
πTanpa ada hujan tidak akan ada kehidupanπ
.
.
.
.
Mikhail terkekeh melihat wajah sang kekasih yang sangat mengemaskan. Ia lalu mengendong Clarisa menuruni tangga menuju kolam berenang.
"Kita ngapain kesini Khail?" tanya Clarisa dengan bingung.
"Berenang"
"Oh kamu mau berenang yang Khail" ucap Clarisa saat Mikhail menurunkannya dari gendongan.
"Bukan aku tapi kita baby" ucap Mikhail sambil membuka bajunya.
"Apa! Aku tidak mau berenang Khail" tolak Clarisa dengan cepat.
Ia berjalan menghindar dari Mikhail karena tak ingin berenang, melihat hal tersebut dengan langkah panjang Mikhail menyusul kekasihnya dan menarik pinggangnya lalu membawanya ke kolam berenang.
"Mikhail lepas! Aku tidak mau berenang. Lepas Khail" teriak Clarisa dengan menggelegar.
Byur..............
Mikhail menceburkan keduanya ke dalam kolam berenang membuat Clarisa sudah tak bisa berkutik lagi karena mereka sudah didalam kolam.
"Hiks hiks hiks hiks..........jangan lepasin aku Khail.........hiks hiks hiks........aku takut tenggelam" ucap Clarisa memeluk leher Mikhail dengan erat sambil menangis.
"Kamu tidak bisa berenang baby?" tanya Mikhail dengan kaget memeluk tubuh kekasihnya dengan sebelah tangan.
Clarisa mengangguk kepalanya menjawab pertanyaan Mikhail. Melihat hal itu Mikhail berenang ke tepi dan mendudukkan Clarisa di tepi kolam.
Hiks..........hiks.............hiks..............
Clarisa menangis sesegukan dengan tubuh bergetar takut tenggelam apa lagi kolam berenangnya cukup dalam.
Mikhail memilih keluar tak jadi berenang sambil mengendong Clarisa menuju kursi yang tak jauh dari kolam renang.
"Jangan menangis lagi baby. Kalau tahu kamu tidak bisa berenang aku tidak akan memaksamu" lirih Mikhail dengan suara lembut sambil menghapus air mata Clarisa.
"Kamu jahat"
"Ya i know baby" (aku tahu sayang)
Mikhail memeluk Clarisa sambil mengelus kepalanya dengan lembut merasa bersalah sudah membuat kekasihnya menangis. Clarisa sendiri entah kenapa ia tidak bisa marah kepada Mikhail meski ia tadi sangat ketakutan.
Sret................
"KHAIL" pekik Clarisa dengan mata melotot saat bajunya dirobek Mikhail.
"Kamu bisa sakit jika terlalu lama memakai baju basah baby"
"Aku bisa sendiri Khail" ucap Clarisa dengan wajah merah padam merasa malu.
"Ckk!! Aku sudah lihat tubuhmu semua bahkan aku hafal dimana tanda lahir kamu baby jadi tidak perlu malu" decak Mikhail dengan kesal.
"Khail" ucap Clarisa dengan mata melotot tajam merasa sangat malu mendengar ucapan Mikhail barusan.
"Tidak usah malu baby hanya ada aku disini" ucap Mikhail sambil mengecup leher Clarisa dengan lembut hingga berbekas.
Uhm................
Mikhail mencium leher dan dada Clarisa dengan buas menyalurkan hasratnya yang selalu terbangun jika berdekatan dengan Clarisa.
"I want you baby" (aku menginginkanmu sayang" ucap Mikhail dengan suara serak menahan gairahnya.
"Jangan Khail" lirih Clarisa yang tidak ingin melakukan hal tersebut.
"Heemmmmm"
Cup.............
Mikhail mencium bibir Clarisa menggebu-gebu membuat Clarisa sampai kewalahan membalas ciumannya. Pikirannya selalu blank saat Mikhail menciumnya seperti ini.
2 Bulan kemudian
Tak terasa waktu berlalu dengan sangat cepat dan sudah dua bulan berlalu sejak kejadian di kolam renang.
__ADS_1
~ King Diamond ~
Clarisa saat ini tengah berada di perusahaan tempat ia magang. Sudah 2 bulan ia diterima magang paruh waktu di King Diamond sebagai desainer.
Dan saat ia diterima bekerja disana ia merasa sangat senang karena teman kantornya sangat ramah dan welcome kepadanya.
...π π π π π...
Clarisa membuang napasnya dengan kasar karena sudah sebulan Mikhail tak ada kabar. Entah kemana kekasihnya itu tapi selama sebulan Clarisa sangat pikiran, karena tak mendapat kabar dari Mikhail sejak pertemuan mereka terakhir.
"Clarisa" panggil pak Darius ketua tim anak magang di King Diamond
"Iya pak" ucap Clarisa sambil membenarkan kaca matanya.
"Apa semua rencana kamu sudah kamu siapkan?" tanya pak Darius dengan suara tegas.
"Sudah pak" ucap Clarisa sambil menyodorkan sketsa rancangannya.
"Bagus. Jaga sketsamu karena kamu dan Riana yang akan mewakili kantor kita untuk pameran desain perhiasan di kantor pusat nanti" puji pak Darius.
"Iya pak"
"1 jam lagi kita rapat untuk membahas kepergian kalian"
"Baik pak" ucap Clarisa dengan sopan sambil menunduk.
Pak Darius berlalu pergi dari sana karena sudah tak ada lagi yang harus ia sampaikan. Clarisa membuang napasnya merasa lega sudah tak mendapat tatapan tajam dari ketua mereka.
~ Mansion Ares Rahardian ~
Selama 2 bulan akhirnya trauma Zelena benar-bener sembuh meski belum sembuh 100 persen tapi Zelena sudah bisa mengontrol jiwa psycopath dalam tubuhnya.
"Mi amor apa kamu yakin tidak ingin ikut saja denganku?" tanya Ares dengan cepat.
"Yakin querido. Lagian aku sudah lama ngak pulang ke California" ucap Zelena sambil mengelus rahang Ares dengan lembut.
"Tapi aku bakal susah tidur jika tidak memelukmu mi amor" ucap Ares dengan memelas.
"Kita bisa video call querido"
"Ckk!!" decak Ares dengan kesal karena gagal merayu Zelena untuk pergi bersamanya.
"Heemmmm"
Ares memeluk Zelena dengan erat samil menyelusupkan wajahnya di dada Zelena seperti biasa tak perduli jika saat ini Zelena sangat malu.
Kring.............
"Ckk!! Menganggu saja" ketus Ares dengan kesal merasa terganggu.
"Angkat saja querido siapa tahu penting"
Dengan malas Ares mengambil hpnya di atas meja dan melihat siapa yang menelponnya. Nama Papa terpampang jelas di layar hpnya sehingga Zelena bisa melihatnya dengan jelas.
^^^"Kenapa pa" ketus Ares.^^^
"Ckk!! Begini cara kamu bicara sama papa kamu son" pekik Sean dengan kesal dari seberang.
^^^"Jika papa hanya basi-basi aku matikan" kesal Ares.^^^
"Kamu itu menyebalkan Ares. Cepat ke mansion sekarang papa mau makan malam dengan kalian" hardik Sean dengan suara tinggi dari seberang.
Ares mengumpat melihat panggilannya yang sudah dimatikan oleh papanya dengan sepihak. Zelena yang mendengar pembicaraan mereka hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Jangan terlalu kasar sama papa querido. Biar bagaimanapun dia itu papa kamu" ucap Zelena dengan bijak.
"Ya aku tahu mi amor" balas Ares dengan suara lembut.
~ Mansion Sean Rahardian ~
Ares masuk ke dalam mansion papanya sambil merangkul pinggang Zelena dengan posesif. Tatapan tajam dan dingin mengarah ke depan tak memperdulikan penyambutan pelayan.
Berbeda dengan Zelena yang tersenyum manis membalas sapaan pelayan saat mereka masuk ke dalam mansion.
"Papa" panggil Ares dengan suara dingin.
"Kalian sudah datang" ucap Sean dengan senang.
Ia memeluk putranya karena sudah lama tak datang dan saat ingin memeluk Zelena ia langsung dihadang oleh Ares yang tak suka miliknya disentuh orang lain.
"Ckk!! Papa sudah menganggapnya sebagai anak papa sendiri son" dengus Sean dengan tatapan kesal.
__ADS_1
"Papa itu laki-laki jadi tidak boleh menyentuh kekasihku. Hanya aku yang boleh menyentuhnya" ucap Ares dengan suara tegas.
...π π π π π...
Zelena memutar bola matanya dengan malas mendengar ucapan kekasihnya yang terlalu posesif dengannya.
Meski sifat Ares sangat posesif dan pencemburu tapi itu membuat Zelena merasa sangat dicintai oleh seorang tuan muda Ares Maladika Rahardian.
"Ternyata malam ini ada tamu ya" ucap Calista yang baru saja turun dari lantai dua bersama Daniella.
"Tamu?" tanya Ares dengan suara dingin.
Plak...............
Bunyi tamparan menggelegar membuat semua disana menatap Calista dan Ares dengan kaget. Apa lagi Zelena yang sedari tadi berdiri di samping Ares sangat syok.
Apa ini sifat asli cowok gue, batin Zelena dengan kaget.
"Loe bilang gue tamu wanita tua! Loe pikir loe siapa di mansion ini! Hah" hardik Ares dengan suara tinggi.
"Beraninya loe nampar mama gue!" bentak Daniella dengan emosi.
"Tutup mulut loe pel***r sebelum gue robek!" bentak Ares sambil menatap Daniella dengan tajam.
"Kamu nampar saya?" tanya Calista dengan mata melotot.
"Loe bisa rasain sendiri. Loe pikir loe nyonya di mansion papa gue" sinis Ares.
"Aku ini istri papa kamu dan wajar aku yang jadi nyonya disini bukan seperti mama kamu yang pel**ur itu!" bentak Calista.
"CALISTA" teriak Sean bergema didalam sana.
Wajah Ares seketika mengelap membuat suasana disana berubah menjadi sangat mencekam dan membuat mereka semua bergidik ngeri.
Bugh..............prang............
Ares menendang Calista dengan kuat hingga terpental ke belakang dan menabrak guci didepannya sampai hancur.
Aarrgghhhh............
Teriak Zelena dan Daniella serentak kaget dengan apa yang dilakukan oleh Ares. Sedangkan Sean sendiri menutup mata tak bisa berbuat apa-apa karena tahu bagaimana sifat putranya itu ketika sudah emosi.
Ares menarik rambut mama tirinya tak perduli jika ia adalah wanita paruh baya. Dengan santai Ares membentur kepala Calista ke tembok hingga berdarah.
"HENTIKAN...........hiks hiks hiks...........JANGAN SAKITI MAMA GUE" teriak Daniella dengan histeris.
Seperti angin lalu Ares tidak memperdulikan teriakan adik tirinya dan kembali membentur kepala Calista hi hingga wajahnya hancur.
"Udah berani ya loe angkat bicara didepan gue wanita tua!" bentak Ares dengan emosi.
Bugh...........bugh.........bugh.........bugh............
Seperti kesetanan Ares membentur kepala Calista membuat Daniella berteriak histeria. Zelena sendiri menutup matanya tak menyangka akan melihat sisi lain kekasihnya.
"MAMA" teriak Demian yang baru saja pulang dan kaget saat masuk ke dalam mansion.
"Ka Ares aku mohon lepasin mama" pinta Demian dengan memohon.
Bugh.............brak...........
Dengan sekali tendangan Demian terpental membentur meja hingga pecah karena sudah mengganggunya. Melihat hal itu dengan reflek Zelena berlari memeluk tubuh Ares dari belakang.
"Hentikan querido..........hiks hiks hiks..........aku mohon berhenti" pinta Zelena sambil menangis histeris.
Deg............
Tubuh Ares menegang merasakan pelukan yang sangat hangat dari perempuan yang sangat ia cintai. Matanya yang tadi berkilat tajam perlahan-lahan kembali menjadi lembut merasakan hangatnya pelukan Zelena.
"Mi amor" panggil Ares dengan suara lembut.
"Aku mau pulang............hiks hiks hiks" lirih Zelena histeris dibelakang Ares.
"Ayok kita pulang mi amor" ucap Ares langsung mengendong Zelena ala bridal pergi dari sana.
Ia tak perduli lagi dengan keluarganya yang baru saja ia beri pelajaran. Sean yang melihat emosi anaknya jadi tenang hanya dengan pelukan Zelena merasa sangat bersyukur.
Papa yakin Zelenalah yang akan mengontrol jiwa iblis dalam diri kamu nak, batin Sean dengan yakin.
...π π π π π...
To be continue.............
__ADS_1