Heartless 2

Heartless 2
Chapter 67


__ADS_3

🍁Jangan pernah merasa sedih karena status sosialmu tapi bersedihlah karena kamu miskin hati🍁


.


.


.


.


Brak..............


Light menatap adik kembarnya yang masuk ke ruangannya tidak sopan. Tatapan tajamnya membuat Lina menelan saliva dengan susah karena ia lupa jika kakaknya itu orang yang tidak suka dengan keributan.


"Sekali lagi kamu masuk seperti tadi jangan salahkan kakak menghukummu" ancam Light dengan suara dingin.


"Maa...f ka" cicit Lina dengan pelan.


"Heeemm! Kenapa kamu kesini bukannya Ray sudah menyampaikan perintah kakak?" tanya Light sambil bersedekap tangan di dada.


"Kakak biar wanita sialan itu jadi bagianku. Aku masih belum puas bermain dengannya" pinta Lian dengan memelas.


"Tidak! Hari ini juga lenyapkan dia sebelum sesuatu yang buruk terjadi!" tegas Light.


"Memangnya apa yang akan terjadi ka?" tanya Lina dengan penasaran


"Lakukan saja perintah kakak jangan membantah Lina" hardik Light dengan suara tinggi.


"Ckk!!" Lina berdecak kesal dan berlalu pergi melakukan perintah sang kakak.


Jika Light berbicara seperti itu berarti perintahnya mutlak tidak ingin dibantah atau dia yang akan turun tangan langsung.


"Kontrol emosinya son" ucap Dev yang baru saja datang.


"Heemmm"


Dev duduk di sofa sambil menuangkan tequila ke dalam gelas lalu meminumnya perlahan-lahan. Melihat daddy angkatnya yang sangat menikmati minumannya Light pun bergabung bersamanya.


"Semua usaha kita gagal karena King sialan itu" ucap Dev sambil mendengus kesal.


"Dia bukan lawan yang mudah dad" ejek Light sambil terkekeh.


"Ya kamu benar son. Bahkan dia lebih licik dari Queen sialan itu" ketus Dev mengingat nama Valeria dan apa yang dilakukannya.


"Sepertinya kita harus mencari kambing hitam untuk rencana kita selanjutnya daddy" usul Dev sambil memainkan mainan kepala harimau di tangannya.


"Heemm! Jika ingin menang maka kita harus lebih licik dari dia. Dan yang lebih penting kita harus mempersiapkan rencana kita sempurna baru kita bisa menyerang mereka" papar Dev menjelaskan.


"Aku ada ide yang brilian dad, tapi cukup beresiko" ucap Light dengan tatapan penuh arti.


"Katakan"


Light membisikkan idenya kepada Dev membuat Dev mengerutkan keningnya mendengar ide tersebut.


"Tidak! Itu ide tergila yang pernah daddy dengar Light dan sampai kapan pun daddy tidak menyetujuinya!" tegas Dev menolak ide Light barusan.


"Terserah daddy. Itu hanya ide yang aku pikirkan dad meski sangat beresiko" dengan santai Light menyampaikan hal tersebut.


"Sampai kapan pun daddy tidak akan mengorbankan kalian berdua. Cukup daddy kehilangan saudara daddy dulu tapi tidak untuk sekarang" ancam Dev memperingati Light untuk tidak menjalankan rencananya.


"Oke daddy lupakan apa yang barusan aku katakan"


Dev mengangguk kepalanya menjawab ucapan putra angkatnya itu. Ia tak habis pikir dengan rencana Light yang menyuruh adik kembarnya sendiri untuk menjebak suami dari Natasha adik kesayangan Mikhail.


Itu ide gila yang pernah daddy dengar son dan jangan harap daddy menyetujuinya, batin Dev.


"Bagaimana kalau kita gunakan kelemahan Vincent daddy?" tanya Light.


"Kelemahannya?" tanya Dev dengan penasaran.


"Ana" jawab Light sambil tersenyum menyeringai.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


Dev mengangguk kepalanya mendengar ucapan Light mengenai rencana untuk mengacaukan keluarga Wesly terlebih dulu mulai dari anak-anak mereka.


Mereka ingin perhatian Xander dan Mikhail terpecah belah karena masalah kedua orang yang mereka sayangi barulah disitu mereka masuk untuk membalas mereka satu persatu.


"Daddy ikut.rencanamu son tapi ingat berhati-hati" ucap Dev memperingatinya.


"Pasti daddy. Untuk sementara daddy jangan melakukan apapun karena aku tidak mau kejadian waktu itu terulang kembali" ucap Light sambil menatap tajam Dev.


"Daddy tidak akan ikut campur lagi son" janji Dev.


"Heemmmm"


Dev segera pergi meninggalkan Light yang langsung menghubungi Ray untuk datang. Mereka akan membahas rencana mereka selanjutnya untuk mengalihkan perhatian Mikhail dan Xander sejenak.


~ Mansion Ares ~


Saat ini keduanya sedang makan siang bersama lebih tepatnya Ares yang makan siang sedangkan Zelena hanya mengaduk-aduk makanannya saja.


"Kenapa mi amor?" tanya Ares sambil menghentikan makannya.


"Ngak kenapa-napa" jawab Zelena dengan ketus.

__ADS_1


"Yakin?" tanya Ares dengan tatapan tajam.


"Heeemm"


Ares diam dan kembali melanjutkan makannya membuat Zelena terus memaki dan mengumpatnya dalam hati karena Ares tidak peka sama sekali.


Ckk!! Hanya segitu saja dasar om tua ngak peka, batin Zelena sambil mengerucut bibirnya.


Ares mengulum senyum geli melihat tingkah sang kekasih, ia sebenarnya tahu Zelena sedang merajuk karena ia membatalkan acara jalan-jalan ke pantai. Berhubung hari ini ia sangat sibuk mempersiapkan acara sang kakek besok.


"Aku sudah selesai" ucap Zelena sambil beranjak dari kursinya.


"Habiskan makananmu mi amor" tegas Ares.


"Aku sudah kenyang" ucap Zelena dengan suara dingin.


"Zelena" desis Ares dengan tatapan tajam.


Zelena tak memperdulikannya dan berlalu pergi ke lantai 2 menuju kamarnya. Ares menutup mata menetralkan emosinya dalam hati apa lagi melihat makanan Zelena yang tidak tersentuh.


"Undur meeting 1 jam lagi" titah Ares sambil beranjak dari kursi makan.


"Baik tuan" ucap Gery dengan sopan.


Langkah kakinya yang panjang membuat Ares dengan cepat menyusul Zelena yang berada di tangga. Melihat Ares sudah mendekat dengan cepat Zelena mempercepat langkahnya tapi ia kalah cepat dengan Ares.


"Aaarrghhh! Turunkan aku" teriak Zelena tiba-tiba tubuhnya digendong seperti karung beras.


"DIAM!" bentak Ares menggelegar.


Bugh...........bugh........bugh..........bugh.........


"Turunin gue sialan" maki Zelena sambil memukul punggung Ares.


Ares merasa pukulan Zelena seperti di gigit semut tidak berasa apa-apa. Ares membawa Zelena masuk ke kamarnya dan menutup pintu dengan kaki.


Brugh.................


"Aw! Loe keterlaluan Ares" teriak Zelena merasa punggungnya sakit karena di banting Ares dengan kasar di atas tempat tidur.


"Udah berapa kali aku peringatkan kamu mi amor. Jangan pernah mengucapkan kata loe gue lagi" ucap Ares dengan tatapan tajam seakan ingin membunuhnya detik itu juga.


"Kenapa aku dibawa kesini?" tanya Zelena dengan bingung melihat kamar yang dominasi warna hitam milik Ares.


"Mulai detik ini kita tidur bareng mi amor"


"Apa! Aku ngak mau aku mau tidur sendiri" pekik Zelena menolak dengan cepat.


"Aku ngak nerima penolakan mi amor" tegas Ares sambil melepas dasi dan jasnya.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Zelena dengan mata melotot.


"Jangan berani mendekat querido" teriak Zelena dengan wajah memucat.


Cup...................


Ares melahap bibir pink Zelena yang sedari tadi menggodanya untuk menikmati ciuman manis itu lagi. Kali ini ciuman Ares lebih kasar dari semalam membuat Zelena kewalahan mengimbanginya.


"Bernapas baby" bisik Ares di sela ciuman mereka.


Eeemmppp..........emmmpppp........


Tak memberi waktu Zelena untuk bernapas lagi Ares kembali mencium bibir Zelena bergantian dengan menuntut.


Hosh..........hosh...........hosh...............


Zelena meraup udara sebanyak mungkin saat ciuman keduanya terlepas. Ares mengelap salivanya yang tertinggal di bibir Zelena dengan lembut.


"Kamu mau bikin aku m.....ati querido" ketus Zelena dengan kesal.


"Jangan pernah mengucapkan kata loe gue lagi meski kamu sedang marah mi amor karena aku ngak suka" ucap Ares dengan suara tegas.


"Iya querido" ucap Zelena mengalah.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


"Aku tidak menepati janjiku hari ini karena memang aku sangat sibuk hari ini mempersiapkan pesta besok mi amor" papar Ares menjelaskan.


"Acara apa?" tanya Zelena dengan penasaran.


"Syukuran kesembuhan kakek sekaligus peresmian rumah sakit terbaru keluargaku besok"


"Oh"


"Besok kamu temani aku ke sana ya mi amor"


"Tapi aku ngak di undang mi amor" ucap Zelena dengan polos.


Ares terkekeh dan kembali melabuhkan bibirnya di bibir Zelena. Zelena hanya pasrah saja mendapat ciuman dari Ares.


"Kamu itu pendamping aku dan sekaligus tamu kehormatan aku jadi tidak butuh undangan mi amor"


"Oh! Lalu aku pakai baju apa ke sana?" tanya Zelena lagi.


"Nanti aku siapkan"

__ADS_1


Zelena memberontak dalam pelukan Ares merasa sesak dan tak sengaja kakinya mengenai area privasi Ares yang sedari tadi ia tahan karena berdekatan dengan kekasihnya.


****, maki Ares dalam hati.


"Mi amor berhenti bergerak kamu membangunkannya" ucap Ares sambil menahan hasratnya yang terbangun.


"Siapa yang bangun querido? Apa ada orang lain disini selain kita?" tanya Zelena dengan bingung.


"Heemmm! Adik kecilku" bisik Ares.


"Adik?" mata Zelena memicing mencari keberadaan adik yang dimaksud Ares barusan.


"Mi amor" desis Ares menahan hasratnya karena Zelena terus berontak dalam pelukannya.


"Ini adik kecilku mi amor" ucap Ares dengan tatapan penuh gairah sambil menuntun tangan Zelena ke bawahnya.


Deg..............


Jantung Zelena berdetak dengan cepat apa lagi matanya hampir keluar dari tempatnya saat mengetahui adik yang dimaksud kekasihnya itu.


"MESUM" teriak Zelena menggelegar di dalam kamar.


Area terkekeh dan melepas pelukannya sehingga Zelena terlepas tapi sialnya saat melihat Zelena yang terlentang di atas ranjang bajunya sedikit melorot ke bawah memperlihatkan leher jenjang yang putih bersih.


Seketika pertahanan Ares runtuh dan langsung menyambar bibir Zelena dengan brutal. Tak hanya bibirnya saja yang menjadi sasaran Ares tapi juga lehernya yang digigit Ares hingga berbekas.


Tok...........tok........tok........tok.........


Beruntung pintu kamarnya di ketuk jadi keduanya sadar sebelum terbawa suasana. Ares menutup mata mengontrol miliknya yang sudah sangat sesak dibawah sana.


"Querido" panggil Zelena dengan napas satu-satu.


"Minta pak Tio membantumu membawa pakaianmu ke sini mi amor"


"Tapi"


"Aku tidak akan melakukannya sebelum kita menikah mi amor" potong Ares yang tahu isi pikiran sang kekasih.


Blush................


Pipi Zelena merona mendengar ucapan Ares barusan. Ares sendiri mengelus pipi kekasihnya sambil mengecupnya sebelum merapikan penampilannya.


"Aku pergi ke kantor mi amor jika butuh sesuatu ingat keluar bawa pengawal" ucap Ares sebelum pergi.


"Oke querido"


Cup...............


Ares mengecup bibir dan kening Zelena sebelum ia beranjak pergi menemui Gery yang tadi mengetuk pintu kamarnya.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


~ California, Los Angeles ~


Brugh................


Ana terjatuh di tanah saat seseorang dengan sengaja menabraknya. Saat akan menghardik orang yang sudah membuatnya jatuh seketika ia mengurungkan niatnya melihat sosok yang sangat tampan di depannya.


"Maafkan saya miss tadi saya sedang buru-buru sehingga tidak melihat miss" ucap pemuda tampan itu sambil tersenyum manis.


"Oh tidak apa-apa" ucap Ana dengan suara dibuat selembut mungkin.


"Apa ada yang terluka miss?" tanya pemuda itu dengan cemas.


"Tidak......aww" ringis Ana saat akan berdiri dan hampir saja terjatuh kembali.


Tapi beruntung dengan cepat pemuda itu menangkap pinggangnya sehingga ia tidak terjatuh kembali.


"Biar saya bertanggung jawab miss"


"Tidak perlu tuan"


"Marco! Itu namaku" potong pemuda tadi yang bernama Marco.


"Baiklah Marco. Panggil aku Ana jangan miss" ucap Ana dengan malu-malu.


"Nama yang bagus tapi aku lebih suka manggil kamu baby. Apa boleh?" tanya Marco sambil tersenyum menggoda Ana.


Blush............


Pipi Ana merona mendengar ucapan Marco dan hanya mengangguk kepalanya sebagai jawaban. Melihat hal itu Marco tersenyum manis sambil menatap Ana dengan intens membuat Ana semakin grogi.


Marco lalu mengendong Ana membawa ke mobilnya yang terparkir tak jauh dari sana. Mata Ana semakin melotot melihat mobil yang dikendarai Marco adalah mobil sport mewah.


Mimpi apa aku semalam ketemu cowok setampan dan sekaya ini, batin Ana dengan bahagia.


"Di mana rumahmu baby?" tanya Marco membuyarkan lamunan Ana.


"Aku tinggal di apartemen Hills" jawab Ana dengan cepat.


"Oke baby"


Marco melajukan mobilnya menuju apartemen yang dibilang Ana barusan. Tanpa Ana sadari ternyata Marco tersenyum smirk meliriknya yang sangat mudah di dekati.


Gadis bodoh, batin Marco.

__ADS_1


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


To be continue...............


__ADS_2