
πJika hati dan pikiran kita gelisah dan tidak tenang maka perbanyaklah berdoa dan beribadahπ
.
.
.
.
Bunyi langkah kaki semakin mendekat ke arah tempat persembunyian Zelena. Wajahnya semakin pucat dengan keringat dingin sebesar biji jagung berjatuhan dari keningnya.
Ya Tuhan selamatkan gue, batin Zelena berdoa dalam hati.
"Gadis kecil dimana kamu? Om punya hadiah nih buat kamu"
Zelena semakin ketakutan mendengar ucapan pria yang tepat berada di depan persembunyiannya, apa lagi suaranya terdengar sangat menyeramkan. Ia membekap mulutnya agar suaranya tak keluar.
Querido dimana kamu, batin Zelena semakin ketakutan.
Dor........dor.........dor........dor..........dor........
"Bangsat! Cepat cari gadis itu sebelum mereka masuk kesini!" bentak pria yang berdiri tepat di depan Zelena dengan emosi.
"Bos jumlah mereka sangat banyak" teriak salah satu anak buahnya.
"Sial! Pak tua itu ngak bilang kalau ada banyak orang yang melindungi gadis itu" hardik pria itu kembali.
"Bunuh mereka semua" teriaknya lagi.
Zelena bernapas lega saat mendengar langkah kaki semakin menjauh dari tempat persembunyiannya. Ternyata Zelena bersembunyi di belakang lemari kaca yang berada di ruang santai di lantai 2.
Kebetulan di belakang lemari itu ada lengkungan tembok yang agak masuk ke dalam jadi dari luar tidak akan terlihat ada ruang sempit di belakang lemari kaca.
"Bunuh mereka semua" teriak Ares menggelegar.
Wajahnya menghitam melihat para penjaga sudah tak bernyawa lagi. Apa lagi pengawal Zelena mereka juga sudah tak bernyawa lagi.
"Dimana Zelena?" tanya Ares yang melihat Joe kepala pengawal Zelena yang masih hidup meski tubuhnya penuh tembakan.
"Non.....a muda di da.....lam" ucap Joe dengan terbata-bata.
"Bawa dia ke rumah sakit dan lainnya yang masih selamat"
"Baik tuan" ucap Gery.
Ares berlari masuk ke dalam mansion bersama Gery dan anak buahnya. Baru sampai di depan pintu mansion mereka langsung disambut tembakan beruntun dari dalam mansion.
Dor........dor........dor........dor......dor......
"Bangsat berani mereka mengusik kekasihku" maki Ares sambil menembak musuh dengan lincah.
Ares bergerak dengan cepat dan lincah menyusup masuk dan menghindari tembakan. Pihak musuh mulai berjatuhan membuat pria yang mencari Zelena di atas memaki kesal.
"Anjrit! Dimana gadis sialan itu bersembunyi!" maki pria itu dengan kesal.
"Bos anak buah kita banyak yang sudah mati" ucap salah satu anak buahnya.
"Suruh mereka mundur"
"Tapi bos kita belum menemukan target" potong anak buahnya yang lain.
"Persetan dengan gadis sialan itu! Lebih baik kita mundur sebelum kita mati disini sialan!" bentak pria itu.
Mereka lalu melompat dari jendela di lantai dua tak perduli jika mereka terluka yang penting mereka selamat. Melihat musuhnya sudah kabur Ares menatap Gery memberi isyarat untuk mengejar mereka yang berhasil kabur.
"ZELENA" teriak Ares bergema memanggil kekasihnya.
Zelena yang mendengar suara kekasihnya akhirnya bernapas dengan lega. Dengan sisa tenaga Zelena mendorong lemari kaca di depannya hingga jatuh.
Prang................
...π π π π π...
Ares berlari menuju lantai 2 saat mendengar bunyi pecahan di atas sana. Langkah kakinya menapak dua anak tangga sekaligus karena mengkhawatirkan kekasihnya.
"ZELENA" panggil Ares dengan suara tinggi.
"Ares" lirih Zelena dengan suara lemah.
Ares yang memiliki pendengaran tajam langsung melangkah menuju asal suara dari kekasihnya.
Matanya melotot melihat penampilan kekasihnya yang berantakan masih memakai gaun tidur tipis apa lagi tubuhnya yang pucat membuat ia semakin cemas.
"Mi amor" panggil Ares dengan suara lembut.
Hiks.........hiks.......hiks.......hiks..........
Grep..........
Zelena menangis di dalam pelukan Ares karena ketakutan. Tubuhnya gemetaran karena masih takut dengan kejadian barusan apa lagi melihat beberapa pelayan disana yang bersimbah darah akibat tembakan.
"A.....ku ta......kut" ucap Zelena dengan gemetar.
"Tenang mi amor semua baik-baik saja. Jangan takut mi amor" ucap Ares sambil mengelus kepala kekasihnya dengan lembut.
"Mereka........hiks hiks hiks........mereka mau bunuh aku querido....hiks hiks" ucap Zelena semakin histeris.
"Jangan menangis lagi mi amor, aku tidak akan membiarkan kamu dalam bahaya lagi" bisik Ares yang menahan rasa emosinya.
__ADS_1
Gue bakal balas kalian semua karena berani ingin membunuh milikku, batin Ares dengan emosi.
Ares mengendong Zelena ala bridal style membawanya keluar sambil menaruh kepalanya di dadanya agar tak melihat lantai satu yang penuh dengan mayat dan darah.
"Querido.....hiks hiks hiks......bagaimana dengan para pelayan?" tanya Zelena.
"Jangan pikirkan mereka mi amor. Cukup pikir kondisimu saat ini"
"Tapi" ucap Zelena yang langsung di potong Ares.
"Zelena" desis Ares yang tak mau dibantah saat ini.
Ia tak bertanya lagi dan kembali memeluk leher Ares dengan erat menyembunyikan wajahnya di dada sang kekasih.
Adam dan Doni yang melihat nona muda mereka baik-baik saja segera mengirim kabar barusan ke Xander tentang apa yang barusan terjadi disini.
~ Mansion Parker ~
"Bagaimana Vincent, Natasha? Apa kalian berdua sudah siap?" tanya Xavier dengan suara tegas.
"Apa aku ada pilihan lain daddy?" tanya Vincent dengan suara dingin menatap Xavier.
"You know that answer boy" (kamu tahu jawabannya nak) jawab Xavier dengan tatapan dingin.
"Mommy tahu kamu laki-laki yang bertanggung jawab son" ucap Chloe mengelus tangan sang anak.
"Iya mommy"
"Natasha bagaimana keadaan kamu sayang?" tanya Chloe dengan lembut.
"Sudah lebih baik mommy" ucap Natasha sambil tersenyum manis menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
"Aku tidak ingin mengadakan pesta pernikahan besok cukup pemberkatan saja" ucap Vincent membuat semua mata memandangnya dengan tajam.
"Kamu cukup mengikuti prosesi besok Vincent tidak ada bantahan" hardik Xander yang sedari tadi diam.
"Ini pernikahanku dan aku yang memutuskan" ucap Vincent dengan suara tinggi.
"VINCENT!" bentak Xander menggelegar.
Brak...............
Bunyi pintu mansion yang dibuka dengan keras mengagetkan mereka semua yang tengah berada di ruang keluarga.
"Selamat datang tuan muda" ucap pak Dev menyambut kedatangan Mikhail.
"Kakak" lirih Natasha dengan mata berkaca-kaca menatapnya.
Mikhail menatap sang adik dengan tatapan dingin dan tajam seperti ada pisau yang sangat tajam yang menusuknya tepat di jantung.
"Son" ucap Thomas dengan emosi yang sedari tadi siang ia menahannya.
"Kenapa daddy! Apa daddy kangen sama aku?" tanya Mikhail sambil tersenyum smirk.
"Aku siap kapan saja daddy" ejek Mikhail menatap daddynya.
Raja setan sialan, batin Thomas dengan kesal.
Mikhail tersenyum smirk membaca pikiran daddynya dan tidak merasa kesal atau marah di panggil raja setan oleh Thomas.
...π π π π π...
"Pernikahan kalian besok tetap akan diselenggarakan" ucap Mikhail dengan suara tegas sambil duduk di sofa tunggal.
"Aku tidak setuju. Lagian ini pernikahanku jadi aku yang berhak menentukan!" bentak Vincent menatap Mikhail dengan suara tinggi.
Seketika aura di dalam sana berubah menjadi sangat dingin membuat bulu kuduk mereka semua merinding. Valeria menggenggam erat tangan putranya sambil menggelengkan kepalanya.
Phew...........
Mikhail membuang napasnya dengan kasar mengontrol emosinya saat ini. Mereka yang berada di sana seketika memegang jantung mereka yang berdetak dengan cepat apa lagi barusan mereka seperti kesusahan bernapas.
Apa ini aura Mikhail, batin Xander sambil menatap Mikhail yang sendang menutup mata.
"Jangan memandangku jika masih ingin melihat" sentak Mikhail membuat mereka semua kaget.
Pandangan mata mereka semua langsung menatap ke arah lain membuat Mikhail tersenyum smirk meski sedang menutup mata.
"Jam 19:00 di hotel Arthur pesta pernikahan keduanya" ucap Xavier.
"Dad" protes Vincent.
"Jam 15:00 sore pemberkatan di gereja Kalvari"
"Apa semua persiapannya sudah beres?" tanya Valeria dengan suara dingin.
"Sudah 100% aunty" jawab Xander yang memang mengurus semuanya.
"Semoga besok semuanya berjalan dengan lancar" harap Chloe.
"Pasti aunty" jawab Mikhail dengan suara dingin.
Tak berselang lama Damon membisikkan sesuatu ke telinga Mikhail. Mereka semua hanya menatap keduanya karena tak mengerti apa yang mereka bicarakan saat ini.
"Tanyakan saja Xander" ucap Mikhail yang tahu apa yang dipikirkan Xander.
"Tepati janjimu" ucap Xander dengan suara dingin.
Mikhail memberi isyarat kepada Teivel untuk menghidupkan televisi di depan mereka yang berukuran sangat besar.
__ADS_1
Semuanya diam menunggu apa yang akan di perlihatkan oleh Mikhail dengan tanda tanya besar.
"Kalian mengenalnya?" tanya Mikhail menampilkan foto Steven Lim.
"No" ucap semuanya dengan serentak.
"Kalau ini" ucap Mikhail lagi menunjukan foto berikutnya.
"Mario Drule" ucap Xavier dan Thomas serentak.
"Apa maksudmu King?" tanya Xander to the point.
"Damon" ucap Mikhail dengan wajah datar.
Seakan tahu maksud Kingnya Damon lalu maju berdiri tepat di samping televisi yang menunjukkan foto Mario Drule lalu berganti foto keduanya yang sejajar.
"Mereka berdua adalah orang yang sama" ucap Damon dengan suara dingin.
"Itu tidak mungkin. Aku sendiri yang sudah membunuhnya balasan tahun yang lalu" bantah Xavier sambil berdiri.
"Hubby tenangkan dirimu" ucap Chloe sambil memegang tangan suaminya.
"Sayangnya anda salah tuan Wesly"
"Damon apa maksudmu? Kenapa kamu bilang mereka berdua adalah orang yang sama?" tanya Thomas yang juga ikut penasaran.
"Mario Drule berhasil selamat dari ledakan itu meski seluruh tubuhnya hancur karena ledakan di gudang waktu itu tuan. Dan orang yang menyelamatkannya adalah putrinya yang bernama Joana Drule yang saat ini sudah menikah dengan pebisnis asal Jepang bernama Takeshi Naka" papar Damon menjelaskan.
"Jadi" ucap Thomas dengan kaget.
"Seperti tebakan tuan. Mario Drule menjalani operasi plastik sebanyak 20 kali di Korea Selatan dengan bantuan menantunya dan mengubah identitasnya menjadi Steven Lim, seorang pengedar narkoba di Jepang"
"****! Kenapa aku bisa kecolongan" hardik Xavier sambil mengepal tangannya.
"Jadi intinya son?" tanya Valeria yang tahu ada sesuatu yang sedang di sembunyikan anaknya.
Mikhail tersenyum menyeringai melihat mommynya yang tahu apa yang ia pikirkan.
...π π π π π...
"Dia saat ini berada di Indonesia" ucap Mikhail dengan santai.
"Apa" pekik semuanya yang ada di dalam sana dengan kaget.
"Bagaimana bisa?" tanya Xander yang selama ini menjaga adiknya dengan ketat.
"Kamu masih ingat waktu kejadian di mall?" tanya Mikhail dengan suara dingin.
"Jangan bilang" tebak Xander.
"Heemmm! Orang itu menukar hpnya dengan temannya di tangga darurat dan anak buahmu melewatkan hal itu" ejek Mikhail menatap Xander.
Wajah Xander merah padam menahan emosi karena kelalaian anak buahnya yang menjadi pengawal Zelena selema disana.
"Apa Mario mendekati princess King? Maksud uncle Steven Lim?" tanya Xavier dengan raut cemas.
"Yes uncle"
"Suruh princess segera pulang sekarang!" bentak Xavier menatap Xander putra sulungnya.
"Biarkan Zelena disana uncle" potong Mikhail.
"No. Princess dalam bahaya sekarang dan harus segera pulang" hardik Xavier.
"Lalu apa uncle bisa mengobati jiwa psycopath Zelena?" tanya Mikhail membuat Xavier bungkam.
Ia lupa jika kepergian putrinya ke sana adalah untuk mengobati sisi lain dalam dirinya dan juga mengontrol jiwa psycopath dalam tubuhnya agar bisa berdampingan bersamanya seperti Valeria dan Mikhail.
"Zelena putriku........hiks hiks hiks" tangis Chloe pecah memikirkan putrinya.
Valeria berjalan menghampiri Chloe dan memeluknya karena ia tahu saat ini Chloe sangat membutuhkan sandaran.
"Aku sudah menemukan pemicu jiwa psycopath Zelena muncul"
Deg............
Jantung Xander, Vincent, dan Xavier berdetak dengan cepat mendengar ucapan Mikhail barusan. Sedangkan Chloe ia tak memikirkan ucapan Mikhail karena saat ini pikirannya sangat kacau.
"Honey ajak Chloe ke kamar tamu" ucap Thomas.
"Heemmmm"
Valeria dan Natasha membawa Chloe ke kamar tamu meninggalkan para laki-laki disana membahas perihal mengenai Zelena.
"Bisa kamu jelaskan lebih rinci sialan!" bentak Xander dengan emosi.
"Damon" ucap Mikhail dengan malas.
"Ini pemicunya tuan muda Wesly" ucap Damon menaruh ukiran segitiga terbalik dengan ular yang melilit tiang di bagian tengahnya.
"Itu mainan kalung yang dipakai Mario Drule dari dulu hingga sekarang dan kalung itu adalah kalung milik putranya Zen Drule waktu itu. Kalung itulah yang menjadi pemicu nona Zelena hilang kendali" papar Damon menjelaskan.
Damon lalu memutar video berdurasi 3 menit 10 detik. Mereke berempat menonton video tersebut dengan mata melotot dan kaget
"Princess" lirih Vincent dengan suara bergetar.
"Ini adalah sosok iblis dalam tubuh nona muda" ucap Damon dengan suara dingin.
Xander, Vincent, dan daddy mereka seketika lemas tak bertenaga setelah menonton video tersebut. Air mata ketiganya jatuh dan menangis dalam diam memikirkan Zelena.
__ADS_1
...π π π π π...
To be continue..................