Heartless 2

Heartless 2
Chapter 118


__ADS_3

🍁Air terus mengalir tanpa berhenti mencari jalan kemana ia akan berhenti dan kapan ia akan tiba di tujuannya, begitu pula dengan hidup seseorang yang terus melangkah mencari tempat tujuannya untuk berhenti melangkah🍁


.


.


.


.


Semuanya didalam sana kaget mendengar ucapan David yang secara tak langsung mengakui jika ia adalah kekasih dari Lili. Sedangkan Lili wajahnya sudah seperti kepiting rebus merasa sangat malu.


Ishh! Ka David kenapa sampai ngomong hubungan kita segala sih. Aku kan malu mana belum beritahu daddy sama mommy lagi, batin Lili dengan malu.


“Liliana Alesha Walts” panggil Kevin dengan suara tegas.


Deg………..


Jantung Lili berdetak dengan cepat mendengar suara daddynya yang terdengar sangat tegas berbeda dari biasanya. Ia melirik mommynya meminta bantuan tapi mommynya menggelengkan kepala tak bisa membantu.


“Dad…dy” ucap Lili dengan gugup.


“Jangan marahi Lili uncle. Ini semua salahku karena tidak meminta ijin dahulu sama uncle dan aunty” ucap David dengan suara tegas tak ingin kekasihnya di marahi.


“Ya uncle tahu dan kita akan membahasnya sebentar karena saat ini uncle berbicara dengan putri uncle bukan kamu” tegas Kevin dengan tatapan tajam menatap David.


“Oke uncle” ucap David dengan suara dingin.


“Maaf daddy” ucap Lili memberanikan diri menatap daddynya.


“Daddy tunggu di ruangan kamu setelah ini” titah Kevin.


“Iya daddy”


“Maaf menyela pembicaraan kalian, tapi aku tidak tertarik dengan pembicaraan keluarga kalian jadi mohon dibahas lain waktu saja” ucap Marcel membuat semuanya menatapnya tak percaya.


“Apa ada yang tidak suka?” tanya Marcel dengan santai saat semuanya menatapnya dengan heran.


“Kamu memang dokter gila Marcel” dengus Thomas dengan wajah tak suka.


“Ah! Tapi dokter gila ini yang akan menolong menantu tuan besar” balas Marcel sambil tersenyum menyeringai.


“Ckk!!” decak Thomas dengan kesal sambil menatap Marcel dengan sinis.


“Jangan pedulikan dia honey. Biar dia bekerja karena aku yakin putra kita yang mengirimnya” bisik Valeria di telinga suaminya.


“Hemmmm”


Cup……….


“Oh come on uncle! Ada anak dibawah umur disini” (ayolah paman) hardik Victor dengan kesal saat Thomas mengecup bibir istrinya.


“Ya anak di bawah umur yang mengoleksi video dewasa” ketus Thomas sambil menatap Henry.


Mata Henry melotot mendengar ucapan uncle Thomas yang membuka rahasianya. Ia melirik daddy dan mommynya yang menatapnya dengan tajam seakan ingin menelannya hidup-hidup.


Mati aku, batin Henry sambil menelan saliva dengan susah.


“Kalian berdua ikut daddy sekarang!” bentak Kevin sambil berlalu pergi diikuti Henry dan Lili.


Saat akan sampai didepan pintu langkah mereka terhenti karena Marcel menghalang mereka tak membiarkan mereka lewat.


“Minggir!” bentak Kevin dengan suara dingin.


“Silahkan uncle pergi tapi suruh putri uncle untuk menyiapkan ruang operasi sekarang” ucap Marcel dengan suara tak kalah dingin.


“Ckk!! Bukannya kamu tidak butuh persetujuan aku dan putriku” ketus Kevin dengan kesal.


“Hehehehe! Uncle pintar juga ya” ucap Marcel sambil terkekeh.


“Marcel Darwin” hardik Rehan dengan suara tinggi.


“Jangan marah-marah ayah. Ingat darah tinggi ayah” balas Marcel sambil tersenyum lebar.


“Sayang kamu urus anak kamu dulu sebelum aku menghajarnya” adu Rehan kepada istrinya.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


Dokter Lauren menatap putranya dengan sendu untuk tidak membuat ayahnya marah, dan hanya dibalas dengan senyuman manis oleh Marcel sambil mengangguk kepalanya mengiyakan maksud tatapan bundanya itu.


“Ka Marcel” panggil Natasha dengan mata berkaca-kaca.


“Suamimu akan selamat. Jangan bersedih lagi adik kecil” ucap Marcel sambil mengelus kepala Natasha dengan lembut.


“Tolong selamatkan suami aku kak” pinta Natasha.


“Pasti adik kecil. Jangan lupa berterima kasih ke King karena ini semua perintahnya” ucap Marcel sambil berlalu pergi.

__ADS_1


“Pasti ka” balas Natasha sambil tersenyum manis.


1 Jam kemudian operasi Vincent dimulai membuat semuanya menunggu dengan cemas didepan ruang operasi menunggu jalannya operasi Vincent didalam sana yang dilakukan oleh Marcel sendiri.


~ Jakarta, Indonesia ~


Clarisa menatap suasana jalanan kota Jakarta dari kaca mobil saat akan berangkat ke kampus untuk memasukkan berkas-berkasnya untuk wisuda karena 2 minggu lagi ia akan wisuda.


Kebetulan ia mengambil kuliah tambahan waktu libur semester sehingga ia bisa menyelesaikan kuliahnya dalam kurung waktu 3 tahun saja untuk mendapat gelar Sarjana desainer.


“Pak nanti berhenti di tempat biasa ya” pinta Clarisa ke sopir Mikhail.


“Baik nona”


Tak berselang lama Clarisa tiba di tempat biasa ia turun di belakang kampus dan sedikit jauh dari kampus, karena ia tidak ingin ada mahasiswa atau teman sekelasnya yang melihat dia turun dari mobil mewah.


Ia tidak ingin menjadi bahan gosip seperti waktu itu lagi, apa lagi mobil yang disediakan oleh kekasihnya itu adalah mobil jenis porsche yang hanya ada 6 saja di dunia. Salah satunya yang ia pakai barusan.


Phew……….


Clarisa membuang napasnya dengan kasar melihat kepergian mobil yang ia naik tadi dan segera berlalu pergi ke kampus tanpa tahu ada pengawal gelap Mikhail yang sedang memantaunya.


Semangat Clarisa tinggal 2 minggu lagi kamu akan menjadi alumni dari kampus ini, batin Clarisa menyemangati dirinya sendiri.


Selesai mengurus semua berkas di kampus Clarisa segera berangkat menuju halte untuk naik bis menuju ke perusahaan King Diamond.


~ King Diamond ~


Dor…………dor………….


“Congratulation” (selamat) teriak semua rekan kerja bagian tim desain serentak sambil menembak convety mengagetkan Clarisa yang baru saja datang.


“Ini” ucap Clarisa dengan bingung melihat begitu banyak convety dan bunga disana.


“Selamat buat keberhasilan kamu di California Clarisa. Saya tidak menduga karya kamu Black Heart akan mendapat juara 1 di festival desain jewelry di California” ucap pak Darius sambil memberikan penghargaan yang baru-baru ia ambil saat acara pesta waktu itu.


“Jadi saya pemenangnya pak?” tanya Clarisa dengan tak percaya.


“Iya Clarisa. Sekali lagi selamat ya atas kemenangan kamu” ucap pak Darius sambil mengulurkan tangannya.


“Terima kasih banyak pak” ucap Clarisa sambil menyambut tangan pak Darwin.


“Selamat ka Risa. Aku itu udah yakin banget


kalau kakak yang akan menang saat memasukkan desain kakak waktu itu” ucap Riana sambil memeluk Clarisa.


“Pasti dong ka! Karena aku dapat juara 2 ka” pekik Riana dengan histeris.


“Apa! Wah selamat ya Rinso” pekik Clarisa dengan kaget.


“Iya terima kasih ka”


Semua rekan tim kerja Clarisa lalu mengucapkan selamat kepada Clarisa dan Riana karena keberhasilan mereka disana, akhirnya perusahaan mereka disini menjadi terkenal hingga mancanegara.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


Pacarku


“Khail aku berhasil. Terima kasih buat semuanya pacarku”


Clarisa tersenyum geli melihat pesan yang ia kirim ke Mikhail karena baru kali ini ia memanggil Mikhail dengan sebutan pacarku.


Sepertinya aku harus mencari panggilan khusus untuk Khail, batin Clarisa sambil tersenyum malu-malu.


Kelakuan Clarisa membuat semua rekan kerjanya menatapnya dengan heran karena baru kali ini Clarisa bertingkah seperti itu didepan mereka.


“Apa kepala Clarisa terbentur sesuatu sampai ia bertingkah seperti itu?” tanya Lala rekan kerja Clarisa.


“Mungkin dia sangat bahagia dengan keberhasilannya sehingga seperti itu” jawab Reno.


“Mungkin juga” balas Lala.


“Kalian kenapa kayak lihat hantu aja?” tanya Riana yang baru saja dari ruangan pak Darwin.


“Tuh lihat Clarisa. Dia jadi aneh deh” tunjuk Lala.


“Aneh?” tanya Riana dengan bingung.


Seperti temannya yang lain Riana juga kaget melihat Clarisa yang bertingkah tak seperti biasa. Ia biasanya sangat tertutup dan jarang tersenyum tapi hari ini ia tersenyum terus sedari tadi.


“Ka Clarisa jadi aneh ya” ucap Riana.


“Heemmm” deham yang lainnya dengan serentak menyetujui ucapan Riana.


“Ah! Aku lupa beritahu informasi dari bagian resepsionis barusan” ucap Riana sambil menepuk keningnya.


Rekan kerjanya hanya menggelengkan kepala mereka melihat kelakuan Riana yang selalu lupa, sedangkan orang yang sedang mereka lihat sudah beranjak menuju meja kerja Clarisa.

__ADS_1


“Ka Clarisa” panggil Riana mengagetkan Clarisa.


“Ah! Ada apa Rinso?” tanya Clarisa sambil membenarkan kaca matanya yang hampir jatuh karena kaget.


“Maaf ya ka aku bikin kaget ya”


“Tidak Rinso. Ada apa kamu panggil aku?” tanya Clarisa lagi.


“Itu ada yang nyari kakak di resepsionis” jawab Riana.


“Siapa?”


“Aku tidak tahu ka. Tadi resepsionis yang menelpon memberitahu?


“Oh baiklah. Terima kasih buat informasinya ya” ucap Clarisa dengan suara lembut.


“Iya sama-sama ka”


Clarisa segera pergi menuju lantai 1 ingin melihat siapa yang mencarinya, karena setahunya tidak ada orang yang tahu dia bekerja disini selain Mikhail saja.


“Permisi ka” ucap Clarisa dengan sopan sambil menundukkan kepala di depan meja resepsionis.


“Iya ada yang bisa dibantu?” tanya resepsionis yang bernama Sari.


“Katanya tadi ada yang mencari aku ya ka?” tanya Clarisa dengan suara pelan.


“Oh nona Clarisa Eleanor” ucap Sari sambil membaca namanya di nametaq Clarisa.


“Iya ka”


“Orangnya menunggu di ruang tunggu nona Clarisa”


“Oh baik ka. Terima kasih ka”


“Sama-sama nona Clarisa”


Clarisa segera menuju ke ruang tunggu yang berada di bagian kanan perusahaan, sampai di sana ia melihat ada 4 orang laki-laki dan 3 perempuan yang sedang duduk membelakanginya jadi ia tidak bisa melihat wajah mereka.


“Permisi. Apa kalian yang mencari saya?” tanya Clarisa dengan suara lembut.


Mendengar suara perempuan dibelakang mereka seketika mereka semua berbalik melihat ke belakang ingin melihat wajah yang mereka cari sedari 2 hari yang lalu.


Deg…………..


Jantung Clarisa berdetak dengan cepat melihat wajah yang sangat ia kenali dan sangat ia benci di dunia ini. Tubuhnya gemetar dengan rasa pening di kepalanya yang muncul membuat ia berkeringat dingin.


“Mama” ucap dua pria muda dengan kaget melihat wajah Clarisa.


“Anak siluman” ucap Bastian Baker dengan kaget melihat wajah yang sangat ia kenali.


Kamu itu anak siluman sialan


Karena kamu semua bisnis aku harus hancur


Kamu memang pembawa sial anak siluman


Kamu harus mati hari ini anak siluman


Jangan tinggalkan Cla disini ayah………..hiks hiks hiks……….Cla takut ayah…….hiks hiks hiks


Ibu……..hiks hiks hiks


Jangan sakiti anakku. Dia bukan anak siluman dia anakku


Ingatan-ingatan itu berputar di kepala Clarisa membuat ia semakin gemetaran dengan tubuh pucat tak memperdulikan ucapan-ucapan dari orang didepannya.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


“TIDAK” teriak Clarisa menggema membuat langkah kedua pria muda terhenti saat akan mendekati Calrisa.


“Hiks hiks hiks……………Khail………..hiks hiks hiks” ucap Clarisa sambil menangis histeris menutup kedua telinganya dengan tangan.


“Kamu adik kami kan?” tanya salah satu pria yang bernama Jason Baker putra sulung Bastian Baker dengan kaget.


“Wajahnya mirip mama ka…….hiks hiks hiks” lirih salah satu pria muda yang bernama Delon Baker sambil menangis.


“Ya benar dia mirip mama dan pastinya dia adik kita yang katanya sudah meninggal” ucap Jason sambil menatap papanya dengan tatapan membunuh.


“Ti….dak! Jan…….gan bunuh Clarisa. Aku bukan anak siluman” lirih Clarisa yang masih didengar keduanya membuat mereka kaget bukan main.


Brugh…………


Clarisa jatuh pingsan tak kuat menahan rasa sakit di kepalanya, apa lagi traumanya tiba-tiba muncul membuat semua didalam sana kaget melihatnya sudah tak sadarkan diri di lantai.


Brak…………….


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...

__ADS_1


To be continue…………….


__ADS_2