
πIngatlah selalu ada harapan dibalik setiap ujianπ
.
.
.
.
Rio tertawa mendengar ucapan Victor barusan dan ia tak menyangka jika seorang Victor dewa sejuta pesona akan menerima penolakan dari seorang gadis.
Bugh..............
"Aw! Vic" pekik Rio dengan kesal saat kotak tisu melayang dan mengenai keningnya.
Sedangkan orang yang melempar kotak tisu barusan menatap Rio dengan tatapan tajam seakan ingin menelannya hidup-hidup.
Waduh aku sudah membangunkan singa yang sedang tidur nih, batin Rio sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kenapa? Mau protes! Hah" hardik Vincent dengan suara tinggi.
"Hehehehe! Tidak kok Vic. Mana berani aku protes sama bosku ini" ucap Rio sambil terkekeh.
"Ckk!! Kamu pikir aku anak kecil yang bisa dibohongi" ketus Victor.
"Ayolah Vic. Kamu kan tahu aku sejak dulu. Mana berani aku melawan bosku sendiri"
"Cih" decih Victor dengan kesal.
"Vic aku itu manajer kamu yang serba bisa. Apapun yang kamu mau pasti aku akan lakukan" ucap Rio dengan cepat.
"Apapun?" tanya Victor dengan senyum menyeringai.
"Ya apapun!" tegas Rio.
Victor menatap Rio sambil mengetuk dagunya memikirkan ide yang baru saja ia pikirkan di otaknya. Rio yang melihat raut muka Victor ia tahu bahwa dia sedang merencanakan sesuatu.
"Rio" panggil.
"Tidak Vic! Aku tahu apa yang kamu pikirkan" tolak Rio dengan cepat.
"Ingat ucapanmu barusan Rio" ucap Victor mengingatkannya.
"Sial" gumam Rio merasa terjebak dengan ucapannya sendiri.
"Katakan apa yang harus aku lakuin" ucap Rio dengan malas.
Victor tersenyum penuh arti sambil menyuruhnya mendekat dan membisikkan sesuatu kepada Rio.
"Apa? Kamu jangan gila Vic" hardik Rio dengan mata melotot.
"Aku tidak mau tahu Rio. Bawa dia ke private room di hotel Arthur" ucap Victor tak mau dibantah.
"Tapi Vic"
"Waktumu hanya 2 jam saja Rio dan jika lebih dari itu gajimu bulan ini dan bulan depan hangus" ketus Victor sambil berlalu pergi.
Phew...............
Rio membuang napasnya dengan kasar melihat kepergian Victor. Ia tidak tahu harus bagaimana membawa Katy ke private room di hotel Arthur tapi membayangkan gajinya yang hangus dua bulan ia tidak rela.
"Semangat Rio demi gajimu dua bulan" ucap Rio menyemangati dirinya sendiri meski ia tidak tahu apa ia bisa atau tidak.
~ Basecamp VK ~
Vincent bersama anggota inti gengnya sedang membahas masalah di batas wilayah geng milk mereka. Susah seminggu ini ada beberapa pembunuhan yang terjadi di batas wilayah mereka.
Karena hal itulah polisi mencurigai kelompok geng mereka yang terlibat hal itu. Padahal kenyataannya tidak sama sekali.
"Apa kalian sudah dapat dalang pembunuhnya yang sering terjadi di wilayah A?" tanya Vincent dengan suara dingin.
"Orang itu sangat pandai memilih lokasi karena tidak ada cctv di sekitar sana" jawab Alex.
"Aku rasa orang itu tahu betul mengenai daerah itu" tambah Vino.
"Benar kata Vino. Bagaimana bisa dia masuk ke wilayah kita dengan mudah apa lagi melakukan tindak kejahatan di sana? Lagian lokasi mayat tidak jauh dari pemukiman warga" papar Jason dengan bingung.
"Mayatnya dibunuh di luar wilayah kita" ucap Vincent dengan suara dingin.
...π π π π π...
Semuanya membenarkan ucapan Vincent barusan karena mustahil ada pembunuhan di sekitaran sana dan warga tidak mendengar teriakan atau jeritan korban.
"Pagi ini orang kita di kepolisian mengirimkan foto ini" ucap Angga sambil memperlihatkan sebuah foto di proyektor.
"Korek api batang?" tanya semuanya dengan serentak.
"Siapa yang masih menggunakan korek api batang di zaman serba canggih saat ini?" tanya Alex.
"Yang pasti orang itu tidak menggunakan pemantik" jawab Kino.
"Coba kalian lihat lebih jelas lambang di bungkusan korek api itu" ucap Angga sambil memperbesar gambar foto kecil di sudut bungkusan korek tersebut.
"Geng Eagle" pekik Jason dengan kaget.
"Bagaimana bisa geng Eagle mencari masalah dengan kita? Bukannya selama ini mereka tidak ingin berurusan dengan kita?" tanya Alex dengan bingung.
"Ada yang memprovokasi mereka" jawab Kino dengan singkat.
"Sebar anak buah kita di seluruh batas wilayah kita dan periksa siapapun yang masuk ke wilayah kita" ucap Vincent dengan suara dingin.
__ADS_1
"Baik bos" ucap semuanya dengan serentak.
"Angga lacak pemilik korek api itu" titah Vincent sambil menatap Angga.
"Oke bos"
"Kino, Sian kalian awasi persiapan race car bulan depan jangan sampai ada masalah"
"Siap bos" ucap keduanya dengan serentak.
"Yang lainnya tetap waspada dimana pun kalian berada dan segera berikan informasi jika ada sesuatu yang mencurigakan"
"Baik bos"
Prang...................
Tiba-tiba mereka semua diinterupsi oleh suara benda pecah dari luar. Vincent memberi isyarat kepada Alex untuk melihat siapa yang berani mengganggu rapat mereka.
Alex segera keluar dari ruang rapat menuju asal suara dan sampai disana ia melihat Ana yang terduduk di samping lemari hias yang sudah pecah di lantai.
"Ada apa ini?" tanya Alex dengan suara dingin.
"Alex..........hiks hiks hiks...........dia dorong aku" tunjuk Ana ke Natasha yang berdiri di depan tangga dengan wajah datar dan dingin.
Alex mengangkat alisnya sebelah menatap Natasha meminta jawaban atas ucapan Ana barusan. Tapi orang yang ditatapnya hanya diam saja tak berbicara apapun.
"Baby are you okay?" (sayang kamu baik-baik saja) tanya Marco dengan suara lembut ke Ana.
Mata Alex menatap Marco dengan tajam karena tak mengenalnya. Apa lagi ia tahu jika tidak sembarang orang bisa masuk ke sini.
"APA YANG TERJADI DISINI" hardik Vincent dengan suara tinggi bersama anggotanya yang baru keluar dari ruang rapat.
"Vin.......hiks hiks hiks hiks........bahu aku sakit" adu Ama sambil menangis.
"Natasha?" tanya Vincent menatap istrinya meminta jawaban apa yang terjadi.
"Seperti yang kamu lihat" jawab Natasha ambigu.
Vincent menutup mata menormalkan emosinya mendengar ucapan sang istri yang tak bisa menjelaskan apapun yang terjadi saat ini.
Ana lalu berdiri dan berlari menuju Vincent ingin memeluknya tapi berhasil dielak oleh Vincent sehingga ia malah memeluk Kino.
"LEPASIN AKU ANNABELLE" hardik Kino dengan suara menggelegar.
Natasha mengulum senyum geli melihat hal tersebut dan itu ditangkap oleh Vincent. Semua yang ada disana berbalik menahan tawa mereka karena tahu jika Kino itu alergi dengan perempuan.
"Kenapa kamu disini!" bentak Ana dengan emosi.
"Hey Annabelle sialan! Kamu itu kalau mau meluk orang lihat-lihat dulu jangan asal nyosor aja" ketus Kino dengan sinis.
"Berani kamu bilang aku Annabelle" hardik Ana dengan suara tinggi.
"Kalau iya kenapa?" tanya Kino dengan ketus.
...π π π π π...
"Who are you?" (siapa kamu) tanya Vincent dengan kening berkerut.
Pasalnya ia tidak mengenal cowok di depannya dan bagaimana bisa ia dengan leluasa berada disini.
"Alex" hardik Vincent dengan suara dingin.
"Vin kamu jangan marah ya. Dia itu pacar aku dan aku yang ngajak dia kesini" ucap Ana dengan suara lembut dan wajah lugu.
Natasha dan Jason seakan ingin muntah mendengar suara Ana barusan.
"Beraninya kamu bawa orang luar ke tempat aku" hardik Vincent dengan emosi.
"Maaf Vin. Aku cuman mau ngenalin kalian lagian kamu itu kan sahabat aku"
"Kamu tahu peraturannya Ana!" bentak Vincent.
"Hiks hiks hiks.........Vin bahu aku sakit" tiba-tiba Ana menangis mengeluh bahunya sakit untuk mengalihkan pembicaraan.
Ratu drama, batin Natasha sambil memutar malas matanya.
Ia berlalu pergi dari sana menuju lantai dua membuat Marco yang melihatnya sedari tadi tak mengedipkan matanya. Vincent yang menangkap tatapan mata Marco mengepal kedua tangannya tak suka.
"Jason urus Ana" titah Vincent berlalu mengikuti istrinya.
"Kenapa harus aku?" tanya Jason dengan cemberut menatap Ana.
Alex dan lainnya tertawa melihat wajah cemberut Jason karena sedari dulu ia tak menyukai Ana. Ana yang ingin mengikuti Vincent langsung dihadang oleh Alex.
"Jangan menganggu Vincent. Kamu dengar sendiri kan apa yang dia katakan tadi" ucap Alex memperingati.
"Minggir aku mau temui Vincent. Siapa kamu berani menghadang aku?" tanya Ana dengan suara tinggi.
"Jangan buat aku berlaku kasar kepadamu meski ada pacar kamu disini" bisik Alex dengan suara dingin.
Glek................
Ana menelan salivanya dengan susah mendengar ucapan Alex dan ia tak membantah lagi dan mengikuti Jason yang membawanya ke ruang kesehatan.
Sedangkan di lantai dua Natasha menatap Vincent yang bersedekap tangan di dada sambil menatapnya dengan tajam.
"Jelaskan apa yang terjadi Natasha" ucap Vincent dengan suara dingin.
"Seperti yang kamu lihat tadi" ucap Natasha dengan santai.
"Natasha" desis Vincent dengan wajah mengelap.
__ADS_1
"Kamu bisa lihat cctv" ucap Natasha dengan cepat takut melihat wajah emosi Vincent.
Cup.............
Vincent mencium bibir Natasha dengan cepat membuat Natasha kaget melihat apa yang dilakukan suaminya. Ingin mendorong Vincent tapi ia ingat kalau sekarang Vincent adalah suaminya.
"Jangan membuatku emosi" ucap Vincent sambil memegang tengkuk Natasha dengan kuat.
"Maaf"
"Heemmm"
Cup.................
Bibir Natasha kembali di cium Vincent dengan rakus, bibirnya yang manis membuatnya semakin kecanduan untuk terus melahap bibir itu.
"Beritahu mommy malam ini kita nginap di apartemen" ucap Vincent setelah ciuman keduanya terlepas.
"Tapi aku harus mengerjakan tugasku yang ada di laptop"
"Suruh saja asistenmu untuk mengambilnya"
"Baiklah"
Cup.............
Vincent mengecup bibir Natasha sekilas sebelum pergi ke ruang kerjanya yang berada di paling ujung sana. Marco yang akan naik ke lantai dua berhenti saat melihat kejadian tadi.
Berengsek! Kamu itu milikku baby, batin Marco sambil mengepal kedua tangannya dengan emosi.
~ Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta ~
Wajah datar dan dingin itu menuruni tangga jet dengan langkah tegap menuju mobil limousine yang terparkir di bawah sana.
"Selamat datang King" sambut Eksel anak uncle Raksa orang kepercayaannya di markas yang berada di Indonesia.
Mikhail tak menjawab sambutan Eksel dan berlalu menuju limousine yang sudah dibuka disana. Ia bersama Teivil dan Damon segera masuk ke dalam sana dan berlalu pergi.
"Where is my kitty?" (dimana kucingku) tanya Mikhail dengan suara dingin.
"Hotel Hilton King" ucap Damon melihat informasi dari anak buahnya.
...π π π π π...
Mikhail menatap Damon dengan kening berkerut mendengar ucapannya barusan tentang keberadaan Clarisa.
"Nona Clarisa mengantar pesanan dari salah satu pelanggan VIP di tempat kerjanya ke hotel itu King" ucap Damon menjelaskan seakan tahu arti tatapan Mikhail.
"Kita ke sana" titah Mikhail dengan suara dingin.
"Baik King"
Mikhail menatap suasana malam kota Jakarta dari kaca mobil dengan wajah datar dan dingin. Ia duduk dengan elegan membuat Teivel selalu kagum akan pesona Kingnya itu.
"Apa kamu bosan melihat Teivel?" tanya Mikhail dengan aura dingin.
"Maafkan aku King" pinta Teivel sambil menunduk.
"Itu peringatan terakhir buat kamu Teivel"
"Terima kasih King"
~ Hotel Hilton ~
Clarisa berlalu dari restoran hotel setelah mengantar pesanan salah satu pelanggan setia mereka di cafe yang memesan kopi dan dessert dari cafe mereka dengan jumlah banyak.
Saat akan melangkah menuju pintu keluar matanya terbelak melihat orang yang sangat ia kenali sejak dulu.
Deg.............
Hatinya serasa ditikam pisau tajam melihat keluarga bahagia di depannya yang berjalan menuju ballroom hotel seperti akan menghadiri acara pesta.
Oh jadi hari ini ulang tahun orang yang sudah membuang aku, batin Clarisa sambil tersenyum getir.
Lovely yang sempat melihat keberadaan Clarisa tadi tersenyum menyeringai. Ia dengan sengaja memeluk lengan papanya erat menunjukkan kepada Clarisa kalau dialah putri tunggal keluarga Baker sekarang.
Selamat menikmati kehancuranmu anak siluman, batin Lovely sambil tersenyum menyeringai.
Clarisa yang melihat begitu banyak orang di pintu masuk lobby mengurungkan niatnya untuk pulang lewat sana. Ia berbalik pergi menuju pintu belakang saja.
Brugh...............
"Maafkan saya tuan" ucap Clarisa sambil menunduk karena tak sengaja menabrak orang di depannya.
"Tidak apa-apa nona" ucap seorang pria yang baru saja ia tabrak dengan suara lembut.
Clarisa mengangkat mukanya sekilas melihat siapa yang ditabraknya dan kembali menunduk lalu pergi dari sana.
"Mama" lirih pemuda itu dengan tubuh mematung melihat sekilas wajah Clarisa yang sama persis dengan mendiang mamanya.
Hiks.............hiks............hiks.........hiks.........
Air mata Clarisa tumpah saat ia berlari keluar dari pintu belakang hotel. Ia tak sanggup menahan rasa sedih dalam hatinya melihat keluarganya yang sudah membuangnya.
Grep.............
Tubuh Clarisa tersentak saat tiba-tiba tangannya ditarik dan dipeluk erat. Aroma musk dan parfum yang sangat ia kenali membuatnya semakin menangis histeris.
"Kh......ail.........hiks hiks hiks" lirih Clarisa sambil menangis histeris.
"Yes it's me baby" (ya ini aku sayang) bisik Mikhail dengan suara baritone.
__ADS_1
...π π π π π...
To be continue...............