
πJalani dan nikmatilah hidupmu dengan selalu bersyukur dan jangan pernah menyerah dengan keadaan apapunπ
.
.
.
.
Rio mendengus melihat Victor yang sudah setengah jam belum juga keluar dari kamar. Tadi ia pikir mereka akan segera ke perusahaan HK food tapi ternyata tebakannya salah karena mereka ke apartemen Victor.
Sampai di apartemen Rio berdecak kesal melihat seorang model asal London yang sudah menunggu Victor di dalam apartemen.
"Bisa-bisanya artis gila itu masih kuda-kudaan" sungut Rio dengan kesal.
Ceklek............
Pintu kamar akhirnya terbuka setelah 30 menit, wajah Rio seketika cemberut melihat sosok yang sedari tadi ia tunggu akhirnya keluar juga dengan memakai boxer saja.
"Capek! Heemm" sindir Rio.
"No, aku belum puas" ucap Victor dengan santai.
"Jangan macam-macam ya Vic, waktu kita sisa 30 menit lagi" ucap Rio dengan tatapan tajam.
"Ckk!!" dengus Victor dengan kesal.
"Btw, kalian pakai gaya apa makanya cepat" bisik Rio dengan penasaran.
Victor tersenyum smirk sambil mengangkat tangan dan menunjuk mulut. Rio berdecak kesal mengetahui maksud Victor, tak berselang lama model tadi keluar hanya memakai pakaian dalam one piece.
Glek............
Rio menelan salivanya dengan susah melihat pemandangan gratis di depannya. Melihat hal tersebut Victor berbisik di telinganya membuat celana bagian tengahnya sangat sesak.
"20 menit buat kamu Rio" ucap Victor berlalu masuk kembali ke kamar untuk mandi.
Seperti mendapat angin segar wajah Rio seketika cerah. Tak membuang waktu ia menarik wanita di depannya dan langsung menghujam i**inya tanpa pemanasan.
Meski model tadi sempat kaget tapi tak dipungkiri ia juga menikmati hujaman kasar dari asisten Victor. Napas Rio satu-satu saat menyemburkan lahar panasnya di punggung wanita di bawahnya itu.
"Thank's bi**h" ucap Rio dengan senyum puas.
Ia bergegas masuk ke kamar mandi dekat dapur membersihkan sisa-sisa per*****an tadi. 5 menit kemudian ia keluar dari kamar mandi dan mendapati Victor yang sudah selesai bersiap.
Keduanya segera berangkat ke perusahaan HK food yang berseberangan dengan apartemennya. Beruntung tempat pertemuannya tidak jauh jika tidak keduanya pasti terlambat.
"Malam nanti bawakan yang lebih hot buat aku" ucap Victor saat keduanya sampai di lobby.
"Oke" balas Rio dengan cepat.
~ Wesly Hospital ~
Setelah berjam-jam akhirnya lampu operasi mati menandakan operasi sudah selesai. Zelena segera menghampiri dokter yang baru keluar dari ruang operasi.
"Gimana keadaan om itu dok?" tanya Zelena dengan cepat.
"Operasinya berhasil dan pasien beruntung karena peluru tidak mengenai organ hati, jika tidak nyawa pasien tidak akan selamat nona"
"Syukurlah. Apa saya bisa melihat om tadi dok" ucap Zelena dengan lega.
"Sebentar lagi pasien akan di pindahkan ke ruang rawat nona dan anda bisa melihatnya di sana"
"Baiklah dok dan terima kasih"
"Sama-sama nona, kalau begitu saya permisi dulu nona"
"Iya silahkan dok"
Tak lama brankar om tadi di dorong suster menuju ruang rawat VIP sesuai permintaan Zelena. Padahal ia tidak ingin menunjukkan identitasnya tapi entah kenapa ia merasa sangat cemas dengan orang yang tadi ditolongnya.
...π π π π π...
Sampainya di ruang VIP Zelena menatap orang yang ditolongnya tadi dengan tatapan lembut. Entah kenapa ada perasaan cemas dan khawatir melihat tubuh pucat itu.
Kenapa jantung gue sakit ya lihat om itu terbaring lemah di brankar, batin Zelena.
Ceklek.........
Pintu tiba-tiba di buka dan masuklah suster sambil membawa plastik berisi beberapa barang milik om tadi.
"Nona ini adalah barang milik pasien" ucap suster menyodorkan plastik tersebut.
"Baik sus terima kasih" ucap Zelena menerima plastik tadi.
"Iya sama-sama nona"
Suster itu lalu pamit dan meninggalkan Zelena bersama pasien tadi. Karena penasaran Zelena lalu mengambil dompet milik orang tadi yang ia tolong.
"Ares Maladika Rahardian" ucap Zelena sambil membaca nama yang tertera di KTP.
__ADS_1
Zelena menatap Ares dan KTP yang ia pegang dengan kaget. Pasalnya tadi ia memanggil orang tersebut dengan sebutan om padahal umurnya baru 27 tahun.
"Ya ampun pasti dia marah karena gue panggil om tadi, padahal umur dia hanya beda satu tahun sama brother" gumam Zelena dengan histeris.
Zelena lalu menyimpan barang milik Ares di nakas, ia berniat akan menunggu Ares sampai siuman karena tak ada yang menemani.
Terlalu lama menunggu akhirnya Zelena tertidur di sofa. Selang 4 jam kemudian mata tajam hitam itu perlahan-lahan terbuka, bau obat-obatan langsung tercium dan pandangannya melihat sekeliling yang berwarna putih.
Ares langsung tahu jika ia berada di rumah sakit, pandangannya lalu tertuju kepada seorang gadis yang tertidur pulas di sofa.
Eughhh..........
Ringis Ares saat merasa perutnya sangat sakit, tak lama dokter bersama perawat masuk ke dalam ruang rawat Ares.
"Anda sudah sadar tuan?" tanya dokter yang bernama Maxim.
"Heemmm" deham Ares dengan suara dingin.
"Saya periksa dulu ya tuan" ucap dokter Maxim sambil tersenyum.
Dokter Maxim segera memeriksa Ares setelah ia siuman dari operasi. Ia lalu menjelaskan beberapa hal mengenai luka operasi agar tidak terkena air dan jangan makan makanan yang keras dan berminyak.
Setelah dokter dan suster tadi pergi, sayup-sayup mata Zelena terbuka. Dengan cepat ia melirik ke arah brankar dan kaget melihat mata hitam tajam itu yang sedang memandangnya.
"Loe udah bangun" ucap Zelena dengan kaget.
"Heemmmm"
"Gimana apa ada yang sakit"
"No"
"Ah! Syukurlah" ucap Zelena dengan lega.
"Loe yang nolongin gue tadi di taman kan?" tanya Ares dengan suara dingin.
"Iya loe masih ingat ya"
"Heemm! Gue bukan amnesia jadi ngak lupa" ketus Ares.
"Apa loe amnesia juga" pekik Zelena dengan kaget.
"Gue bilang gue ngak amnesia jadi ngak lupa" ucap Ares dengan kesal.
"Oh bilang dong"
Ares berdecak kesal mendengar jawaban dari Zelena. Ia mendengus kesal karena ucapan Zelena yang mengatainya amnesia, apa lagi saat ia mengingat di panggil om oleh Zelena waktu di taksi.
"Dari mana loe tahu nama gue?" tanya balik Ares dengan tatapan membunuh.
Glek..........
Zelena menelan salivanya dengan susah melihat tatapan membunuh yang sama seperti daddy dan kakak pertamanya. Dengan cepat ia menunjuk dompet yang berada di atas meja.
...π π π π π...
Ares hanya diam melihat dompet yang di tunjuk oleh Zelena. Ia pikir Zelena itu musuh yang sedang menyamar untuk membunuhnya, apa lagi tadi ia ditembak saat baru keluar dari perusahaan.
"Uhmm! Karena loe udah sadar jadi gue pulang dulu ya" ucap Zelena dengan langkah cepat berlari keluar.
Ares yang ingin menanyakan namanya terpaksa gagal karena Zelena sudah pergi. Entah kenapa ia merasa nyaman bersama Zelena, berbeda saat dengan perempuan-perempuan yang mendekatinya selama ini.
~ Mansion Zelena ~
Beruntung belum terlalu malam ia pulang jadi masih ada taksi. Sebenarnya Zelena bisa meminta di jemput tapi ia tak mau ada teman kampus yang melihatnya naik mobil mewah.
"Selamat datang nona muda" sapa bi Aira saat membuka pintu mansion.
"Iya bi. Tolong makan malam aku di bawa ke kamar ya bi" ucap Zelena dengan suara lembut.
"Baik nona muda"
Zelena bergegas ke kamarnya di lantai 2 untuk membersihkan diri. Tubuhnya sudah sangat lengket karena keluar dari pagi hingga malam.
Selesai mandi Zelena lalu memakai piyama dan menikmati makan malam di balkon kamar. Selesai makan ia masih duduk di balkon sambil melihat bintang.
Tak lama bayangan tatapan tajam dan hitam milik Ares bermunculan di depannya. Zelena kaget bukan main saat ia tiba-tiba mengingat mata tajam itu.
"Kenapa gue ingat sama Ares sih" ucap Zelena sambil menggelengkan kepalanya.
Kring.........
Aaarrghhhh.............
Teriak Zelena kaget karena hpnya berbunyi, ia mengelus dadanya yang hampir jantungan. Zelena melihat nama Brother Vic yang tertera di layar hp.
^^^"Brother Vic" ucap Zelena dengan senang saat menjawab panggilan video Victor.^^^
"My princess how are you" (Zelenaku apa kabar) ucap Victor dengan senyum manis.
^^^"I'm okay brother, i miss you guys" (aku baik ka, aku merindukan kalian)^^^
__ADS_1
"We miss you too princess" (kami juga merindukanmu Zelena)
^^^"Really" (yang benar)^^^
"Yes princess, how is your day?" ( iya Zelena, bagaimana harimu) tanya Victor dengan lembut.
^^^"Same as usually brother" (seperti biasanya kakak)^^^
"Baguslah"
^^^"Brother Vic lagi dimana"^^^
"Brother lagi di lokasi syuting princess"
^^^"Memangnya syuting belum mulai?" tanya Zelena dengan cepat.^^^
"Belum princess, makanya brother nelpon kamu"
^^^"Oh, kalau begitu kita undang brother dan brother Vin" ucap Zelena dengan antusias.^^^
"Oke princess"
Zelena dengan cepat menyambung panggilan video ke kedua kakaknya, tidak menunggu lama wajah datar dan dingin keduanya langsung terpampang nyata di layar hp Zelena.
^^^"Brother i miss you guys" ( kakak aku merindukan kalian) pekik Zelena dengan cepat.^^^
"Miss you too princess" ucap keduanya dengan serentak.
Zelena bercerita panjang lebar mengenai hari-harinya dan apa yang ia lakukan. Xander hanya menjadi pendengar setia, Vincent kadang-kadang menjawab cerita adiknya, tapi berbeda dengan Victor yang terus membalas ucapan adik dan kedua kakaknya.
~ California, Los Angeles ~
Xander dan David segera naik ke mobil mewahnya untuk berangkat ke perusahaan. Saat tiba di tengah jalan entah kenapa Xander merasa ada yang sedang mengawasi mereka.
Dor.........dor...........dor...........
3 tembakan entah datang dari mana mengarah ke arah mobil yang ditumpangi Xander. David dengan cepat memberi tahu anak buahnya untuk melihat dari mana arah tembakan itu.
"Mereka sniper" ucap Xander saat menangkap seseorang yang berada di bagian atas gedung 3 meter di depan mereka.
^^^"Christian mereka berada di atas gedung" ucap David lewat earpiece.^^^
"Kami sudah menemukan lokasi ketiganya bos" balas Christian.
...π π π π π...
Beruntung mobil Xander anti peluru jadi mereka tidak apa-apa. Dengan santai Xander berpangku kaki sambil melihat grafik saham di iPad.
"Bawa mereka bertiga ke Sandra dan teman-temannya" perintah Xander dengan suara dingin.
"Baik bos" ucap David tak kalah dingin.
"Aku mau informasi mengenai penembakan barusan ada di mejaku dalam 2 jam"
"Iya bos"
Sang sopir hanya diam saja dan melajukan mobil Xander dengan kecepatan biasa menuju perusahaan. Sedangkan anak buah Xander yang sudah meringkus ketiga sniper tadi sedang mencari informasi dari mereka.
Tanpa anak buahnya tahu ternyata bukan hanya 3 orang saja yang datang tapi ada 15 orang. 12 lainnya sudah diringkus oleh pengawal gelap milik Xander yang berada di dekatnya.
Kalian salah memilih lawan kali ini, batin Xander sambil tersenyum smirk.
"Hentikan mobilnya" ucap Xander dengan suara tinggi.
Cekiitt..........
Bunyi decitan ban mobil Xander dan para pengawal terdengar sangat jelas. Xander memusatkan pendengarannya saat merasa ada yang akan datang menghampiri mereka.
"Semuanya bersiap" ucap Xander dengan suara dingin.
"Apa yang terjadi bos?" tanya David dengan bingung.
"Ada tamu tak diundang, arah jam 3 dan 5"
David melihat ke arah yang diberitahu oleh Xander dan kaget melihat ada begitu banyak pengendara motor trail yang menuju mereka.
"Siapa mereka?" tanya David dengan emosi.
"Sepertinya aku hari ini harus bermain sedikit" ucap Xander sambil terkekeh.
"Bos biarkan aku dan lainnya yang hadapi mereka" ucap David.
"No, aku akan memimpin kalian" ucap Xander dengan suara tegas.
David tak berkata apa-apa lagi dan bergegas keluar dari dalam mobil bersama Xander dan sopir. Xander tersenyum menyeringai melihat ada sekitar 50 motor trail yang dikirim untuk membunuhnya.
"Let's go part**y" (ayo kita berpesta) ucap Xander dengan senyum seperti monster kelaparan.
Dor.........dor........dor........dor.........dor........
...π π π π π...
__ADS_1
To be continue...............