonya tapi King sedari tadi belum menjawab telpon kami. Damon dan Teivel juga tidak mengangkat panggilan mereka karena sedang melakukan meeting virtual mengantikan King" papar Marcel menjelaskan.
Phew...............
Clarisa membuang napasnya dengan kasar sambil menutup mata menahan rasa sakit di area punggungnya. Biasanya jika ia mengalami kejang dan sakit seperti ini, hanya elusan tangan suaminya yang bisa membuat rasa sakit itu hilang.
"Telpon suamiku dan katakan ini padanya" ucap Clarisa dengan tatapan tajam.
"LEBIH BAIK KAMU TIDAK USAH PULANG LAGI SIALAN DAN BUANG HP MAHALMU ITU BERENGSEK" teriak Clarisa dengan suara lantang.
Syok!
Itulah yang dialami oleh Marcel, dokter Rahma, dan 2 orang suster yang bertugas di ruang kesehatan.
Mereka kaget mendengar ucapan sang nyonya barusan, yang entah bagaimana bisa mendapat kekuatan untuk berbicara dengan lantang seperti itu.
Padahal tadi ia sedang kesakitan tapi sekarang lihat, ia seperti orang yang tidak kesakitan lagi.
Wanita hamil memang mengerikan, batin Marcel.
Bagaimana bisa nyonya sudah baik-baik saja. Padahal tadi ia sedang kesakitan, apa ini semua berhubungan dengan hormon kehamilannya, batin dokter Rahma dengan kaget.
"Kamu dengar kan Mersy apa yang aku katakan" ucap Clarisa dengan suara dingin.
Melihat Marcel yang bengong tidak menjawab ucapannya, membuat Clarisa menjadi emosi dan mengambil kotak berisi jarum suntik di sampingnya dan melemparnya ke Marcel.
Brugh..................aww..............
Marcel meringis kesakitan saat keningnya terkena lemparan kotak jarum suntik. Ia menatap sang pelaku dengan emosi, tapi sedetik kemudian ia menundukkan kepala tak berani melihat pelakunya.
"Maafkan saya nyonya" ucap Marcel memilih mengalah.
"Kamu memang bodoh Mersy. Cepat hubungi suamiku dan sampaikan apa yang aku katakan" titah Clarisa dengan suara tinggi.
"Baik nyonya" ucap Marcel segera mengambil hpnya.
...π π π π π...
Sedangkan dokter Rahma dan 2 orang suster yang mendengar Marcel di panggil Mersy menahan tawa mereka yang akan keluar.
Marcel menatap ketiganya dengan tajam, karena tahu mereka pasti sedang menertawakannya. Ketiganya menunduk tak berani membuat mood Marcel semakin buruk.
"Dokter Roma tolong bantu aku ke kamar" ucap Clarisa dengan suara bossy.
"Baik nyonya" ucap dokter Rahma menahan kesalnya mendengar namanya di ubah.
"Rasain kamu nenek tua" ucap Marcel sambil tersenyum mengejek tanpa mengeluarkan suara.
Mata dokter Rahma seakan ingin keluar membaca gerakan bibir Marcel yang mengatainya nenek tua. Padahal ia baru berumur 50 dan belum tua-tua amat.
Setelah Clarisa sudah di bawa keluar dari ruang kesehatan, Marcel lalu mengirim video cctv di ruang kesehatan kepada Mikhail.
"Biarkan saja King mau marah atau apa, aku tidak peduli karena ini semua keinginan nyonya" ucap Marcel pasrah.
"Tuan Marcel" panggil pak Josh dengan wajah cemas.
__ADS_1
"Nyonya baik-baik saja dan sudah lebih baik" ucap Marcel menjelaskan.
"Syukurlah" ucap pak Josh dengan lega.
"Apa King sudah menjawab telpon?" tanya Marcel.
"Belum tuan Marcel" jawab pak Josh sambil menggelengkan kepalanya.
"Heemmm! Ya sudah tidak usah hubungi lagi karena aku sudah mengirim pesan ke King"
"Baik tuan Marcel"
Marcel lalu menyuruh pak Josh untuk menyiapkan makanan sehat dan bergizi untuk Clarisa. Ia tidak mau sang nyonya dan calon anak King kenapa-napa selama ia bertugas menjaga keduanya.
~ Wesly Hospital ~
Mikhail yang melihat mommynya sudah terlelap memutuskan untuk keluar menuju ruang depan. Melihat putranya keluar, dengan cepat Thomas mengikutinya.
"Terima kasih son" ucap Thomas dengan tulus.
"Aku memang menemui daddy dan mommy tapi bukan berarti aku sudah memaafkan kalian" ucap Mikhail dengan suara dingin.
"Ya daddy tahu tapi setidaknya kamu sudah datang itu sudah lebih dari cukup son" balas Thomas dengan suara lembut.
"Heemm"
Mikhail lalu duduk dan entah kenapa perasaannya tidak tenang, memikirkan istri dan kandungannya.
Ya ampun aku lupa menghubungi istriku hari ini, batin Mikhail dengan gusar.
Dengan cepat Mikhail mengambil hpnya untuk menghubungi sang istri. Matanya seakan ingin keluar dari tempatnya melihat begitu banyak sekali panggilan tak terjawab dari kastil.
Belum lagi pesan istrinya yang begitu banyak juga panggilan tak terjawab darinya.
Saat hendak menelpon balik sang istri tiba-tiba ada pesan masuk dari Marcel. Karena penasaran ia segera membuka pesan tersebut.
Brak.......................
Kursi yang diduduki Mikhail tiba-tiba sudah patah jadi dua bagian. Thomas kaget bukan main melihat sang anak yang tiba-tiba menendang kursi itu hingga patah.
"Kamu kenapa son?" tanya Thomas dengan bingung.
"DAMON" panggil Mikhail dengan suara lantang.
Ceklek..................
Damon yang memang berada tepat didepan pintu segera masuk ke dalam ruang rawat nyonya besar. Thomas yang melihat wajah putranya memerah, memilih diam tak mau bertanya lagi.
Sebenarnya apa yang terjadi dengan raja setan itu, batin Thomas dengan penasaran.
"King" panggil Damon dengan suara dingin.
"Siapkan jet tempur aku sekarang" titah Mikhail dengan suara dingin dan tegas.
"Baik King" jawab Damon dengan patuh.
"Mikhail" ucap Thomas dengan tatapan sendu.
...π π π π π...
Mikhail menatap daddynya dengan tajam memberitahunya untuk tidak menghalanginya. Saat ini pikirannya sedang tertuju kepada sang istri yang menyuruhnya untuk tidak pulang.
Apa lagi saat melihat video sang istri yang mengalami sakit di area punggungnya tadi.
"Pikirkan mommy kamu son" pinta Thomas dengan. Penuh harap.
"Jangan memaksa aku dad" balas Mikhail mengancam.
"Baiklah tapi setidaknya buka blokir kami agar kami bisa menghubungi kamu selalu son" ucap Thomas dengan tatapan sendu.
"Oke" balas Mikhail singkat.
Grep..................
Thomas memeluk putranya dengan erat merasa sangat senang karena Mikhail mengijinkan mereka untuk menghubunginya.
Menurutnya itu lebih baik, dari pada mereka tidak mendapat kabar tentang putranya dan keluarganya.
"Hati-hati son dan kabari daddy jika sudah sampai tujuan" ucap Thomas dengan suara lembut.
"Daddy juga. Jaga mommy agar tidak sampai drop lagi dad" balas Mikhail dengan suara dingin.
"Pasti son"
"Aku pergi daddy" pamit Mikhail dengan suara dingin.
Thomas belum juga membalas ucapan sang anak, tapi putranya itu sudah lebih dulu pergi dari sana. Saat sampai di lift Mikhail berpapasan dengan Natasha dan Vincent yang baru saja datang.
"Kakak" panggil Natasha dengan sendu.
Mikhail menatap adiknya dengan tatapan tajam dan dingin tidak perduli sama sekali. Ia bahkan segera masuk ke dalam lift tidak menggubris keduanya.
__ADS_1
Mata Natasha berkaca-kaca melihat sang kakak yang tidak menanggapinya. Vincent yang melihat sang istrinya hendak menangis, segera memeluknya.
"Sabar honey. Aku yakin King akan segera memaafkanmu honey" ucap Vincent menenangkan sang istri.
"Iya honey" balas Natasha.
~ Jakarta, Indonesia ~
Zelena saat ini sedang bergelayut manja di lengan suaminya. Sedari bangun tadi ia tidak ingin melepas suaminya dan alhasil Ares harus membawanya ke perusahaan.
"Kamu yakin mau tunggu aku di sini mi amor?" tanya Ares sambil mengelus perut buncit sang istri.
"Yakin querido. Lagian aku mual jika mencium bau parfum orang lain querido" jawab Zelena dengan yakin.
"Baiklah kalau begitu kamu tunggu sebentar ya mi amor. Aku meeting dulu"
"Heemm" deham Zelena sambil mengambil posisi tiduran di sofa.
"Nanti kalau kamu butuh apa-apa minta saja sama sekertaris aku mi amor"
"Iya aku tahu querido. Sudah sana pergi biar cepat selesai meetingnya" ketus Zelena dengan kesal.
"Iya mi amor" ucap Ares dengan suara lembut.
Cup...............
Ares mencium kening, bibir, dan perutnya sebelum pergi membuat Zelena tersenyum lebar karena suaminya sangat mencintainya.
"Gue bahagia banget dapat suami seperti loe querido" gumam Zelena dengan senyum lebar.
Zelena yang merasa bosan segera mengambil hpnya dan menghubungi Clarisa. Hingga panggilan ke tiga panggilannya tetap saja tidak di angkat.
"Risa kemana sih? Kenapa ngak angkat telpon gue" keluh Zelena dengan bibir mengerucut.
Zelena lalu membuang hpnya ke atas meja merasa kesal, karena panggilannya tidak pernah diangkat oleh Clarisa. Padahal ia sudah susah payah mencari nomor sahabatnya itu.
"Aarrrghhh! Bikin kesel aja" teriak Zelena dengan kesal.
Ceklek..................
Mata hazelnya lalu menatap ke arah pintu saat mendengar pintu terbuka. Ternyata itu adalah kakek Riki yang datang bersama Demian adik tiri suaminya.
...π π π π π...
"Kamu disini juga Zelena?" tanya kakek Riki.
"Heemm! Kakek bisa lihat sendiri kan" jawab Zelena dengan malas.
Mata kakek Riki melotot mendengar ucapan istri dari cucunya itu. Pikirannya langsung memikirkan ucapan sang anak beberapa hari yang lalu, datang mengeluh tentang sikap menantunya yang berbuah drastis.
Mungkin karena hormon kehamilannya jadi sifat ya persis seperti cucu nakalku itu, batin Riki.
Ini beneran kakak ipar gue kan, batin Demian kaget.
"Stop" pekik Zelena dengan suara melengking saat keduanya hendak masuk ke dalam.
"Loh kenapa kakak ipar?" tanya Demian dengan bingung.
"Aku mual cium bau parfum kalian jadi kalian ngak boleh masuk ke ruangan suamiku" jawab Zelena sambil membekap mulut dan hidungnya.
"Lah terus kami harus kemana dong kalau ngak masuk ke dalam?" tanya kakek Riki.
"Tunggu aja di ruang tunggu atau di lobby juga boleh kek" jawab Zelena dengan santai.
Hah................
Kakek Riki dan Demian syok mendengar ucapan Zelena yang menyuruhnya mereka menunggu Ares di lobby. Baru kali ini ada yang berlaku seperti itu kepada mereka selain Ares.
Mau tak mau keduanya mengalah mengikuti ucapan Zelena tak mau membuat si posesif Ares Rahardian mengamuk.
"Eh! Demian" panggil Zelena saat Demian hendak menutup pintu.
"Ada apa kakak ipar?" tanya Demian sambil tersenyum paksa.
"Tolong loe belikan gue nasi ayam bakar + telur dadar 2 bungkus di warung padang. Nanti kalau udah loe kasi ke sekertaris suami gue buat antar ke sini jangan loe yang ngantar" jawab Zelena dengan santai.
"Loh kenapa kalau gue yang antar?" tanya Demian dengan penasaran.
"Gue malas lihat muka jelek loe itu" jawab Zelena dengan ketus.
Mata Demian seakan ingin keluar dari tempatnya mendengar ucapan Zelena. Ia lalu bergegas pergi dari sana, tak mau semakin emosi jika berada di sana.
Sabar Demian! Sabar! Ingat ini semua untuk keponakan loe, batin Demian sambil mengusap dadanya.
Ares yang berada di ruang meeting dan melihat cctv di ruangannya tersenyum tipis. Ia tidak menyangka kalau istrinya akan berubah menjadi singa betina jika tidak berada didekatnya.
Sepertinya anak gue sangat suka banget berada di sisi gue, batin Ares dengan senang.
Gery yang melihat tuannya senyum-senyum sendiri sambil menatap iPad didepannya menatapnya dengan aneh. Pasalnya saat ini direktur keuangan sedang mempresentasikan laporan keuangan bulan lalu.
Tuan semakin aneh saja sejak nyonya hamil, batin Gery bergidik ngeri.
__ADS_1
...π π π π π...
To be continue...............