Heartless 2

Heartless 2
Chapter 143


__ADS_3

🍁Jangan berduka. Apapun yang hilang darimu akan kembali lagi dalam wujud yang lain🍁


.


.


.


.


Mata Xander langsung mengarah ke arah suara dan melihat ada seorang petugas kebersihan yang menjatuhkan alat pelnya melihat apa yang sedang dilakukan oleh Xander.


Bibirnya tersenyum menyeringai melihat orang yang ternyata melihat apa yang ia lakukan sedari tadi. Sedangkan petugas kebersihan itu bergetar ketakutan dengan wajah pucat melihat apa yang sedang dilakukan oleh Xander, apa lagi melihat orang yang sudah bersimbah darah di lantai.


“Ternyata ada pengganggu kecil ya! Hehehe” ucap Xander sambil terkekeh.


Bugh…………….krek…………


Mata petugas kebersihan seakan ingin keluar dari tempatnya melihat Xander yang menendang kepala orang yang sudah sekarat di lantai hingga patah. Xander lalu memberi isyarat kepada Christian untuk mengurus Arnold paman tirinya yang sudah mati.


Dengan cepat anak buah Christian membawa jasad Arnold tak lupa membersihkan tempat itu seperti semula. Xander lalu menyuruh Christian dan lainnya keluar karena ia akan mengurus pengganggu kecil yang sudah menganggu kesenangannya.


Tak……………tak……………tak……………


Langkah kaki Xander bergema didalam sana, membuat petugas kebersihan itu semakin bergetar ketakutan dan menunduk merasakan aura yang sangat mengintimidasi didalam sana.


“Beraninya kamu menganggu kesenanganku” ucap Xander dengan suara dingin dan berat.


“Maa………fkan saya t………uan. Saya tidak bermaksud menganggu a……nda” ucap petugas kebersihan dengan terbata-bata karena gugup.


Alis Xander terangkat sebelah mendengar suara perempuan dan ia pikir jika orang yang membersihkan toilet pria adalah laki-laki.


Grep……………..


Xander mengangkat dagu gadis itu hingga mata keduanya saling menatap dan seperti ada sengatan listrik, Xander seketika terpesona dengan mata cantik itu yang berwarna hitam kecoklatan dengan wajah putih yang sangat cantik tidak di beri polesan apa-apa di wajah itu.


Deg………….deg…………..deg…………….


Jantung Xander berdetak dengan cepat merasa terhipnotis dengan wajah itu yang menatapnya dengan takut dan terlihat sangat mengemaskan di matanya.


“Apa kamu memang petugas kebersihan disini?” tanya Xander dengan selidik.


“Benar t….uan” jawab gadis itu dengan cepat.


“Devina Cortez” ucap Xander membaca name tag di baju gadis itu.


“Bagaimana bisa toilet pria dibersihkan oleh seorang perempuan?” tanya Xander dengan tatapan penuh selidik.


“Itu aku di s……..uru……..h sam………a ibu Sarah katanya petugas kebersihan di toilet pria hari ini t….idak mas….uk tuan” ucap Devina dengan terbata-bata.


Xander menarik Devina keluar dari sana dan menyuruh Christian untuk menyuruh Sandro ke ruangan pribadinya di lantai 3. Sampai didalam sana ia mendorong Devina hingga terjatuh di sofa membuat Devina meringis sakit karena kepalanya terbentur di sofa.


Glek……………..


Devina menelan salivanya dengan susah melihat tatapan mata Xander yang menatapnya dengan tajam seakan ingin menelannya dengan hidup-hidup.


“Bos” ucap Sandro dengan sopan.


“Bawakan data pribadi dia dan cari tahu kenapa petugas kebersihan perempuan membersihkan toilet pria” titah Xander dengan suara dingin.


“Baik bos” ucap Sandro sambil berlalu pergi dari sana.

__ADS_1


“Tu….an saya mohon lepaskan saya. Saya berjanji tidak akan mengatakan kejadian tadi” pinta Devina dengan memohon sambil mengangkat kedua tangannya didepan wajahnya.


“Ckk!!” decak Xander dengan kesal tak suka melihat apa yang dilakukan oleh Devina.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


“Tuan saya m…..ohon tolong lepaskan saya. Saya tidak akan pernah memberitahu siapa pun mengenai kejadian ini tuan” mohon Devina dengan suara bergetar.


“Kamu tahu. Hanya orang mati yang bisa menutup mulut mereka untuk selamanya” ucap Xander sambil tersenyum smirk.


Glek………….


Devina menelan salivanya dengan susah mendengar ucapan Xander mengenai orang mati. Otaknya langsung berpikir jika ia pasti tidak akan dibiarkan hidup karena sudah melihat sesuatu yang tidak boleh ia lihat hari ini.


Kamu memang bodoh Devina. Kenapa juga kau harus terima kerjaan dari bu Sarah hanya karena akan dibayar dobel, batin Devina merutuki kebodohannya.


Sedangkan Xander ia duduk berpangku kaki sambil menyesap segelas tequila didepannya, sambil tersenyum tipis melihat wajah ketakutan Devina yang menurutnya sangat mengemaskan dan membuat dia tidak pernah bosan.


“Bos ini datanya” ucap Sandro sambil memberikan sebuah laporan kepada Denis.


“Nona Devina yang menerima pekerjaan dari Sarah kepala pengawas karena hari ini petugas kebersihan di toilet pria tidak masuk karena kecelakaan tadi siang bos. Dan untuk pekerjaan yang dilakukan nona Devina malam ini akan dibayar dobel bos” papar Sandro menjelaskan.


Xander mengangguk kepalanya mendengar penjelasan Sandro, sambil membaca dengan teliti informasi mengenai Devina yang ternyata hidup berdua saja dengan adiknya karena kedua orang tuanya sudah meninggal.


“Devina Winter Cortez 23 tahun, golongan darah O, tamatan SMA dan bekerja disini sudah 1 tahun 3 bulan dan mempunyai seorang adik laki-laki berumur 15 tahun. Orang tua sudah meninggal dan tinggal di apartemen Care di Jl.Xxx” ucap Xander dengan suara dingin sambil menatap Devina dengan tajam.


Sandro lalu keluar dari sana meninggalkan Devina dan Xander didalam sana membuat Devina keringat dingin takut dibunuh oleh Xander.


Apa aku akan mati hari ini, batin Devina penuh tanda tanya.


“Kesini” ucap Xander dengan suara dingin.


Devina dengan gemetar menghampiri Xander membuat dia semakin keringat dingin, saat akan sampai didepan Xander tiba-tiba tangannya di tarik Xander dengan kuat hingga ia terjatuh di atas pangkuan Xander.


Cup…………………


Mata Devina hampir keluar dari tempatnya saat Xander tiba-tiba menciumnya dengan kasar dan menuntut.


Ia mendorong Xander agar ciuman keduanya terlepas tapi percuma saja karena kekuatan Xander yang sangat besar tidak bisa dibandingkan dengannya.


Plak……………………..


Tangan Devina gemetar saat menampar Xander setelah ciuman keduanya terlepas, matanya menatap Xander dengan tajam merasa marah karena sudah dilecehkan oleh Xander.


“Kamu berani nampar aku?” tanya Xander dengan wajah mengelap.


“Aku bukan seorang pelacur” teriak Devina dengan bibir bergetar.


Tes……………..


Air matanya tiba-tiba jatuh dengan deras merasa sangat hina diperlakukan seperti itu sedangkan Xander yang melihat Devina menangis entah kenapa hatinya terasa sangat sakit.


Ia lalu memeluk Devina dengan sangat erat membiarkannya menangis didalam dekapannya membuat Devina menangis sejadi-jadinya. Ia mengelus kepala Devina dengan sangat lembut menenangkannya.


Karena terlalu lama menangis ditambah tubuhnya yang sudah kelelahan sepanjang hari bekerja membuat Devina tertidur didalam pelukan Xander.


“You are mine kucing nakal” (kamu milikku) ucap Xander sambil tersenyum sangat tipis melihat wajah cantik Devina yang sangat mengemaskan.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


Ia terkekeh mengingat tamparan Devina yang tidak sakit tadi dan baru kali ada orang yang berani menampar seorang Xander Leonart Wesly.

__ADS_1


Dengan sekali hentakan ia mengendong Devina dan keluar dari ruangan pribadinya membuat Christian dan lainnya kaget bukan main.


“Bawakan semua barang miliknya” titah Xander dengan suara dingin.


“Baik bos” ucap Christian dengan sopan.


~ Jakarta, Indonesia ~


Zelena menatap orang didepannya dengan tatapan tajam dan kesal karena lagi-lagi orang itu mendatanginya bahkan sampai datang ke kampusnya.


“Bi**h beraninya loe aduin gue ke ka Ares!” bentak Daniella dengan suara menggelegar di kantin kampus.


Seketika semua mata tertuju kepada mereka karena sangat mengenali Daniella yang terkenal sebagai model dengan citra buruk yaitu suka menghina rekan sesama modelnya.


Sedangkan seorang lagi yaitu Zelena yang terkenal sebagai gadis cupu paling pemberani di kampus mereka.


“Ckk!! Nenek sihir apa loe ngak punya rasa malu datang marah-marah di kampus gue” ucap Zelena sambil bersedekap tangan didada menatap Daniella dengan kesal.


“Buat apa gue malu. Lagian ini kampus milik keluarga gue” ucap Daniella dengan sombong.


“Bisa ngak diralat ucapan loe itu. Kampus ini milik Ares Maladika Rahardian bukan keluarga Rahardian nenek sihir” balas Zelena sambil tersenyum menyeringai.


“Loe ngatain gue nenek sihir perempuan sialan” hardik Daniella dengan suara tinggi.


“Emang loe itu pantas di panggil nenek sihir. Loe ngak sadar diri ya saat keluar rumah dengan penampilan yang bikin orang sakit mata ya? Atau loe ngak punya kaca di rumah?” tanya Zelena dengan polos.


Hahahahaha……………….


Seketika semua mahasiswa tertawa mendengar ucapan Zelena barusan dan banyak yang mengatakan jika apa yang dibilang Zelena benar.


Daniella yang mendengar semua ucapan itu mengepal kedua tangannya dengan kuat sambil menatap Zelena dengan tatapan penuh kebencian.


“Loe ja***g kecil awas aja loe. Gue bakal balas loe buat semua penghinaaan ini” maki Daniella sambil menunjuk Zelena.


“Ja**ng? Loe ngak sadar diri apa siapa yang ja***g disini!” bentak Zelena dengan tatapan berkilat tajam.


Daniella mengangkat tangannya ingin menampar Zelena tapi berhasil dicekal oleh Zelena dan membuang tangannya dengan kasar hingga ia terjungkal ke belakang menabrak asistennya.


“Jangan pernah berani nyentuh gue jika loe ngak mau tangan loe hilang dari tubuh loe” ucap Zelena memperingatinya dengan tatapan membunuh.


Glek………………


Daniella menelan salivanya dengan susah melihat tatapan Zelena yang sangat menakutkan seperti tatapan kakaknya Ares selama ini.


Zelena sendiri segera berlalu pergi dari sana karena tidak ingin semakin emosi dan ia harus mengontrol emosinya jika tidak ingin jiwa psycopathnya keluar.


Phew…………….


“Dasar nenek sihir bikin mood gue hancur aja” ucap Zelena sambil membuang napasnya dengan kasar.


Zelena memilih untuk pulang sana karena ia sudah tidak mood di kampus lagi lagian ia juga sudah bertemu dengan dosen pembimbingnya membahas tugas akhir miliknya.


Tanpa Zelena sedari ternyata Daniella sedang menatapnya dengan tatapan penuh kebencian.


Ia berjalan dengan langkah cepat menyusul Zelena yang hendak turun tangga menuju area parkiran kampus. Saat sampai di anak tangga kedua Zelena merasa seperti melayang karena didorong seseorang dari belakang.


Brugh…………brugh……….brugh…………….


Aarrggh………………..


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...

__ADS_1


To be continue……………….


__ADS_2