
🍁Ada beberapa rasa sakit yang tidak akan pernah bisa disembuhkan dan hanya bisa coba untuk dilupakan🍁
.
.
.
.
Lili keluar dari laboratorium untuk bergegas pulang karena pekerjaannya sudah ia selesaikan dan ia berhasil mengetahui apa sudah terjadi kepada Victor dan lainnya.
Saat keluar dari laboratorium Lili merasa kasihan melihat kekasihnya yang tidak pernah beranjak pergi dari tempatnya dan tetap menemaninya seharian ini. Bahkan membawa seluruh pekerjaannya kesini karena tidak ingin ia sendiri disini.
“Sayang” panggil Lili dengan suara lembut sambil mengguncang badan David dengan perlahan-lahan.
David yang sangat peka dengan sentuhan segera membuka matanya dan langsung disambut senyuman manis kekasihnya.
“Apa kamu sudah selesai sayang?” tanya David dengan suara lembut.
“Sudah sayang. Ayok kita pulang sayang” ajak Lili.
“Bagaimana hasilnya sayang?” tanya David yang sangat penasaran dengan apa yang dilakukan oleh kekasihnya sepanjang hari didalam sana.
“Sampai di mansion baru aku beritahu sayang” jawab Lili yang sudah sangat lelah dan ingin segera membersihkan diri.
“Heeemmm” deham David.
Keduanya bergegas pergi dari sana menuju mansion Kendrick karena David harus menjaga mansion orang tuanya selama mereka tidak ada, sedangkan Lili ia memang malam ini akan menginap disana bersama adiknya Henry.
~ Mansion Kendrick ~
Sampainya di mansion Lili bergegas pergi ke kamar tamu tapi segera ditarik David menuju kamarnya. Lili hanya pasrah saja mengikuti kekasihnya karena ia sangat malas untuk berdebat sekarang.
“Kakak sudah pulang?” tanya Leon yang hendak turun ke bawah untuk mengambil minuman.
“Heeemmm” deham David menjawab.
“Ka Leon dimana Henry?” tanya Lili dengan cepat.
“Ada dikamar aku” jawab Leon.
“Beritahu Henry supaya jangan terlalu larut tidurnya ka Leon karena besok dia harus ke sekolah ya ka”
“Oke!” ucap Leon sambil mengangkat jari tangannya berbentuk oke.
David dan Lili segera ke kamar David meninggalkan Leon sendirian disana. Sampai didalam kamar Lili segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri karena sudah beberapa kali ia masuk ke kamar David.
Selesai membersihkan diri David segera bertanya kepada Lili mengenai hasil laboratorium Victor untuk diberitahu kepada Xander besok, apa lagi Lili belum mengetahui kabar Victor yang hari ini kembali muntah darah memakan masakan buatan Vincent.
“Jadi apa yang kamu dapatkan sayang?” tanya David saat keduanya sudah berada diatas ranjang.
“Ka Victor terkena racun sayang” jawab Lili.
“Apa! Bagaimana bisa sayang? Lalu kenapa dokter Juan tidak menemukannya sayang?” tanya David dengan kaget.
“Racun itu tidak bisa di identifikasi satu kali saja karena sudah menyatu dengan darah dan juga jenis racun itu adalah racun yang sangat mematikan karena tidak berbau dan langsung menyerang ke organ tubuh sayang. Makanya ka Victor mengalami muntah darah dan kita harus segera mencari penawarnya sebelum racun itu menggerogoti semua organ tubuh ka Victor sayang” jawab Lili menjelaskan.
David yang sedari tadi merekam penjelasan Lili segera mengirim rekaman itu ke Xander karena ia sangat malas jika harus menjelaskannya lagi nanti.
“Apa kamu tahu obat dari racun itu sayang?” tanya David dengan cepat.
“Tidak sayang” jawab Lili sambil menggelengkan kepalanya.
Kring…………..
...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...
Hp David berbunyi membuyarkan lamunan keduanya yang sedang memikirkan bagaimana cara menyelamatkan Victor.
Saat melihat nama Bos dilayar hpnya, David segera menyuruh Lili untuk tidur lebih dulu karena ia harus berbicara dengan Xander sekarang.
^^^“Halo bos” ucap David menjawab panggilan Xander di balkon kamar.^^^
“Apa tidak ada obat penawarnya?” tanya Xander to the point dari seberang.
__ADS_1
^^^“Lili mengatakan dia tidak tahu penawarnya bos” jawab David dengan suara dingin.^^^
“Cari penawarnya untuk adikku secepatnya” titah Xander dengan suara tegas.
^^^“Baik bos” balas David dengan patuh.^^^
Xander lalu mematikan panggilannya sepihak tak menjawab ucapan David barusan. Sedangkan David ia berpikir dengan keras dimana ia bisa menemukan penawar racun untuk Victor secepatnya sebelum racun itu menghancurkan organ tubuh Victor.
~ Mansion Xander Wesly ~
Xander menghembuskan asap rokok ke atas setelah selesai menelpon David mengkonfirmasi rekaman yang ia dengar barusan.
“Brother tidak akan membiarkan kamu sampai mati Vic dan brother akan melakukan apapun agar kamu sudah Vic” ucap Xander suara tegas.
Ia menatap ke arah depan sambil memikirkan nasib adiknya dan apa yang harus ia lakukan agar adiknya bisa sembuh.
Entah sudah berapa batang ia habiskan dalam sekejap, karena saat ini pikirannya tak tenang sampai berhasil mendapatkan penawar untuk Victor.
Phew……………….
Xander membuang napasnya dengan kasar dengan segala gundah gulana saat ini.
Tak berselang lama hpnya berbunyi membuat mata biru tajam itu menoleh ke arah hpnya dan mengerutkan keningnya melihat nama Daddy yang tertera disana.
^^^“Tumben daddy nelpon jam segini?” tanya Xander to the point.^^^
“Apa yang kamu pikirkan son. Perasaan daddy mengatakan jika kamu sedang pusing memikirkan sesuatu yang sangat berat” jawab Xavier dengan suara lembut dari seberang.
^^^“Aku memikirkan Victor daddy” ucap Xavier dengan jujur.^^^
“Katakan apa yang kamu dapatkan son tentang keadaan adikmu?” tanya Xavier dengan suara tegas.
^^^“Victor keracunan dad dan aku belum menemukan obat penawarnya. Apa lagi racun itu sangat mematikan karena menyebar perlahan-lahan dan menggerogoti semua organ tubuh penderita tanpa ada rasa sakit daddy” jawab Xander dengan jujur menjelaskan keadaan Victor yang sebenarnya.^^^
“Daddy tunggu kamu besok di mansion son dan kita akan mencari solusi bersama-sama”
^^^“Oke daddy”^^^
“Jangan terlalu bergadang son karena itu tidak baik untuk kesehatanmu”
^^^“I know dad”^^^
“Heeemmm”
Bibirnya tersenyum tipis melihat kekasihnya yang sudah nyenyak diatas ranjang dan dengan cepat Xander bergabung bersama Devina setelah membuka bathrobe menyisakan boxer saja.
~ Jakarta, Indonesia ~
Hari ini Zelena sudah bisa melepas gips dikakinya dan sudah bisa berjalan sendiri meski harus tertatih-tatih, tapi itu lebih baik dari pada duduk di kursi roda sepanjang hari dan tidak bisa kemana-mana membuat dia merasa sangat bosan.
“Ah! Leganya setelah melepas gips dikaki gue” ucap Zelena dengan senang.
“Jangan berjalan terlalu lama ya Zelena karena kaki loe masih belum sembuh total” ucap Liam memperingatinya.
“Oke dok” balas Zelena sambil tersenyum lebar.
Liam hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kekasih dari sahabatnya yang selalu saja membuat dia tak pernah bosan menatapnya.
Eheemm………….
...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...
Liam memutar malas matanya mendengar deheman pak Tio kepala pelayan di mansion Ares seakan memberitahunya untuk segera pergi jika ia sudah selesai.
“Ya ya gue tahu pak Tio!” ucap Liam dengan kesal sambil menatap pak Tio dengan sinis.
“Baiklah kalau tuan muda Liam tahu” balas pak Tio dengan suara dingin.
“Ckk!! Pelayan dan tuannya sama-sama menjengkelkan” ketus Liam sambil berdecak kesal.
“Dokter kenapa?” tanya Zelena dengan bingung melihat wajah Liam yang sedang kesal.
“Ngak ada apa-apa Zelena. Kalau begitu gue pamit dulu ya Zelena” jawab Liam dengan cepat.
“Iya dok”
__ADS_1
Liam bergegas pergi dari sana karena tak ingin mendapat masalah dari sahabatnya yang sangat posesif kepada pacarnya itu. Sedangkan Zelena ia segera berlalu menuju kamar dengan langkah pelan sekaligus melatih otot kakinya.
“KELUAR KAMU PEREMPUAN JAL**G” teriak suara bergema dari depan mansion membuat Zelena menghentikan langkahnya yang hendak masuk ke dalam lift.
“Siapa yang datang pak Tio?” tanya Zelena dengan penasaran.
“Biar saya lihat dulu nona” jawa pak Tio dengan sopan.
Zelena memutuskan kembali duduk diruang keluarga ingin melihat siapa yang datang dan berteriak memanggil perempuan jal**g di depan sana.
“Maaf nyonya tapi anda tidak diijinkan masuk” ucap pak Tio sambil menahan orang yang berteriak seperti orang gila didepan sana memaksa untuk masuk.
“Dimana ja**ng itu? Keluar kamu anak sialan” teriak seorang ibu paruh baya dengan suara menggelegar.
“Sepertinya gue kenal sama suara ini” gumam Zelena menebak siapa yang datang.
Seperti yang ia pikirkan kalau orang yang datang adalah Calista Rahardian atau ibu tiri kekasihnya. Zelena dengan tenang duduk di sofa menatap Calista yang seperti orang gila berteriak di mansion Ares.
“Jadi kamu menungguku disini ya anak sialan” hardik Calista dengan suara tinggi.
“Gue kira ada pasien rumah sakit jiwa yang lepas dari sangkarnya! Ehh! Ngak tahunya ternyata nenek sihir yang buat keributan di kediaman gue” balas Zelena dengan santai.
Calista melotot mendengar ucapan Zelena yang mengatainya nenek sihir yang membuat dia semakin emosi.
Sedangkan pak Tio dan para pelayan yang mendengar ucapan Zelena menahan tawa mereka yang hampir pecah mendengarnya menyebut Calista nenek sihir.
“Berani kamu mengatai aku nenek sihir perempuan ja**ng!” bentak Calista dengan suara tinggi.
“Siapa yang kamu sebut ja**ng nenek tua!” bentak Zelena dengan suara tak kalah tinggi.
“Siapa lagi kalau bukan kamu. Kamu itu pura-pura tidak tahu apa kalau status kamu disini itu sebagai ja**ng pemuas Ares” ejek Calista dengan sinis.
“Semua orang juga tahu kalau kamu itu hanya teman ranjang seorang Ares Maladika Rahardian! Apa namanya buat seorang gadis yang tidur bangun di rumah laki-laki dewasa tanpa status pernikahan dan hanya berstatus kekasih? Itu namanya PELA**R!” tambahnya lagi sambil menekan ucapannya di bagian akhir.
Hahahahaha…………………….
Tawa Zelena seketika pecah didalam sana membuat Calista menatapnya dengan bingung, karena ini bukan reaksi yang ia inginkan setelah mengatakan hal tersebut.
“Loe nyebut gue jal**g lalu bagaimana dengan putri loe yang video panasnya tersebar di dunia maya nenek tua? Bukannya putri loe itu yang pantas mendapat gelar PELAC*R” balas Zelena dengan suara tegas dan tatapan tajam.
“TUTUP MULUTMU PEREMPUAN SIALAN! JANGAN PERNAH MENGATAI PUTRIKU KARENA KAMU TIDAK BISA DISAMAKAN DENGAN DIA BERENGSEK!” teriak Calista dengan suara menggelegar didalam sana.
“Gue memang ngak bisa disamakan dengan putri loe itu karena perbedaan kita sangat jauh banget. Dia adalah seorang pelac*r sungguhan sedangkan gue bukan nenek tua” ucap Zelena sambil tersenyum smirk.
...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...
“Anak aku bukan pelac*r perempuan sialan!” bentak Calista dengan emosi.
“Ah! Gue baru ingat kalau ternyata darah jal**g putri loe itu ternyata menurun dari mamanya. Pantas saja kalian berdua itu berprofesi sama yaitu suka menjual tubuh kalian” ejek Zelena sambil tersenyum smirk.
“Perempuan sialan aku akan membunuhmu hari ini juga berengsek!” bentak Calista ingin memukul Zelena.
Beruntung para pengawal sigap menahannya sebelum ia berhasil memukul Zelena. Calista memberontak ingin lepas tapi ditahan oleh Hans dan lainnya.
Zelena bangun menghampiri Calista yang sedang dipegang oleh Hans dan lainnya dengan tatapan tajam.
Mata hazelnya menatap Calista dengan tajam dan dingin tidak seperti biasa dan aura mengintimidasinya seketika menguar didalam sana, seperti ketiga kakaknya yang memiliki aura penguasa seorang Wesly sejati.
“Loe tahu nenek tua! Ucapan loe barusan itu seperti ucapan putri loe sebelum gue bunuh dia” ucap Zelena sambil tersenyum menyirangi.
“Jadi kamu” ucap Calista dengan syok.
“Ya gue yang bunuh putri ja**ng loe itu bukan Ares” ucap Zelena sambil tersenyum smirk.
“Bangsat! Aku akan membunuhmu sialan! Lepaskan aku orang rendahan! Aku akan membunuh pela**r itu” teriak Calista dengan suara tinggi.
“Lepaskan dia” titah Zelena.
“Tapi nona” ucap Hans tak setuju.
“Gue bilang lepaskan dia sialan. Apa kalian semua tuli! Hah!” bentak Zelena dengan suara tinggi.
Hans dan temannya segera melepas Calista dan melihat hal itu, dengan cepat Calista tidak ingin membuang kesempatan untuk membalas kematian putrinya dengan membunuh Zelena.
Plak………….plak……………….
__ADS_1
...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...
To be continue……………….