
πKadang lebih baik diam daripada menceritakan masalahmu, karena sebagian orang hanya penasaran bukan karena mereka peduliπ
.
.
.
.
"Baby" pekik Xavier dengan kaget menghampiri sang istri.
"Honey" ucap Thomas dengan cemas mendekati sang istri yang sedang berbicara dengan Yorla.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Albert dengan khawatir sambil memeluk Mira.
"Ada apa sayang?" tanya Rehan dengan cemas menghampiri istrinya yang baru saja selesai memeriksa kandungan Natasha.
Semua anak-anak memandang keempat wanita didepan mereka dengan tatapan bingung. Mereka kaget karena keempat wanita paruh baya didepan mereka menjatuhkan gelas serentak.
"Ka apa yang terjadi?" tanya Henry berbisik.
"Mana aku tahu" jawab Leon.
"Coba kakak tanya ke mommy ka Leon" usul Victor.
"Bagaimana kalau kamu saja yang bertanya ke mommy kamu" ketus Leon dengan kesal.
"Hehehehe! Sudah ada daddy dan twin jadi pasti sebentar lagi aku juga tahu" balas Victor sambil terkekeh.
"Ckk!! Kalau begitu jangan menyuruhku" decak Leon dengan kesal.
"Kalian bisa diam tidak!" bentak Vincent dengan suara dingin.
"Honey" ucap Natasha sambil mengelus tangan suaminya agar tidak emosi.
"Perasaan aku tidak tentang dengan putraku" ucap Chloe, Mira, Valeria, dan dokter Lauren dengan serentak.
Eehh................
Mereka semua di buat kaget lagi mendengar ucapan keempatnya yang serentak dan sama. Sedangkan orang yang menjadi pemeran utama malah saling melirik dan tertawa tak menyangka akan mengucapkan hal yang sama.
"Mommy seperti sudah janjian aja! Hehehehe" ucap Victor sambil terkekeh.
"Aunty baik-baik saja kan?" tanya Katy menatap Valeria dengan tatapan sulit di artikan.
"Apa yang aunty rasakan?" tanya Jesica yang tahu ada sesuatu yang mengganjal di hati Valeria.
Grep...............
Valeria tidak menjawab pertanyaan kedua keponakannya dan malah memeluk tubuh suaminya dengan erat. Thomas yakin ada sesuatu yang menganggu perasaan istrinya, begitu pula dengan Alber, Xavier, dan juga Rehan.
"Perasaan aku tidak tenang hubby. Entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang buruk akan terjadi dengan putra sulung kita hubby........hiks hiks hiks" ucap Chloe sambil menangis menatap suaminya.
"Semua akan baik-baik baby" ucap Xavier dengan suara lembut sambil memeluk istrinya.
Victor dan Vincent yang melihat mommy mereka menangis segera ikut memeluk sang mommy. Sedangkan Albert juga memeluk Mira menangkan istrinya.
"Daddy" panggil Leon yang juga ikut merasa takut sesuatu yang buruk terjadi dengan kakaknya.
"Kakakmu anak yang kuat son" ucap Albert dengan suara tegas.
Leon memeluk daddynya ikut menangis entah kenapa ia sangat khawatir dengan kakaknya. Rehan sendiri memeluk istrinya dengan erat menenangkannya untuk tidak terlalu khawatir dengan putra mereka Marcel.
Tak...........tak............tak...............
Bunyi langkah kaki yang terdengar seperti orang berlari mengalihkan pandangan semuanya menuju ke arah samping. Disana ada uncle Andre yang datang dengan napas satu-satu ingin memberitahu informasi penting.
"Ada apa Andre?" tanya Thomas dengan kening berkerut.
"Tuan besar anda harus melihat ini. Ini menyangkut King" ucap Andre dengan panik.
Deg..................
Jantung mereka semua berdetak dengan cepat mendengar ucapan Andre barusan. Pikiran mereka tidak tenang memikirkan kalau ada sesuatu yang buruk terjadi dengan Xander dan lainnya.
...π π π π π...
Valeria berlari pergi menuju ruang kontrol di samping barat kastil. Sampai di bangunan yang berlantai 3 ia segera masuk ke dalam sana diikuti Andre.
Bukan hanya Valeria saja tapi semua keluarga besar Wesly juga turut pergi ke sana. Mereka ingin mendengar kabar tentang putra dan kakak mereka yang sudah pergi selama 3 hari.
"Apa yang terjadi?" tanya Valeria dengan suara dingin.
"Master silahkan dengar percakapan terakhir King dan pangeran Maxim" jawab Andre.
Mereka semua lalu mendengar percakapan Maxim dan Mikhail sebelum hilang kontak. Apa lagi saat mendengar tentang kata nuklir seketika mereka dibuat syok.
"Brother baik-baik saja kan daddy.........hiks hiks hiks?" tanya Victor yang susah menangis histeris.
"Hubby............hiks hiks hiks" ucap Chloe sambil terisak.
Semuanya menangis memikirkan David, Mikhail, Xander, dan lainnya yang menjalankan misi saat ini. Katy menghampiri Valeria dengan air mata berlinang ingin menanyakan kakaknya.
"Prince baik-baik saja kan aunty?" tanya Katy dengan tubuh gemetar.
"Lokasi mereka?" tanya Valeria dengan suara dingin.
Rasanya ia ingin sekali menangis saat ini memikirkan putranya tapi sekuat tenaga ia tahan. Ia harus tenang untuk mencari tahu keberadaan putranya.
__ADS_1
"Lokasinya mereka tidak terdeteksi master. Awalnya 3 jam yang lalu lokasi Maxim masih terlacak tapi setelah itu tidak ada lagi sehingga aku berniat menemui master untuk membantu mencari lokasi King dan lainnya. Barusan anak buahku memberitahu tentang rekaman yang mereka dapat dari satelit kita" jawab Andre menjelaskan.
"Kalian semua kembali ke kastil" ucap Valeria dengan suara dingin.
"No Val kami tetap disini. Aku tidak akan tenang setelah mengetahui kabar anakku" ucap Chloe dengan suara tegas.
"Kalau begitu berhenti menangis karena kalian hanya akan mengganggu konsentrasi semua yang ada disini" titah Valeria dengan suara tegas.
Hening...............
Tidak ada yang menangis lagi, Thomas menghampiri istrinya dan memeluknya karena tahu istrinya saat ini sedang mati-matian mengontrol emosinya.
"Putra kita akan baik-baik saja honey. Percaya sama putra kita" ucap Thomas dengan suara tegas.
Valeria menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca karena tidak bisa menyembunyikan perasaannya didepan suaminya. Thomas mengangguk kepalanya memberitahu untuk yakin dengan ucapannya.
Cup..............
"Uncle please banyak yang jomblo disini" ketus Victor dengan malas melihat kemesraan keduanya.
"Ckk!! Kalau iri bilang saja" decak Thomas dengan kesal.
"Ayo kita cari putra kita honey" ajak Valeria.
Valeria dan Thomas lalu duduk di depan komputer dan mulai menggerakkan tangan mereka dengan cepat diatas keyboard.
Andre dan anak buahnya juga turut mengerakkan jari tangan mereka diatas keyboard membantu kedua majikan mereka.
~ Kastil King ~
Pak Liam menatap pesawat jet tempur otomatis Mikhail yang baru saja landing di landasan pribadi Mikhail.
Ia lalu bergegas pergi ke paviliun belakang untuk istirahat karena waktu sudah menunjukkan pukul 02:00 dini hari.
Tanpa mereka semua sadari ternyata Damon keluar dari jet tempur Mikhail dan menyelinap masuk ke dalam kastil.
Mata merahnya sudah mulai sayup berganti warna silver menandakan energinya sudah hampir habis. Dengan cepat Damon masuk ke dalam lift menuju lantai 10 ruangan pribadi Mikhail.
Ia masuk ke dalam kamar Mikhail menuju walk in closet dan menaruh tangan di lukisan King of Blood milik Mikhail sehingga terbuka.
...π π π π π...
Dengan cepat Damon masuk ke lift membawanya ke lantai bawah. Sampai di ruangan rahasia Mikhail energinya tinggal 2 persen, Ia lalu memerintah Res mengirim lokasi Max dan Mikhail ke markas utama.
Brugh..................
Damon terjatuh tepat di depan pintu masuk, matanya berubah warna menjadi silver menandakan energinya habis.
Beruntung ia sempat mengirim lokasi terakhir Mikhail tepat waktu meski tidak dengan rekaman kejadian disana.
Sedangkan Res robot cerdas buatan Valeria yang dikembangkan oleh Mikhail tiba-tiba menghilang. Lampu didalam sana mati karena ia membutuhkan sidik jari Mikhail dan darah Mikhail untuk beroperasi.
Valeria kaget melihat pesan yang dikirim oleh Res shadow kecerdasan buatannya. Dengan cepat tangannya berkutat memecahkan enkripsi kode dari pesan tersebut.
Tak.................
"Honey itu apa?" tanya Thomas melihat deretan huruf yang naik turun di layar utama.
Valeria tidak menjawab pertanyaan suaminya dan tetap melihat ke layar utama yang sangat besar. Semua disana juga ikut melihat hal itu meski tidak paham sama sekali.
"Bingo" ucap Valeria sambil tersenyum lebar.
"Jangan bilang itu" ucap Thomas yang sudah mengetahui maksud istrinya.
Valeria tersenyum lebar mengangguk kepala menatap suaminya menjawab apa yang dipikirkan suaminya benar.
"Andre kirim pasukan kita ke lokasi putraku sekarang" titah Thomas dengan cepat.
"Thomas apa maksudmu?" tanya Xavier.
"Lokasi Mikhail dan lainnya berhasil kita dapatkan. bos" jawab Thomas dengan senang.
"Syukurlah" ucap Xavier dengan lega.
"Master ijinkan saya untuk pergi ke sana" ucap Juan yang sedari tadi diam didalam sana.
"Kamu pimpin pasukan cadangan ke sana dan jemput putraku dan semuanya" titah Valeria dengan suara tegas.
"Baik master" jawab Juan dengan suara tak kalah tegas.
"Juan tetap hubungkan panggilan dengan kami" ucap Thomas.
"Baik tuan besar"
Juan bergegas pergi dari sana mengumpulkan pasukan Black Shadow. Dio yang mendengar papanya akan pergi ke lokasi Mikhail segera memaksa papanya untuk ikut.
"Papa ayolah! Kali ini saja pa" ucap Dio dengan memelas.
"Tidak! Kamu tetap saja disini" ucap Juan dengan tegas.
"Papa aku mohon ajak aku juga ya pa" ucap Dio dengan kekeh.
"Bawa saja dia pergi pa. Lagian ada kamu yang akan menjaganya nanti" ucap Riana istri Juan dengan suara lembut.
"Phew! Siapkan barang kamu" ucap Juan mengalah sambil membuang napasnya dengan kesal.
"Yeay! Papa memang terbaik" pekik Dion dengan semangat.
Riana memeluk suaminya tersenyum manis menatap wajah sang suami yang cemberut. Juan mau tak mau harus membawa anaknya karena permintaan ibu negara.
__ADS_1
"Jaga diri kalian disana dan ingat kalian harus pulang dengan selamat pa" ucap Riana dengan suara tegas.
"Doakan kami ya ma"
"Pasti pa"
Cup.................
Juan mencium bibir istrinya sebelum pergi menjalankan misi kali ini. Selang 1 jam mereka berangkat dengan 5 pesawat Hercules 1 kapal besar menuju lokasi Mikhail saat ini.
~ Pulau Antah Berantah ~
Perlahan-lahan mata Clarisa terbuka menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam matanya. Ia merasa tubuhnya basah dan terasa berat seperti ada yang memeluknya dengan erat.
Clarisa bangun dengan susah payah memindahkan tangan yang memeluknya. Matanya seketika melotot kaget melihat keadaan disana.
Bagaimana tidak saat ini ia berada di atas tanah yang tidak besar dan tidak ada lagi pulau seperti sebelumya. Mereka terapung diatas lautan, dengan lautan yang sangat kotor dipenuhi keping-keping benda berserakan disana.
Deg.............
...π π π π π...
"Hub.......by" panggil Clarisa dengan suara bergetar.
Hiks.........hiks.........hiks...........
Tangisnya pecah melihat tubuh suaminya yang terbakar karena melindunginya. Bahkan darah dari tubuh sang suami keluar sangat banyak.
"JANGAN TINGGALIN AKU HUBBY. AKU MOHON BANGUN HUBBY" teriak Clarisa dengan suara menggelegar.
Ia memeluk tubuh suaminya yang penuh darah, Clarisa mengguncang tubuh Mikhail agar bangun tapi tidak bangun juga.
"Jangan tinggalin aku dan anak kita hubby.......hiks hiks hiks........aku mohon hubby" ucap Clarisa sambil menangis dengan pilu.
"TOLONG SIAPAPUN TOLONG SUAMIKU......HIKS HIKS......AKU MOHON" teriak Clarisa dengan suara menggema.
Ia mencari siapapun yang bisa menolongnya tapi tenyata semua orang kebanyakan seperti suaminya. Tubuh mereka tergeletak di potongan-potongan tanah seperti tidak bernyawa lagi.
Ia menangis histeris melihat hanya dia saja yang selamat, bahkan Teivel dan Marcel serta dua orang yang tadi bersama mereka juga terbaring tak berdaya dengan tubuh penuh luka dan darah.
Aaaarrggghh.............
Teriak Clarisa dengan histeris sambil menangis pilu. Ia memeluk tubuh suaminya tak tahu haru berbuat apa.
Ia berharap ada yang menolong mereka saat ini karena ia tidak tahu harus berbuat apa. Clarisa mengecek nadi Mikhail dan bersyukur suaminya masih bernapas.
Sret...............
Clarisa merobek jubah panjang yang ia pakai tadi dan membungkus luka suaminya, tak lupa ia juga mengecek keadaan Teivel, Marcel, David, dan Xander juga.
Beruntung mereka berada di tempat yang sama, ia bersyukur mereka semua masih bernapas tapi ia takut sesuatu yang beruk terjadi kepada mereka semua apa lagi tubuh mereka penuh dengan luka.
"Hiks hiks hiks..........ya Tuhan tolong selamatkan kami semua........hiks hiks hiks" lirih Clarisa sambil berlutut menaruh kedua tangan di dada.
1 Hari kemudian
Pesawat yang ditumpangi Juan akhirnya mulai memasuki perairan lokasi Mikhail dan lainnya. Mereka kaget melihat begitu banyak mayat yang terapung diatas lautan dengan puing-puing.
"Juan apa itu anak buah Mikhail?" tanya Valeria dengan panik dari seberang.
^^^"Benar master" jawab Juan.^^^
"Selamatkan mereka semua dan lihat apa mereka masih hidup atau tidak" titah Valeria dengan suara tegas.
^^^"Baik master"^^^
Mereka lalu mengambil tubuh-tubuh yang terapung diatas laut dan bahkan ada juga yang berada diatas tanah sebidang.
"Apa yang terjadi disini?" tanya Dio.
"Dio kamu pergi ke lokasi pangeran Maxim" titah Juan.
"Iya pa" ucap Dio dengan suara tegas.
Juan segera mencari Mikhail dan lainnya karena mereka sudah berada di lokasi Mikhail tapi belum menemukan mereka juga.
"Bos disana" ucap salah satu anak buahnya menunjuk ke arah selatan.
"Cepat kita ke sana" titah Juan dengan suara tegas.
Clarisa yang sedang menangis seketika kaget mendengar suara pesawat. Ia menatap ke arah belakang dan melihat ada pesawat yang sedang menuju ke arah mereka.
"TOLONG" teriak Clarisa dengan suara pelan karena tenaganya sudah habis dan suara tidak keluar.
Tak berselang lama beberapa orang turun dari pesawat dan mendekati Clarisa. Juan dan semuanya kaget melihat Mikhail, Xander, David, Teivel, dan Marcel yang penuh dengan luka.
"King" pekik Juan dengan kaget.
"To.....long selamatkan kami" lirih Clarisa dengan suara pelan.
"Cepat bawa King dan lainnya ke atas pesawat" titah Juan dengan panik.
Mereka semua lalu diangkat masuk ke dalam pesawat begitu pula dengan Clarisa. Ia tersenyum bahagia karena akhirnya mereka berhasil di tolong.
Terima kasih Tuhan, batin Clarisa dengan syukur.
...π π π π π...
To be continue..............
__ADS_1