
πHidup bukan tentang menunggu badai berlalu, tetapi belajar menari di tengah hujanπ
.
.
.
.
Setelah berjam-jam di atas udara akhirnya rombongan Xander tiba di Indonesia. Mereka tiba di Indonesia pada siang hari, saat keluar dari jet Zelena merasa sangat panas berbeda saat di California.
"Pakai kaca matamu princess" tegur Xander di belakangnya.
"Iya brother" ucap Zelena segera memakai kaca mata hitam yang di pegangnya.
"Selamat datang bos dan nona muda" ucap pengawal yang dikirimkan uncle Kenzo adik angkat uncle Albert dan juga salah satu anggota Devil Dragon.
Xander dan David tak membalas ucapan para pengawal dan langsung bergegas menuju limousine. Saat hampir tiba di limousine Zelena menatap jet yang sangat ia kenali di seberang sana.
"Brother itu bukannya jet milik aunty Valeria" tunjuk Zelena ke jet yang terparkir tak jauh dari mereka.
Xander menatap ke arah yang ditunjuk adiknya dan melihat jet yang ia ketahui milik aunty Valeria. Sesaat matanya menyipit melihat jet dengan inisial KM yang sangat ia kenali yaitu King Mikhail.
Sial aku keduluan sama malaikat maut itu, batin Xander dengan kesal.
Bagaimana tidak ia sudah berencana ingin membeli jet pribadi keluaran terbaru, tapi malah di dahului oleh Mikhail. Apa lagi saat melihat jet milik Mikhail yang dipesan secara khusus dan berwarna hitam dengan nama jet pribadinya di tulis pakai emas asli.
Hahh.........
Zelena melihat kakaknya yang mendengus kasar saat melihat ke arah jet di sebelah jet milik aunty Valeria. Ia ingin bertanya tapi takut membuat kakaknya semakin kesal.
David yang tahu arti tatapan bosnya, mengulum senyum geli karena tahu pasti saat ini bosnya sedang memaki orang tersebut.
"Kita kemana bos?" tanya David.
"Penthouse" ucap Xander dengan suara dingin.
"Brother aku lapar" ucap Zelena sambil memegang perutnya.
"Princess mau makan apa hemm?" tanya Xander dengan suara lembut.
"Apa saja brother"
"David" ucap Xander dengan singkat.
David segera menyuruh sopir menuju restoran sebelum ke penthouse. Setelah makan ketiganya bergegas pergi ke penthouse milik Xavier yang sudah di berikan Xavier kepada Xander di Puri Orchid apartment.
~ Puri Orchid Apartment ~
Sampainya di Puri Orchid apartemen ketiga segera keluar dari limousine. Zelena mengedarkan pandangannya melihat apartemen di depannya dimana pemiliknya adalah daddynya sendiri.
Saat masuk ke dalam lobby Zelena tak kaget lagi melihat nuansa mewah dan luxury di lobby gedung apartemen. Bahkan ia melihat para pekerja di apartemen daddynya sangat ramah kepada pengunjung.
"Natasha" panggil Zelena melihat orang yang sangat dikenalinya.
Mendengar namanya di panggil Natasha yang sedang berjalan menuju lift langsung menoleh ke belakang. Sesaat ia kaget melihat teman masa kecilnya yang sudah lama tak bertemu.
"Zelena" pekik Natasha dengan histeris.
Grep............
Keduanya berpelukan merasa sangat senang bertemu kembali, Mikhail dan Xander yang melihat kelakuan adik mereka masing-masing hanya bisa menggelengkan kepala.
Dasar bocah, batin Mikhail dengan sinis.
Adikku malu-maluin aja, batin Xander.
...π π π π π...
"Xander, David, Zelena kalian ada di Indonesia juga?" tanya Thomas dengan kaget yang baru keluar dari lift.
"Uncle, aunty" ucap Zelena memeluk keduanya.
__ADS_1
David dan Xander hanya menyapa keduanya tak ingin berpelukan. Setelah berbincang agak lama Thomas dan Valeria segera pergi karena ingin bertemu dengan keluarga Valeria.
Mikhail yang dari dulu tak menyukai keluarga sang mommy memilih untuk tetap di apartemen saja dengan adiknya. Kelimanya segera masuk ke dalam lift menuju apartemen masing-masing.
"Zelena minta nomormu dong jadi nanti gue hubungi loe entar" ucap Natasha.
"Loe bisa bahasa Indonesia?" tanya Zelena dengan kaget.
"Heemmmm"
Dengan cepat Zelena langsung memberikan nomor teleponnya kepada Natasha. Saat tiba di lantai apartemen Thomas, Mikhail dan Natasha segera keluar, Zelena melambaikan tangannya saat keduanya keluar.
"Akhirnya aku bisa bertemu kembali dengan Natasha" gumam Zelena dengan tatapan rasa bersalah.
Ting..........
Lift akhirnya berhenti di penthouse Xander, ketiganya segera keluar dan bergegas masuk setelah Xander membuka pintu dengan sidik jarinya. Saat masuk ke dalam penthouse Zelena segera pergi ke kamar di lantai dua.
Xander melihat adiknya dengan tatapan datar, tadi di lift ia sempat mendengar ucapan sang adik apa lagi saat melihat tatapan mata adiknya yang menatap Natasha dengan rasa bersalah.
"David urus semua berkas princess dan daftar dia di sekolah paling bagus" ucap Xander dengan suara dingin.
"Baik bos"
"Apa pesananku sudah jadi?" tanya Xander.
"Besok akan dirimkan ke landasan pribadi bos"
"Heemmm"
David segera pergi saat melihat isyarat tangan Xander, melihat David sudah pergi Xander lalu menyusul Zelena ke kamar untuk beristirahat. Sampai di kamar ia melihat adiknya yang baru selesai membersihkan diri.
"Brother kapan kita rumah yang akan aku tempati?" tanya Zelena sambil mengusap rambutnya yang basah.
"Besok"
Xander segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Selesai mandi ia keluar sambil menggosok rambutnya dan melihat adiknya yang sudah tidur di ranjang king size miliknya.
Sepertinya besok aku harus membawa Zelena ke rumah yang ia tempati, batin Xander tak suka melihat orang lain menyentuh barangnya.
Seorang pria paruh baya sedang mendengar informasi yang dibawakan oleh orang suruhannya. Pria itu tersenyum smirk mendengar ucapan orang suruhannya.
"Jadi dia mengirim putrinya ke negera lain?" tanya Steven Lim sambil tersenyum smirk.
"Benar tuan"
"Cari dimana keberadaan gadis kecilku"
"Baik tuan"
Steven tertawa tak menyangka jika Xavier akan mengirim putri kesayangannya ke luar negeri. Ia sudah tidak sabar ingin mencari tahu dimana keberadaan putri kesayangan Xavier Wesly, musuh lamanya itu.
"Aku akan membalasmu lewat putrimu Xavier" ucap Steven sambil tersenyum penuh arti.
Tangan kanan Steven Lim yang berdiri di tak jauh darinya hanya diam saja. Padahal dalam hatinya ia tak menyangka jika tuannya akan terobsesi dengan gadis yang baru berumur 16 tahun.
Bahkan menurutnya gadis itu lebih cocok menjadi cucunya, tapi yang ia lihat tuannya sangat berna**u hanya dengan menyebut nama gadis tersebut.
~ Nakama Hotel ~
Di salah satu hotel bintang lima di Tokyo, seorang penyanyi terkenal sekaligus bintang model dan aktor internasional baru saja menyelesaikan tour konsernya.
Manajernya terus mengikuti sang artis menuju president suit di hotel tersebut. Saat masuk ke dalam kamar hotel Victor langsung menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.
...π π π π π...
"Selamat Vic konsermu kali ini sangat luar biasa" puji Rio.
"Aku tahu" sombong Victor dengan angkuh.
"Heemmmm! Apa sih yang tidak bisa di lakukan oleh dewa sejuta pesona ini"
"Nah itu kamu tahu! Hehehehe" ucap Victor sambil terkekeh.
__ADS_1
Rio memutar malas matanya mendengar ucapan artisnya itu, dengan cepat Rio segera membereskan pakaian milik Victor yang ia buang sembarangan.
"Nyonya besar menelpon Vic" ucap Rio sambil menyodorkan hp milik Victor.
Victor segera menjawab panggilan ratu kesayangannya itu sebelum ia di teror puluhan pesan dan panggilan.
^^^"Halo ratuku"^^^
"Halo son, selamat ya konser kamu sangat menakjubkan"
^^^"Siapa dulu dong mom, Victor gituloh" ucap Victor dengan sombong.^^^
"Ya mommy tahu son, kamu memang yang terbaik nak" puji Chloe dari seberang.
^^^"Thanks mom, where is daddy?" (terima kasih mama, dimana papa?) tanya Victor.^^^
"Ini ada di samping mommy"
^^^"Ckk!! Suruh daddy jangan terlalu menempel terus dengan mommy" cibir Victor.^^^
"Bukan urusanmu, urus saja urusanmu sama model itu" ketus orang yang baru saja ia bicarakan.
^^^"Hahahaha! Daddy paling tahu aja"^^^
"Jangan main-main di luar sana Vic, awas kalau mommy lihat gosip tentang kamu lagi" ancam Chloe dengan suara tegas.
^^^"Ya ya ya lihat aja mom, aku tidak janji"^^^
"VICTOR" teriak Chloe dengan suara tinggi.
^^^"Love you mommy"^^^
Victor segera mematikan panggilannya sepihak tak mau mendengar ceramah sang mommy. Rio hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Victor yang sering membuat nyonya besar darah tinggi.
"Vic kamu jadi ke Indonesia?" tanya Rio yang ingat ucapan Victor semalam.
"Jadi dong" ucap Victor dengan cepat.
"Baiklah setelah jumpa fans lusa, jadwalmu kosong selama seminggu" ucap Rio sambil melihat jadwal Victor di iPad.
"Yang benar kamu?" tanya Victor dengan semangat.
"Heemmm! Ini bonus dari direktur karena kamu sudah menyelesaikan konsermu dengan sukses"
"Tumben pak tua itu baik, apa dia tidak salah makan obat" ucap Victor sambil memegang dagunya berpikir.
"Seharusnya kamu itu senang karena di beri libur selama 1 minggu Vic" cibir Rio.
"Ckk!! Hanya seminggu saja buat apa"
"Loh bukannya itu lebih baik dari pada kamu tidak dikasih libur Vic" ucap Rio dengan bingung.
"Heemmm"
Victor segera berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, sedangkan Rio ia mengumpulkan semua hadiah pemberian fansnya Victor di ruang tamu agar besok Victor bisa foto dan posting ke instagramnya.
"Rio suruh model itu datang sekarang" teriak Victor dari dalam kamar.
"Jangan buat masalah lagi Vic" ucap Rio memperingati.
"Cepat tidak usah banyak protes, atau kamu mau aku ke club sekarang" ancam Victor.
"Ckk!! Baiklah" ucap Rio dengan pasrah.
Baru saja ia mengambil hpnya untuk menelpon model yang baru kenalan dengan Victor tadi, senyum di bibirnya langsung merekah mendengar ucapan Victor.
"Jangan lupa suruh dia datang sama temannya buat temani kamu juga"
"Kamu memang terbaik Vic" pekik Rio dengan semangat.
Sedangkan di dalam kamar Victor mengumpat kesal melihat pesan yang di kirim kakaknya Xander barusan. Ia berteriak dengan kesal membaca pesan tersebut, dimana Xander menyuruhnya untuk memimpin rapat besok di perusahaan agensi yang Xander beli tahun lalu.
"Berengsek padahal aku ingin bermain seharian penuh dengan model itu" umpat Victor dengan kesal.
__ADS_1
...π π π π π...
To be continue...................