Heartless 2

Heartless 2
Chapter 58


__ADS_3

🍁Percaya dan bertindaklah seolah-olah tidak mungkin gagal🍁


.


.


.


.


"Loe kenapa Risa kayak orang lagi nahan emosi aja?" tanya Zelena dengan santai.


Ya gue lagi nahan emosi buat mukul kepala loe yang kelewat polos itu, batin Clarisa dengan tatapan kesal.


Saking kesalnya ia langsung mengambil minumannya dan meminumnya langsung tidak menggunakan sedotan.


Uhuuk.........uhuukk.........uhhuukk.........


Clarisa batuk karena menelan es batu membuat Zelena dengan panik langsung memukul pundaknya membuat es batu tadi menyembur keluar dari mulut Clarisa.


"Makanya minum itu pelan-pelan Risa. Loe itu bukan anak bayi yang baru belajar minum" sarkas Zelena menceramahi temannya.


Clarisa hanya diam saja tak ingin membalas ucapan sahabatnya karena ia yakin perdebatan mereka tak akan selesai begitu saja.


"Loe mending lanjutin aja makan cake sana" ucap Clarisa.


"Tanpa loe suruh juga gue mau lanjut kali" jawab Zelena dengan ketus.


"Loe beneran ngak bohong kan Lele kalau loe itu pacaran sama tuan muda Rahardian?" tanya Clarisa selidik.


"Ya elah ni anak. Kan udah gue bilangin kalau cowok gue itu namanya Ares bukan tuan muda Rahardian! Loe itu budek ya!" kesal Zelena.


"Ya kan nama tuan muda Rahardian itu Asin Lele. Siapa tahu aja yang loe maksud Asin itu ya tuan muda Rahardian" jelas Clarisa.


"Ngak tahu gue. Nanti deh gue kenali ke loe kalau kita ketemuan"


"Emang loe ngak punya fotonya?" tanya Clarisa yang semakin penasaran.


"Hp gue mati" ucap Zelena sambil menunjukkan hpnya yang kehabisan daya.


"Heemmm"


Keduanya lalu bercerita tentang kuliah karena 3 hari lagi mereka sudah kembali masuk setelah libur semester. Tak berselang lama hp Clarisa berbunyi membuat Zelena melotot melihat hp baru Clarisa.


Clarisa menolak panggilan melihat nama Mikhail yang tertera di sana. Ia lalu membuat pengaturan hening karena tak ingin Zelena tahu siapa yang menelponnya.


"Risa loe bisa jelasin ke gue tentang hp loe itu?" tanya Zelena dengan selidik.


"Uhmm! Itu gue......menang doorprize waktu ke mall kemarin" ucap Clarisa berbohong.


"Doorprize? Loe ngak bohongin gue kan Risa?" tanya Zelena dengan selidik.


"Udah jangan mikirin hp gue. Lagian loe sendiri kan yang bilang kalau hp gue udah waktunya masuk museum" ucap Clarisa mengalihkan pembicaraan.


"Iya benar juga kata loe. Lalu hp loe yang lama dikemanakan?" tanya Zelena yang masih belum puas.


"Udah gue masukin ke museum"


"Eehh! Emang ada ya museum yang nerima hp butut punya loe itu" ejek Zelena sambil terkekeh.


"Adalah Lele. Kan itu hp udah dari zaman hp pertama kali di temukan jadi udah pasti di terimalah" ucap Clarisa meyakinkan.


"Heemmm"


Untunglah Lele percaya, batin Clarisa dengan lega.


Ia masih ingat jika hpnya yang lama dengan santai di banting Mikhail hingga hancur berkeping-keping dan memaksanya untuk memakai hp pemberiannya.


"Risa kita foto bareng yuk pakai hp loe" ajak Zelena.


"Oke"


Keduanya lalu berselfi dengan berbagai gaya tak sadar jika ada 2 orang pria sedang menuju ke arah mereka.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


"Mi amor" ucap Ares mengagetkan keduanya.


"Querido" pekik Zelena dengan senang melihat kedatangan kekasihnya.


"Om Asin" ucap Clarisa dengan kaget melihat keberadaan Ares Maladika Rahardian dan sesuai ucapan Zelena jika dia adalah pacarnya.


"Risa nih kenalin pacar gue Ares yang tadi gue bilangin. Bukan tuan muda Rahardian sesuai ucapan loe itu" ucap Zelena membuat ketiganya melotot kaget.


Zelena bengong melihat ketiganya yang menatapnya seperti melihat hantu saja.


"Kelian kenapa natap gue kayak gitu?" tanya Zelena dengan bingung.


"Lele kepala loe ngak terbentur kan tadi?" tanya Clarisa dengan cemas.

__ADS_1


"Ngak. Emang kapan kepala gue terbentur?" tanya balik Zelena.


"Mi amor" panggil Ares dengan suara lembut.


"Kenapa querido?" tanya Zelena dengan senyum manis.


"Pulang yuk" ajak Ares dengan suara lembut.


"Tapi minumanku belum habis querido"


"Bungkus saja mi amor. Aku capek banget dari Singapura langsung kesini"


"Oke"


"Risa loe mau pulang bareng kita ngak?" tanya Zelena.


"Ngak Lele. Gue masih ada urusan lain"


"Kemana?" tanya Zelena.


"Gue mau ke minimarket beli keperluan gue"


"Ya udah loe ditemani sama Gery aja. Bolehkan querido?" tanya Zelena dengan memelas.


"Heemmm"


"Ngak usah Lele. Gue ngak mau ngerepotin om Gaby" tolak Clarisa dengan suara kencang.


Gery menutup mata menahan kesal mendengar namanya yang diubah oleh Clarisa. Sedangkan Ares dan Zelena menahan senyum mereka agar tak dilihat oleh Gery.


"Nona Clarisa nama saya GERY bukan GEBY" tekan Gery.


"Iya om aku tahu kok" ucAp Clarisa.


"Dan saya juga bukan om anda nona. Jadi jangan panggil saya om" dengus Gery.


"Oke bang"


Gery melotot mendengar ucapan Clarisa yang memanggilnya abang seperti abang tukang bakso.


"Udahlah Gery jangan marah. Lagian loe cocok kok di panggil om" ejek Ares.


"Iya tuan" Gery hanya pasrah saja mau di panggil apa oleh Clarisa.


Keempatnya lalu bergegas pergi dari cafe tanpa tahu jika sedari tadi ada seorang pria paruh baya yang menatap Ares dan Zelena dengan tatapan emosi.


"Cari tahu siapa laki-laki itu" ucap Steven dengan emosi.


Steven bergegas pergi dari sana dengan wajah emosi hingga ia menabrak seorang pengunjung cafe yang hendak masuk tapi tak dipedulikannya.


"Sialan tuh kakek tua. Untung aja loe udah tua kalau ngak gue hajar loe" umpat laki-laki yang tadi ditabrak Steven.


~ Mansion Parker ~


Mobil yang mambawa Thomas dan Valeria akhirnya tiba di alamat yang dikirim oleh Mikhail. Setelah turun keduanya bingung melihat mansion yang sangat mewah di depan mereka.


"Honey ini mansion siapa?" tanya Thomas dengan bingung.


"Aku tidak tahu honey" jawab Valeria menatap sekeliling dengan tatapan datar dan dingin.


"Selamat datang tuan dan nyonya" sambut pak Dev di depan pintu.


"Pak Dev kenapa anda bisa disini?" tanya Thomas semakin penasaran.


"Aku yang suruh" ucap Mikhail dengan suara dingin dari dalam mansion.


"Hey raja setan dimana putriku?" tanya Thomas dengan kesal.


"Di perut Sandra mungkin" jawab Mikhail dengan asal.


"Apa. Jangan macam-macam kamu Mikhail" hardik Thomas.


"Mommy ayok masuk" ajak Mikhail tak menanggapi ucapan daddynya.


"Mikhail jawab pertanyaan daddy" hardik Thomas.


Mikhail tak menggubris ucapan daddynya dan mengandeng Valeria masuk ke dalam mansion membuat Thomas semakin meradang.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


Plak...........


"Ckk?! Posesif" ketus Mikhail saat tangannya di tepis Thomas dari istrinya.


"Biarin" ketus Thomas.


"Ini mansion siapa son?" tanya Valeria yang menatap dalam mansion dengan kagum.


"Mansion daddy dan mommy"

__ADS_1


"Apa" ucap Thomas dengan kaget.


"Aku tahu daddy pengen menghabiskan waktu di tanah kelahiran daddy jadi aku bangun mansion ini buat kalian"


Grep...........


Thomas memeluk putranya dengan erat tak menyangka jika Mikhail akan memberikan hal yang selama ini ia inginkan. Meski keduanya sering beradu mulut tapi mereka saling menunjukkan kasih sayang mereka.


"Terima kasih son" ucap Thomas dengan suara lembut.


"Sama-sama daddy dan aku harap daddy suka dengan mansion ini"


"Daddy sangat menyukainya son"


Mikhail melepas pelukannya dan memeluk sang mommy dengan erat. Thomas mengelap air matanya merasa sangat senang mendapat kejutan dari putranya itu.


"Mommy menyayangimu nak" bisik Valeria.


"I know mom" (aku tahu mama)


Mikhail lalu mengajak kedua orang tuanya berkeliling tak lupa memberitahu jika sore nanti Natasha akan tiba di mansion dan mulai detik ini ia tinggal di sana sebelum menikah.


"MIKHAIL" teriak Thomas bergema di dalam mansion saat Natasha tiba.


Bagaimana tidak tubuh putrinya penuh dengan luka dan memar di sekujur tubuhnya. Apa lagi melihat rekaman saat Natasha di dalam kandang Pita.


"Dimana King sialanmu itu!" bentak Thomas di depan wajah Teivel.


"Di penthouse tuan besar" ucap Teivel dengan suara dingin.


"Suruh dia kemari sekarang"


"Maaf tuan tapi King tidak bisa diganggu sekarang karena sedang menyelidiki orang yang menghadang mereka kemarin malam" papar Teivel menejelaskan.


"Apa maksudmu?" tanya Valeria yang baru keluar dari kamar Natasha.


"Semalam saat King sampai ada yang menghadang King saat di perjalanan ke penthouse nyonya"


"Siapa?" tanya Valeria.


"Saya tidak tahu nyonya"


"Apa ini ada hubungan dengan kecelakaan Albert dan Victor?" tanya Valeria to the point.


"Saya tidak tahu nyonya" ucap Teivel dengan jujur.


Valeria menyuruh Teivel untuk pergi karena ia yakin Teivel berkata dengan jujur. Hanya Damon yang tahu apa yang diketahui oleh Mikhail tapi Damon tidak akan pernah memberitahu mereka jika tidak ada perintah dari Mikhail.


"Honey apa ini dari orang yang sama?" tanya Thomas.


"Aku tidak tahu honey. Mulai sekarang kita harus waspada"


"Heeemmm"


~ Meksiko ~


Seorang pria berumur 30 tahun kaget melihat 50 anak buahnya yang sudah tak bernyawa di depannya. Tadi ada yang mengantar box kiriman untuknya dan saat dibuka ternyata isinya adalah mayat 50 anak buahnya.


"Hubungi tuan Dev" ucap pria itu dengan suara dingin bernama Carlos.


Anak buahnya langsung menelpon orang yang di panggil tuan Dev. Pada dering ketiga panggilannya langsing dijawab.


"Halo"


^^^"We failed" (kita gagal) ucap Carlos to the point.^^^


"Berapa yang kamu kirim"


^^^"50 dan mereka pulang dengan tak bernyawa"^^^


"Berengsek" maki Dev dari seberang.


^^^"Aku rasa dia sudah tahu siapa dibalik ini semua dan aku yakin ini hanya pemberitahuan dan peringatan untuk kita"^^^


"Segera kosongkan markasmu yang sekarang dan menghilang dari sana. Aku yakin anak Queen sialan itu lebih peka dari mommynya" hardik Dev dari seberang.


^^^"Oke. Tenang saja aku sudah meyiapkan jebakan untuk orangnya jika mereka kesini! Hehehehe" ucap Carlos sambil terkekeh.^^^


"Jangan menanggap remeh bocah setan itu Carlos. Kamu belum tahu seberapa licik dan kuatnya dia" bentak Dev.


^^^"Baik tuan. Maafkan aku"^^^


"Heemmmm"


Dev mematikan panggilannya sepihak membuat Carlos melempar hpnya hingga hancur di tembok karena merasa di remehkan oleh Dev.


"Sialan kamu Dev. Kamu itu sok berkuasa karena ada Light di belakangmu" hardik Carlos dengan sentai.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...

__ADS_1


To be continue................


__ADS_2