
πSebab hidup terlalu singkat untuk membiarkan orang lain menentukan apa yang membuat kita bahagiaπ
.
.
.
.
Zelena berdiri di depan kelas menatap teman sekelasnya yang baru. Dari tatapan mata di depannya ia tahu jika semuanya jijik dan tak suka melihat penampilannya yang cupu.
Padahal penampilan Zelena biasa saja, hanya memakai kaca mata besar khas anak cupu dan baju seragam yang kebesaran. Ia tidak ingin memakai pakaian yang seksi saat datang ke sekolah.
"Perkenalkan dirimu" ucap bu Ratna guru matematika.
"Baik bu" ucap Zelena dengan sopan.
"Hay semuanya! Uhm! Perkenalkan nama gue Zelena dan gue murid pindahan dari Surabaya! Salam kenal semuanya" ucap Zelena sambil tersenyum manis.
"Loe anak beasiswa?" tanya seorang siswi yang bernama Gres dengan ketus.
"Iya betul"
"Another nerd! Huh" (culun lainnya) timpal seorang siswa yang bernama Bernad dengan kesal.
"Kenapa sih kelas kita harus ada nerd lagi" (culun) ketus Gisel.
Ia menatap Zelena tak suka di tambah beberapa siswa yang mendukung ucapan teman mereka.
"Sudah. Sudah diam semuanya! Zelena kamu bisa duduk bersama Clarisa" tunjuk bu Ratna ke arah gadis culun yang duduk sendirian tepat di depan bangku terakhir.
"Baik bu"
Zelena bergegas menuju kursinya tak memperdulikan tatapan sinis dari teman-temannya yang baru. Sampai di tempat duduknya, Zelena tersenyum manis melihat teman sebangkunya.
"Hai nama gue Zelena" ucap Zelena sambil menyodorkan tangannya.
"Ha...i juga!! nama g...ue Clari...sa" ucap Clarisa dengan gugup sambil menyambut uluran tangan Zelena.
"Nama loe cantik"
Blush.........
Pipi Clarisa merona mendapat ucapan seperti itu, ia kira Zelena akan malu jika mengobrol dengannya. Tapi kenyataannya tidak, malah Zelena tersenyum manis dan tulus saat menatapnya.
Mereka kemudian mengikuti kembali pelajaran, 2 jam kemudian bel berbunyi tanda istirahat. Saat guru keluar Zelena langsung di hampiri Gres dan 3 temannya.
"Hei culun kenapa sih loe bisa masuk ke kelas kita" ketus Gres.
"Mana gue tahu, tanya aja sama bu Ani tadi dia yang ngantar gue kesini" ucap Zelena dengan polos.
"Loe berani sama gue!" bentak Gres dengan kesal.
"Berani untuk apa" ucap Zelena dengan kening berkerut tak paham.
"Wah minta digebukin nih anak baru"
"Siapa yang digebukin, emang itu apaan?" tanya Zelena dengan wajah polos.
Hah................
Seketika satu kelas tercengang mendengar ucapan Zelena, bahkan Gres yang tadi kesal seakan kesalnya hilang sekejap. Zelena menatap mereka semua dengan tatapan bingung karena semuanya menatap dia.
"Kenapa kalian liatin gue?" tanya Zelena.
"Arrrgghh! Pusing gue ladenin cewek idiot ini" teriak Gres dengan kesal.
Zelena menatap kepergian Gres dan 3 temannya tadi dengan wajah polos. Clarisa yang duduk di sampingnya juga tak bisa berkata apa-apa mendengar ucapan teman barunya itu.
"Loe selama ini tinggal dimana Lele?" tanya Clarisa.
"Hah! letle siapa lagi?" tanya Zelena semakin bingung.
"Lah bukannya nama loe kan Lele"
"Eehh! Nama gue Zelena bukan Lele" protes Zelena.
"Iya ya maaf Lele"
Zelena melotot mendengar namanya kembali di panggil Lele oleh Clarisa. Sedangkan temannya itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal, ia bingung dari mana menjelaskan penyakit yang memalukan dalam tubuhnya.
...π π π π π...
"Jangan marah sama Clarisa, dia emang suka selalu salah menyebut nama orang lain karena dia dari dulu ngak bisa menghafal nama orang" ucap seorang siswa sambil tersenyum manis.
"Loe siapa?" tanya Zelena dengan bingung.
"Kenalin gue Rendra ketua kelas XII IPA 1" ucap Rendra.
"Oh hai Rendra salam kenal, loe udah tahu kan nama gue" ucap Zelena sambil tersenyum manis.
"Zelena"
"Ya betul tapi tulisnya pakai Z ya bukan S" ucap Zelena dengan cepat
"Oke! Hehehehe" ucap Rendra sambil terkekeh.
Tanpa ketiganya sadari ternyata ada salah satu siswa yang sedari tadi tersenyum mendengar ucapan mereka semua. Siswa itu terkenal bad boy di SMA Internasional Cempaka Putih.
Ia tersenyum baru kali ini mendengar ada cewek yang sangat polos. Beruntung ia sedang melipat tangan dan menaruh kepala seperti orang tidur, jadi tidak ada yang melihat ia tersenyum.
~ Berlin, Spanyol ~
__ADS_1
David mengurut keningnya melihat tubuh Sandra yang sudak tak bisa dikenali lagi. Apa lagi saat melihat isi pe**t Sandra yang berhamburan di lantai.
Bos apa harus seperti ini, batin David dengan gusar.
Baru kali ini ia melihat kekejaman Xander yang asli. Bahkan tadi Sandra sudah tewas tapi Xander terus bermain dengan pisau lipat miliknya.
"Bakar ja***g itu" perintah David kepada anak buahnya.
"Baik bos"
David memeriksa laporan yang diberikan Luki tentang cctv di hotel. Ia tak mau jika suatu saat nama Xander dikaitkan dengan Sandra, jika ada keluarganya yang melapor orang hilang di kantor polisi.
David segera berlalu menuju mansion untuk melihat keadaan Xander. Baru saja ia sampai di lantai dua ia bisa mencium bau alkohol yang sangat menyengat di meja bartender.
"Bos"
Prang.........prang.......prang........
"Pergi" ucap Xander dengan suara dingin sambil melempar beberapa botol tequila yang sudah kosong.
"Aku akan tetap disini bos"
David berlalu duduk di sofa tak ingin meninggalkan Xander sendirian. Ia tak mau jika Xander berbuat nekat karena patah hati.
"Perempuan ja***g" teriak Xander dengan suara kencang.
Penampilan Xander saat ini sangat berantakan karena merasa kecewa dikhianati orang yang dicintainya selama 1 tahun terakhir. Ia tertawa mengingat kebodohannya selama 1 tahun karena terlalu percaya dengan mulut polos ja***g itu.
Bruk..........
Xander terjatuh dari kursi karena tak kuat menahan tubuhnya yang sudah mabuk parah. Melihat hal tersebut, David segera memapah Xander ke dalam kamar.
Tak lupa menganti pakaian Xander dengan baju tidur tanpa atasan. David sudah sangat hafal betul kebiasaan bosnya yang selalu tidur tanpa menggunakan atasan.
Saat keluar dari kamar Xander, tiba-tiba hpnya berbunyi ada panggilan masuk dari daddynya.
^^^"Halo dad"^^^
"Halo son kamu dimana"
^^^"Aku berada di Spanyol daddy"^^^
"Kapan kamu pulang"
^^^"Setelah beres semua urusan disini dad, memangnya ada apa dad?" tanya David.^^^
"Daddy ingin merayakan ulang tahun daddy di mansion bulan depan son"
^^^"Dad"^^^
"Daddy harap kamu bisa datang son"
^^^"I can't dad" (aku tidak bisa papa) ucap David dengan gusar.^^^
David berdecak kesal melihat panggilan sudah terputus. Ia tidak ingin kembali lagi ke mansion dan bertemu wanita ja***g itu, rasanya ia ingin sekali membunuh wanita tua itu.
Kenapa daddy harus memaafkannya, batin David dengan kesal.
...π π π π π...
David ingat dengan jelas sehari setelah kejadian itu. Daddynya datang menemuinya di apartemen bersama dengan Leon.
Flashback On#
Ting......tong........ting.......tong.........
David segera membuka pintu apartemen saat bel berbunyi. Saat pintu terbuka ia kaget melihat kedatangan daddy dan Leon.
"Daddy. Leon"
"Ada yang ingin daddy bicarakan dengan kalian" ucap Albert to the point.
Albert segera masuk ke dalam apartemen, saat pandangan mata David tertuju kepada adiknya ia bisa melihat dengan jelas mata adiknya yang sembab.
David memeluk adiknya Leon karena ia tahu saat ini hatinya pasti sangat hancur. Leon menangis dalam pelukan kakaknya memberitahu jika ia merasa sangat terpukul dengan ini semua.
"Kakak selalu ada buat kamu Leon" bisik David dengan suara lembut.
"Heemmm"
Keduanya lalu masuk ke dalam apartemen menyusul Albert yang sudah duduk di sofa. Selang 30 menit berlalu ketiganya belum berbicara satu kata pun.
"Daddy sudah putuskan akan tetap mempertahankan rumah tangga daddy" ucap Albert dengan satu tarikan napas.
"Aku tidak setuju dad!" bentak David dengan emosi.
"Setuju atau tidak itu sudah jadi keputusan daddy"
"Dimana otak daddy, segitu bodohnya daddy buat maafin wanita ja***g itu" teriak David menggelegar.
"Ya kamu benar son daddy sangat bodoh!! Daddy memang bodoh karena mencintai wanita yang kamu sebut ja***g" teriak Albert dengan napas memburu.
Aarrgghhhh...........
David berteriak kesal meluapkan emosinya, ia tidak bisa memarahi orang yang sangat ia sayangi. Air matanya mengalir tak kuasa harus mengingat semua perbuatan yang dilakuan oleh Mira.
"Terserah daddy, tapi jangan pernah memaksa aku untuk memaafkan wanita ja***g itu" ucap David dengan suara dingin.
"Son" ucap Albert dengan sedih.
Brak...........
David membanting pintu kamar dengan kuat mengagetkan Albert dan Leon. Pandangan mata Albert tertuju kepada putra bungsunya.
__ADS_1
"Kali ini aku di posisi ka David dad, jangan paksa aku lagi" ucap Leon dengan tegas.
"Baiklah. Daddy harap kamu tinggal di mansion bersama daddy" pinta Albert dengan tulus.
"Heemmm"
Albert segera pergi dengan hati hancur memikirkan keluarganya. Ia bertahan kali ini karena merasa ini semua karma untuknya karena apa yang ia lakukan di masa lalu.
Flashback Off#
"Daddy orang paling bodoh" ucap David dengan sinis sambil meminum segelas tequila.
1 Bulan kemudian
Sebulan sudah berlalu sejak Xander di khianati, sejak itu sifat Xavier semakin dingin dan kejam. Bahkan dengan kedua orang tuanya dan adik-adiknya sifatnya sangat dingin.
Tatapan matanya yang tajam dan dingin tak memberi kesempatan kepada siapa saja yang berbuat salah. Xander yang berubah total membuat ketiga adiknya tak berani menganggu kakak tertua mereka.
"Bos 30 menit lagi kita meeting bersama Galaxy Company"
"Heeemmmm"
"Ini kontrak berkas kerja sama kita bos" ucap David sambil menaruh laporan itu di depan Xander.
Xander meneliti kontrak kerja sama dengan Galaxy Company yang akan di tanda tangani sebentar. Setelah melihat tak ada kesalahan ia segera mengembalikan berkas tersebut.
"Siapkan mobil kita berangkat sekarang" ucap Xander dengan suara dingin.
"Baik bos" ucap David dengan suara tak kalah dingin.
Keduanya segera bergegas keluar untuk menghadiri meeting di Galaxy Company. Saat keluar dari lift semua karyawan menunduk memberi hormat kepada direktur mereka yang terkenal kejam dan dingin.
...π π π π π...
~ Galaxy Company ~
Xander keluar dari mobil mewahnya, tatapan matanya yang tajam dan dingin membuat siapa saja tak berani mendekat. Ia berjalan masuk ke dalam perusahaan di ikuti David dan Luki yang selalu senantiasa mengikutinya dari belakang.
Ting...........
"Selamat datang direktur Wesly" sambut Tom Abra di depan lift.
"Heemmm"
"Mari direktur, presdir kami sudah menunggu di ruang meeting" ucap Tom sambil mempersilahkan kliennya dengan sopan.
Xander berlalu dengan langkah tegap menuju ruang meeting. Saat pintu meeting dibuka ia langsung disambut tatapan tajam dan angkuh dari pemilik mata coklat itu.
"Teivel" ucap Mikhail dengan suara dingin.
"Meeting kita mulai" ucap Teivel membuka meeting kali ini.
Mikhail dan Xander sama-sama menerima berkas kontrak dari kedua pihak. Keduanya meneliti berkas kontrak di depannya sebelum menekan kontrak.
"Aku menolak model ini" ucap Xander dengan suara dingin.
"Oke. Kalau begitu direktur Wesly bisa mencari model sendiri" ucap Mikhail tak kalah dingin.
Semua yang berada di dalam ruang meeting menahan napas merasa aura kekuasaan dari keduanya. Entah kenapa di dalam sana terasa sangat dingin melebihi dinginnya AC.
"Begini cara kerja seorang presdir VA Group" ejek Xander.
"Jika anda tidak suka batalkan saja" acuh Mikhail.
"Tunjukkan profesional anda presdir KM" ucap Xander dengan wajah datar.
"Dimana ketidak profesionalku direktur Wesly?" tanya Mikhail sambil tersenyum smirk.
"Natasha Oliver Parker aku ingin dia yang jadi modelnya" ucap Xander dengan suara dingin.
"Zelena Duscha Wesly aku juga ingin dia yang jadi modelnya" balas Mikhail.
Tatapan mata keduanya saling menatap dengan tajam, seperti ada aliran listrik di sekitar mata keduanya membuat suasana semakin mencekam. David, Luki, Teivel, Tom Abra, dan sekertarisnya menelan saliva dengan susah.
"Damon batalkan kerja sama ini"
"David batalkan kerja sama ini"
Keduanya serentak mengucapkan kata yang sama, Mikhail dengan cepat berlalu keluar meninggalkan Xander dan kedua asistennya. Wajah datar dan dingin Xander menatap punggung Mikhail yang sudah berlalu.
"Direktur Wesly mohon maaf atas semuanya" ucap Tom Abra dengan gugup.
"Kita pergi" ucap Xander dengan suara dingin.
"Baik bos" ucap David dan Luki dengan serentak.
Selama perjalanan Xander menutup mata di belakang menahan emosi karena kerja sama ini gagal.
"Jam berapa acara ulang tahun daddymu David?" tanya Xander.
"Jam 18:00 sore bos"
"kamu bisa pergi lebih dulu"
"Tidak bos, saya akan berangkat bersama bos"
"Heemmmm"
David membuang napas dengan kasar karena malam ini ia akan kembali ke mansion. Ini semua ia lakukan karena permintaan daddynya dari sebulan yang lalu.
Aku pasti bisa menahan emosi disana, batin David dengan gusar.
...π π π π π...
__ADS_1
To be continue................