
πKetika kita tidak dihargai disitulah kita belajar tentang kesabaranπ
.
.
.
.
Light hanya menatap adik kembarnya dengan wajah datar dan berbalik kembali menghadap ke kaca membuat kembarannya itu semakin meradang.
"Tenangkan dirimu Lina" ucap Light dengan suara lembut.
"Kenapa kakak lakuin hal itu ke Jovita" pekik Lina dengan lantang.
Prang..........
Lina tersentak saat kakaknya melempar gelas lewat sampingnya hingga hancur di tembok membuat tembok itu penuh dengan wine.
"Kakak" lirih Lina dengan gemetar.
"Sekali lagi kamu berteriak maka jangan salahkan kakak membunuh temanmu itu" ancam Light.
"Kenapa ka?" tanya Lina yang belum puas jika belum mendengar penjelasan kakaknya.
"Teman sialanmu itu berkhianat"
"Itu tidak mungkin" bantah Lina tak percaya.
"Ray" teriak Light bergema memanggil tangan kanannya.
"Iya tuan" ucap Ray dengan sopan masuk ke dalam.
"Berikan bukti ja**ng itu ke adik bodohku ini" ketus Light.
"Baik tuan" ucap Ray yang langsung dihadiahi polotan tajam Lina.
Tak mau berpikir panjang dengan cepat Ray memberikan iPad ke Lina mengenai informasi dari anak buah mereka di Filipina tentang sahabat nona mudanya.
"Ini tidak mungkin" ucap Lina dengan mata melotot setelah membaca informasi mengenai sahabatnya.
"Sudah aku bilang. Jangan pernah percaya siapa pun di dunia ini selain dirimu sendiri adikku" ucap Light sambil tersenyum smirk.
"Dimana pengkhianat itu ka?" tanya Lina dengan wajah merah padam menandakan ia sangat emosi.
"Dalam perjalanan ke sini" Light tersenyum smirk menatap kembarannya.
"Biar aku yang menangani pengkhianat itu ka" pinta Lina.
"Heemmm"
Lina segera keluar dari ruangan kakaknya sudah tak sabar menanti kedatangan sahabatnya yang berani mengkhianati ia dan kakaknya.
"Awasi adik bodohku Ray. Jangan sampai dia berbuat ulah" ucap Light dengan suara dingin.
"Baik tuan"
Ray bergegas keluar dari ruangan Light untuk menjalankan perintah tuannya itu. Saat hendak turun ke lantai satu ia berpapasan dengan tuan besarnya di tangga.
"Dimana Light?" tanya pria itu dengan suara dingin.
"Taun berada di ruang kerjanya tuan besar" ucap Ray dengan sopan.
Pria itu berlalu pergi tak membalas ucapan Ray lagi, melihat hal itu Ray seperti biasa tak perduli karena tahu sifat tuan besarnya itu yang sangat angkuh dan sombong.
Ceklek............
"Daddy" ucap Light yang akan memarahi siapa yang berani masuk ke ruangannya tak mengetok pintu tapi ia urungkan.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Dev orang yang di panggil daddy oleh Light.
"Seperti yang daddy lihat aku baik-baik saja dad" ucap Light dengan suara lembut.
"Heemmm"
"Kapan daddy kembali?" tanya Light.
"Tadi pagi dan daddy langsung kesini"
"Oh"
"Bagaimana perkembangan mereka?" tanya Dev dengan suara dingin dan tatapan matanya seketika berubah menjadi sangat tajam.
"Aku sudah mengirim hadiah pertama buat mereka dad. Biar mereka tak tenang untuk sementara waktu" ucap Light sambil tersenyum sinis.
"Bagus. Balaskan semua rasa sakit orang tuamu kepada keluarga mereka semua" jawab Dev memanasi anak angkatnya.
"Pasti daddy! Sampai mati aku akan membalas rasa sakit kedua orang tuaku dan uncle Dimitri" ucap Light dengan tatapan mata penuh kebencian dan dendam.
...π π π π π...
Dev tersenyum lebar mendengar ucapan anak angkatnya yang akan membalas kematian kedua orang tuanya dan juga bos besarnya.
Ya Dev adalah salah satu anak buah kepercayaan Dimitri Sergeyer musuh bebuyutan Valeria. Dan ia berjanji akan membalas kematian semua saudaranya dan bosnya kepada seluruh orang terdekat Valeria.
~ Mansion Valeria ~
Sesuai pesan Mikhail kemarin untuk menemuinya di mansion aunty Valeria pagi ini. Entah kenapa sedari tadi jantung Zelena berdetak dengan cepat merasakan gugup bercampur takut yang luar biasa.
"Semangat Zelena" gumam Zelena menyemangati dirinya sendiri.
Ceklek............
Zelena kaget bukan main saat tiba-tiba pintu mansion terbuka saat ia hendak mengetuk pintu. Tatapan dingin dan tajam dari Teivel membuat Zelena menelan salivanya dengan susah.
__ADS_1
"Nona Zelena anda sudah di tunggu King" ucap Teivel dengan suara dingin.
"Oh o....ke" gugup Zelena sampai terbata-bata.
Teivel berjalan lebih dulu menuntun Zelena untuk masuk ke dalam mansion. Saat masuk ke ruang keluarga bulu kuduk Zelena seketika berdiri merasa ngeri dan sangat dingin di sana.
"Silahkan duduk nona Zelena" ucap Teivel mempersilahkan ia duduk.
Tak lama matanya menatap sosok yang sedang duduk di sofa utama sambil berpangku kaki dan jangan lupa tatapan tajam dan dinginnya seakan membekukan seluruh tubuh Zelena.
"Silahkan nona" ucap bi Sance menaruh minuman dan beberapa cemilan di depan Zelena.
"Te.....rima kasih bi" ucap Zelena dengan gugup.
"Sama-sama nona"
Bi Sance segera berlalu pergi meninggalkan Zelena dan lainnya tak lupa menyuruh seluruh pelayan untuk keluar dari mansion dan menuju ke paviliun belakang.
"Maaf ka, tapi kenapa kakak menyuruhku kesini?" tanya Zelena memberanikan diri meski jantungnya berdetak dengan cepat merasa takut.
Mikhail tersenyum smirk melihat keringat dingin di sekujur tubuh Zelena. Ia lalu melirik Damon dan memberi isyarat untuk menunjukkan benda yang ia minta kemarin.
Damon lalu menaruh kotak perak segi empat di depan Zelena dan menatapnya seakan berkata untuk membuka kotak tersebut.
Perlahan-lahan Zelena mengambil kotak tersebut dan membukanya. Matanya seketika melotot melihat benda tersebut dan tak sampai 3 detik Zelena berteriak kesakitan sambil memegang kepalanya yang terasa sangat sakit.
"Aarghhh! Sakit" teriak Zelena menggema di dalam sana.
Mikhail, Damon, dan Teivel hanya berdiri menatap Zelena tak berniat untuk membantunya karena ingin melihat apa reaksi Zelena selanjutnya.
...Bunuh dia Bunuh dia Bunuh dia...
"Pergi! Pergi! Aaarrrghhh" teriak Zelena menjerit mendengar bisikan-bisikan itu.
Mata hazel Zelena perlahan-lahan berubah kosong menatap ke depan saat melihat mainan segitiga terbalik dengan ular yang sedang melilit tiang berwarna hitam.
"Bunuh dia! bunuh dia!" ucap Zelena dengan tatapan kosong ke arah depan.
Dengan sekali hentakan pundak Zelena langsung di pegang erat oleh Mikhail menahan pergerakan Zelena.
"Kendalikan diri kamu Zelena" teriak Mikhail bergema di dalam sana.
"Bunuh dia" ucap Zelena sambil mengerakkan tangannya seperti ingin menikam seseorang.
"Sadar Zelena!" bentak Mikhail dengan suara dingin dengan aura kekuasaan yang menyeruak menekan jiwa seseorang.
Deg..............
Jantung Zelena seperti ditikam ribuan panah hingga ia bisa merasakan sakit yang amat luar biasa, karena rasa sakit itulah perlahan-lahan Zelena seperti tersadar dari alam bawah sadarnya.
"Ka Mikhail" lirih Zelena seketika pingsan.
Bukannya menahan atau memeluk tubuh Zelena yang pingsan ia malah melepas begitu saja sehingga tubuh Zelena jatuh ke lantai dalam keadaan pingsan.
Teivel terbengong melihat reaksi Kingnya yang tak sesuai ekspetasi, dimana jika ada orang pingsan di depan kita maka pasti kita akan menahan atau memeluk tubuh orang itu agar tidak sampai jatuh.
King memang tidak bisa di prediksi, batin Teivel tak percaya.
"Jangan mengataiku Teivel" ucap Mikhail dengan tatapan membunuh.
"Maaf King" ucap Teivel sambil menunduk saat melihat iris mata Kingnya yang berwarna merah.
Teivel segera mengangkat Zelena membawa ke kamar tamu untuk ditidurkan tak lupa menyuruh bi Sance untuk menemani Zelena.
"Akhirnya aku tahu pemicunya" ucap Mikhail sambil terkekeh.
"King nona muda sudah tiba di bandara" ucap Teivel membaca laporan dari anak buahnya.
"Dimana mereka akan menginap?" tanya Mikhail.
"Di mansion nona Zelena King" jawab Teivel.
"Heemmm"
"Antar Zelena pulang setelah dia sadar"
"Baik King"
Mikhail segera pergi ke lantai 4 bersama Damon, sedangkan Teivel ia menunggu disana hingga Zelena sadar dan mengantarnya pulang.
~ Mansion Zelena ~
Iring-iringan mobil mewah berjejer memasuki halaman mansion Zelena membuat para pelayan langsung menatap ke arah mobil mewah yang sudah terparkir di depan mansion.
Seketika para pelayan berteriak histeris melihat Leon dan Vincent yang turun lebih dulu dari mobil diikuti Henry, Natasha, dan Liliana.
"Ah! Akhirnya sampai juga" ucap Natasha dengan senang.
"Panas banget disini" sungut Henry sambil mengipas wajahnya.
"Namanya juga Jakarta bocah" ejek Leon.
Vincent tak memperdulikan mereka semua dan segera berlalu masuk ke dalam mansion sang adik yang langsung di sambut oleh kepala pelayan yaitu bi Aira.
"Selamat datang tuan muda ketiga, tuan muda dan nona muda" sapa bi Aira dengan sopan.
"Aku bukan tuan muda ketiga" ketus Vincent dengan kesal.
"Maafkan saya tuan muda kedua, saya membuat kesalahan" ucap bi Aira dengan sopan.
"Ckk!!" decak Vincent berlalu pergi.
Natasha yang melihat kelakuan Vincent hanya bisa menggelengkan kepalanya tak habis pikir. Mereka semua lalu bergegas masuk ke dalam mansion Zelena.
"Dimana Zelena?" tanya Natasha.
__ADS_1
"Maaf nona, tapi nona muda sedang keluar sepertinya sedang ke kampus" ucap bi Aira.
"Aku kira Zelena masih libur semester" ucap Lili.
"Iya juga sih" tambah Natasha.
"Mungkin Zelena lagi ketemuan sama pacarnya" timpal Leon.
"Pacar" ucap ketiganya dengan kaget.
"Emang kalian belum tahu kalau Zelena udah punya pacar?" tanya Leon dengan wajah kaget.
"Ka Leon tidak bercandakan?" tanya Lili dengan antusias.
"Siapa nama pacar ka Zelena ka Leon? Orangnya seperti apa? Sudah berapa lama mereka pacaran ka?" tanya Henry.
"Ka Leon yakin kalau Zelena udah punya pacar?" tanya Natasha menyelidik.
Seketika Leon mengurut keningnya karena pusing ingin menjawab pertanyaan yang mana. Dengan cepat ia berlari masuk ke kamar tamu meninggalkan ketiganya yang sudah penasaran.
"Fuihhh! Untung aku bisa menghindar" ucap Leon dengan lega.
"Isshh! Ka Leon menyebalkan" pekik Natasha dengan cemberut.
"Sudah. Mending kita istirahat aja bentar baru kita tanya langsung ke orangnya" ucap Lili.
"Tapi aku penasaran ka" ucap Henry dengan cepat.
"Jangan membantah! Ayok kita istirahat" ancam Lili kepada sang adik.
Dengan patuh Henry mengikuti sang kakak menuju kamar yang akan keduanya pakai, karena Henry harus tidur bersama orang lain jika baru pertama kali berkunjung ke suatu tempat.
Sedangkan Natasha yang sudah sangat penasaran dengan cepat menaruh kopernya didalam kamar yang sudah disiapkan dan berlalu menuju kamar Vincent.
...π π π π π...
Ceklek................
Vincent yang sedang tidur langsung membuka mata saat mendengar pintu kamarnya di buka dan ia tersenyum smirk melihat siapa yang masuk.
"Apa kamu ingin melayaniku gadis berbisa?" tanya Vincent dengan senyum mengejek.
"No! Aku mau bertanya" ucap Natasha dengan cepat.
"Apa"
"Emang benar Zelena udah punya pacar ya" ucap Natasha dengan antusias.
Vincent mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Natasha mengenai adiknya. Tak lama ia tersenyum penuh arti mendapat sebuah ide untuk mengerjai Natasha.
"Segitu pengen tahu ya kamu" goda Vincent sambil tersenyum penuh arti.
Sepertinya aku salah udah datang kesini, batin Natasha.
"Tidak perlu jawab aku tidak butuh lagi" ketus Natasha segera bangkit berdiri.
Aarrghhhh........
Teriak Natasha saat tangannya di tarik kuat Vincent hingga terjatuh di atas dadanya. Dengan sekali hentakan Vincent membalik tubuh keduanya sehingga sekarang ia yang berada di atas Natasha.
"Apa yang kamu lakukan berengsek" pekik Natasha dengan kesal.
"Jangan munafik b***h! Aku tahu kamu menginginkanku sehingga masuk ke kamarku dengan alasan ingin bertanya" desis Vincent sambil tersenyum menyeringai.
"Lepas berengsek!" bentak Natasha dengan suara lantang.
Cup...........
Vincent mencium bibir Natasha dengan kasar membuat Natasha mengumpat dan memaki Vincent dalam hatinya.
Hosh.........hosh.......hosh.........
Natasha meraup udara sebanyak-banyaknya saat ciuman keduanya terlepas. Vincent seakan ingin membuat napasnya habis tak melepas ciumannya tadi sedikit pun.
"Kamu memang bajingan gila" teriak Natasha dengan emosi.
"Aku memang gila hanya untuk kamu ja**ng" ejek Vincent.
"Lepaskan aku sialan" teriak Natasha sambil memberontak dalan kungkungan Vincent.
Deg...............
Tubuh Natasha menegang dengan mata melotot kaget saat Vincent menekan menara tubuhnya tepat di i**i tubuh Natasha.
"Kamu merasakannya b***h" bisik Vincent sengaja menekan lebih dalam lagi.
Eerrghhh..........
Natasha menahan suaranya yang ingin keluar saat Vincent semakin menahan tubuhnya. Air matanya jatuh merasa dilecehkan oleh orang yang selama ini ia cintai.
"Apa salahku sangat fatal hingga kamu melakukan hal ini kepadaku?" tanya Natasha dengan berderai air mata.
Deg...........
Hati Vincent seperti teriris mendengar pertanyaan Natasha apa lagi melihat air matanya yang mengalir. Ada perasaan sedih dan sakit dalam hatinya tapi ia tepis mengingat kejadian dulu yang membuat dia dan Zelena harus masuk rumah sakit.
"Sampai kapan pun aku akan membalas perbuatanmu ja***g! Dan ingat tubuhmu ini milikku meski suatu saat kamu sudah menikah tetap kamu akan jadi milikku" bisik Vincent dengan suara geram.
Brugh.............
Vincent mendorong Natasha dari ranjang hingga jatuh ke lantai dan tanpa Vincent sadari ternyata kening Natasha terbentur meja di samping ranjang hingga berdarah.
...π π π π π...
To be continue..............
__ADS_1