
πJangan pernah berputus asa karena mengalami ujian, karena setiap tetes air hujan yang gelap berasal dari awan yang gelapπ
.
.
.
.
"Awas matamu keluar dari tempatnya" ejek Leon yang sedari tadi mendapat lirikan mata Henry ke Violet.
"Ka beneran dia diijinkan masuk sama ka David" bisik Henry dengan penasaran.
"Kenapa? Apa kamu kira aku berbohong?" tanya Leon dengan kesal.
"Ya bisa aja kan" jawab Henry sambil mengangkat kedua bahunya.
Bugh..........
"Bocah sialan" hardik Leon sambil memukul kepala Henry dengan sendok.
"Ka Leon sakit tahu" teriak Henry dengan kesal.
"Biarin. Biar otakmu itu pintar dikit" dengus Leon dengan sinis.
"Menyesal aku anterin makanan buat ka Leon" sembur Henry dengan dongkol.
Ia lalu pergi membawa jatah makanan bagian kakaknya karena merasa kesal dengan Leon.
"Mau keman bocah. Temani aku makan dulu bocah" teriak Leon.
"Aku tidak mau berteman lagi dengan ka Leon" teriak balik Henry dengan kesal.
Brak...........
Leon mengelus dadanya mendengar pintu apartemen yang dibanting kuat oleh Henry. Beruntung dia sudah dianggap adik olehnya jika tidak ia akan menghajar Henry karena sudah berlaku tak sopan.
"Tuh bocah semakin nakal aja" gumam Leon kembali melanjutkan makannya.
Ting.......tong.......ting.......tong.........
Lili berdecak kesal mendengar bunyi bel apartemennya yang ditekan tak sabaran sedari tadi. Padahal ia masih ingin menikmati berendam tapi harus bergegas keluar karena.
"Siapa sih ganggu orang aja" ketus Lili dengan kesal.
Ceklek........
"Lama banget sih bukanya ka!" sembur Henry dengan wajah kesal sambil menyelonong masuk.
"Bocah itu baru saja marahin aku" gumam Lili dengan kaget.
"Beraninya kamu bicara kasar dengan kakakmu Henry" teriak Lili sambil berkacak pinggang di depan adiknya.
Henry menatap kakaknya Lili dengan malas apa lagi melihat penampilan kakaknya yang hanya memakai handuk dan menggulung rambutnya yang masih basah dengan handuk.
"Cih! Pantesan aja ka David bosan sama kakak" cibir Henry.
"Apa maksudmu?" tanya Lili saat mendengar nama David disebut.
"Lihat aja penampilan kakak seperti wanita idiot di era 70-an" ejek Henry sambil memindai kakaknya dari ujung kepala sampai kaki.
"Apa! Berani kamu bilang kayak gitu sama kakak kamu sendiri" teriak Lili bergema.
"Yah memang kenyataan ka" jawab Henry dengan santai.
Brugh...........brugh...........
Lili melempar adiknya dengan sendal tapi dengan cepat Henry mengelak. Aksi kejar-kejaran di dalam apartemen Lili tak terhindarkan lagi, Henry berlari dan melompat menghindari kejaran kakaknya yang seperti singa kelaparan.
"Kamu memang adik menyebal....kan Henry.....hosh hosh hosh" ucap Lili dengan napas satu-satu karena capek berlari.
"Nih minum dulu ka. Awas napasnya habis lagi" ucap Henry sambil menyodorkan sebotol air mineral yang barusan ia ambil di kulkas.
Meski sedang kesal dengan adiknya tapi ia tetap menerimanya dan langsung menghabiskan sampai tandas.
"Udah ka jangan marah-marah terus nanti cepat tua"
"Cih!" decih Lili dengan ketus.
Keduanya lalu duduk di sofa karena sangat capek berlari sedari tadi. Apa lagi Lili yang jarang olahraga karena kesibukannya di rumah sakit membuatnya sangat lelah.
...π π π π π...
"Ka" panggil Henry.
__ADS_1
"Heemmm"
"Ada perempuan di apartemen ka David"
"Oh"
1 detik
2 detik
3 detik
"Apa" pekik Lili setelah mencerna ucapan sang adik.
"Aduh ka bisa tidak sih jangan teriak kayak di hutan! Kuping aku sakit tahu!" ketus Henry.
"Apa maksudmu? Perempuan siapa? Sejak kapan ada perempuan yang dibolehin ka David masuk ke apartemennya?" tanya Lili membordir adiknya.
"Satu-satu dong nanyanya ka"
"Perempuan siapa?" tanya Lili dengan cepat.
"Aku tidak tahu! Tadi pas aku anterin makanan ke ka Leon ada perempuan yang bukain pintu untukku" jawab Henry dengan jujur.
"Pas aku tanya dia siapa ke ka Leon katanya itu orangnya ka David" tambahnya lagi sambil menaikkan kakinya di sofa dan tiduran.
"Apa" teriak Lili dengan kaget.
Henry menatap kakaknya dengan bengong saat melihat kakaknya yang sudah berlari keluar hanya memakai handuk saja. Ia menepuk keningnya tak menyangka kakaknya akan sebodoh itu.
"Lili" ucap David dengan mata melotot melihat penampilannya yang baru saja keluar dari apartemen.
Tubuh Lili menegang melihat David yang berdiri di depan apartemennya. Sepertinya ia baru pulang dan saat pandangannya melihat ke arah tubuhnya wajahnya seketika merah padam merasa sangat malu.
Brak...........
David tak bisa berkata apa-apa melihat gadis yang disukainya berani keluar dari apartemen hanya memakai handuk.
Awas kamu baby! Aku akan beri hukuman kamu nanti, batin David mengontrol bagian bawahnya yang mengeras melihat lekukan tubuh Lili barusan.
"Kenapa balik lagi ka?" tanya Henry sambil tersenyum mengejek.
"Diam kamu! Siapkan makanan buatku!" hardik Lili dengan mata melotot.
Henry mendengus kesal karena disuruh kakaknya tapi ia tetap melalukan apa yang diperintahkan sang kakak barusan.
"Apa" teriak Rio dengan kaget.
"Kamu dengar dengan jelas apa yang aku minta Rio" ketus Victor dengan wajah tak berdosa di atas brankar.
"Tidak Vic. Kamu masih sakit dan belum boleh keluar" tolak Rio dengan cepat.
"Aku yang sakit bukan kamu! Jadi jangan membantah ucapanku" hardik Victor dengan suara tinggi.
Rio memijit keningnya yang tiba-tiba sakit mendengar permintaan Victor yang tak masuk akal. Ia mati-matian pagi nanti harus keluar dari rumah sakit karena ingin mengikuti pernikahan saudara kembarnya.
Sebenarnya Rio bisa saja mengijinkan tapi ia tak mau Victor kenapa-napa, apa lagi kemarin dulu ia baru selesai dioperasi dan lukanya belum kering betul.
"Ayolah Vic. Kali ini aja jangan membantahku" bujuk Rio.
"Ini pernikahan saudara kembarku Rio. Jika kamu tidak mau mending kamu pergi saja!" bentak Victor dengan suara dingin.
Jika Victor sudah berbicara dengan nada seperti itu mau tak mau Rio harus mengijinkannya. Persetan dengan direktur Cole yang nanti akan memarahinya karena ikut berkomplot dengan Victor.
"Baiklah" pasrah Rio.
Victor tersenyum lebar mendengar jawaban Rio, ia tahu jika Rio tak akan menolak permintaannya ini lagian ia juga tidak mau ketinggalan acara pernikahan saudara kembarnya itu.
"Nanti besok kita ke apartemen biar kamu tukar pakaian disana aja" ucap Rio.
"Heeemmm"
"Siapkan setelan terbaikku Rio dan jangan lupa panggil stylish ku ke apartemen pagi-pagi" ucap Victor memberi perintah.
"Serahkan semua ke aku Vic. Kamu mending istirahat sana biar besok kamu sudah lebih baik"
"Heemmm"
...π π π π π...
Victor tak membantah ucapan Rio dan segera menutup mata, melihat Victor sudah tidur dengan cepat Rio mengirim pesan ke stylish Victor untuk datang ke Blue Ocean Apartment jam 06:00 pagi tepat.
~ Mansion Ares ~
Tak jauh berbeda dengan keadaan di California di Indonesia lebih tepatnya di mansion Ares, saat ini Ares sangat mencemaskan Zelena yang sedang di periksa oleh Liam dokter pribadinya.
__ADS_1
"Gimana keadaan cewek gue?" tanya Ares dengan cepat saat melihat Liam sudah selesai memeriksa Zelena.
"Dia cuma syok aja makanya pingsan"
Ares bernapas dengan lega mendengar ucapan Liam barusan. Melihat hal itu Liam semakin penasaran dengan cewek yang dibilang sahabatnya itu adalah kekasihnya.
"Ini beneran cewek loe kan bro?" tanya Liam yang sedari tadi sangat penasaran.
"Heemmm" deham Ares sambil mengangguk kepala.
"Lah terus yang cewek cupu waktu siapa dong?" tanya Liam semakin bingung.
"Itu cewek gue"
"Apa! Wah loe ternyata playboy juga bro? Ngak nyangka gue ternyata loe bisa permainkan perasaan 2 cewek sekaligus!" pekik Liam sambil menggelengkan kepalanya mencibir.
Bugh............
"Berengsek loe sialan" hardik Liam karena dilempar bantal oleh Ares.
"Cewek gue satu aja berengsek dan orang yang loe sebutin tadi itu orang yang sama" ketus Ares.
"Apa! Kok beda banget ya" ucap Liam dengan kaget.
"Mending loe pulang sana! Enek gue lihat muka loe itu" usir Ares dengan tatapan jijik.
"Wah loe itu emang teman bangsat" ketus Liam.
Ares tak menjawab ucapannya dan memberi isyarat ke Gery agar membawa Liam keluar. Liam yang tak bisa marah ke Ares terus mengumpat sepanjang jalan.
Selang 30 menit Zelena akhirnya sadar dan menatap sekeliling dengan bingung saat melihat kamar yang bernuansa dengan warna hitam.
Eeughhh.............
"Mi amor" panggil Ares saat mendengar lenguhan kekasihnya.
"Ini dimana?" tanya Zelena dengan suara pelan.
"Di kamarku mi amor lebih tepatnya di mansion aku" jawab Ares sambil mengelus pipi Zelena dengan lembut.
Tak lama Zelena mengingat kejadian beberapa jam yang lalu dan itu pertama kali dalam hidupnya.
"Hiks hiks hiks.......aku takut querido......hiks hiks hiks" tangis Zelena kembali pecah.
"Kamu sudah aman mi amor. Jangan menangis lagi" ucap Ares sambil memeluk Zelena dan menenangkannya.
"Mereka mau membunuhku........hiks hiks hiks" adu Zelena.
"Jangan khawatir mi amor, tidak akan ada lagi yang berani menyakitimu lagi"
Zelena memeluk tubuh Ares dengan erat mencari kenyamanan. Setelah agak tenang Ares lalu menyuruh pak Tio kepala pelayan menyuruh pelayan untuk menyiapkan air untuk Zelena mandi.
Tak membantah ucapan kekasihnya Zelena segera masuk ke dalam kamar mandi karena memang tubuhnya sudah sangat lengket.
"Tuan" ucap Gery saat Zelena sudah masuk ke dalam kamar mandi.
"Apa kalian berhasil menangkap mereka?" tanya Ares dengan tatapan tajam.
"Kami berhasil menangkap salah satu dari mereka tuan dan saat ini berada di markas"
"Bagus aku sendiri yang akan menginterogasinya" ucap Ares dengan senyum menyeringai.
"Baik tuan"
"Pergi ke mansion Zelena dan bawa semua buku kuliahnya jangan lupa cari hpnya"
"Baik tuan"
"Gery jangan lupa ambil cctv di mansion kekasihku"
"Baik tuan"
Gery segera pergi melaksanakan perintah Ares barusan tak lupa menyuruh pak Tio untuk menyiapkan makan siang buat keduanya.
~ Rumah Steven Lim ~
Prang........prang.......prang........
Bunyi benda pecah bergema di dalam sana membuat Kaito hanya diam melihat kemarahan tuannya.
"Dasar tidak becus!" bentak Steven dengan emosi.
Aarrgghhhh.........
...π π π π π...
__ADS_1
To be continue...............