
πJadilah seseorang yang kuat, seseorang yang memiliki semangat baru dan berdoa agar setiap langkahmu di jaga pada kebenaranπ
.
.
.
.
Tak berselang lama mata Zelena terbuka membuat Ares yang sedang duduk di sampingnya langsung menggenggam tangan Zelena dengan erat.
"Dimana gue?" tanya Zelena tak mengenali tempat itu.
"Mi amor" ucap Ares dengan suara lembut.
Deg............
Jantung Zelena berdetak dengan cepat mendengar kata itu yang selalu muncul di mimpinya dan saat kepalanya terasa sakit jika bisikan-bisikan itu muncul apa lagi suara itu sama persis dengan suara Ares.
"Ares" lirih Zelena dengan wajah kaget.
"Apa yang kamu rasakan?" tanya Ares dengan cemas.
"Kepala gue pusing. Apa yang terjadi sama gue?" tanya Zelena dengan bingung.
"Kamu tidak ingat apa yang terjadi tadi" kening Ares berkerut menatap Zelena dengan penuh tanda tanya.
Zelena mencoba mengingat kejadian sebelum ia pingsan. Matanya melotot kaget setelah mengingat kejadian barusan saat di restoran.
"Gue harus pergi" ucap Zelena dengan panik.
"Kamu ngak boleh kemana-mana Zelena" ucap Ares dengan suara dingin.
Zelena tak menggubris ucapan Ares dan segera bangun pergi dari sana dengan cepat. Melihat hal itu dengan cepat Ares menarik tangan Zelena dengan kuat dan mendorongnya ke tembok dengan sekali hentakan.
"Lepas Ares. Gue mau pergi" pinta Zelena dengan wajah memucat.
"Loe mau keluar dan bunuh diri lagi! Hah" bentak Ares menggelegar.
"Maksud loe?" tanya Zelena dengan kening berkerut.
"Gue udah tahu semuanya Zelena" bisik Ares.
Duar............
Tubuh Zelena menegang mendengar ucapan Ares dan ia yakin Ares pasti sudah tahu sosok dalam dirinya entah dari mana Ares tahu hal yang selama ini ia sembunyikan.
"Kalau loe udah tahu gue mohon lepasin gue........hiks hiks hiks" pinta Zelena sambil terisak.
"Never mi amor" (tidak akan pernah cintaku) tegas Ares dengan tatapan tajam.
"Gue berbahaya Ares. Gue ngak bisa kendalikan dia Ares dan itu berbahaya buat loe" ucap Zelena dengan khawatir.
"Gue akan berusaha mengembalikan loe kalau sampai loe hilang kendali"
"Ares" Zelena tak bisa berkata apa-apa lagi mendengar ucapan Ares.
Hiks......hiks......hiks.......hiks......hiks.........
Tangis Zelena pecah tak menduga Ares akan mengatakan hal seperti itu padanya dan tak memperdulikan dirinya yang akan dalam bahaya. Ares lalu memeluk Zelena dengan erat sambil mengelus kepalanya.
"Mulai detik ini tidak ada kata gue dan loe lagi tapi mi amor dan querido" bisik Ares dengan suara lembut.
"Panggilan itu" ucap Zelena dengan kaget.
"Satu yang harus kamu tahu aku adalah bocah itu" ucap Ares sambil menghapus air mata Zelena di pipinya.
"Tidak mungkin kamu pasti bercanda kan" ucap Zelena dengan tak yakin.
"Yo soy el cielo y tu eres el sol" (aku adalah langit dan kamu adalah matahari) ucap Ares dengan suara tegas dengan bahasa Spanyol.
Deg.............
Zelena ingat kata itu dalam mimpinya saat bocah lali-laki itu memasang kalung yang ia pakai sejak dulu di lehernya.
"Querido......hiks hiks hiks" panggil Zelena sambil menangis.
__ADS_1
"Ya mi amor"
"Kamu ingat semuanya?" tanya Zelena dengan wajah polos.
"Tentu mi amor" jawab Ares.
Zelena memeluk Ares dengan erat merasa senang dan bahagia menemukan orang yang memberikan kalung itu kepadanya saat kecil meski ia tak mengingat kejadian penculikan itu lagi.
...π π π π π...
Ares sedari tadi tersenyum bahagia karena ia berhasil menemukan gadis kecilnya sekaligus cinta pertamanya yang selama ini ia cari.
Gue ngak akan pernah lepasin loe lagi mi amor, batin Ares.
Ares lalu menuntun Zelena kembali ke ranjang karena ia tahu pacarnya masih pusing. Sampai di tempat tidur Zelena segera menghubungi Clarisa agar ia tidak cemas karena tak berada di kamar.
Sementara kedua pengawal gelap Zelena yang sudah mengetahui keberadaannya sudah bisa bernapas dengan lega.
Meski keduanya tak tahu mengapa Zelena bisa berada di kamar Ares tapi intinya nona muda mereka dalam keadaan baik-baik saja.
Sedangkan di kamar Steven Lim saat ini ia sedang memaki dan memarahi Kaito melampiaskan kekesalannya karena Zelena pergi dari hadapannya tadi.
"Cari tahu dimana gadis kecilku!" bentak Steven.
"Baik tuan" ucap Kaito sambil menunduk dan berlalu keluar.
Prang...........
Steven melempar gelas wine di tangannya ke tembok hingga pecah. Matanya memerah merasa emosi saat tadi sempat melihat tatapan tak suka Zelena kepadanya.
"Awas kamu gadis kecil, tiba waktunya aku akan menghukummu" ucap Steven dengan emosi.
~ Bali, Indonesia ~
Mikhail saat ini sedang berada di salah satu club yang ada di Bali setelah meninjau pembangunan resortnya yang sudah di tahap akhir.
"Apa yang dilakukan kucingku hari ini?" tanya Mikhail dengan suara dingin.
"Setelah dari villa di Bogor rombongan nona Clarisa saat ini berada di hotel Hilton King. Sedari sampai di hotel nona Clarisa berada di dalam kamar tak keluar sampai sekarang" papar Damon menjelaskan melihat foto-foto Clarisa yang di kirimkan anak buah mereka.
"Nona Clarisa baru saja keluar dari kamar menuju restoran King. Ternyata nona Clarisa tertidur sejak tadi dan baru bangun King"
"Heemmm! Zelena"
"King you must look this" (anda harus melihat ini) ucap Damon sambil menyodorkan iPad ke Mikhail.
Keningnya mengerut menonton video tentang Zelena yang lagi-lagi kambuh dan hampir mati melompat dari lantai 60 beruntung ada kekasihnya.
Mikhail menonton sekali lagi video tersebut dan seketika ia tertawa menyeringai saat menemukan penyebab jiwa psycopath Zelena yang muncul.
"Xander sepertinya pengawasan kalian lemah" ucap Mikhail sambil terkekeh.
Teivel yang baru datang dan sempat mendengar tawa Mikhail merasa jika tawa Kingnya itu bukan pertanda baik.
"Sebelum peluru ini menembus kepalamu mending kamu berhenti berpikir Teivel" ucap Mikhail dengan aura membunuh.
"Ma...af King" ucap Teivel dengan gugup.
"Besok pagi benda seperti ini sudah ada di tanganku" ucap Mikhail sambil menunjuk gambar mainan kalung Steven Lim.
"Baik King" ucap Damon.
"Teivel hubungi Zelena suruh dia datang ke mansion lusa"
"Baik King"
Mikhail meminum tequile di depannya sambil memikirkan cara untuk membuat jiwa psycopath Zelena bisa dikontrol.
Sepertinya hanya laki-laki itu yang bisa menenangkan Zelena, batin Mikhail memikirkan nama Ares.
~ Jakarta, Indonesia ~
Tak terasa rombongan mahasiswa Unversitas Karya Bangsa sudah menyelesaikan tour mereka selama 3 di Bandung dan Bogor.
...π π π π π...
Zelena melihat jam tangannya menunjukkan pukul 23:00 malam. Beruntung ia sudah menghubungi jemputannya sebelum hpnya mati.
__ADS_1
"Risa loe pulang bareng gue ya" ucap Zelena saat melihat Clarisa baru saja mengambil ranselnya.
"Ngak usah Lele gue pulang sendiri aja lagian dekat kok kos gue dari kampus" tolak Clarisa dengan halus.
"Gue ngak nerima penolakan Risa! Lagian ini udah malam juga ngak baik anak gadis pulang sendirian malam-malam" tegas Zelena.
"Tapi Lele"
"Mi amor" baru saja Zelena akan menjawab ucapan Clarisa tiba-tiba Ares datang dan langsung memeluk pinggangnya.
"Lele loe" tunjuk Clarisa dengan mata melotot.
"Querido lepas" bisik Zelena sambil melihat sekitar takut ada yang melihat mereka.
"Ngak ada siapa-siapa lagi disini mi amor" bisik Ares.
"Lele loe sama om Asin pacaran" pekik Clarisa mengagetkan Zelena dan Ares yang melupakan keberadaan Clarisa di sana.
"Risa gue bakal jelasin nanti ke loe" ucap Zelena dengan cepat.
"Oke"
"Mi amor kamu pulang bareng aku ya" ucap Ares.
"Ngak aku pulang sama Risa Querido"
"Biar dia sama Gery aja mi amor"
"Tapi" ucap Zelena yang langsung di potong Ares.
"Aku tidak menerima bantahan mi amor" tegas Ares.
"Ckk!! Kamu menyebalkan" ketus Zelena sambil memanyunkan bibirnya.
"Gery loe antar Clarisa pulang" ucap Ares dengan suara dingin.
"Baik tuan. Nona mari saya antar nona pulang" ucap Gery dengan sopan.
"Ngak usah om saya pulang sendiri saja" tolak Clarisa merasa takut dengan Gery karena tak mengenalnya.
"Tenang aja Risa om itu ngak bakal ngapa-ngapain loe kok. Dia asistennya Ares" ucap Zelena.
Kenapa gue di panggil om sih emang gue kelihatan tua apa, batin Gery menahan rasa kesalnya.
"Tapi gue ngak kenal sama om itu Lele" cicit Clarisa sambil menunduk.
"Nona saya Gery asisten tuan Ares. Saya jamin nona akan sampai di tempat tujuan dengan selamat" ucap Gery memperkenalkan diri dengan sopan.
Melihat hal itu Clarisa melirik Zelena meminta pendapatnya dan hanya di beri anggukan kepala agar mengikuti Gery.
"Baiklah. Terima kasih ya om Gebi" ucap Clarisa memutuskan pulang dengan Gery.
Hahahaha...............
Tawa Zelena pecah mendengar Clarisa yang memanggil Gery dengan sebutan Gebi. Ares sendiri mengulum senyumnya menahan agar tawanya tak pecah saat melihat mata asistennya yang hampir copot dari tempatnya.
"Nona nama saya Gery bukan Gebi" tegas Gery.
"Iya om" ucap Clarisa merasa tak enak karena tak bisa mengingat nama orang dengan baik.
Keduanya pamit pergi meninggalkan Zelena yang masih tertawa disana. Tanpa Clarisa tahu jika saat ini seseorang sedang menatapnya dengan tatapan tajam dari dalam mobil.
~ LAX Airport ~
Natasha sedari tadi mendengus kasar melihat sosok di depannya yang ternyata juga ikut bersamanya dengan Liliana ke Indonesia.
Siapa lagi kalau bukan Vincent yang ikut ke Indonesia setelah semalam Leon memberitahunya jika mereka akan berlibur ke Indonesia.
Saat ini di dalam jet pribadi Valeria sudah ada Natasha, Leon, Liliana, Henry, dan Vincent yang akan berangkat ke Indonesia berlibur sekaligus mengunjungi Zelena disana.
Sial kenapa dia harus ikut sih, batin Natasha berdecak kesal.
Kamu tidak akan lolos kali ini gadis berbisa, batin Vincent tersenyum smirk menatap Natasha dengan tatapan benci.
...π π π π π...
To be continue..................
__ADS_1