
๐Jangan takut direndahkan, jangan takut tidak dihargai, jangan takut dilukai dan dikecawakan. Karena itu semua seperti kekalahan dan ketakutanmu untuk kalah membuat ketulusanmu hilang๐
.
.
.
.
Brumm.......brumm.......bruumm.........
David dan Xander menatap musuh mereka yang datang dengan motor sambil membawa pedang dan kapak. Keduanya tak habis pikir dengan musuh mereka kali ini.
"Habisi mereka semua" teriak Xander dengan suara kencang.
"Baik bos" teriak anak buah Xander serentak.
Dor........dor........dor.......dor.......
Aaarrrghh...........
Bunyi tembakan dan jeritan bersahutan di sana, pejalan kaki dan pengendara lain yang barada di sekitar sana sudah di evakuasi oleh anak buah Xander.
"Mending kalian menyerah saja berengsek" ucap Christian melihat musuh mereka tinggal 5 orang saja.
5 orang itu melihat teman-teman mereka yang tewas menatap Xander dan anak buahnya dengan emosi.
"Mau lari" ucap Xander tersenyum smirk melihat musuhnya yang ingin kabur.
Dor.......dor........dor........dor.....dor.......
Ke 5 orang tadi sekejap sudah merenggang nyawa karena tembakan Xander. Dalam kamus Xander ia tidak akan membiarkan orang yang sudah menganggunya hidup.
"Bos apa yang akan kita lakukan dengan tubuh mereka?" tunjuk David ke mayat yang bergeletak.
"Terserah" ucap Xander dengan suara dingin.
David tak bertanya apa-apa lagi dan segera menyuruh Christian membersihkan mayat-mayat ini. Christian lalu menyuruh anak buahnya mengirim semua jasad itu ke salah satu mafia perdagangan organ tubuh.
Menurutnya meski mereka susah mati tapi setidaknya organ mereka berguna untuk membantu orang yang membutuhkan. Mobil Xander segera malaju pergi di ikuti 3 mobil pengawal.
"Cari tahu siapa dalang tadi" ucap Xander dengan suara dingin.
"Baik bos"
~ Wesly Group ~
15 menit kemudian mobil mewah Xander akhirnya tiba di depan lobby Wesly Group. David keluar lalu membuka pintu untuk Xander.
Keduanya masuk ke dalam perusahaan di ikuti Christian dan 4 anak buahnya dari belakang. Sepanjang jalan karyawan Wesly Group menunduk memberi hormat ketika direktur mereka lewat.
Ting............
Lift khusus untuk Xavier akhirnya berhenti di lantai 98 ruangannya. Saat keluar dari lift Luki sudah berdiri di depannya sambil membungkuk.
"Bawakan laporan masing-masing devisi sekarang" ucap Xander dengan suara dingin.
"Baik bos" ucap David.
"Luki kamu hendel semua meeting hari ini"
"Baik bos"
"Selamat datang direktur" ucap 3 sekertaris utama dengan sopan.
Xander dan David tak mengatakan satu kata pun, keduanya segera masuk ke dalam ruangan mereka masing-masing. Sebelum masuk ke ruangannya David memberitahu Luki untuk bawakan laporan yang diminta Xander tadi.
"Bos ini laporannya" ucap Luki sambol menaruh 50 laporan di atas meja.
"Apa kamu sudah tahu identitas mereka?" tanya David sambil meneliti laporan tadi.
"Saya sudah kirim ke email bos" ucap Luki.
"Bagus. Hapus semua rekaman di jalan XXX tadi"
"Sudah saya hapus bos"
"Suruh Briana temani kamu untuk meeting hari ini"
"Baik bos"
Luki bergegas keluar dari ruangan David dan segera memberitahu Briana untuk bersiap. Sebelum ke ruangan Xander ia melihat informasi yang di kirimkan oleh Luki tadi.
...๐ ๐ ๐ ๐ ๐...
Keningnya berkerut melihat 2 informasi yang berbeda dari Luki, apa lagi saat ia melihat foto adiknya yang sedang bersama seorang wanita di club ada di dalam informasi tersebut.
"Leon" desis David yang tahu maksud foto tersebut.
David menahan emosinya karena harus memberikan laporan yang diminta oleh Xander tadi. Dengan cepat ia bergegas menuju ruangan Xander.
Tok.........tok.........tok.......
Xander yang sedang menandatangani berkas segera menekan tombol di bawah meja untuk membuka pintu. Setelah pintu terbuka masuklah David dengan kedua tangan penuh karena membawa banyak laporan.
"Bos ini semua laporan tiap devisi" ucap David.
"Heemmm"
Brak............
Xander bingung melihat tumpukan laporan yang sama rata dengan dadanya di depannya. Alisnya terangkat lalu menatap David penuh tanda tanya.
"Ini semua laporan setiap devisi bos" ucap David menjawab apa yang dipikirkan bosnya itu.
Phew................
Xander menghembuskan napas dengan kasar melihat tinggi tumpukan laporan di depannya. Ia pastikan hari ini pasti ia akan lembur untuk menyelesaikan laporan-laporan ini.
"Bos informasi mengenai penyerangan tadi sudah aku kirim di email"
__ADS_1
"Heemmmm"
Xander membaca email yang dikirim oleh David, seperti David tadi keningnya mengerut membaca informasi di depannya.
"Jadi ada 2 musuh" ucap Xander dengan suara dingin.
"Iya bos. Sniper tadi ternyata utusan dari anak tuan Johnson sedangkan musuh yang memakai motor trail mereka adalah pembunuh bayaran" jelas David.
"Buat perusahaan Johnson bangkrut hari ini juga"
"Baik bos"
"Bisa kamu jelaskan ini" tunjuk Xander dengan suara dingin ke salah satu foto.
"Sepertinya adik bodohku tertipu bos"
"Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan" ucap Xander dengan tatapan tajam.
"Iya bos aku tahu"
"Cari tahu siapa yang menyewa pembunuh bayaran tadi"
"Baik bos"
Xander lalu memberi isyarat tangan untuk keluar, David yang sudah keluar segera menelpon adik bodohnya itu untuk menemuinya.
~ UCLA ~
Natasha baru saja selesai kuliah, saat tengah merapikan buku-bukunya ia di hampiri oleh seorang gadis berpenampilan cupu.
Gadis itu berdiri sambil menunduk takut melihat tatapan datar dan dingin Natasha. Melihat gadis yang berdiri didepannya gemetaran ia tahu jika gadis itu pasti sedang ketakutan.
"Ada apa?" tanya Natasha dengan singkat.
"Uhmm! It....u" ucap gadis cupu itu dengan gugup.
"Kamu gagap"
Gadis tadi menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Natasha. Dengan sabar Natasha menunggu apa yang akan dikatakan gadis tadi.
"Kalau tidak bicara mending kamu pergi" usir Natasha.
"Maaf"
"Maaf kenapa? Memangnya kamu ada salah sama aku?" tanya Natasha dengan bingung.
"Tidak! Itu aku mau tanya apa kamu mau satu kelompok denganku" jawab gadis cupu tadi dengan cepat.
Natasha melihat ke arah papan dimana ada tulisan tentang tugas proyek mereka untuk ujian akhir harus berkelompok.
"Oke" ucap Natasha.
"Yang benar?" tanya gadis tadi dengan cepat.
"Kalau bicara itu lihat lawan bicaramu!" jawab Natasha dengan ketus.
"Maaf" cicit gadis tadi dengan takut.
"Bagaimana kalau sekarang, apa kamu punya waktu?" tanya balik gadis tadi dengan cepat.
"Oke! Btw nama kamu siapa"
"Oh ya ampun maaf aku lupa ngenalin diri tadi. Nama aku Keysa" ucap Keysa sambil cengesan.
"Natasha" ucap Natasha dengan singkat.
"Aku tahu kok nama kamu" ucap Keysa sambil tersenyum manis.
"Heeemmm"
Keduanya lalu bergegas menuju taman untuk membahas ide untuk tugas mereka. Saat hampir sampai taman keduanya lalu di hadang oleh Ana dan gengnya.
...๐ ๐ ๐ ๐ ๐...
"Minggir" ucap Natasha dengan suara dingin.
"Kalau aku tidak mau" ucap Ana dengan sinis.
Natasha melihat Ana dengan wajah datar dan memilih pergi melewati samping kiri Ana. Melihat hal tersebut emosi Ana memuncak karena Natasha yang acuh saja dengan perlakuannya.
"Beraninya kamu tidak sopan sama senior!" bentak Ana dengan suara tinggi.
"Natasha gimana ini, senior Ana kayaknya marah banget sama kamu" ucap Keysa dengan cemas.
"Biarkan saja, aku tidak perduli" ucap Natasha dengan santai.
Natasha berlalu pergi tak menggubris ucapan Ana. Keysa yang melihat temannya acuh tak acuh memilih pergi juga.
Brugh..............
"Natasha" teriak Keysa dengan kaget.
Natasha yang didorong sampai terjatuh melihat lututnya berdarah. Ia berbalik melihat siapa yang mendorongnya ternyata itu adalah Ana yang bersedekap tangan sambil tersenyum menyeringai.
"Kamu" tunjuk Natasha dengan emosi.
"Itu pelajaran buat kamu karena sudah mengusikku" sinis Ana.
"Apa kamu gila Anabele?" tanya Natasha tak kalah sinis.
Hahahaha..............
Seketika tawa mahasiswa disana pecah mendengar Natasha yang menyebut Ana dengan sebutan Anabele. Melihat hal itu Ana menatapnya dengan tatapan marah.
"Diam!" bentak Ana dengan suara tinggi.
"Bisa kamu beritahu dimana letak aku mengusikmu" tanya Natasha dengan santai.
"Kamu" tunjuk Ana dengan tatapan membunuh.
"Biar aku tunjukkan bagaimana cara aku mengusik orang yang tidak aku suka" ucap Natasha sambil tersenyum smirk.
__ADS_1
Plak........plak........plak........plak........
4 tamparan mendarat di kedua pipi Ana dengan kuat, saking kuatnya Ana sampai terjatuh di lantai karena tak kuat menahan tamparan Natasha.
"Beraninya kamu nampar Ana gadis sialan!" bentak Rara teman Ana.
"Apa kamu mau juga?" tanya Natasha dengan suara dingin.
Glek.........
Rara menelan salivanya dengan susah mendengar suara dingin Natasha. Keempat teman Ana langsung diam tak ingin ikut campur dengan masalah keduanya.
Grep............
"Aarrgghhh! Lepas b***h apa yang kamu lakukan " teriak Ana dengan emosi karena rambutnya dijambak Natasha.
"Jangan pernah mengusikku b***h jika kamu masih sayang sama nyawamu" bisik Natasha sambil tersenyum smirk.
"Awas kamu ja***g aku akan aduin semua ini ke Vincent"
"Aduin aja kebetulan orangnya ada di belakang tuh" ucap Natasha menunjuk dengan dagunya ke arah belakang.
Ana menengok ke belakang dan melihat Vincent sedang menatap mereka dengan tatapan dingin dan tajam. Natasha lalu melepas jambakannya dan berdiri sambil mengelap tangannya dengan tisu.
Ia menunjukkan hal itu kepada Ana kalau ia sangat jijik sudah menyentuhnya. Ana dengan cepat mengadu ke Vincent tentang apa yang dilakukan oleh Natasha.
Tatapan tajam Vincent menatap Natasha dengan tajam tapi tak membuat Natasha takut. Ia malah membalas tatapan tajam itu seakan berkata ia tidak takut.
Natasha berlalu pergi bersama Keysa menuju taman kampus. Alex yang melihat kecantikan Natasha sedari tadi terus berbicara menyanjung seorang Natasha.
"Gila cantik banget tuh cewek, aku harus dapat nomornya" ucap Alex dengan histeris.
"Jangan berani mendekatinya Alex" ucap Vincent dengan suara dingin.
"Memangnya kenapa?" tanya Alex dengan bingung.
"She is mine" (dia milikku) ucap Vincent dengan suara dingin dan tegas.
Ana yang mendengar ucapan Vincent seketika melotot kaget. Wajahnya merah padam memikirkan Natasha dan Vincent, ia tidak akan membiarkan keduanya bersatu.
...๐ ๐ ๐ ๐ ๐...
Kamu itu milikku Vincent, batin Ana.
"Beb pipi aku sakit" rengek Ana dengan suara manja.
Vincent melirik Jason dan memberinya isyarat untuk membawa Ana pergi. Jason hanya bisa mendengus kasar karena lagi-lagi ia yang harus berurusan dengan Ana.
"Beb kamu mau kemana, kenapa ninggalin aku dengan bebek ini" protes Ana dengan kesal.
Mata Jason melotot kaget mendengar Ana yang mengatainya bebek. Alex malah terkekeh melihat temannya itu, sedangkan Vincent sudah berlalu pergi menuju ruangan dosen.
~ Flower Garden ~
Disinilah Natasha setelah berbicara ide tentang tugas akhir mereka bersama Keysa, ia memilih untuk menikmati bunga tulip kesukaannya.
Sejak kecil Natasha sangat menyukai bunga tulip berbeda dengan sang kakak yang tidak menyukai bunga sama sekali. Ia masih ingat jika kakaknya akan memotong bunga milik mommynya saat berbunga.
Karena hal tersebut mommynya membuat peraturan di kastil untuk tak membiarkan sang kakak masuk area taman bunga.
Hehehehe..........
Natasha tertawa geli mengingat semua itu, tanpa ia sadari ternyata ada seseorang yang menatapnya dari belakang dengan tajam.
"Kesukaanmu tidak pernah berubah" ucap Vincent dengan suara dingin.
Mendengar suara yang sangat ia kenali dengan cepat Natasha berbalik ke belakang. Matanya melotot melihat Vincent yang sedang berdiri di belakang sambil bersedekap tangan.
"Ckk!! Pengganggu" umpat Natasha dengan suara pelan.
Natasha lalu berdiri dan berlalu pergi tak ingin berbicara dengan Vincent.
Grep............
"Apa yang kamu lakukan" pekik Natasha dengan suara tinggi saat tangannya ditarik Vincent.
"Jangan pernah mengumpatku gadis ular" ucap Vincent dengan emosi.
"Lepas berengsek!" bentak Natasha sambil berusaha melepas cekalan tangan Vincent.
"Aku penasaran selama 2 tahun kenapa kita tidak pernah bertemu sama sekali"
"Baguslah. Bukannya kamu sangat membenciku jadi itu lebih baguskan" hardik Natasha.
"Ya kamu betul, karena wajahmu dan sifatmu itu sangat menjijikan"
Deg.............
Jantung Natasha berdetak dengan cepat mendengar ucapan Vincent, hatinya terasa sangat sakit mendengar kata-kata yang diucapkan Vincent.
"Lepas tuan muda kedua Wesly" ucap Natasha dengan suara dingin.
Rahangnya mengeras mendengar ucapan Natasha yang memanggilnya tuan muda kedua. Entah kenapa ia sangat tidak suka dipanggil seperti itu oleh Natasha.
Grep.........
"Apa yang kamu lakukan sialan, turunkan aku" teriak Natasha saat tubuhnya di pukul seperti karung beras.
Bugh.......bugh......bugh........
"Turunkan aku berengsek" hardik Natasha dengan emosi sambil memukul punggung Vincent.
Plak...........
Mata Natasha melotot kaget merasa pantatnya di tampar oleh Vincent. Ia berontak dan memaki Vincent tapi tidak diperdulikan oleh Vincent.
...๐ ๐ ๐ ๐ ๐...
To be continue..............
...Hay readersku semua selamat memperingati hari kemerdekaan Indonesia yang ke-77 ya...
__ADS_1
...๐ฎ๐ฉDirgahayu Indonesia 77th๐ฎ๐ฉ...