Heartless 2

Heartless 2
Chapter 188


__ADS_3

๐ŸSebelum mencintai orang lain lebih baik kamu mencintai dirimu sendiri terlebih dulu๐Ÿ


.


.


.


.


Tubuh Clarisa menegang mendengar suara yang sangat ia kenali, itu adalah suara suaminya dan entah kenapa terdengar sangat menakutkan.


"It......u suara suamiku kan Mersi?" tanya Clarisa dengan gemetar.


"Benar nyonya itu suara King" jawab Marcel sambil mengangguk kepalanya.


"Aku akan menemui suamiku" ucap Clarisa sambil berlari pergi.


"Nyonya! Ah! Sial kalau King tahu aku akan dibunuh" sarkas Marcel dengan kesal.


Mau tak mau ia berlari mengikuti Clarisa takut ia kenapa-napa dengan apa lagi kandungannya masih sangat rentan karena baru berumur 3 minggu.


Dor.........dor...........dor............


Aaarrgghh............


Teriak Clarisa yang hampir saja terkena tembakan membuat dia langsung menunduk. Marcel berlari ke arah Clarisa dan membawanya pergi dari sana sebelum terkena hujan peluru.


"Dokter Marcus apa yang anda lakukan disini?" tanya salah satu anak buah Erich.


"Apa kamu tidak lihat sialan! Aku sedang berlindung dari peluru-peluru itu" jawab Marcel dengan suara tinggi.


"Sebaiknya anda segera pergi dari sini menuju jalan rahasia karena disini sangat berbahaya" ucap anak buah Erich tadi dengan cepat.


Duar.............duar..............


"Heh! Maksudmu ke sana?" tanya Marcel menunjuk arah bagian dapur kastil yang baru saja meledak.


"Uhm! Sepertinya dokter harus mencari jalan keluar sendiri" ucap orang tadi sambil menggaruk kepalanya tak tahu harus berkata apa.


"Ckk!!" decak Marcel dengan kesal.


Marcel lalu membawa Clarisa pergi dari sana yang masih terlihat syok. Tubuhnya sampai gemetaran mengingat kejadian beberapa saat yang lalu.


"Nyonya aku mohon jangan bertindak bodoh seperti tadi. Apa nyonya tidak ingat kalau nyonya saat ini sedang hamil muda!" bentak Marcel dengan suara tinggi.


"Anakku" ucap Leila dengan panik sambil memegang perutnya.


"Biar aku periksa kandungan nyonya dulu" ucap Marcel dengan cemas takut kandungan Leila kenapa-napa.


"Pakai sarung tangan Mersi ucap Clarisa dengan cepat.


Ehh..................


Marcel tercengang mendengar ucapan Clarisa yang sudah seperti King saja. Sangat posesif dan tidak boleh ada yang menyentuh tubuhnya, apa lagi itu kaum laki-laki seperti dia.


"Aku sudah memakai sarung tangan dari tadi nyonya" cibir Marcel sambil mengangkat kedua tangannya menunjukkan ke Clarisa.


"Ah! Aku tidak memperhatikannya" balas Clarisa dengan santai.


Cih! Anak King masih dalam kandungan saja sudah seperti King, batin Marcel.


Marcel dengan cepat mengeluarkan stetoskop memeriksa kandungan Clarisa. Ia menarik napas lega karena janin sang nyonya baik-baik saja.


Selesai memeriksa Clarisa, Marcel lalu membawa Clarisa pergi dari sana menuju bagian utara. Ia membawa Clarisa ke tempat yang paling dekat dengan laut agar bisa segera keluar dari pulau ini.


Duar............duar........duar.............


Dor...........dor..........dor...........dor.............


"Sial! Seharusnya aku tidak datang kesini" umpat Marcel setelah tiba di bagian utara pulau ternyata disana lebih parah.


"Mersi kita kemana lagi?" tanya Clarisa dengan panik.


"Kita bergerak ke timur nyonya" jawab Marcel.


Keduanya lalu berlari keluar dari sana menuju ke arah timur. Mereka harus menghindari anak panah dan peluru yang terus beterbangan ke arah mereka.


Brugh.............


...๐Ÿ ๐Ÿ ๐Ÿ ๐Ÿ ๐Ÿ...


Arrgghhh...............


Teriak Marcel dan Clarisa dengan suara tinggi saat tiba-tiba ada yang jatuh didepan mereka hingga mereka melonjak kaget.


"Tuan muda pertama Wesly" ucap Marcel dengan wajah kaget.


"Buat apa kamu disini?" tanya Xander dengan bingung melihat Marcel.


"Menurut tuan muda pertama?" tanya balik Marcel dengan kesal.


Xander lalu menatap Clarisa yang berpenampilan cupu di sampingnya sedang mengelus dada karena kaget tadi.


"Siapa dia?" tanya Xander dengan selidik.


"Dia milik King" jawab Marcel dengan tegas tak mau memberitahu identitas Clarisa yang sebenarnya.


Xander mengangkat alisnya saat mendengar ucapan Marcel barusan. Baru kali ini ia melihat ada orang yang di klaim milik Mikhail, apa lagi dia seorang perempuan yang masih muda.


"Sebaiknya kamu pergi dari sini karena disini sangat berbahaya" titah Xander dengan suara dingin.


"Oke" balas Marcel dengan suara tegas.


Marcel dan Clarisa segera berlalu menuju ke arah timur dan beruntung saat pihak anak buah Erich dan anak buah King melihat keduanya, mereka tidak menembak.


"Hancurkan tempat ini sampai rata dengan tanah dan jangan biarkan satu pun hidup" ucap Xander dengan suara lantang menggema disana.

__ADS_1


Dor..........dor.........dor...........dor...........


Sedangkan Mikhail seperti kesetanan menebas kepada musuhnya dan menembak mereka tepat di kepalanya di kastil Erich.


Ia lalu melirik ke arah pohon dimana ada pengawal gelapnya dan mengangguk kepala memberi perintah agar salah satu dari mereka pergi mengawal istrinya.


Crash.........crash...........crash...........


Kepala anak buah Erich menggelinding di tanah saat terkena tebasan katana Mikhail. Entah sudah berapa banyak kepala yang terlepas dari tubuh sudah tidak bisa hitung lagi.


"Damon bagian atas" teriak Mikhail dengan suara tinggi.


"Baik King"


Wush...............wush...............


Duar.........duar.............


Bunyinya ledakan di bagian atas kastil Erich dimana itu adalah kamar pribadi Erich. Mikhail tersenyum menyeringai seperti iblis menatap Erich yang juga sedang menatapnya dari ruang kontrol.


Wush................


Erich kaget melihat Mikhail yang sudah tidak terlihat di bawah sana. Ia seperti angin yang berhembus saja tidak ada yang bisa melihat pergerakannya.


"Cari King sialan itu!" bentak Erich dengan suara tinggi.


"Baik Lord" jawab hacker Erich.


Mereka menampilkan semua cctv di seluruh kastil bagian luar dan dalam mencari keberadaan Mikhail tapi nihil.


Tatapan Erich berkilat tajam memikirkan dimana Mikhail. Perasaannya tidak tenang dan segera menyuruh semuanya pergi dari sana sekarang karena ia yakin Mikhail pasti sedang menuju ke sini.


Aaarrgghh...............


"Berengsek!" maki Erich saat mendengar jeritan kesakitan dari lantai satu kastil.


"Lord sebaiknya kita segera pergi dari sini karena sudah tidak aman lagi disini" ucap Kein.


"Ya. Dimana Marcus?" tanya Erich yang tak melihat Marcel.


"Dia sudah menuju ke tempat persembunyian lewat jalan rahasia Lord" jawab dokter Rahel.


"Bagus"


Erich, Kein, dokter Rahel, dan anak buahnya berlari keluar dari sana menuju jalan rahasia di bagian dapur.


Sedangkan Damon yang sudah sampai di ruang kontrol tidak mendapati satu orang pun disana.


^^^"Mereka sudah kabur King" ucap Damon lewat earpiece.^^^


"Hehehehe! Aku sudah tahu" balas Mikhail sambil terkekeh.


"Hancurkan semuanya dan segera ke posisi aku" titah Mikhail.


^^^"Baik King"^^^


...๐Ÿ ๐Ÿ ๐Ÿ ๐Ÿ ๐Ÿ...


"Lord berhenti" teriak Kein dengan suara tinggi.


"Ada apa sialan?" tanya Erich dengan kesal.


"Lihat itu Lord" jawab Kein menunjuk ke arah samping.


Mata Erich seakan ingin keluar dari tempatnya melihat bagian dapur yang sudah hancur tertumpuk timbunan reruntuhan kastil, dan ia yakin jalan rahasia didalam sana sudah tertimbun dan tidak bisa dipakai lagi.


"King sialan! Aku akan membunuhmu berengsek!" teriak Erich dengan suara menggelegar.


"Apa kamu yakin kakek tua?" tanya Mikhail yang tiba-tiba saja sudah berdiri didepan mereka.


"Bunuh dia" teriak Erich dengan suara menggelegar.


Dor..........dor..........dor...........dor........


Cling..........cling..........


Kein dan lainnya melotot melihat Mikhail yang dengan santai menepis peluru dengan katana. Berkali-kali mereka menembak Mikhail tapi tidak satu pun mengenai tubuhnya.


"Apa kalian sudah puas bermain?" tanya Mikhail sambil tersenyum menyeringai di balik topeng wajahnya.


Glek.............


Semuanya menelan saliva dengan susah merasakan aura Mikhail yang sangat mencekam. Tubuh mereka seketika jatuh di lantai merasa udara disekitar mereka tidak ada.


"Be......rengsek!" umpat Erich dengan suara terbata-bata.


"Ah! Kakek tua terlalu mudah kalau kamu mati sekarang" ucap Mikhail sambil tersenyum smirk.


Uhuuukk............uhuukk..........uhhukkk.........


Erich seketika batuk mengeluarkan darah yang sangat banyak, ia merasa badannya terasa sangat panas.


Dor............dor........dor...........dor............


Mikhail menembak semua anak buah Erich menyisakan Erich, Kein, dan dokter Rahel. Ia lalu menendang ketiganya hingga terpental keluar dari kastil ke luar sana.


Brugh................aaarrggh............


Jerit dokter Rahel kesakitan saat mendarat di tanah. Mereka saat ini berada di tengah-tengah kastil dengan begitu banyak mayat disana.


Di bagian timur pulau, David terus menembak musuhnya dengan brutal. Jumlah musuh yang sangat banyak tidak membuat David ketakutan malahan ia merasa senang bermain dengan mereka.


"Habisi mereka semua" teriak David dengan lantang.


Dor.........dor...........dor.............


Duar.........duar.........

__ADS_1


Bunyi tembakan dan ledakan bersahutan disana. Pasukan elite milik Mikhail tidak gentar sama sekali dan terus maju menembak musuh mereka.


"Hati-hati ada ladang ranjau didepan sana" teriak David saat melihat ke arah depan dengan teropong.


"Kirim bom udara di seluruh area ranjau dan ledakan semua ranjau disana" titah David dengan suara lantang.


Pasukan Mikhail tak berbicara satu kata pun dan melakukan apa yang diperintahkan oleh David. Seperti serangga di langit bunyi bom rakitan Mikhail menyebar di seluruh area ranjau.


Duar..........duar..........duar..........duar........


Suara ledakan bersahutan di sana membuat tanah disekitar sana ikut bergetar. Bahkan sampai di bagian ujung pulau.


Teivel yang berada di bagian barat harus berpegang saat terjadi getaran seperti gempa bumi. Bibirnya terangkat melihat awan hitam di bagian timur dan yakin itu adalah ulah David.


"Hancurkan semuanya jangan biarkan satupun hidup" teriak Teivel dengan suara lantang.


Wush.........wush.............wush........


Duar..........duar............duar..........


Teivel tersenyum lebar mendengar suara ledakan bersaman jeritan kesakitan di depan sana. Ia terus menyuruh anak buahnya mengirim rudal dengan mesin rudal mereka tanpa henti menembak sarang musuh.


Dor...........dor...........dor.........dor........


Bunyi tembakan terus bergama saat pasukan Teivel maju ke arah depan menerobos masuk ke camp pelatihan musuh.


Teivel berjalan dengan santai sambil menembak musuh yang terlihat berhamburan keluar dari sarang mereka.


"Hehehehe! Hari ini aku sangat bahagia" ucap Teivel ambil terkekeh.


...๐Ÿ ๐Ÿ ๐Ÿ ๐Ÿ ๐Ÿ...


5 Jam kemudian


Sudah 5 jam berlalu sejak penyerangan Mikhail dan lainnya tapi belum habis juga. Xander, David, dan Teivel terus menembak musuh dan berjalan mendekati kastil yang terletak di tengah-tengah pulau.


"Mersi aku sudah tidak kuat lagi" ucap Clarisa dengan napas ngos-ngosan karena berlari sedari tadi.


"Apa nyonya mau aku gendong?" tanya Marcel menawar.


"Boleh saja jika kamu ingin mati ditangan suamiku" jawab Clarisa mengingatkan Marcel.


"Ah! Benar juga nyonya. Aku sampai lupa hal itu" ucap Marcel sambil menepuk keningnya.


"Apa kita bisa berhenti dulu?" tanya Clarisa dengan wajah lelah.


"Bisa nyonya" jawab Marcel.


Sebelum itu ia melihat sekeliling mencari senjata atau apapun yang bisa ia pakai untuk menjaga diri. Ia tersenyum melihat meriam rudal yang tak jauh dari sana.


"Nyonya kita harus sembunyi ada musuh yang mendekat" ucap Marcel dengan panik.


"Apa" balas Clarisa tak kalah panik.


Keduanya berlari tak tentu arah diantara jagung-jagung yang sangat tinggi disana. Mereka terus berlari asalkan bisa menghindar dari anak buah Erich.


"Mersi bukannya kamu juga bagian dari kakek tua itu?" tanya Clarisa dengan suara lemah.


Ehhh...........


Marcel menghentikan langkahnya dan berbalik tersenyum melihat Clarisa sambil memamerkan giginya. Ia melupakan hal itu karena panik melihat pasukan Erich yang sangat banyak menuju ke arah mereka.


"Aku lupa nyonya" ucap Marcel sambil memarkan giginya.


Bugh..............aw............


Marcel mengelus keningnya yang terkena jagung cukup lumayan besar karena dilempar Clarisa. Wajah Clarisa merah padam menandakan saat ini ia sangat marah karena baru saja ia ingin istirahat tapi sudah kembali berlari lagi.


"Kamu memang sangat bodoh Mersi" ketus Clarisa dengan kesal.


"Ckk!! Aku itu pintar nyonya hanya lupa saja tadi karena panik" decak Marcel tak terima di bilang bodoh.


"Itu sama saja Mersi kamu tetap bodoh" hardik Clarisa dengan suara tinggi.


Tak........tak.........tak...........


Marcel dengan siaga menodong meriam rudal mencari asal suara. Tiba-tiba ada segerombolan. anak buah Erich dengan wajah menjijikan muncul didepan mereka.


Aaaarrggghh.................


Teriak Marcel dan Clarisa dengan suara menggelegar melihat wujud anak buah Erich yang terlihat seperti zombie.


"Dokter Marcus tolong kami" ucap salah satu dari mereka.


"Kalian manusia atau zombie?" tanya Marcel dengan bergidik ngeri.


"Kami manusia dokter Marcus" jawab orang tadi.


"Aaaarrghh! PERGI JANGAN MENDEKAT! PERGI!" teriak Clarisa dengan suara menggema.


Deg.....................


Jantung Mikhail berdetak dengan cepat mendengar teriakan sang istri. Ia melihat ke arah Damon yang baru saja keluar dari dalam kastil setelah menghabisi semua anak buah Erich.


"Lacak" titah Mikhail dengan suara dingin.


"She ia safe King" (nyonya baik-baik saja King) balas Damon setelah memindai seluruh pulau mencari keberadaan Clarisa.


"Heeemmm"


Mikhail bernapas dengan lega mendapat kabar sang istri. Tiba-tiba Xander, David, dan Teivel bersama pasukan mereka tiba di kastil Erich.


Duar...............


Bunyi ledakan menggema di belakang sana membuat semuanya menatap ke arah belakang dengan kening berkerut.


...๐Ÿ ๐Ÿ ๐Ÿ ๐Ÿ ๐Ÿ...

__ADS_1


To be continue.............


__ADS_2