
πDewasa tidak dilihat dari umur seseorang tapi dilihat dari sikapnyaπ
.
.
.
.
Setibanya di Bandung ternyata rombongan mahasiswa Universitas Karya Bangsa langsung diarahkan ke vila di daerah Puncak.
Zelena dan Clarisa bergegas turun dari bus setelah semua mahasiswa turun, keduanya langsung menuju ke arah bagian tengah vila setelah mendengar pemberitahuan dari panitia untuk berkumpul di sana.
"Mohon perhatiannya teman-teman semua" ucap Bima dengan suara lantang.
Seketika suasana terasa hening saat Bima berbicara, sebagai ketua BEM dan ketua panitia acara tour kali ini, ia sangat dihormati apa lagi sifatnya yang tegas.
"Besok agenda kita akan menjelajah wisata alam di hutan suaka di belakang vila. Jadi untuk pembagian tim, teman-teman semua bisa membacanya di papan yang ada di sana" tunjuk Bima ke arah papan besar yang berada di depan vila khusus panitia.
"Untuk jurusan tata boga akan bertugas untuk bagian konsumsi malam ini dan besok pagi. Sedangkan jurusan yang lainnya bisa saling membantu panitia untuk menyiapkan kebutuhan untuk acara besok. Dan satu lagi kamar tidur laki-laki berada di sebelah timur dan kamar tidur perempuan berada di bagian barat" tambah Bima menjelaskan secara rinci.
Setelah selesai memberi pengarahan dan pengumuman Bima segera membubarkan semuanya menuju ke tugas mereka masing-masing.
Clarisa dan Zelena pun terpisah karena jurusan mereka berbeda. Saat Clarisa sedang berjalan langkahnya terhenti saat seseorang berdiri di depannya.
Saat ia mengangkat kepalanya seketika ia panik melihat Gisel dan gengnya yang sedang tersenyum menyeringai menatapnya.
Ya Tuhan apa lagi kali ini, batin Clarisa.
"Ikut kita ya cupu" ajak Gebi sambil menepuk pundak Clarisa.
"Kem....ana?" tanya Clarisa dengan terbata-bata.
"Jangan banyak tanya loe cupu sialan! Ikut aja" hardik Gisel.
"T......api" belum selesai ia berbicara langsung di potong oleh Gres.
"Loe pilih ikut atau beasiswa loe dicabut" ancam Gres sambil tersenyum smirk.
Clarisa mengangguk kepalanya tanda setuju tak ingin beasiswanya di cabut. Gres dan gengnya lalu berjalan menuju samping vila diikuti oleh Clarisa.
"Pegang dia" perintah Gres.
"Kalian mau ngapain?" tanya Clarisa panik saat kedua tangannya di pegang oleh Gisel dan Gina.
Plak.......plak.........plak.......plak...............
Gres yang sedari tadi menahan emosi dengan Clarisa langsung menamparnya berulang kali. Air mata Clarisa mengalir merasakan sakit di kedua pipinya apa lagi saat rambutnya di jambak oleh Gres sampai beberapa helai tercabut.
"Ini akibat karena loe udah bikin malu gue tadi bangsat!" bentak Gres dengan emosi.
"Hiks hiks hiks.....ampun......hiks hiks hiks" mohon Clarisa sambil berderai air mata.
"Siram dia" ucap Gres menatap Gebi.
Byur...............
Clarisa menutup mata saat tubuhnya di siram, entah air apa yang di gunakan oleh Gebi. Keempatnya tertawa melihat penampilan Clarisa yang sangat menyedihkan apa lagi bau busuk dari tubuh Clarisa sangat menyengat.
"Hahahaha! Rasain loe cupu! Makanya jangan cari masalah sama gue" tawa Gres dengan puas.
"Iuuhhh! Cupu menjijikan! Baunya seperti kotoran sama kayak orangnya" ucap Gebi dengan tatapan jijik.
...π π π π π...
Gres dan gengnya tertawa sambil menghina Clarisa bahkan sampai meludah di tubuh Clarisa. Air mata Clarisa jatuh mendengar semua hinaan dan makian dari Gres dan gengnya.
"Girl ayo kita pergi" ajak Gres.
"Oke beb" ucap ketiganya serentak.
Mereka lalu pergi meninggalkan Clarisa yang terduduk di tanah dengan tubuh berbau kotoran. Saat kepergian mereka Clarisa berlari menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sangat bau.
Hiks.......hiks.......hiks......hiks........
Clarisa menangis di dalam kamar mandi sambil membekap mulutnya agar tak ada yang mengetahui jika ia sedang menangis.
Sedangkan Zelena yang sudah selesai membantu teman-temannya di bagian dapur sedang mencari keberadaan sahabatnya.
"Kalian lihat Clarisa ngak?" tanya Zelena ke beberapa anak jurusan desain.
"Kita ngak lihat" ucap mereka serentak.
"Oh oke, makasih ya" ucap Zelena dengan suara lembut.
"Iya sama-sama"
Zelena berjalan mencari Clarisa di sekeliling vila tapi tak menemukannya. Padahal sudah jam 19:00 tapi sahabatnya tak kelihatan.
"Risa dimana sih" gumam Zelena dengan khawatir.
Sesaat langkahnya terhenti saat melihat sosok yang sangat ia kenal sedang berbicara dengan rektor dan ketua BEM mereka.
Kenapa dia ada disini, batin Zelena.
Zelena kaget saat matanya bertatapan dengan mata tajam milik Ares. Ya ternyata yang sedang berbicara dengan rektor adalah Ares yang hadir di dampingi oleh Geri asisten sekaligus tangan kanannya.
Brugh.............
Zelena berbalik pergi dan tak memperhatikan jalan sehingga ia menabrak seseorang beruntung orang itu memegang pinggangnya sehingga ia tak sampai jatuh.
__ADS_1
"Maaf" ucap Zelena merasa bersalah.
"Heemmm"
Zelena mengangkat kepalanya dan kaget saat melihat siapa yang ia tabrak. Ternyata orang itu adalah Demian, keduanya saling menatap tak tahu harus berbicara apa.
Ares yang melihat kejadian barusan mengepal tangannya menahan emosi saat melihat gadis yang ia sukai bertabrakan dengan Demian adik yang ia benci selama ini.
Ya ternyata Demian adalah saudara tiri Ares satu ayah tapi beda ibu. Ares sangat tidak suka dengan ibu tirinya dan juga kedua adik tirinya sedari dulu.
Bahkan papanya juga terpaksa menikahi mama tirinya karena dijebak oleh mama tirinya. Sejak tahu hal tersebut mulai waktu itu Ares sangat membenci ketiganya dan tak pernah menganggap mereka keluarganya.
Zelena lalu pamit pergi tak lupa mengucapkan terima kasih kepada Demian. Tiba-tiba tangannya di tarik oleh Ares masuk ke dalam kamar vila yang berukuran paling besar di sana.
"Lepasin gue!" bentak Zelena dengan emosi.
"Jangan pernah dekat dengan laki-laki lain" ucap Ares dengan tatapan tajam.
"Ada hak apa loe ngelarang gue! Hah" bentak Zelena dengan emosi.
Ia melotot melihat Ares dengan emosi karena setelah kejadian di bukit itu Ares tak lagi menghubunginya dan itu membuatnya berpikir jika ia hanya dipermainkan oleh Ares.
"Zelena" desis Ares tak suka di poloti oleh Zelena.
Zelena tak menggubris ucapan Ares dan kembali menatapnya dengan sinis.
Grep............
Tubuhnya tersentak saat Ares memeluknya dengan erat dan menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Zelena. Entah kenapa Zelena tidak mendorong Ares dan merasa sangat nyaman.
"Gue cemburu lihat loe dekat laki-laki lain" ucap Ares dengan kesal.
"Kenapa harus cemburu"
"I LOVE YOU"
Deg...............
...π π π π π...
Jantung Zelena berdetak dengan cepat mendengar ucapan Ares barusan, bukan kata nyaman atau suka tapi kata yang selalu di tunggu oleh Zelena selama ini yaitu CINTA.
"Gue bukan pelampiasan loe" ucap Zelena tersenyum getir.
Ares melepas pelukannya dan mengangkat dagunya sampai kedua mata mereka bertatapan. Zelena kaget melihat tatapan mata Ares yang terlihat berbeda dari biasanya.
Tatapan hangat dan penuh cinta yang biasa ia lihat saat daddynya menatap sang mommy. Ares menaruh tangan Zelena ke dadanya dan Zelena kaget saat merasakan detak jantung Ares yang berdetak dengan cepat.
"A....res" ucap Zelena terbata-bata.
"Aku mencintaimu Zelena dan mulai detik ini kamu jadi pacar aku!" tegas Ares dengan tatapan tajam.
"Ckk!! Ini pemaksaan bukan pernyataan cinta" ketus Zelena sambil memanyunkan bibirnya.
Hehehehe..........
Ares terkekeh mendengar ucapan Zelena yang sudah ia klaim menjadi miliknya barusan.
"Kalau gue ngak mau gimana?" tanya Zelena.
"Gue ngak nerima penolakan sayang! Dan mulai sekarang bicara pakai aku dan kamu ngak ada kata gue atau loe" ucap Ares dengan tegas.
"Ckk!!" decak Zelena sambil memanyunkan bibirnya.
~ Blue Ocean Apartment ~
Xander sedang menatap suasana jalan California dari penthouse. Tak lama kedua adiknya masuk diikuti oleh David dan Leon.
"Brother" ucap twin serentak.
"Heemmm"
Xander berlalu menuju sofa dan duduk bersama kedua adiknya dan juga David serta Leon. Entah kenapa mereka semua disuruh berkumpul di saat weekend.
"Brother kenapa kita di suruh kesini?" tanya Victor dengan penasaran.
"Lihat ini" ucap Xander memberikan beberapa foto ke keempatnya.
"Ini" ucap Vincent dengan kaget.
"Ada yang ngirim ini ke penthouse tadi pagi" ucap Xander.
"Siapa yang mengirimnya bos?" tanya David.
"Luki sudah melacak orang tersebut tapi jejaknya menghilang seperti hantu"
"Siapa orang yang ingin bermain-main dengan kita brother" ucap Vincent dengan cepat.
"Pantau pergerakan kalian dan orang di sekeliling kalian mulai sekarang" ucap Xander dengan suara dingin.
"S**t! Mereka tahu keberadaan princess brother" pekik Victor dengan suara melengking.
"Sepertinya musuh kali ini bukan orang biasa bos" ucap David dengan suara dingin.
"Jadi semua keluarga kita sedang dipantau ya! Bahkan keluarga uncle Kevin juga" ucap Leon melihat foto keluarga uncle Kevin sedang makan malam di Kenzo restoran.
"Hanya keluarga uncle Thomas yang tidak ada" ucap Xander dengan aura mengintimidasi.
"Bos jangan bilang King sudah mengetahui semua ini" tebak David.
"Apa yang tidak diketahui oleh raja setan itu" decak Xander dengan kesal.
__ADS_1
"Wow King memang terbaik" puji Victor dengan decak kagum.
Mata keempatnya menatap Victor dengan sinis mendengar ucapannya barusan. Mereka tahu jika Victor sangat mengidolakan Mikhail lebih dari apapun.
"Stop ngomongin berengsek itu" ketus Vincent dengan kesal.
"Kenapa twin! Suka-suka aku dong mulut mulut aku kenapa twin nyolot" hardik Victor dengan sinis.
"Minta dihajar kamu Vic" hardik Vincent dengan kesal.
"DIAM!" bentak Xander dengan suara dingin.
Keduanya seketika diam saat mendengar bentakan sang kakak yang sudah mengeluarkan aura mengintimidasi.
"David perketat penjagaan semua mulai sekarang" ucap Xander dengan suara dingin.
"Baik bos" ucap David.
"Leon kamu bertugas melindungi kedua orang tuamu di mansion"
"Baik bos" ucap Leon.
"Vincent kamu pantau pergerakan di mansion"
"Oke brother"
"Kalian semua jangan pernah percaya orang luar selain keluarga kita sendiri"
"Baik bos, brother" ucap mereka semua serentak.
...π π π π π...
"Brother terus aku tugasnya apa?" tanya Victor.
Xander melihat adiknya dan memikirkan tugas apa yang cocok untuknya tapi tak satu pun yang cocok.
"Cukup kamu tebar pesonamu di kamera"
"Apa" ucap Victor dengan mata melotot.
Hahahahaha...........
Vincent tertawa mendengar ucapan Xander, sedangkan David dan Leon menahan tawa mereka melihat wajah kesal Victor saat mendengar ucapan Xander.
"Brother" adu Victor menunjuk Vincent yang sedang menertawainya.
"Jangan manja" ketus Xander dengan suara dingin.
"Ckk!!" decak Victor dengan kesal.
"Udah terima aja tugas kamu Vic" ejek Vincent.
"Diam kamu twin" ketus Victor dengan tatapan kesal.
"Bos apa kita minta bantuan sama uncle Thomas dan aunty Valeria untuk mencari tahu siapa musuh kali ini" ucap David.
"Tidak"
"Kenapa brother? Bukannya itu bisa membantu kita" ucap Vincent.
"Percuma! Semua pergerakan uncle Thomas dan aunty Valeria di pantau King"
Phew............
Vincent menghembuskan napasnya dengan kasar mendengar nama yang tak ia sukai. Leon yang sedari tadi diam memikirkan apa kemampuan Mikhail sehebat itu.
"Berarti kita hanya bisa meminta bantuan kepada King bos" tebak David.
"Heemmm"
"Kalau begitu kita hubungi King aja brother" ucap Victor.
"Itu tidak mudah tuan muda ketiga" ucap David.
"Memangnya kenapa ka David"
"Keberadaan King saat ini tidak diketahui oleh siapa pun bahkan uncle Thomas dan aunty Valeria juga" jelas David dengan suara dingin.
"Coba tanya ke Natasha" usul Victor.
"Natasha semalam dihukum" ucap Xander.
Mata Vincent seketika menatap sang kakak, ada rasa penasaran dan tanda tanya di benaknya mendengar ucapan Xander barusan.
"Kenapa dihukum bos?" tanya Leon dengan penasaran.
"Karena kebodohan seseorang" ejek Xander menatap Vincent.
Mata Vincent seakan ingin keluar dari tempatnya mendengar alasan Natasha di hukum. Padahal semalam ia hanya mengajak Natasha ke pesta tidak berbuat apa-apa.
Sial, batin Vincent saat mengingat jika ia menggenggam tangan Natasha di parkiran basement dengan kuat hingga berbekas.
"Jangan berani menganggu iblis yang sendang tertidur Vin" ucap Xander dengan suara dingin.
"Iya brother" ucap Vincent dengan suara tak kalah dingin.
Victor dan Leon saling melirik menanyakan apa yang terjadi tapi tak mendapat jawabannya. Keduanya seperti orang kebingungan yang tak mengetahui apa-apa.
...π π π π π...
To be continue...............
__ADS_1