
πSemakin setia kamu, semakin banyak kekecewaan yang akan kamu temui dan alamiπ
.
.
.
.
Deg....................
Jantung Mira berdetak dengan cepat mendengar suara putranya. Apa lagi saat mendengar panggilan mommy dari sang anak, yang sudah lama tidak pernah ia dengar.
Perlahan-lahan ia mengangkat kepalanya ingin melihat apa ia berhalusinasi atau tidak.
Tes...................
Air mata Mira mengalir dengan deras melihat mata putranya yang sudah terbuka menandakan ia telah sadar dari koma.
"Anakku David..........hiks hiks hiks............kamu sudah sadar nak............hiks hiks hiks...........mommy mohon jangan pernah seperti ini lagi nak............hiks hiks hiks" ucap Mira sambil menangis histeris.
"Mommy minta maaf nak.............hiks hiks hiks.........mommy sayang sama kamu.............hiks hiks hiks" tambahnya lagi.
Mira menggenggam tangan putra sulungnya dengan erat merasa sangat bersyukur karena akhirnya David sadar dari koma.
Aaaa.................
"Hiks hiks hiks........kenapa nak apa kamu ingin sesuatu?" tanya Amira yang masih menangis.
David berusaha berbicara tapi entah kenapa suaranya tidak keluar, padahal tadi ia sempat memanggil mommy dan sekarang suaranya tidak keluar lagi.
Ada apa dengan suaraku? Kenapa suaraku tidak keluar, batin David dengan bingung.
"Apa ada yang sakit nak?" tanya Amira dengan panik.
"Ah! Mommy lupa harus memanggil dokter dan mengabari daddy kamu" ucap Amira menepuk keningnya.
David ingin berbicara dan memanggil sang mommy saat sudah berlalu keluar, tapi tidak bisa. Suaranya tidak keluar sedari tadi ia memaksa berbicara, apa lagi badannya terasa kebas dan sakit di seluruh tubuhnya.
Aaarrgghhh! Sakit sekali, batin David merasakan sakit yang amat luar biasa di sekujur tubuhnya.
"Lili cepat periksa keadaan David nak" ucap Mira yang datang bersama Lili.
Kebetulan Lili tadi datang ke sana untuk menjenguk kekasihnya dan ia dibuat kaget saat mendengar ucapan aunty Mira tentang kekasihnya yang sudah sadar.
"Sayang..........hiks hiks hiks" ucap Lili sambil menangis.
Lili bergegas memeriksa kondisi David saat melihat kekasihnya yang terlihat sangat kesakitan. Keningnya mengerut saat memeriksa keadaan David, dimana otot dalam tubuhnya menegang dan denyut jantungnya berdetak dengan cepat.
Dengan cepat Lili memberikan pertolongan pertama untuk mengurangi rasa sakit di tubuh David. Tak lupa ia juga menyuruh aunty Mira untuk menyiapkan menyiapkan helikopter.
"Lili apa yang terjadi dengan David?" tanya Mira dengan cemas.
"Aku belum tahu aunty tapi kita harus membawa ka David ke rumah sakit untuk melakukan beberapa pemeriksaan" jawab Lili sambil menggenggam tangan David.
"David baik-baik saja kan nak?" tanya Mira dengan mata berkaca-kaca.
"Kita doakan saja ya aunty yang terpenting ka David sudah sadar dari koma aunty" jawab Lili sambil tersenyum manis.
Tak berapa lama helikopter pun datang dan dengan cepat mereka segera membawa David ke dalam helikopter. Saking paniknya, mereka lupa memberi kabar kepada seluruh keluarga besar mereka.
"Sayang aku senang kamu sudah sadar" bisik Lili saat didalam helikopter.
David mengerjab matanya sambil berbicara sesuatu tapi tidak dimengerti Lili. Ia hanya menangkap gerakan bibir David yang mengatakan air.
...π π π π π...
Dengan sigap Lili segera menyodorkan sebotol air minum dengan sedotan kepada David. Sesuai perkiraannya ternyata David memang ingin minum, lihat saja ia menghabiskan sebotol air minum karena tenggorokannya sangat kering.
~ Wesly Hospital ~
Saat Lili dan Mira sampai di rumah sakit mereka langsung membawa David ke ruangan rontgen. Saat keluar dari lift Albert yang sempat melihat keberadaan sang istri bergegas mengikuti keduanya.
"Sayang" panggil Albert mengagetkan Mira.
"Kamu kenapa bisa disini. Siapa yang sakit sayang?" tanya Albert dengan cepat.
"Hiks hiks hiks............David" jawab Mira sambil menangis.
"David! Kenapa dengan putra kita sayang? Apa yang terjadi dengan David dan dimana dia sekarang sayang?" tanya Alert dengan panik.
"David sudah sadar dari koma dan sekarang sedang di periksa didalam sayang" jawab Mira sambil tersenyum lebar.
"Apa" pekik Albert dengan kaget.
Raut wajahnya yang tadi panik seketika berganti dengan wajah senang. Ia ingin masuk ke dalam ruangan pemeriksaan didepannya, tapi di tahan oleh sang istri karena mereka tidak bisa masuk.
"Aku ingin lihat putra kita sayang" ucap Albert dengan tak sabar.
"Sabar sayang karena putra kita sedang diperiksa didalam. Ada Lili yang menemaninya sayang" ucap Mira dengan suara lembut.
"Heemmm"
Albert memeluk sang istri dengan erat tapi sebelah tangannya menelpon putra bungsunya dan juga Violet mengabari tentang David. Tak lupa ia juga memberitahu seluruh keluarga besar mereka.
30 Menit kemudian
Tak..............tak..............tak..............
__ADS_1
Suara langkah kaki orang berlari bergema di lantai 3 membuat pandangan Albert dan Mira yang sedang duduk di kursi menatap ke arah suara.
"Daddy dimana kakak?" tanya Leon dengan napas satu-satu karena berlari.
"Masih di periksa didalam son" jawab Albert menunjuk kearah depan.
"Ruang rontgen" ucap Leon dengan kening berkerut membaca nama plang di atas pintu.
"Heemmm! Kakakmu sedang di periksa Lili dari 30 menit yang lalu Leon" ucap Albert.
"Kakak baik-baik saja kan dad?" tanya Leon dengan khawatir.
"Daddy tidak tahu Leon. Kita tunggu saja kabar dari Lili" jawab Albert dengan suara tegas.
Meski didalam hatinya ia juga sedang memikirkan kondisi putranya. Ia takut David kenapa-napa, mengingat ledakan yang menimpa mereka beberapa waktu lalu terdapat dengan zat radioaktif yang berbahaya.
"Mommy" ucap Violet yang baru saja datang.
"Kamu sudah datang dek?" tanya Leon yang sudah bisa menerima Violet menjadi adiknya.
"Iya ka" balas Violet dengan suara lembut.
"Ayok duduk jangan berdiri nak" ucap Albert dengan suara lembut melihat wajah Violet yang kelelahan.
"Iya dad" ucap Violet sambil tersenyum manis.
Ia tidak menyangka akhirnya ia mempunyai keluarga yang menerimanya dan menyayanginya. Meski ia masih takut jika kakak tertuanya tidak menerima dia sebagai adiknya.
Semoga ka David baik-baik saja, batin Violet dengan tulus.
Tak berselang lama seluruh keluarga besar Wesly sudah berada disana. Minus Victor, Vincent, dan Natasha saja karena Victor masih dalam perjalanan kembali ke California.
Sedangkan Vincent ia tidak bisa pergi karena harus menjaga istri dan buah hati mereka.
Ceklek...............
Pintu ruang rontgen terbuka membuat semua disana langsung menghampiri Lili.
"Lili bagaimana keadaan anak uncle?" tanya Albert dengan cemas.
"Lili ka David baik-baik saja kan?" tanya Leon dengan cepat.
"Sayang bagaimana keadaan David nak?" tanya Mira dengan khawatir.
"Kita bicarakan di ruang rawat ka David saja" ucap Lili dengan suara tegas.
...π π π π π...
Tak membantah mereka semua mengangguk kepala menyetujui ucapan Lili. Brankar David lalu didorong keluar menuju lantai 6 VVIP.
Leon yang melihat sang kakak sedang tertidur merasa lega karena kakaknya sudah sadar dari koma. Meski ia masih penasaran bagaimana kondisi sang kakak sekarang.
Air mata Clarisa sedari tadi terus mengalir saat saat berada di depan apartemen Puri Orchid. Jason dan Delon yang tahu apa yang membuat adik mereka menangis hanya diam saja.
Tadi Clarisa meminta ingin datang ke sana dan disinilah mereka berada.
"Dek kamu baik-baik saja kan?" tanya Jason dengan cemas.
"Ka bawa gue pergi dari sini" ucap Clarisa dengan suara serak karena sedang menangis.
Grep...............
Jason memeluk sang adik dengan erat membiarkan dia menangis didalam pelukannya. Jack yang menyetir segera melajukan mobil pergi dari sana, saat melihat isyarat Delon dari kursi belakang.
"Jangan menangis dek ingat kandungan kamu" ucap Delon sambil mengelus kepala sang adik dengan lembut.
"Gue rindu banget sama suami gue ka..........hiks hiks hiks" ucap Clarisa sambil menangis.
Keduanya bungkam tidak tahu harus berkata apa karena itu sangat sulit. Jika mereka tahu dimana keberadaan Mikhail, pasti mereka akan segera menemuinya.
Tidak perduli dengan penolakan keluarganya. Mereka juga sudah mengetahui apa yang terjadi dengan adik mereka, awalnya mereka sangat marah tapi mereka tidak bisa melakukan apa-apa.
"Sabar ya dek. Kakak yakin suamimu akan segera sadar dan berkumpul bersama kalian" ucap Jason dengan suara lembut.
"Benar yang dibilang ka Jason dek. Presdir King pasti ngak mau melihat loe nangis seperti ini dek" tambah Delon.
Hoek...............
Tiba-tiba Clarisa muntah di dada Jason membuat Delon sangat panik. Jason yang memang dari dulu sangat menjaga kebersihan menutup mata mengontrol emosinya.
"Jack cepat kembali ke mansion" titah Jason dengan suara tegas.
"Baik tuan" jawab Jack segera melajukan mobil dengan cepat.
~ Mansion Baker ~
Delon keluar sambil mengendong Clarisa yang sudah tidak bertenaga lagi setelah memuntahkan semua isi perutnya.
Sedangkan Jason ia bergegas membuka jas dan kemeja yang terkena muntah sang adik dan membuang disana. Ia masuk ke dalam mansion dengan bertelanjang dada, tidak perduli dengan tatapan pelayan yang kaget melihatnya.
"Bawakan teh jahe untuk adik gue" titah Jason dengan suara dingin.
"Baik den" balas bi Tun dengan sopan.
Delon bergegas keluar setelah menyuruh pelayan membantu sang adik mengganti pakaian. Saat di luar kamar ia mengusap wajahnya dengan kasar memikirkan sang adik.
"Ka" panggil Delon saat Jason menghampirinya.
"Gimana keadaan Clarisa?" tanya Jason.
__ADS_1
"Pelayan sedang membantunya mengganti pakaian kak" jawab Delon.
"Heemmm"
Tak berselang lama pelayan keluar memberitahu kalau mereka sudah selesai membantu Clarisa berganti pakaian.
Keduanya langsung masuk ke dalam kamar Clarisa ingin melihat keadaan sang adik.
"Gimana keadaan kamu dek?" tanya Delon naik ke atas ranjang dan duduk di samping Clarisa.
"Perut gue rasanya seperti diaduk ka. Mulut gue juga rasanya pahit ka" jawab Clarisa dengan suara lemah.
"Apa ada yang loe inginkan dek?" tanya Jason dengan suara lembut.
"Gue mau americano dingin tanpa gula ka dan steak yang rasanya sama persis dengan steak di restoran Le Relais de I'Entrecorte ka" jawab Clarisa dengan senyum lebar.
Hah.................
...π π π π π...
Jason dan Delon dibuat melongo mendengar permintaan sang adik yang sangat aneh. Apa lagi mereka juga tahu nama restoran yang disebut sang adik.
"Dek loe ngak lagi nyuruh kakak ke Perancis untuk beli steak buat loe kan?" tanya Jason dengan cepat.
"Kalau ka Jason mau ke sana boleh aja" jawab Clarisa dengan santai.
"Kita cari saja yang sama persis di sini ya dek" bujuk Delon.
"Terserah. Tapi gue mau rasa dan bentuknya harus sama persis dengan steak yang ada disana ka" ucap Clarisa dengan suara tegas.
"Kakak akan usahain dek" ucap Jason.
"Iya ka" ucap Clarisa sambil tersenyum lebar membayangkan makanan yang ia inginkan.
"Memang kenapa sih dek harus makan steak yang sama persis dengan restoran itu? Bukannya semua steak sama saja ya dek?" tanya Delon tak habis pikir.
"Steak di restoran itu makanan kesukaan suami gue kak. Bahkan hubby sampai mempekerjakan kokinya di rumah kami" jawab Clarisa dengan antusias.
Hah...............
Delon syok mendengar ucapan sang adik dan terjawab sudah kenapa adiknya sangat menginginkan makan itu.
Masih di perut saja kelakuannya sudah seperti daddynya, batin Delon sambil menggelengkan kepalanya.
Adik gue memang aneh, batin Jason.
~ Mansion Ares Rahardian ~
Zelena sedari tadi melamun di lantai dua memikirkan sahabatnya Zelena. Karena terlalu melamun ia sampai tidak mengetahui jika suaminya sudah pulang.
Grep.................
"Querido" ucap Zelena dengan kaget saat di peluk dari belakang.
"Apa yang kamu pikirkan mi amor sampai ngak tahu kedatanganku?" tanya Ares sambil mengecup leher Zelena.
"Querido jangan begini ada pelayan disini" ucap Zelena menahan desahannya.
Ares melirik pak Tio lalu memberi isyarat untuk meninggalkan mereka. Pak Tio menundukkan kepala dengan sopan dan berlalu pergi dari sana, tak lupa memberi tahu pelayan untuk tidak naik ke lantai dua.
"Katakan apa yang kamu pikirkan mi amor?" tanya Ares dengan suara lembut.
"Aku memikirkan Clarisa querido. Entah dimana dia sekarang dan bagaimana kabarnya" jawab Zelena dengan jujur.
"Dia pasti baik-baik saja dengan kakaknya mi amor" ucap Ares.
"Tapi aku tidak tenang sebelum mendapat kabarnya querido" balas Zelena dengan sedih.
"Nanti aku suruh Gery menghubungi direktur Jason untuk menanyakan kabar sahabatmu mi amor"
"Beneran querido?" tanya Zelena dengan senang.
"Apapun itu aku akan lakukan asalkan istriku bahagia" jawab Ares sambil tersenyum manis.
"Terima kasih suamiku"
"Sama-sama istriku"
Cup.....................
Zelena mencium bibir suaminya dengan lembut membuat Ares tak mau melewatkan kesempatan. Dengan cepat Arsen membawa istrinya ke dalam kamar dan melakukan olahraga bersama siang itu.
~ Wesly Hospital ~
"Kamu bercandakan Lili?" tanya Mira dengan tubuh gemetar mendengar kondisi putra sulungnya.
"Tidak aunty. Karena zat radioaktif waktu itu ka David mengalami bisu" jawab Lili menahan air matanya yang hendak keluar saat mengatakan kondisi sang pacar.
"Kakak aku bisa kembali bicarakan Lili" ucap Leon dengan suara tinggi.
"Leon kontrol emosimu" ucap Kevin menepuk bahu Leon.
"Lili katakan apa anak uncle bisa berbicara kembali nak?" tanya Albert dengan tatapan sedih.
"Uncle tenang saja karena ka David akan kembali bisa berbicara seperti biasa. Yang pasti ka David tidak selamanya akan bisu" jawab Lili dengan suara tegas.
...π π π π π...
To be continue.................
__ADS_1