Heartless 2

Heartless 2
Chapter 29


__ADS_3

🍁Jika kamu sudah dikecewakan berulangkali oleh orang lain tapi kamu masih punya keberanian untuk berbuat baik padanya, maka kamu adalah seorang pejuang dengan hati malaikat🍁


.


.


.


.


Xander segera bergegas keluar kamar saat membaca headline news. Ia baru saja selesai mandi dan langsung dihubungi David yang mengatakan berita tersebut.


Tok........tok........tok........tok........


Ceklek........


Saat pintu kamar terbuka Xander langsung di sambut suara tangisan sang mommy. Rahang daddynya mengeras sedang menahan emosi yang siap keluar kapan saja.


"Daddy" ucap Xander dengan suara dingin.


"Mommy dan daddy sebentar lagi berangkat ke sana" ucap Xavier dengan suara dingin.


"Biar aku yang ke sana mengurus masalah Victor dad" ucap Xander.


"Kamu urus saja perusahaan dan saudara tiri daddy"


"Daddy tahu" selidik Xander dengan mata memicing.


"Heemmm! Uncle Thomas tadi baru beritahu"


"Heeemmm"


"Daddy dimana mommy" ucap Vincent dengan wajah cemas.


"Di dalam kamar"


Vincent segera masuk ke dalam kamar orang tuanya dan memeluk sang mommy yang sedang menangis di ranjang. Xander yang mendengar tangisan sang mommy juga ikut masuk ke dalam.


"Mommy" ucap Xander dengan suara lembut.


"Hiks hiks hiks........mommy yakin Victor tidak membunuhnya son......hiks hiks hiks" ucap Chloe sambil menangis.


"Aku tahu mom, Victor tidak mungkin melakukan hal itu" ucap Vincent.


"Dia tidak bakal masuk penjarakan?" tanya Chloe dengan wajah panik.


"Baby" ucap Xavier dengan tatapan tajam.


"Hiks hiks hiks......hubby"


Xander dan Vincent melepas pelukan mereka dan membiarkan daddynya memeluk mommy mereka yang menangis histeris saat ini.


Xander mengepal tangannya tak akan membiarkan orang yang sudah menjebak adik kembarannya bebas setelah ini. Tatapan matanya berkilat membuat aura di dalam kamar itu terasa sangat mencekam.


"Son" ucap Xavier dengan tatapan tajam.


"Heemmmm" deham Xander sambil mengontrol emosinya.


Setelah menenangkan sang istri malam itu juga Xavier dan Chloe terbang menyusul Victor di Madrid, Spanyol.


"Brother apa Victor benar membunuh wanita itu?" tanya Vincent saat keduanya duduk di balkon lantai dua.


"Penakut itu tidak akan membunuh orang"


"Ya brother benar! Hehehe" ucap Vincent terkekeh.


Ia lupa jika saudara kembarnya itu sangat takut membunuh orang. Sedari dulu ketiganya dilatih menembak atau di beri tugas daddy mereka mengurus musuh-musuh mereka dan Victor selalu saja beralasan jika ia kebagian tugas menghukum.


Victor memang bisa menembak dan memukul orang tapi ia tidak berani jika sampai membunuh. Selama menembak ia akan menembak di bagian tubuh yang tidak berbahaya.


"Brother apa orang yang menjebak Victor itu musuhnya atau musuh keluarga kita?" tanya Vincent.


Xander menatap adiknya memikirkan ucapannya barusan, ia tidak berpikir sampai ke sana tentang apa yang mereka alami selama beberapa tahun terakhir.


"Selalu waspada dimana pun kamu berada Vin" ucap Xander dengan suara tegas.


"Oke brother"


"Untuk saat ini jangan hubungi princess"


"Kenapa brother?" tanya Vincent dengan kening berkerut.


"Kita tidak tahu apa masalah Victor itu karena musuhnya atau musuh lama daddy"


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


Vincent diam memikirkan ucapan kakaknya yang ada benarnya juga tapi ia tidak yakin dengan adik bungsunya yang akan menelpon mereka setiap hari.


"Apa princess perlu diberi tahu soal Victor brother?" tanya Vincent.


"Princess sudah tahu"


"Aku yakin dia pasti ingin menyusul Victor" tebak Vincent.


"Daddy sudah mengurusnya" ucap Xander dengan suara dingin.


"Heemmmm"


Xander lalu bergegas ke kamar karena ingin mengecek email masuk serta beberapa pekerjaannya yang belum selesai. Tak lupa ia juga ingin mengecek laporan tentang Zelena hari ini.


~ Jakarta, Indonesia ~


Mikhail baru saja keluar dari mobil mewahnya ingin menemui rekan kerjanya di salah satu restoran termewah di Jakarta.


Saat masuk ke dalam restoran pandangan pengunjung restoran menatapnya dengan tatapan berdecak kagum. Bagaimana tidak penampilannya Mikhail saat ini sangatlah mempesona dan berkelas.


Ia lalu di arahkan menuju ruang VIP di lantai 2 oleh seorang pelayan. Sebelum sampai ruang VIP tiba-tiba seorang pelayan tak sengaja menabrak Mikhail dan menumpahkan minuman di jas mahalnya.


Plak...........plak........


Beberapa pelayan saat itu di lantai 2 tercengang melihat apa yang barusan terjadi. Tatapan mata Mikhail dari balik kaca mata hitamnya berkilat saat menatap pelayan pria yang berdiri dengan tubuh gemetar.


Apa lagi kedua pipinya yang sakit luar biasa karena di tampar oleh Mikhail. Tak jauh dari sana ternyata seorang gadis berpenampilan cupu melebarkan pupil matanya melihat kejadian itu.


"Damon" ucap Mikhail dengan suara dingin memberi isyarat dari gerakan tangannya.


"Baik King" ucap Damon yang paham arti isyarat Mikhail.


2 orang pengawal Mikhail maju menarik pelayan tadi membawanya pergi dari sana. Teivel yang sudah mengambil pakaian baru untuk Kingnya segera mengarahkan Mikhail menuju toilet di paling ujung.

__ADS_1


Mikhail berjalan menuju toilet dimana seorang gadis cupu berdiri di depan pintu toilet dengan pakaian petugas kebersihan berdiri gemetar.


"Move" (pindah) tatap Mikhail dengan dingin menghentak gadis cupu itu dari tempatnya.


Perlahan-lahan gadis cupu itu minggir ke samping sambil menunduk. Mikhail segera masuk ke dalam toilet untuk menganti pakaiannya yang basah.


Orang itu sangat menyeramkan, batin gadis cupu itu yang tak lain adalah Clarisa.


"Hey cupu ngapain loe berdiri disitu! Hah" bentak manajer restoran dengan wajah galak.


"M....aaf pa....k" ucap Clarisa dengan terbata-bata.


"Cepat bersihkan toilet di lantai 1" hardik Anton manajer restoran.


"Iya pa...k" gugup Clarisa sambil berjalan menuju lantai satu.


Beberapa detik kemudian Mikhail keluar dengan penampilan baru dan langsung disambut senyum ramah dari manajer restoran.


Mikhail tak memperdulikan pak Anton dan berlalu masuk ke ruang pertemuan. Pak Anton mengelus dadanya melihat Mikhail yang tak memperpanjang masalah tadi.


Setelah 2 jam membahas proyek yang sedang ia bangun akhirnya mereka berhasil kembali melanjutkan proyek yang tersendat beberapa waktu yang lalu.


"Dimana tikus-tikus itu" ucap Mikhail setelah masuk ke dalam mobil.


"Mereka sudah di markas King" ucap Damon.


"Kita ke sana"


"Baik King"


Mobil mewah Mikhail segera meluncur ke arah markas Black Shadow yang berada di Indonesia, ia sudah tidak sabar ingin bermain-main dengan tikus-tikus itu.


~ Markas Black Shadow ~


Sampainya di markas Mikhail disambut oleh uncle Raksa dan anaknya yang dua tahun lebih tua darinya.


"Selamat datang King" ucap uncle Raksa.


"Heeemmm"


"Eksel kenalkan dirimu son" perintah Raksa.


"Halo King! Perkenalkan saya Eksel" ucap Excel dengan sopan dan tegas.


"Heemmm" deham Mikhail dengan suara dingin.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


Eksel kaget tak menyangka jika orang didepannya sangat angkuh dan sombong. Ia memang sudah bertemu dengan mantan pemimpin Black Shadow yang terkenal dengan sifat angkuh.


Tapi ia tak menyangka jika King di depannya ternyata lebih angkuh dan dingin dari Valeria.


"Dimana mereka?" tanya Mikhail dengan suara dingin membuyarkan kekagetan Eksel.


"Di ruang tahanan King" ucap uncle Raksa.


"Bawa mereka semua ke ruang interogasi" ucap Mikhail sambil tersenyum smirk.


Eksel sempat melihat senyum itu dan merinding takut. Dia yakin 4 orang yang dibawa anak buah papanya tadi tidak akan selamat dari Kingnya itu.


"Ares" ucap Raksa dengan kaget.


Raksa tak menyangka jika Damon adalah anak Ares karena keduanya seperti pinang dibelah dua. Perbedaannya hanya di gaya rambut keduanya dimana Ares biasanya menyisir rambut ke belakang sedangkan Damon gayanya seperti boyband Korea.


"Papa siapa Ares?" tanya Eksel dengan penasaran.


"Nanti papa beritahu siapa itu Ares"


"Oke pa"


Keduanya segera masuk mengikuti Mikhail yang sudah masuk lebih dulu ke ruang interogasi. Sampai di sana ada 4 orang sudah di ikat tangan mereka dengan rantai di atas kepala mereka.


"Siram mereka" ucap Teivel dengan suara dingin.


Byur............


Seketika 4 orang itu terbangun saat air dingin membasahi tubuh mereka. Pandangan mata mereka langsung tertuju kepada sosok yang duduk di depan mereka sambil memegang segelas tequila.


"Pr.....es.....dir" ucap keempatnya dengan ketakutan.


"Bagaimana apa kalian suka disini?" tanya Mikhail dengan suara dingin.


"Ampun presdir, kami salah" ucap salah satu dari mereka yang bernama Ringgo.


"Ampun kamu bilang! Hahahaha" tawa Mikhail seketika pecah mendengar ucapan Ringgo.


"King boleh aku ikut bermain" pinta Teivel yang sudah tak sabar.


"Tunggu aku selesai"


"Baik King"


Mikhail lalu berdiri menuju meja panjang yang berisi banyak pisau dan alat-alat tajam. Ia lalu mengambil tang dan pisau kecil seperti pisau bedah.


"Let's paly the game as****e" (mari kita bermain berengsek) senyum smirk Mikhail terpampang nyata di bibirnya.


"Presdir saya mohon ampun jangan bunuh saya" pinta Ringgo dengan wajah panik.


"Kamu tahu tidak ada pengampunan untuk pengkhianat untukku" ucap Mikhail dengan suara dingin.


Sret.........sret........sret.........


Arrggghh.........


Jeritan Ringgo bergema di dalam sana saat pisau Mikhail meny***t pipi dan perut Ringgo bahkan Mikhail juga mengo**k pisau tepat di tusukannya membuat Ringgo berteriak kesakitan..


Mikhail tertawa mendengar suara jeritan Ringgo yang semakin membuatnya semangat.


Crash.......crash.......crash........


Dengan kejam Mikhail menc***t k**u kaki dan tangan Ringgo hingga terlepas. Bau anyir darah menyeruak di dalam ruang interogasi membaut ruangan tadi yang putih bersih berubah menjadi merah.


"Am...pu......n" lirih Ringgo menahan sakit yang amat luar biasa.


"Nikmati penderitaanmu sebelum kamu berpulang bangsat" ejek Mikhail.


Sret................


Mikhail tertawa puas mendengar jeritan kesakitan Ringgo saat ia menusuk pisau tepat di jantung Ringgo hingga ia tewas.

__ADS_1


"Kamu lanjutkan sisanya Teivel"


"Baik King" ucap Teivel dengan senyum sumringah.


Mikhail duduk di kursi sambil melepas kemejanya yang terciprat darah Ringgo. Eksel yang melihat badan proposional Mikhail berdecak kagum.


Beda banget sama punya gue, batin Eksel sambil melihat tubuhnya sendiri.


Mikhail tersenyum smirk menatap Eksel karena tahu apa yang ia pikirkan. Apa lagi saat ia menangkap keterkejutan Eksel ketika melihat tato di punggungnya.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


"King ada telpon dari nyonya besar" ucap Damon menyodorkan hp Mikhail.


Mikhail lalu menjawab panggilan dari mommynya sambil menatap Teivel yang sedang bermain dengan 3 orang tikus di depan sana.


^^^"Hemmmm"^^^


"Why Mikhail" ucap Valeria dengan suara dingin dari seberang.


^^^"Mommy tahu jawabannya"^^^


"She is your sister son" (dia adikmu nak)


^^^"I know mom" (aku tahu mama)^^^


"Mommy tidak mau tahu, kamu harus mengembalikan kulit Nata seperti semula"


^^^"Oke mom"^^^


"Apa kamu sudah membaca berita tentang Victor"


^^^"Heemmmm"^^^


"Bantu uncle Xavier mencari pelakunya yang sebenarnya son"


^^^"Oke mom tapi tidak gratis"^^^


"Off course my lion, do what do you need" (baiklah singaku, lakukan apa yang kamu butuh)


^^^"Oke mom, where is daddy"^^^


"Di ruang kerjanya kamu tahu daddymu tidak bisa diam jika menyangkut uncle Xavier son"


^^^"Ckk!! Padahal uang kita lebih banyak dari mereka" ketus Mikhail.^^^


"Ini bukan tentang uang nak tapi tentang kebersamaan dalam keluarga"


^^^"Yeah like mommy family! Huh" (seperti keluarga mama) ejek Mikhail.^^^


"Mikhail" desis Valeria dengan suara dingin dari seberang.


^^^"Aku bicara sesuai kenyataan mommy"^^^


"Heemmm"


^^^"Katakan pada daddy untuk menelponku jika sudah tak mampu"^^^


"Nanti mommy sampaikan son, jaga kesehatanmu disana"


^^^"Heemmm! Mommy sama daddy juga disana"^^^


"Bye son"


^^^"Bye mom"^^^


Mikhail menyimpan hpnya ke dalam saku celana setelah panggilan keduanya berakhir. Tatapan mata Mikhail tertuju ke arah Teivel tapi otaknya memikirkan permasalahan uncle Xavier yang tak ada habisnya.


Sepertinya ada seseorang yang sedang ingin mengacaukan pusat perhatian uncle Xavier, batin Mikhail.


"Zelena" gumam Mikhail tersenyum menyeringai mengetahui tujuan musuh uncle Xavier kali ini.


"Uncle Raksa bagaimana keadaan markas?" tanya Mikhail.


"Lancar seperti biasa King"


"Anak buah kita"


"Saat ini mereka disini adalah kelompok Alpa King yang bertugas untuk mencari informasi klien"


"Heemmm! Perketat markas jangan biarkan orang luar masuk ke dalam dan juga lihat anggota kita yang bertugas di lapangan"


"Baik King"


Mikhail segera pergi sambil bertelanjang dada bersama Damon, Teivel yang sudah selesai dengan 3 orang tadi menyuruh uncle Raksa untuk membuang tubuh mereka ke kolam buaya di belakang.


~ Universitas Karya Bangsa ~


Zelena baru saja selesai ujian membuat makanan penutup. Selesai ujian ia melirik jam yang sudah jam 17:00 sore dan keadaan kampus sudah sepi.


"Hay Zelena gimana ujian tadi" ucap Raya teman sekelasnya.


"Lumayan! Gue harap bu Sari suka sama hidangan gue"


"Sama gue juga deg-degan nunggu hasilnya besok"


"Heemmm"


"Loe mau pulang bareng ngak" tawar Raya.


"Ngak usah Raya, kebetulan gue ada janji sama Clarisa" tolak Zelena dengan lembut.


"Oh oke! kalau gitu gue balik dulu ya"


"Oke bye Raya"


"Bye"


Zelena yang hendak pergi menghentikan langkahnya saat melihat sosok ia kenali. Matanya melotot kaget melihat dua orang yang sedang berciuman di lorong samping.


"Itu kan Ares" gumam Zelena dengan suara pelan.


Matanya memanas melihat pemandangan didepannya, entah kenapa hatinya terasa sakit melihat hal tersebut.


Deg.............


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


To be continue.....................

__ADS_1


__ADS_2