Heartless 2

Heartless 2
Chapter 68


__ADS_3

🍁Mencintaimu dalam diam adalah caraku untuk membuktikan seberapa besar cintaku kepadamu meski aku tahu rasanya sangat sakit🍁


.


.


.


.


Sampainya di apartemen Hills Marco memarkirkan mobilnya di area parkiran depan apartemen. Marco melirik apartemen di depannya dari atas ke bawah dan yakin jika apartemen ini termasuk apartemen kelas atas.


"Terima kasih ya Marco udah antar aku sampai sini" ucap Ana dengan malu-malu.


"Your welcome baby. Lagian ini salah aku juga kok jadi sudah seharusnya aku bertanggung jawab" ucap Marco sambil tersenyum manis.


"Kalau gitu aku turun ya. Sekali lagi terima kasih Marco"


Baru saja Ana membuka pintu mobil tangannya langsung di tahan Marco membuat ia berbalik menatap Marco meminta penjelasan.


"Apa kamu yakin bisa berjalan sendiri ke dalam?" tanya Marco dengan alis sebelah terangkat.


"Itu"


"Aku antar kamu sampai depan kamar apartemenmu" potong Marco bergegas keluar tak menunggu persetujuan Ana.


Ana hanya bengong tak bisa berkata apa-apa melihat Marco yang sudah keluar dari kursi kemudi dan berjalan pintunya.


Grep....................


"Aaarrrgghh! Apa yang kamu lakukan?" teriak Ana dengan kaget tiba-tiba digendong oleh Marco.


"Antar kamu ke apartemenmu baby" jawab Marco dengan santai.


"Turunkan aku! Aku bisa jalan sendiri Marco"


"Sudah baby! Kamu diam saja di gendongan aku jangan membantah" tegas Marco menatap Ana dengan tajam tak ingin dibantah.


Nyali Ana menciut melihat tatapan tajam Marco tapi tak setajam tatapan Vincent.


Ah..........


Mengingat Vincent ia lupa jika sedari pagi tadi Vincent tak menjawab panggilannya apa lagi ia sangat marah ketika tahu Vincent menikah dengan gadis yang dibencinya itu.


"Baby" panggil Marco dengan suara agak keras membuyarkan lamunan Ana.


"A...pa? Kamu panggil aku?" tanya Ana dengan kaget.


"Di lantai berapa apartemenmu baby?" tanya balik Marco.


"Lantai 10 unit 4" jawab Ana dengan cepat.


Keduanya lalu masuk ke dalam lift dan menuju lantai 10. Saat pintu lift tertutup Henry yang bersama sahabatnya mengernyitkan keningnya melihat kakak sepupunya Ana.


"Anabele" lirih Henry dengan bingung apa lagi melihat Ana yang digendong pria yang tak ia kenal.


"Kenapa kamu dude?" tanya Diego sahabat Henry.


"Itu tadi aku lihat kakak sepupu aku" jawab Henry


"Yang Anabele itu kan?" tanya balik Diego dengan raut wajah tak enak.


"Heeemmm"


"Kamar dia kan sebelahan sama kamarku dan kamu tahu aku kesal banget dengan sifat kakak sepupumu itu yang seperti Anabele" ucap Diego dengan wajah ditekuk kesal.


"Emang kenapa? Ada yang kamu sembunyikan dariku?" tanya Henry dengan selidik.


"Kemarin aku tidak sengaja menabraknya saat keluar dari apartemen dan kamu tahu kakakmu seperti nenek sihir yang kehilangan sapunya. Dia memaki dan membentak aku seperti aku buat kesalahan fatal" papar Diego dengan kesal.


Hahahaha................


Tawa Henry seketika pecah membayangkan wajah sahabatnya kemarin yang dimaki oleh Anabele. Apa lagi kalau Diego adalah anak yang sangat dimanja kedua orang tuanya.


"Berengsek kamu Henry. Teman laknat kamu" ketus Diego bergegas masuk ke dalam lift dengan wajah kesal.


Henry mengikuti sahabatnya sebelum lift tertutup. Sedangkan di dalam apartemen Ana setelah menaruh Ana di sofa Marco langsung bertanya dimana kotak P3K dan es batu.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...

__ADS_1


"Sini kakimu biar aku obati" ucap Marco dengan suara lembut.


"Tidak usah Marco. Biar aku sendiri saja" tolak Ana.


"Aku saja dan aku tidak menerima penolakan"


"Kamu itu pemaksa ya" kesal Ana.


"Hanya denganmu saja baby" goda Marco sambil mengedipkan sebelah matanya.


Blush............


Pipi Ana merona mendapat gombalan dari Marco, ia seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta saja. Marco mengompres kaki Ana yang terkillir dengan es batu lalu mengoles salep khusus terkilir.


Selesai mengobati kaki Ana ia lalu menyimpan kotak P3K kembali di tempatnya dan saat kembali ke ruang tamu matanya menangkap pigura di atas lemari hias.


"Ini tuan musa kedua Wesly kan?" tanya Marco menunjuk foto tersebut.


Ana mengangguk kepalanya dengan wajah cemberut melihat foto yang ditunjuk Marco. Seketika rasa kesalnya kembali membuatnya dongkol karena mengingat Vincent dan Natasha.


"Kamu temanan sama dia?" tanya Marco lagi.


"Iya aku sahabatnya dan satu-satunya wanita yang dekat dengan dia sedari dulu"


"Lalu kenapa dia menikah dengan putri dari keluarga Parker?" tanya Marco lagi.


"Bisa tidak jangan bahas mereka berdua" ketus Ana.


"Aku bisa jadi pendengar setia kalau kamu mau" tawar Marco.


Ana memikirkan tawaran Marco dan tak mau berpikir lama ia akhirnya menceritakan semuanya kepada Marco.


Selang beberapa jam akhirnya Marco pamit pulang tak lupa bertukar nomor ponsel agar mereka tetap berkomunikasi.


"Bagaimana" tanya orang di seberang yang menelpon Marco saat ia berada di lift.


^^^"Beres tuan. Aku sudah selangkah dekat dengannya" jawab Marco sambil tersenyum smirk.^^^


"Heemmm! Lakukan dengan bersih jangan sampai ada yang curiga"


^^^"Beres tuan"^^^


~ Mansion Utama Wesly ~


Vincent dan Natasha keluar dari dalam mobil sambil bergandengan tangan masuk ke dalam mansion. Sampainya di ruang keluarga mereka sudah ditunggu oleh keluarga besar Vincent.


"Bagaimana tidur kalian semalam sayang?" tanya Chloe memeluk Natasha.


"Nyenyak mom" jawab Natasha sambil tersenyum manis.


"Son bawa istrimu ke kamar biar kalian istirahat disana" ucap Xavier dengan suara tegas.


"Oke dad"


Keduanya lalu naik ke lantai 2 menuju kamar Vincent dengan beberapa pelayan yang membawa koper pakaian milik Natasha.


Sampainya di kamar Vincent langsung melepas tangannya dengan kasar. Natasha hanya diam saja karena sebelum sampai di mansion Vincent sudah memperingatinya di hotel.


Flashback On#


"Ingat ya gadis ular kita memang sudah menikah tapi kamu jangan pernah berharap jadi istriku yang sesungguhnya" ucap Vincent dengan suara dingin.


Deg.............


Hati Natasha seperti di hantam batu mendengar ucapan Vincent. Meski hatinya sakit tapi ia tetap tersenyum menanggapi ucapan Vincent seakan ia baik-baik saja.


"Kamu tenang saja! Aku tahu kok posisi aku" ucap Natasha dengan santai.


"Baguslah!" ketus Vincent.


"Satu lagi saat di depan orang tua kita, kita harus bersandiwara kalau kita ini pasangan bahagia dan jangan pernah cerita hal ini ke siapa pun" tegas Vincent.


"Oke! Tapi aku juga punya satu permintaan"


"Katakan"


"Selama menikah terserah kamu mau buat apa silahkan tapi jangan pernah berdekatan dengan perempuan mana pun dan jika kamu punya pacar segera putuskan dia detik ini juga" tegas Natasha dengan tatapan tajam.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...

__ADS_1


Vincent tersenyum smirk melihat mendengar ucapan sang istri. Ia memang tadi memikirkan hal itu tapi siapa sangka Natasha lebih dulu mengatakannya.


"Aku tidak punya pacar jadi kamu tenang saja. Dan juga berlaku untukmu" ucap Vincent dengan tatapan tajam.


"Laki-laki yang dekat denganku hanya sepupuku saja dan tidak ada yang lain. Hanya kamu orang luar yang berani mendekatiku selama ini" ucap Natasha dengan suara dingin.


Ada perasaan hangat menjalar di hatinya mendengar ucapan Natasha barusan tapi segera ia tepis.


"Kita akan tidur di satu kamar sampai aku wisuda baru kita pindah dari mansion! Jangan pernah berpikir untuk satu ranjang denganku karena aku jijik satu tempat tidur dengan perempuan hina seperti kamu" hina Vincent dengan tatapan sinis.


"Heemmmm"


Vincent berlalu masuk ke dalam kamar mandi tak perduli sudah mengatakan kata-kata yang sudah menyakiti hati istrinya.


Tes...............


Air mata Natasha jatuh setelah melihat kepergian suaminya. Hatinya seperti di iris-iris mendengar ucapan suaminya barusan.


Flashback off#


Natasha tersenyum getir mengingat kejadian beberapa jam yang lalu di hotel. Tak lama pelayan datang membawa koper miliknya.


Natasha menerimanya dan langsung merapikan di walk in closet sendiri tanpa dibantu oleh pelayan karena menurutnya ini privasi mereka jadi dia harus yang turun tangan sendiri.


Saat keluar dari walk in closet Valeria mendapati suaminya sudah tidur di atas ranjang. Melihat hal itu Valeria lalu menghampiri suaminya dan membuka sepatu Vincent tak lupa jaket yang ia pakai.


Selesai Ia bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat pintu kamar mandi tertutup mata biru Vincent terbuka ada rasa aneh saat melihat apa yang istrinya lakukan.


Ingat Vincent dia itu gadis ular yang berbisa, batin Vincent menyakinkan dirinya.


Sedangkan di dalam ruang kerja Xavier mereka sedang membahas apa yang semalam Mikhail katakan.


"Jadi orang itu musuh lama aunty Valeria uncle?" tanya Xander dengan suara dingin.


"Ya dan hanya raja setan itu yang tahu siapa musuh kali ini" ucap Thomas.


"Lalu kenapa mereka menyerang kita semua uncle?" tanya David dengan bingung.


"Mereka ingin membalas istriku lewat kehancuran keluarga terdekatnya" jawab Thomas.


"Jadi kita harus bagaimana bos?" tanya Kevin.


"David pindahkan perawatan daddy kamu ke mansion biar lebih aman" titah Xavier.


"Baik uncle"


"Son kamu tahu apa yang harus kamu lakukan"


"Heemmmm" deham Xander sambil mengangguk kepalanya.


"Urusan keluargaku sudah di urus oleh Mikhail jadi kamu perketat penjagaan keluargamu dan lainnya" ucap Thomas sambil menatap Xander.


"Oke uncle. Dimana King uncle?" tanya Xander dengan tatapan dingin.


"Semalam dia sudah pulang kembali ke Dubai" jawab Thomas.


"Uncle apa tidak ada sedikit saja informasi mengenai musuh kita kali ini" ucap Xander.


"Raja setan itu tidak memberitahu uncle bahkan dengan mommynya sendiri" Thomas membuang napas dengan kesal memikirkan sang anak.


Ting..............


Puteraku Raja Setan


"Jangan bergosip tentangku daddy"


"See" (lihat) ucap Thomas menunjukkan pesan yang baru saja di kirim oleh putranya.


"Anakmu lebih mengerikan dari istrimu dude" ucap Kevin sambil menggelengkan kepalanya.


"Dia lebih dari istriku"


Meski dia diam saja tapi otak Xander terus berpikir siapa sebenarnya musuh mereka dan apa yang mereka rencanakan saat ini.


"Fokus son jangan sampai pikiranmu terpecah" ucap Xavier menepuk pundak putranya dengan pelan.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


To be continue.................

__ADS_1


__ADS_2